Wednesday, January 30, 2019

Kenapa Aktif Sosial Media?

Orang-orang suka heran kenapa gue peduli dengan sosmed dan aktif bersosmed. Apakah karena gue suka popularitas? Apa karena uang gue ngalir dari sosmed?

Ga banyak yang tau, gue awalnya ngeblog, jauh sebelum gue mulai sosmed. Blog gue dah on sejak 2007 - lebih dari 11 tahun yang lalu. Isi dan motifnya sederhana, penyaluran kemarahan karena gue gak diperbolehkan menunjukkan emosi di rumah. Terlalu bahagia ketawa-ketawa salah, kalo nangis juga dimarahin. Yasudah, curahan hati masuk blog aja.

Sering gue bilang, blog cenderung jadi platform satu arah. Interaksinya super minim, karena yang komen dikit. Tapi gue tetep ngegas, karena motif dan tujuannya cenderung egois.

Lama kelamaan, terutama sejak SMP, blog jadi media gue menyalurkan opini terhadap isu populer. Pas SMA, blog mulai jadi sarana menyimpan kenangan dan berbagi informasi. Setelah di Korea, konten gue jadi cenderung padat informasi dan testimoni karena akhirnya gue menemukan fungsi utama blog: berbagi pengetahuan.

Gue pernah menjadi orang yang haus informasi, bolak balik google demi cari testimoni orang yang sudah punya pengalaman - bukan sekedar info page resmi. Gue tau susahnya dan betapa berartinya kesaksian orang yang punya pengalaman langsung. Ketika gue sudah layak menjadi "sumber informasi", gue pun merasa punya tanggung jawab untuk berbagi.

SEALNet, volunteer, KGSP, hidup di Korea, jalan-jalan gratis, kuliah di Korea... Konten seperti ini banyak di Youtube tapi susah digoogle. Gue lebih pilih blog atau media dengan kata seperti Twitter. Gue lebih bisa mengekspresikan diri lewat kata juga, bukan lisan.

Alasan kedua, gue pengen jauh dari asumsi. Masih nyambung sama tulisan gue sebelumnya, Be Authentic, gue pengen orang kenal gue sepenuhnya dari perjalanan dan perjuangan gue. Gausah berasumsi gue sampe Korea karena gue kaya, jenius atau apa. Jangan salah paham mengartikan background gue kak. Gue ga ada bedanya sama temen-temen yang lain, kadang gue punya informasi berlebih aja dan dapet kesempatan aneh-aneh karena anaknya terlalu kepo dan senggang.

Semua orang bisa dapet beasiswa ke Korea, mau kaya atau miskin, mau jenius atau nilainya B aja. Semua tergantung usaha dan sekeras apa mau coba.

Semua orang bisa ikut volunteer diluar negeri, kalo tau gimana daftarnya dan niat buat terus memperbaiki diri. That's it. Gue pengen semua anak Indonesia punya kesempatan yang sama, dan gue rasa blog paling pas karena infonya bakal bisa disimpen terus dan terdeteksi Google.

Untuk sosmed, kenapa gue rajin bener sosmedan? Ya motifnya sama. Gue pengen meluruskan asumsi dan berbagi informasi. Masyarakat Indonesia adanya disosmed, cara tercepat, termudah dan gratis ya berarti berkoar-koar (kata followers sih "teriak") disosmed. Gue sadar betul masalah rejeki dan resiko jadi persona non-anonymous disosmed. Gue pernah berpikir dalam-dalam untuk meninggalkan sosmed, tapi pada akhirnya gue merasa gue egois kalo gue menutup rejeki orang lain dengan ga berbagi informasi...

Which leads me to my main point: pernah mikir gak ketika ada orang/institusi yang investasi di lu, mau berupa uang/waktu/sumber daya lainnya, lu sebenernya seperti diberikan kekuatan dan pilihan. Kekuatan bisa berupa pengetahuan atau pengaruh sosial nih. Contohnya saat SEALNet pilih gue jadi project leader, atau saat pemerintah Korea kasih gue beasiswa. Gue diberikan "power" berupa kesempatan pengembangan diri, pengetahuan dan koneksi.

