Tuesday, August 15, 2017

Jalan-jalan Domestik atau Internasional?

Seperti yang udah gue share di Dilema Explore Indonesia, sekarang gue mau share kenapa gue lebih banyak jalan-jalan internasional. Coba pake studi kasusnya trip yang pernah gue coba ya.


Harga tiket ke Italia emang mahal, apalagi kalo dari Indonesia. Gue dapet PP sekitar $700 atau 10juta rupiah. Sampe sini, udah jelas trip domestik bakal jauh lebih murah. Apalagi di Indonesia, dimana maskapai lokal kita kalo buka harga murahnya bukan main. Kalo lo udah kepentok sama angka 10 juta ini, lo cari tiket Jakarta-Makassar PP 1.5 juta, lo naik taksi tiap hari selama 3 hari (tarolah sehari 200ribu) terus naik bus eksekutif ke Toraja, dengan penginapan di hotel berbintang yang taro aja 500 ribu semalam selama 5 malam, makan enak di mall tanpa kontrol biaya, sewa kapal snorkeling ke Samalona, ke Bantimurung yang juga diluar kota - gue yakin expense lo ada dirange dibawah 9 juta. Travel domestik menang secara biaya.

Makassar my love

Kelemahannya disini menurut gue adalah lo tergantung dengan taksi atau Grab yang cuma ada di kota besar. Ini yang gue kurang sreg di Indonesia. Belum lagi penginapan lo terbatas di hotel.

Dulu destinasi favorit gue adalah Singapur. Tiket PP ke Singapur murahnya suka kelewatan. Hostel rangenya belasan sampe SGD 30. Gue biasa ambil yang $20. Taro 3 malam di Singapur, makan mewah jajan banyak sehari $50, transport no taxi tapi muter-muter kemana-mana cuma $20 3 hari pake tourist pas. Untuk leisure, semua yang di Singapur berbayar. Alokasikan $60 deh buat masuk museum sampe mabok atau $150 deh kalo lo mau masukkin Universal Studio juga. Berapa totalnya? Roughly $500 (Seumur-umur gue ga pernah sih ngabisin $500 4 hari di Singapur, kecuali kalo lo itung belanjaan CD gue yang sampe $150). Let's say mau ke Johor Bahru juga 2 malam so harus beli tiket bis lagi, tetep aja PP max cuma $10. Penginapan taruh lah sama (in reality harusnya lebih murah) dan makannya sampe mabok $30. Totalnya tambah roughly $100. So asumsikan tiket pesawat sama harganya dengan ke Makassar, 6 malam Singapur-Johor Bahru bisa 6 juta rupiah.

Kalau biayanya sama, kenapa gue lebih suka ke luar negeri?

Nyaman. Bisa, oranglokal juga biasa liatnya, untuk jalan-jalan sendiri dan aman. Trip ke Bangkok dan ke negara-negara ASEAN lain jauh lebih murah dari ini. Di Bangkok, hostel yang best banget menurut gue harganya 240 ribu per malam. Buat temen-temen gue ini udah kemahalan. Cari yang lebih murah sampai separonya masih mungkin. Transportasi? Jangan ditanya. Kelewat murah. Taksi ke city aja cuma 120 ribu-an.

Masuk Vatikan gratis!
Kalo lo ke Italia, misalnya lo mau bikin perjalanan Roma-Florence-Genova-Milan kaya trip winter gue, biayanya ga semahal itu. Pass transportasi umum di Roma 7 Euro sehari tapi gue aja cuma pake 6 Euroan. Di Florence juga sama. Di Genova lebih murah soalnya lo kemana-mana jalan kaki, paling ke Cinque Terre tiket kereta all-in sekitar 24 euro. Airport-Roma 6 Euro, Roma-Florence 12 Euro naik kereta (ini udah mahal, naik FlixBus lebih murah), Florence-Genova 5 euro dan Genova-Milan 9 Euro. Terakhir, Milan-Airport 10 euro. Total transportasi buat taro kira-kira 7hari adalah 100 euro atau 1.5 juta rupiah.

Penginapannya lumayan, taro 25 euro semalem, dikali 6 malam berarti 150 euro ata 2.4juta. Masuk museum atau leisure activity (yang warga lokal jarang lakukan) alokasikan 150 euro lagi, makan sehari 25 euro juga meski ini udah kebanyakan menurut gue. Totalnya semua expense lo adalah 550 euro atau sekitar 8.7 juta diluar tiket. In reality sih gue menghabiskan 400 euro aja, udah termasuk shopping yang mmmm... Ampe koper susah nutup. Ini perkiraan maksimal untuk ala backpacker. See, ga semahal yang orang pikir selama lo bisa dapet tiket murah untuk sampe sana.

Cuma bukan selalu begitu casenya sih. Summer ini expense gue meledak soalnya penginapannya mahal-mahal. Maklum, gue ke desa dan pilihan hostelnya terbatas banget. Semua demi Om Tiziano Ferro dan Il Volo, ya ampun...

So kalo ada kesempatan, cobalah beranikan diri jalan-jalan ke luar negeri.

Monday, August 7, 2017

HP ILANG

Halo,

Pengumuman ga penting tapi HP gue barusan ilang. Gapapa sih, sayang foto-fotonya aja belom ke transfer. Tapi all kind of kekayaan material itu renewable, mungkin udah bukan rejekinya.

Yuuhuu. Kalo ada yang pake mobile device, nomor HP, bales email aneh atau apa-apa, kemungkinan bukan gue yah.