Nah dengan power tersebut, gue mendapat pilihan untuk menyimpan itu sendiri, jadi lebih maju, bisa jadi yang paling unggul sampe mungkin ga punya saingan - atau gue berbagi kekuatan yang gue dapet dan maju bersama orang lain tapi resikonya gue bisa disalip 'follower' atau mungkin gak dihargai sama sekali?

Gue pilih yang kedua. Gue berharap ketika ada siapapun yang investasi di gue (dalam bentuk apapun), mereka bisa melihat bahwa mereka ga hanya membantu dan membuat Alira lebih maju, tetapi juga memajukan komunitasnya. Gue akan senang kalo temen atau orang disekitar gue turut mendapatkan manfaat dari hal tersebut dan ga masalah ketika gue harus mengalah atau dikalahkan. Buat gue, rejeki sudah ada porsinya masing-masing dan yang terpenting: kebahagiaan gue bukan bersumber dari kemenangan atas sebuah persaingan.

Gue harap gue gak sendirian. Kalo ngga, apa bedanya society kita sama orang-orang yang ngebet masuk SKY dengan sikut sana sini untuk memajukan diri sendiri... #foodforthought

Sunday, January 27, 2019

Be Authentic: Sesulit Apa?

Sudah seminggu terakhir gue merenung soal pilihan hidup dan karir gue, terutama dalam konteks sebagai pelajar di Korea. Gue cuma punya waktu kurang dari setaun lagi sebelum masuk ke dunia kerja dan menurut gue, keputusan hidup kedepannya mau apa dan kemana adalah tanggung jawab yang besar. Gue tau apa yang gue mau, tapi berusaha tidak menutup diri terhadap berbagai pilihan. Hanya saja, ada satu syarat utama yaitu apapun pekerjaan yang gue ambil, gue ingin diperlakukan fair dan industrinya tidak semena-mena.

Akhir-akhir ini, fokus utama gue adalah diskriminasi yang gue terima sebagai mahasiswa asing. Mayoritas orang di Korea belum terbuka terhadap orang asing sebagai talent, masih cenderung menganggap sebagai musuh, kalau bukan dianggap lebih rendah karena gue dari negara berkembang. Gue gak terlalu ambil pusing soal dianggap "kurang layak" karena gue bisa super idealis dan memilih tempat yang hanya menghargai gue, tapi pagi ini gue kepancing banget dengan sebuah artikel tentang pendidikan di Korea (cek disini). 

Inti dari artikelnya adalah Korea punya banyak sekali manusia-manusia berkualitas, malah cenderung overqualified. Tapi Korea cuma ranking 74 untuk keterbukaan pasar dan ranking 81 untuk tingkat atraktif bagi global talent. Bahkan problem ini sebenarnya sudah terlihat dimana asalnya: pendidikan di Korea selalu mengajarkan murid-muridnya untuk bersaing dijalur yang sama dan berlomba menjadi yang terbaik dibidang yang sama. Ga ada uniknya, ga ada kepribadiannya. Eh ditambah lagi kebijakan ketenaga kerjaan yang mempersulit orang-orang dengan pendidikan tinggi untuk bisa dapet kerja, apalagi untuk berpikir pake bakat dan potensinya secara bebas.

Gue merasa pikiran gue terjawab. Gue sering mendengar nasihat-nasihat general dari banyak orang. Mayoritas tentunya sangat bagus dan penuh makna, seperti coba banyak hal, planning itu penting, jangan mudah menyerah, kerja keras, belajar yang rajin, berani coba tantangan dsb tapi satu yang kurang. Gue ga pernah diajarkan untuk menjadi diri sendiri. Sedikit sekali orang yang percaya dengan penuh bahwa gue bisa menemukan jalan sendiri dan gak harus selalu bermain aman.