Love,
Alira

Monday, July 24, 2017

Dibalik Mimpi yang Terwujud: Explore Italia

Berakhir sudah 13 hari gue di area Schengen. Tiap hari, gue rasanya gak berhenti bersyukur karena apa yang gue idam-idamkan sejak dulu terwujud dalam 6 bulan. Dimulai dari kesempatan ke Vatikan, ambisi yang tumbuh dalam benak gue sejak SD. Lalu bisa travel ke lebih banyak negara dari yang gue inginkan dan sampai akhirnya summer ini gue bisa nonton konser yang selalu gue mimpikan.

I am more than blessed.

Ada banyak feeling yang gue rasakan saat ini, disaat gue mengingat lagi perjalanan gue dan perjuangannya. Gak mudah, tangisan dan malam-malam ga bisa tidurnya itu bikin gue stress banget. Belum lagi hari-hari dimana gue merasa bloated tiada henti dan ga bisa makan. Bukan karena excited, tapi karena pusing dengan schedulingnya.

Ngurus visa untuk dua kali perjalanan ke Italia ini juga penuh air mata. Gue berusaha untuk tidak terpengaruh saat gue tau bahwa visa gue hanya keluar untuk 11 hari sedangkan dihari ke 12 gue mau ke konser Il Volo. Tapi ternyata gak tahan dan akhirnya gue nangis juga. Shallow ya, tiap musim masa nangisnya karena visa. Mungkin ini salah satu tanda bahwa gue memang benar-benar pengen banget pergi ke Italia dan ke konser.

Konser apaan sih?
Tiziano Ferro sama Il Volo. Gatau gapapa, temen-temen gue juga ga ada yang tau kok.

Selfie bahagia dari hati
Gue gak suka selfie sebenernya tapi omg, bahkan gue terpana liat foto-foto gue dari konser... Selalu terlihat "kelewat senang" karena emang beneran seneng banget....

Mau tau totalitas ngefans? Gue ampe kaya viking pake atribut konser. Satu-satunya wajah Asia, gapapa pede aja.

Bajunya juga baju official

Anyway, kenapa Italia? Dan kenapa gue cuma ke Italia doang fokusnya saat udah di Eropa?

Karena ladang gandum?
Gue pecinta budaya dan nama Italia udah ada didalam list negara yang pengen gue kunjungi sejak SD. Makanan favorit gue juga makanan Italia. Gak ada makanan Italia yang gue ga suka, sedangkan buat keluarga gue, gue picky setengah mati dan merepotkan. Tapi tiap disodorin makanan Italia, apapun itu pasti gue makan. Gue belajar Bahasa Italia jauh lebih awal daripada Mandarin atau Bahasa Korea karena saat itu (2008), gue cuma mau belajar bahasa yang pelafalannya mudah dan pakai huruf latin. Pas belajar Bahasa Italia itulah cinta gue buat lagu-lagu Italia dimulai.

Quality over quantity. Seperti yang gue ceritakan sebelumnya, adek gue gak belajar dan lihat apa-apa setelah mengunjungi 34 provinsi di Indonesia karena dia mengutamakan jumlah provinsinya. Disisi lain, dengan fokus ke Italia, gak cuma gue bahagia, gue juga jadi paham banyak hal baru tentang orang-orang dan negaranya. Alasan lainnya memang gue kurang tertarik dengan negara lain. Gue ngalamin sehari di Budapest dan meski kotanya sangat murah dan menyenangkan, gue agak kesal ketika gue gak paham sedikitpun bahasa sana, not even 'thank you'.

Planningnya gimana kalo belum tau apa-apa?

Online dong. Effortnya emang dahsyat berminggu-minggu tapi gue spontan kok orangnya. Biasanya gue cuma memutuskan kota, terus disana mau kemana atau mau ngapain, liat nanti aja. Tanya hostel disana. Gue lebih suka liat atraksi lokal daripada tempat turis. Ekspetasi gue juga selalu rendah, so lebih mudah senang hahaha.

Gue juga suka tanya temen. Kebetulan gue punya temen atau ajak kenalan orang di daerah sana. Gue sempet ketemu temen SD gue dan dia berbaik hati ngehost gue dikamarnya. Begitu juga dengan temen kuliah gue yang lagi summer school di London. Ga cuma bisa hemat biaya hostel karena gue tidur di lantai bermodal sprei dan bantal traveling yang gue bawa buat dua malem di kamar mereka, gue juga lebih tau culture tempat tersebut.

Ada takutnya gak traveling sendiri ke tempat baru? Ada downnya gak?

Gue sih down liat jalanan sepanjang+sepanas ini pake koper+ransel

Italia itu pamornya bukan negara aman. Waktu Januari gue kesana, gue berdoa tiap hari biar balik utuh gak kurang suatu apapun. Jangan ngomongin foto, ngeluarin HP dan kemana-mana juga was-was. Tapi setelah gue tau lebih dalam tentang karakteristik kotanya, orangnya dan bisa sedikit bahasanya, kekhawatirannya hilang. Terlebih lagi gue ke desa-desa, yang emang relatif lebih aman. Saat trip summer ini, gue ngalamin tidur bersama 3 cowok telanjang di dorm yang mixed gender, jalan malem-malem geret koper di Roma, baru balik konser jam 1 pagi di Salerno, Firenze dan Lucca sampe naik mobil stranger di Perugia karena panas banget dan bawa koper berat.

Downnya juga banyak. Gue gampang capek setelah kebanyakan jalan dan Italia itu panasnya bukan main. Serius. Tapi gue kan jalan kaki kemana-mana dan itu menguras energi. Kadang mau explore lebih banyak tapi kepala udah pusing banget. Selain itu, gue juga masih kerja ngurus beberapa event yang waktunya bener-bener setelah Italy trip gue. So gue harus bawa laptop yang beratnya bukan main, modal begadang atau rapat online beberapa jam siang hari karena perbedaan waktu.

Oh, gue juga down tiap ga bisa buka pintu. Ini ceritanya panjang, tapi kejadian berkali-kali. Gue kaayanya gak jodoh sama pintu kayu manual. Masalah sering timbul dengan pesawat dan transportasi lainnya. Biasanya gue cari murah, tapi schedulenya jadi berantakan. Misalnya saat di Salerno, gue harus naik kereta jam 5.28 pagi dan ternyata keretanya telat sehingga gue ketinggalan bus ke Perugia. Terus pas mau ke Turin, gue pilih kereta cepat dengan niat nyaman. Eh ternyata ga ada tempat bagasi di dekat pintu gerbong, so gue harus angkat koper 18kg gue ke kompartemen diatas kursi. Gak kuat. Desperate pasang muka 'anak hilang' biar ada yang nolongin.

Biayanya gimana?

Pas winter sih gue bangga banget, kelewat murah soalnya. Tapi yang barusan...

MAHAL. Gue gak mau ngitung berapa banyak uang yang gue keluarkan untuk trip summer ini tapi MAHAL. Tetep sih Allah baik banget sama gue, semester lalu gue dianugrahi banyak job dan yes, itu buat modal gue liburan. Sebagai ilustrasi, gue menghabiskan 180 euro buat 3x apply visa Schengen (!), tiket pesawat ganti 1x dan cancel 1x, tiket bus hangus 1, b&b di Lucca harganya 80 euro semalem karena ga ada yang lain plus tiket 3 konser harganya total hampir 400 euro. Belum lagi satu godaan setan yang gak akan gue sesali: beli CD ampe 110 euro.

Gak pernah merasa sayang atau sedih sih dengan biaya, karena ini mimpi gue. Gue kerja keras juga endingnya untuk ini dan gue beneran bahagia.

Kesimpulannya, yang lo liat di Instagram atau social media gue yang lainnya memang benar. Gue bahagia dan itu bukan sekedar image. Gue juga menjalani hidup yang sangat blessed dan nyaman karena penuh jalan-jalan, itu authentic. Gue bersyukur dan meski kebahagiannya bisa terlihat 'shallow' buat orang lain, ini hidup yang gue pilih. Asumsi yang mungkin kurang tepat adalah bahwa gue bergelimang uang untuk punya kenyamanan yang dahsyat. Ya kalo uangnya sampe tumpah-tumpah sih gue gak perlu bangun pagi buat cari pesawat paling murah, atau sampe ngalamin culture shock tidur sama mas-mas telanjang itu.

Happy beneran kok!
Orang bisa punya pengalaman yang sama tapi pelajaran dan feeling yang berbeda. Buat gue, traveling tentu saja menjadi kesempatan emas buat memperkaya diri sendiri dengan lebih banyak tahu budaya lain. Not so much about foto-foto pajangan instagram, itu bonus. Kali ini, gue belajar bahwa gue harus lebih fleksibel dalam hidup dan gue juga bisa lebih santai. Yes, gue masih kebangun tiap jam 6 pagi karena gue morning person. Tapi bukan berarti gue harus terburu-buru ninggalin kamar sepagi mungkin biar bisa mengunjungi lebih banyak tempat. Saat visit suatu tempat pun, satu dua foto cukup, lebih baik belajar cerita dari tempat tersebut. Yes, gue masih merasa 'jir udah sampe sini masa gak total?'
Tapi tanya lagi, totalnya ini apa? Jumlah? Hasil foto? Atau bahagia dan pemahaman yang lebih dalam? Gue belajar untuk lebih sayang dengan diri sendiri dan mengurangi gaya barbie. Maksudnya? Berpakaian lah yang nyaman, ga perlu cantik atau representable. Gue jalan-jalan buat diri sendiri kok, bukan untuk photoshoot.

Yak siapa yang tertarik jalan-jalan bareng sehari jalan kaki minimal 6km dan siap tidur di lantai atau camping di pinggir ladang gandum?

Saturday, July 15, 2017

Dilema Explore Indonesia

Sebelum gue pindah ke Korea, gue berencana tiap balik ke Indonesia mau visit provinsi baru di Indonesia. Gue emang suka traveling, tapi di tahun 2015 itu, dari 34 provinsi di Indonesia gue baru pernah ke 18 Provinsi (baru ngitung). Sebelum berangkat pun gue akhirnya ke Manado, biar seengganya nambah provinsi baru.

Ero, adek gue, dan bokap gue udah ke 34 provinsi. Ero pake gap period SMP-SMA dia buat keliling Indonesia sama bokap dan temennya. Gue gak pernah iri dengan experience itu karena gue liat, gak gitu fun. Mereka kejar waktu buat menuhin target 34 provinsi dalam 2-3 bulan tapi gak explore mendalam. Sekedar menginjak dan sekedar check in di ibukota provinsinya cukup. Mana fun.

Gue sendiri selalu disindir sebagai anak yang lebih suka keluar negeri. Benar. Tapi bukan berarti gue gak cinta atau gak mau keliling Indonesia. Masalahnya keliling Indonesia itu ga mudah.

Iya tiket pesawat memang murah, apalagi kalo pake Lion kan? Cuma tetep ga semurah itu, ga seperti keliling Eropa yang tiketnya bisa 150 ribu dari Milan ke Amsterdam nett udah termasuk pajak dsb. Belum lagi gue anti Lion Air. Hambatannya ga cuma disitu. Ketika gue ke Manado, gue sadar kenapa gue lebih pilih keluar negeri. Karena gue bisa pergi sendiri, ga tergantung siapa-siapa. Sampe sana tinggal naik transportasi umum. Penginapan juga bisa cari yang 300 ribuan, tanpa takut itu hostel remang-remang.

Di Indonesia belum bisa.