Di Korea, ini sangat relevan. Semua orang menginginkan hal yang sama dan mencoba bertanding dengan strategi yang sama. Masuk sekolah bagus, belajar keras untuk GPA tinggi dan kemudian masuk perusahaan besar. Gue berkaca pada diri gue sendiri. Gue ada di sekolah bagus, tapi gue gak belajar keras dan gak punya GPA tinggi. Mimpi gue juga bukan jadi successful salaryman. Lalu apa gue bisa sukses di sistem ini? Apa ada perusahaan atau tempat yang bisa menghargai talenta gue dan melihat gue sebagai manusia, memberikan gue ruang gerak dan bisa membantu gue tumbuh sebagai manusia yang all-rounded, bukan sekedar pegawai super produktif yang jago ikut template?

Inti kegalauannya: apa orang akan bisa melihat gue seutuhnya, ketika gue menolak menjadi bagian dari sistem yang gue anggap toxic dan tidak sehat?

Karena gue belum bisa jawab pertanyaan diatas, gue berusaha memikirkan hal lain. Sebenarnya, apa itu "be authentic" dan seberapa sulitkah? Seberapa pentingkah menjadi otentik buat diri gue? Akankah gue bisa berkompromi?

Be authentic or be real does not always involve going antimainstream. Banyak yang berpikir lo harus unik dan beda buat jadi diri sendiri. I don't think so. Gue genuinely suka traveling dan gue rasa ada miliaran orang yang juga suka traveling. Pilihan makanan dan pilihan baju gue bisa jadi sangat pasaran, tapi gue memilihnya karena gue memang suka. 

Be authentic mungkin lebih dekat ke "walk the talk", penuh komitmen dan bisa dipercaya. Apa yang lu katakan sejalan dengan apa yang lu lakukan. Apa yang lu mau sesuai dengan values hidup yang lu dambakan, bukan karena orang lain atau karena tekanan masyarakat. Menjadi otentik berarti bisa mengurangi judgment terhadap orang lain, berlaku dengan penuh respek dan tetap jujur.

"Every authentic person I’ve met is someone that is open to new ideas. They may live by a code of values and morals that remain constant, but when it comes to opinions, people and events, they’re always open to listening. Authenticity asks that we judge free of bias. That we’re honest brokers who are impartial in all affairs." - Christopher Connors

Gak mudah untuk jadi diri sendiri disaat semua orang melihat, mengamati, mengomentari dan tentunya melawan keputusan kita untuk jadi "real". Secara matematika, lebih mudah berdamai dengan satu orang (diri sendiri) dibanding melawan begitu banyak orang yang menuntut kita untuk mengikuti standar mereka, kan? Tapi hidup bukan soal kuantitas. Satu orang (diri sendiri) ini lah yang akan selalu ada, selalu bisa diandalkan dan selalu menjadi sumber kekuatan. Gue pilih memperjuangkan diri sendiri daripada berusaha memuaskan 1000 orang diluar sana yang belom tentu mau bantu gue saat gue jatuh.

Seberapa pentingkah menjadi otentik untuk gue? Akankah gue bisa berkompromi?

Ini jadi pertanyaan besar dalam hidup gue, karena gue nyaman menjadi seseorang yang jujur dan otentik. Gue mencapai titik dimana gue berada saat ini karena gue selalu berusaha menerima diri sendiri, dengan segala kekurangannya, dan gue sangat bahagia. Gue masih mencari jawaban apakah prioritas utama gue dalam hidup, dan sanggupkan gue mengkompromikan personal values gue untuk hal lain - misalnya pekerjaan yang super menggiurkan secara status sosial dan gaji?

Bisakah gue meninggalkan identitas gue sebagai Alira - untuk kesuksesan jalur cepat yang mungkin harganya adalah idealisme dan personal values gue?

Saat ini, rasanya gak mungkin.