Summer kali ini, gue punya kira-kira 18 hari di Indonesia sebelum gue ke Italia. 3 hari setelah lebaran, gue memutuskan buat ke Tanjung Bira, Bulukumba, Sulawesi Selatan. Dimana tuh? Di ujung pulau Sulawesi yang sebelah kir kalo dipeta. Bahasa gue gak scientific banget tapi intinya, 6 jam dari Makassar. Gue totally impressed dengan Tanjung Bira yang bersih dan terkelola dengan baik tapi coba kita hitung costnya.

Tanjung Bir punya pasir putih terbaik
Flight ke Makassar, mobil ke Tanjung Bira karena ga ada transport umum, terus nginep disana yang minimal 800 ribu untuk resort, baru fun activities kaya sewa kapal dsb yang harganya sih muraaaah banget untuk standar Indonesia (apalagi buat standar Korea). Kalo gue sendirian, sewa mobil, nginep, sewa kapal udah simply tidak terjangkau.

Explore Indonesia gue kali ini paling seru ke SULAWESI TENGGARA! Harus dicapslock karena gue belum pernah kesana sebelumnya.

Next leg, gue ke Wakatobi. Penginapan di Wakatobi surprisingly murah, cuma 500 ribuan untuk resort. Flight kesana juga ternyata ga semahal yang gue bayangkan kalo dari Makassar. 800ribu. Tapi begitu sampe resort, lo ga bisa kemana-mana kalo gak pake fasilitas resort. Sewa mobil 500 ribu buat 6 jam, mahal banget. Snorkeling 400 ribu seorang... Nah loh.

Kerjaan di Wakatobi
Gue gak ngapa-ngapain di Wakatobi karena cuaca buruk. So costnya cuma makan aja. Ya tapi jauh-jauh ke Wakatobi masa buat makan...

Berikutnya gue ke Kendari. Flight kesana ternyata susah dan gak murah, padahal ibukota provinsi. Sampe sana, gue kaget karena ternyata bandaranya jauh banget dari kota, sekitar 25 km. Semacam di Makassar yang bandaranya di Maros, atau Soekarno Hatta - Cengkareng yang adanya di Banten. Bandara Haluoleo ini adanya di Konawe Selatan. Itungannya kalo pake taksi mahal juga.

Masalah nginep, hotelnya relatif terjangkau sih. 400-500 ribu masih dapet dan dengan fasilitas yang sangat ok. Taksi juga banyak di kota, meski gue gak nyoba jadi gatau. Tapi wisatanya beda cerita. Kendari di kota sih ga ada apa-apa. Lo harus ke pulau buat tau bestnya Kendari dan lagi-lagi sewa kapal jadi soal.

Gue beruntung banget kali ini gue dihost Elaine, temen gue di Korea. Sebagai super host dengan kesaktian di Kendari, gue ditunjukkan best of Kendari dan sekitarnya. Kita explore pulau-pulau super dengan kesaktian kapal dia dan om-om super ramah. Di Kendari lah gue baru sadar, meski kesana susah dan penuh perjuangan, pesawat juga jarang, cuaca suka buruk dan susah landing... Ternyata worth banget. Kalo lu tau hidden gemnya dan punya uang.

Pulau Bokori

Bagian terfavorit gue adalah island hopping sama Elaine. Tapi impossible gue bisa kaya gini sendiri. Bukan cuma mahal, fasilitasnya simply belum ada. Misalnya ke Labengki dari Kendari, gue denger normalnya makan waktu 4 jam naik kapal. Kita cut short jadi 1jam lebih dikit. Kalo lo makan waktu berjam-jam di kapal dan cuma sebentar, apa worth it? Sedangkan paket menginapnya lumayan juga 2 juta 350 ribu per orang.

Cost buat island hopping rasanya bisa buat ke Eropa. Atau tur makan sampe puas di Taiwan. Tapi poinnya bukan itu.

Explore Indonesia gue kali ini buat gue paham kenapa Elaine bangga dan sangat nasionalis. Karena dia pernah liat sisi-sisi dari Indonesia yang gak banyak orang tahu. Karena dia pernah ke daerah-daerah terpencil dan menemukan keindahan yang truly Indonesia. Gue juga jadi sadar, bodoh banget gue mau ke Filipina buat cari pantai di Cebu disaat Indonesia begitu cantiknya.

Pulau Labengki - Sulawesi Utara
Gue gak perlu ke Bari, Italia. Bira jauh lebih baik. Gue gak perlu iri sama orang-orang yang island hopping di Yunani, island hopping gue di Sulawesi Tenggara udah one of a kind. Gue berharap bisa menemukan lebih banyak keindahan Indonesia, dengan cara yang entah bagaimana, dan hemat.

Targetnya sebelom gue kuliah, boleh lah 19 provinsi jadi 23 provinsi. Gamau ambisius, karena berkaca dari Ero, gue sadar kualitas lebih baik daripada kuantitas. Mungkin next time gue harus open trip biar bisa cari sesama explorer Indonesia? :)

Sunday, June 18, 2017

Permintaan Lebaran

Semester ini hampir berakhir dan ada banyak cerita yang gue lalui, darimulai mengenal teman disekitar gue dengan lebih baik lagi, perjuangan kelas siang disaat gue maunya kelas pagi, kerjaan yang mendadak naik level, kejutan mental yang datang bertubi-tubi dan pelajaran-pelajaran hidup yang gak ada abisnya.

Refleksi gue semester ini adalah bahwa tiap orang punya perjuangannya masing-masing dan hidup itu sebenernya berjuang melawan diri sendiri. Mau nyerah atau terus maju. Mau marah atau berlapang dada. Mau kecewa atau mau berefleksi. Mau berusaha atau mau diam dan menunggu.

Tingkat perjuangan itu relatif dan yang pasti, gue diingatkan bahwa hidup gue masih banyak rahmatnya. Masih banyak hal-hal yang harus disyukuri, daripada diratapi.

Gak mudah, tapi gue senang. Gue bersyukur.

Nah, kali ini gue punya request khusus. Gue butuh bantuan teman-teman untuk berbagi. Gue sadar, orang Indonesia itu baik hati dan suka sekali berbagi. Tapi masih cenderung kebanyakan mikir atau penuh mager. Atau sesimpel ragu. No. Perubahan dan kontribusi itu dimulai dari titik terkecil. Gak perlu besar, gak perlu nanti.

Saat ini gue lagi concern banget sama pendidikan di daerah-daerah yang terbatas. Nah coba deh lo liat dua kampanye untuk bantu di Morotai dan di Sungkung, Kalimantan Barat.

Gue selalu sedih dengan kualitas sekolah di daerah terpencil. Anak-anak ini gak minta dilahirkan di lokasi geografis yang salah. Kalau aja mereka di kota, seengganya baca tulis sudah jadi hak mereka. Sama klasiknya, anak-anak ini nanti penerus bangsa. Mereka adalah orang Indonesia yang mungkin belum tahu, apa sih blessing jadi orang Indonesia. Indonesia juga milik semua, bukan cuma orang Jawa atau orang Kota atau orang Islam - nada-nada mayoritas di negeri ini.

Jadi kalau memang ada rejeki lebih, sebarang 10ribu 20ribu, ikutlah berkontribusi. Jangan pikir "apa sih arti uang segitu?"
Untuk sebuah perubahan, rupiah yang sepele itu besar maknanya. Saat ini donasi juga sudah dimudahkan caranya. So jangan jadi anak bangsa yang penuh mager. Ga malu sama temen-temen yang harus jalan kaki ke sekolah, bahkan terkadang pake nyebrang sungai/laut?

Mau mengingatkan perkataan klasik,

"Gak ada orang yang jatuh miskin karena memberi"

Terima kasih teman-teman!

P.S: gue juga punya fundraising sendiri buat YLS17 di bit.ly/supportyls17 tapi gue merasa isu yang gue sebutkan diatas jauh lebih penting dari sentimen pribadi yang gue punya untuk YLS.

Sunday, June 11, 2017

Nonton Konser #6: 2PM 6 Nights

Udah lama ga ngereview konser, gue bahkan lupa cara nulisnya...


Anyway, ini adalah salah satu konser Korea favorit gue meski gue biasa aja sama 2PMnya karena faktor yang tidak disangka-sangka yaitu: LOKASI. Bayangkan saudara, konsernya dibelakang asrama gue! So ga ada alasan untuk gak nonton!

Beli Tiket
Santai sekali saudara-saudara soalnya gimana dong, mereka emang udah ga sengetop dulu. Terus ada 6 tanggal, jadi yaa banyak pilihan dan cadangan. Faktor lain adalah karena ini konser ulang, akibat Jun.K yang cedera pas konser pertama. Cederanya sadis btw, sampe patah sana sini.

Gue beli banyak karena mau nonton bareng kakak-kakak. Gue beli hari pertama dan hari kelima, gatau kenapa. Iseng aja. Mungkin kesenengan karena tinggal jalan kaki. Eh tapi kalo lo mau langsung dateng juga bakal kebagian tiket kok. Beneran kosong

Seating


Santai sih santai tapi gue ga jago juga dapet seat bagus. Cuma ga perlu kecewa, soalnya venuenya kecil banget. Gue duduk di M dan A yang belakang.


Menjanjikan kan viewnya? Yak, memang. Apalagi pas nunggu bisa konek ke wifi sekolah. Ya ampun aku bangga.

Venue
Special review karena gue terlalu senang.

Jadi ini adalah hall yang suka dipake cheering dan pembukaan awal tahun. Ga ada yang spesial. Yang gue tau sih kapasitasnya 7000 tapi di 2PM ini kurang lah ya soalnya settingannya. Di sekitar sini ga ada apa-apa, stasiun terdekat jaraknya 1km dan lo harus mendaki gunung lewati lembah. Kalo laper? Bestnya mampir ke minimarket asrama.

Berhubung gue adalah residen kampung sini, gue baru keluar asrama 20 menit sebelom konser. Mampir minimarket buat beli jajanan buka puasa dan masuk 5 menit sebelum konser mulai.

Kalo diliat-liat, settingannya rada sedih sebenernya.



Semua serba minimalis gitu. Gue mikir aja kalo di Indo penitipan barangnya macem gitu... Gue rasa ga ada yang mau nitipin barang juga hahaha.

Concert gear
Tidak ada. Hanya slogan yang ganti-ganti tiap hari. 2PMnya aja chill masa gue rebek.

Anyway, karena nontonnya bareng-bareng, bisa foto-foto dong.


Oh ngomongin gear, lightstick mereka jadi keren dan centralized gitu. Ya gue mau muji tapi keinget TVXQ udah duluan jadi biasa aja sih :)))

Jam Mulai dan Durasi
Wa bingung, baru pertama kalinya konser telat karena macet. Maksudnya, kalo telat sih udah biasa. Tapi dia pake speaker, bilang kalo mulainya ditunda bentar karena macet. Berasa nungguin audiens yang kejebak. Well sebenernya memang iya sih.

Durasinya draggy 2.5 jam. Kenapa draggy? Soalnya ada perpanjangan ment sambil nunggu matahari tenggelam demi efek yang lebih cantik.

Panggung
Efeknya biasa banget, ala dugem gitu. Gue terganggu banget dengan speaker dan mic hari pertama. Soalnya musiknya kegedean dan jedar jedar. Gue sampe semena-mena menjudge bahwa mic-ing 2PM berantakan kecuali Junho. Eh tapi things were different in day 5. Semua smoth dan enak.

Mereka invest di panggung yang turun dari atas gitu buat opening, tapi utilisasinya gak begitu bagus, cuma diopening doang. Yang maksimal malah panggung didepan section yang melingkar. Mereka sering banget kesitu, meski akhirnya panggung utama jadi void.

Aksi Panggung
Nah ini baru kekuatan 2PM. Bagus banget dan masih intact kekompakannya, meski Jun.K berperban tangan kanannya. Tapi jangan harap full choreo mayoritas lagu, karena mereka having fun dan ga terlalu coordinate di beberapa lagu yang medium beat.

Di hari pertama, gue sibuk ngeliatin mereka ngedance. Wooyoung emang udah beda banget levelnya dan surprisingly, Nichkhun terlihat lebih baik daripada Junho. Yang lain? Yha gausah ditanya. Masih niat dan super (yes ini beneran) tapi gak sepowerful Wooyoung Nichkhun Junho.

Pilihan Lagu dan VCR
Jujur aja, gue berharap banyak setelah berbulan-bulan nontonin video dari Go Crazy tour. Cuma kali ini memang konsepnya bukan konser biasa, lebih ke konser perpisahan dan time machine, so banyak konten dan lagu-lagu yang gue harapkan ga keluar. Lagu-lagu yang gue suka tuh macem Tired of Waiting, Fight sama I'm Your Man hahaha.


Eh tapi konsepnya kali ini adalah dari lagu paling baru ke 10 out of 10. Nah, disela-sela setlist yang fix, ada 3 lagu yang ganti tiap hari berdasarkan pilihan membernya.Tiap hari tuh beda-beda ini harinya siapa. Hari pertama adalah harinya Jun. K dan hari kelima adalah harinya Junho.

VCRnya minim dan ga bagus. Cuma ada satu yang meaningful, yang terakhir. Ga ada sketch atau konsep yang jelas gitu.

Interaksi dengan Penonton
BESTnya 2PM. Asli. Wow gue salut banget. Mereka terus menerus berkomunikasi langsung dengan penonton dan terlihat sincere. Tapi minusnya adalah saking keenakan, kalo ngomong suka banyak orang sekaligus. Biasanya Nichkhun out of place dan akhirnya sibuk main-main sendiri. Dia juga sibuk lempar handuk dari awal sampe akhir. Sponsoran tah?

Sedekat ini

Mereka ngambilin tongsis penonton diending dan selfie sendiri. Yha boleh mas. Ga ada posisi fix tiap member, semua keliling-keliling dengan hampir fair. Gue selalu nungguin Chansung karena dia terlihat paling sehat diantara yang lain saat ini, dia lebih sering ke kanan sih dariapada ke kiri.

Oh, kejutan lain adalah mereka gak langsung balik setelah ending tapi jalan-jalan sendiri dan selfie-selfie, pake prop dari penonton atau tebar pesona. Intinya, bukan model biasa yang sok encore-VCR-encore beneran-bye. Setelah encore, mereka ada kali 5-10 menit, keliling berterimakasih dengan caranya sendiri.

Yang unik adalah dihari ke5 ini banyak banget artis kenalan mereka yang nonton dan duduknya depan gue (satu section). Ada Twice dan gatau siapa banyak lagi, yang selalu Nichkhun sapa. Waktu semua orang berdiri tapi si mas ini gak berdiri, si Nichkhun bahkan suruh dia buat berdiri. :)))

Interaksi dengan sesama member juga seru banget. Main-main, bercanda dan basically, seperti biasanya aja.

Suasana dan Penonton
Favorit karena relax!
Tapi gue kurang paham aja, 2PM ini bawaannya dugem. Dari efek sampe lagu, semuanya dugem apalagi hari pertama berasa di club banget. Gimana ngga, yang blasting tuh lagunya bukan vokalnya. Nah, dengan suasana kaya gini, audiensnya mayoritas tante-tante berumur.

Well, boleh lah jiwa muda, apa lu kata. Tapi energinya jadi ga semeledak konser lain soalnya tante-tantenya gak ikutan loncat-loncat. (Keinget Shinee yang isinya anak SMA semua)

Gak mengganggu sih, gue tetep enjoy, probably karena gue tau lagu-lagunya, enjoy dengan venuenya dan mereka emang entertaining banget. Satu hal yang unik, disini bebas banget dengan foto dan video. Dari sekian banyak konser yang gue pernah datengin di Korea, ini konser paling chill.

Overall
Hari kelima worth banget sedangkan hari pertama gue bertanya-tanya apa ini bestnya mereka?
Ternyata memang practice makes perfect dan gue sangat senaaaang dihari kelima.

Gue senang 2PM punya warna sendiri dan tulus dengan karyanya. See you again 2 tahun lagi!


Wednesday, May 3, 2017

Cerita Toleransi, dari Seorang Mayoritas

Tadinya gue gamau komentar soal rasisme dan efek Pilkada yang akhir-akhir ini marak masuk berita dan sosial media. Tapi lama-lama sedih, dan bahkan meneteskan airmata juga baca beberapa artikel potret Indonesia saat ini. Apalagi sebentar lagi bulan puasa, gue prediksi akan banyak cerita yang lebih membuat miris seperti saat gue menulis post Polemik Puasa setahun yang lalu. Gue terpanggil, setelah membaca tulisan ini, tentang kuliah di UI sebagai Tionghoa.

Gue gak akan pernah lupa identitas gue sebagai triple majority: Islam, Jawa dan wanita. Gue lupa bagaimana gue mendapatkan istilah ini, tapi akhirnya nemu tulisan yang sangat keren disini. Secara identitas, ga ada alasan untuk gue mendiskriminasi gue, apalagi dengan latar belakang orangtua yang cenderung birokrat (bukan pengusaha). Tapi kenyataan ini gak pernah membuat gue nyaman. Meski mungkin hidup gue di Indonesia lebih tentram dengan triple majority ini, gue gak pernah minta identitas tertentu saat gue lahir, begitu juga dengan teman-teman gue yang minoritas kan?

Orangtua gue selalu berpendapat sekolah di negeri adalah yang terbaik. Tujuan nyokap gue sederhana, masuk SD terbaik untuk masuk SMP terbaik dan kemudian diterima di SMA terbaik, sehingga pintu menuju PTN terbaik pun terbuka lebar. Setelah dari PTN, bisa dapat kerja yang pasti - dengan penghasilan, asuransi dan pensiun terjamin. Tapi gue gak pernah merasa nyaman dengan sekolah negeri di Bogor, dimana mayoritas adalah pribumi dan Muslim.

Ada puluhan drama dimana gue gak betah sekolah saat SD dan SMP. Terutama dengan keadaan teman-teman gue yang seringkali gak bisa menerima gue yang berbeda. Gue dibesarkan dikeluarga yang multiagama dan penuh toleransi. Gue diberikan kebebasan penuh dalam hidup. Tapi sejak SD, gue yang gak pernah mau dipaksa menjalankan ibadah diwaktu yang telah ditentukan dan pakai kerudung ke sekolah menjadi kontroversi. Buat gue, itu adalah kebebasan menjalankan agama yang gak boleh dipaksakan oleh siapapun. Mungkin aneh, tapi nyokap gue malah pernah suruh gue lapor kalau ada siapapun yang paksa gue pake kerudung di sekolah.

Saat SMP, fanatisme agama makin kental. Ada tadarus Quran tiap pagi dan tentunya harus berkerudung, sholat dhuha bersama di lapangan sekolah sampai kewajiban berkerudung hari jumat. Guru agama gue pun sangat ekstrim, beliau kerap menanyakan hal-hal berbau agama ke teman-teman sekelas gue yang beragama non-Islam. Gue gak betah. SMP gue adalah sekolah negeri yang harusnya bebas dari keberpihakan terhadap agama tertentu, tapi kenyataannya berbeda.

Dengan perjuangan yang sangat sulit, gue masuk ke SMA swasta idaman gue, SMA Regina Pacis. Gak kebayang penolakan orang-orang disekitar gue, dari mulai keluarga sampai guru di sekolah. Kabar bahwa gue akan masuk SMA RP menyebar sangat cepat dikalangan guru-guru SMP gue dan hampir setiap hari, ada guru yang mencari gue ke kelas. Mereka bahkan meminta izin dari guru yang sedang mengajar di kelas gue untuk bicara empat mata dengan gue. Intinya, mereka ingin gue memikirkan kembali keputusan gue untuk memilih SMA RP, dan beberapa bahkan mengira ada tekanan dari orangtua gue dan siap berbicara dengan orangtua gue. Padahal ini murni keinginan gue. Sampai hari ini, keputusan untuk menentang semua 'pendapat mayoritas' dan melawan arus untuk masuk ke SMA Regina Pacis adalah hal yang paling membanggakan dalam hidup gue.

Sampai gue lulus, pertanyaan bernada heran "Kok dari SMP itu malah masuk RP?" gak henti-hentinya gue dapatkan.



Kenapa penolakannya sekeras itu?

Karena Regina Pacis adalah institusi Katolik. Sesederhana itu. Buat orangtua gue, lebih kompleks. Nyokap gue gak rela gue menyia-nyiakan kesempatan masuk SMA-SMA Negeri terbaik dan takut dengan tekanan status sosial. Buat nyokap gue, lebih baik jadi orang yang mampu dikalangan negeri daripada jadi yang termiskin dikalangan swasta elit seperti RP.

Masuk RP adalah dunia baru buat gue. Gue lebih kaget memulai hidup di RP daripada di Korea. Semua berbeda, dari budaya hingga demografis. Tapi satu yang paling menyentuh, semua sangat toleran. Semua bisa menjadi apapun yang mereka mau, tanpa batasan suku, ras dan agama. Siapapun boleh jadi ketua kelas sampai ketua OSIS. Semua siswa dikelas harus bisa memimpin doa yang netral. Semua siswa harus bisa menceritakan tentang agama mereka. Seketika gue merasa hidup dalam tempurung, saking kagetnya dengan level toleransi yang ditunjukkan.

Gue inget, gue sering banget menolak untuk memimpin doa, semata-mata karena gak pede bahwa gue Islam dan minoritas. Sampai akhirnya ada guru yang meminta gue untuk memimpin doa. Kaget dan gak terbiasa, doa gue sangat aneh. Guru tersebut pun bertanya, "Kamu Kristen?"
"Bukan, Pak."
"Terus?"
"Islam, Pak."

Tanpa menghakimi, beliau meminta teman-teman sekelas untuk lebih bisa membimbing teman-teman yang non-Katolik dalam memimpin doa - tanpa harus merasa kecil. Sejak saat itu, gue gak takut lagi mimpin doa.

Lalu saat acara tertentu atau kegiatan diluar sekolah yang melewati waktu sholat, mereka sangat terbuka dengan gue yang meminta izin untuk sholat. Bahkan ditempat retreat sekalipun, dilingkungan yang tentunya sangat Katolik. Kapanpun gue harus sholat ditengah-tengah acara sekolah, Ci Metta, temen gue yang jelas Cina dan Katolik, selalu setia nemenin gue dan nungguin gue. Bulan puasa dan lebaran dimasa SMA juga rasanya sangat berbeda dan berarti. Gak ada perbedaan antara bulan puasa dan bulan biasa. Tapi mereka bisa hormat dan bahkan kadang merasa bersalah makan di depan gue. Padahal yang puasa cuma satu atau dua orang di kelas, yang gak puasa 30 orang. Tentu bukan salah mereka. Kalau gue terganggu, gue yang harus pergi, kan? Tetapi penghormatannya memang sangat besar dan temen-temen gue juga gak pernah lupa mengucapkan selamat lebaran. Spesial, karena saat SMA, tiba-tiba gue dapet banyak ucapan lebaran, wujud sederhana dari perhatian yang sangat indah. Sedangkan diluar sana, masih banyak yang sibuk berkoar-koar mengucapkan Selamat Natal itu haram. Miris.

Cerita lain adalah kagetnya gue saat pemilihan ketua OSIS. Memang, tidak pernah ada peraturan yang membatasi siapapun untuk jadi ketua OSIS. Tapi pemikiran negeri gue berkata, "Sekolah Katolik ya ketua OSISnya Katolik lah"

Pemikiran gue terbukti dangkal dan salah. Pemilihannya berlangsung dengan demokratis dan gue cukup terkejut saat yang terpilih adalah siswa yang beragama Kristen. Siswa yang gak bisa bantu-bantu menyiapkan beberapa perayaan agama Katolik, karena memang dia gak mengerti tentang itu. Keterkejutan gue dipandang gak masuk akal oleh teman-teman gue. Mereka gak menganggap itu sebagai sesuatu yang spesial. Mereka gak tau kalau di sekolah negeri dimana gue berasal, hal seperti itu hampir tidak mungkin terjadi.

Disisi lain, teman-teman gue sadar akan rasisme diluar sana. Maka itu, dibalik segala joke rasis yang terlontar dengan bahagia, tetap ada rasa tidak aman bagi mereka. Mereka sadar akan ke-Cina-an mereka dan ke-kafir-an mereka. Buat temen-temen gue, mudah kok mengatakan "Kan gue Cina" atau "Kan gue kafir". Tanpa mereka minta, mereka selalu diingatkan dengan kenyataan itu, kenyataan bahwa mereka kurang diterima. Tapi mereka dengan begitu baiknya menerima gue dengan tangan terbuka.

Teman-teman gue juga hampir ga ada yang tertarik dengan politik. Buat mereka, politik cenderung buang-buang waktu karena semua tahu pemenangnya akan selalu mayoritas. Gue inget banget bagaimana semua orang terpaku pada Pilkada DKI 2012, momen pertama kalinya teman-teman gue bisa sepeduli itu dengan politik. Tentu mereka berharap Jokowi yang akan terpilih jadi gubernur. Sederhana, Ahok adalah keturunan Chinese dan mereka ingin terwakili.

Di SMA RP, gak pernah sekalipun gue merasa didiskriminasi. Malah, identitas gue menjadi hal yang sangat gue banggakan. Menjadi minoritas dikalangan mayoritas yang sangat suportif rasanya sangat menyenangkan. Gue pernah ditawari untuk mewakili sekolah ke lomba baca Quran tingkat kota (FL2SN), karena obviously, pilihan orang yang bisa baca Quran kan gak banyak. Gue merasa terhormat dan sangat diapresiasi, di SMA RP gue bisa menjadi siapapun dan melakukan hal apapun yang gue mau dengan cara yang adil dan benar.

Tapi beda halnya dengan teman-teman gue. Seperti yang Kak Sefin katakan ditulisan beliau mengenai kuliah di UI, mereka skeptis dengan dunia luar. Mereka takut gak diterima. Mereka banyak bertanya ke gue mengenai minoritas di sekolah negeri, yang memang kurang dihargai. Hal ini tercermin jelas diprofil pendaftar SNMPTN. Gak semua orang minat daftar SNMPTN, alasannya karena emang gak pengen masuk negeri. Entah karena sudah punya rencana lain untuk kuliah diswasta/luar, atau karena gak dibolehin ke negeri oleh orangtuanya. Hal ini bukan dirasakan oleh teman-teman yang Chinese saja, tetapi juga pribumi yang beragama non-Muslim.

Gue sendiri daftar SNMPTN ke jurusan Bisnis Islam dan Ekonomi Islam Saat mendaftar, gue udah tau, kesempatannya akan sangat kecil. Entah karena nilai gue yang gak spektakular, atau karena fakta sederhana: gue berasal dari SMA Katolik.

Bagian terbaik dari pengalaman gue bersekolah di SMA Katolik sebenarnya sangat tidak disangka-sangka. Gue menjadi jauh lebih religius, lebih dekat dan percaya kepada Allah SWT. Gue gak bisa bilang gue menjadi Muslim yang baik, belum. Tapi hubungan gue dengan Allah jauh lebih baik ketimbang SD dan SMP. Gue tersentil dengan lingkungan gue, gue diberikan kesempatan untuk menjadi apapun yang gue mau. Gue bisa pindah agama dan melakukan hal-hal yang gak lazim dilingkungan gue sebelumnya seperti, mungkin, makan babi. Tapi gak. Lingkungan gue di SMA mengajarkan gue untuk tidak pernah mengorbankan identitas diri sendiri dan menghargai setiap proses yang ada. Gue mencari identitas dan agama terbaik buat gue sepanjang hidup gue. Jawaban yang memperdalam keislaman gue malah gue dapatkan di SMA Katolik. Seperti motto SMA RP, "Mencari kebenaran melalui cinta kasih."

Masa-masa penuh toleransi ini sangat gue rindukan. Gue sangat bersyukur gue diberi kesempatan untuk melihat keberagaman Indonesia dari sisi yang berbeda. Semoga kaum mayoritas mau lebih berbesar hati, membuka diri dan pikiran. Semoga kaum mayoritas Indonesia bisa belajar dari teman-teman minoritas yang gue temui di SMA RP. Semoga Indonesia bisa jadi rumah bagi semua orang yang percaya akan ideologi kita, Pancasila. Semoga Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya slogan semata.