"Be passionately authentic. Do what you really want to do, be damn good at it and live your life passionately." - pesan ini menangkap prioritas hidup gue hari ini. Buat gue, gak ada ilmu yang sia-sia. Buat gue, gak ada pilihan hidup yang paling baik diantara yang lainnya, selain pilihan yang kita tentukan sendiri dengan penuh tanggung jawab. Gak ada jalan hidup yang paling benar, selain hidup yang kita bisa banggakan kini (di dunia) dan nanti (di akhirat). Gak ada pendukung yang bisa selalu ada 24/7 kalau bukan diri sendiri dan Tuhan.

Find your purpose in life. Semoga kita semua tidak harus mengalami kehilangan arah dan tujuan dalam hidup. Selamat mencari jati diri dan mencoba menjadi fans dan pendukung nomor satu diri sendiri.

Thursday, December 27, 2018

Kaleidoskop 2018: Travel

2018 adalah tahun gue traveling seakan hidup tanpa beban dan penyesalan.

Januari

Gue mengawali tahun di Bali, terbang kesana kemari dalam waktu singkat. Bali sebenernya penuh kenangan karena gue menghabiskan satu malam bersama Ry dan Tran, teman-teman terdekat gue di SEALNet. Tapi karena konteksnya kerja, gue lebih ingat kenangan dan detail kerjanya... Anyway, seminggu pertama gue terbang kesana kemari tanpa direncanakan, tau-tau tanggal 15 Januari udah di  Melbourne sendirian - tanpa rencana yang jelas juga. Lanjut eksplor the land down under, sampe ke Auckland, New Zealand ke rumah temen yang ketemu cuma dua kali dan kurang dari satu jam. Hidup emang semisterius itu.

Auckland Tower
Gue suka banget New Zealand tapi susah untuk eksplor jauh karena gue ga bisa nyetir. Memanfaatkan segala keterbatasan, gue sama temen gue pun eksplor kota Auckland, ke tempat-tempat yang diapun belom pernah datengin. Oh kita juga ke Rangitoto Island, pulau ga berpenghuni dan ga ada listrik, tapi ada sinyal 4G!

Perjalanan diakhiri di Sydney. Jauh lebih fun, gue jalan-jalan ke Manly, pantai pegunungan semua dicoba. Hostel di Sydney juga jauh lebih bersih daripada di Melbourne. Tapi gue banyak mengalami hal-hal aneh yang membuat gue memutuskan bahwa kehidupan ala Australia bukan buat gue. Gue ga bisa liat toko-toko tutup jam 6 sore. Selain itu gue juga misbudget trip ke Australia karena gue pikir gue akan pergi bareng keluarga, eh ternyata sendiri... Habis deh terkuras karena Australia ternyata mahal banget, kecuali Cotton On.

Sebelum Januari berakhir, gue udah sampe Srilanka

Februari

Liburan 3 benua ke Asia (Selatan),  Eropa dan Afrika (Utara).

Gue lupa kenapa gue pengen ke Srilanka. Gue cuma terbayang alam, sederhana, meditasi... It did not turn out to be what I expected karena gue ga sempet ke desa, tapi tetep seneng. Sayang banget cuma sebentar, karena gue lanjut ke Marrakesh lewat Frankfurt.

Marrakesh and hating it

Gue ga suka Marrakesh dan Frankfurt. Gue bener-bener ga nyaman di kedua kota tersebut dan ga sabar pengen keluar. Dihari gue terbang ke Madrid, ternyata gue sakit dan ga bisa ngapa-ngapain selama 3 hari... Yasudah istirahat total sebelum akhirnya ke Brussels.

Gue suka banget Brussels dan nyesel cuma semalem disitu! Gue ga tau apa-apa dan lewat Brussels cuma karena Tyas tadinya pengen kesana but she cancelled the trip anyway. It was a nice surprise dan berikutnya gue lanjut ke Mira, kota disebelah Venezia buat ketemu Mbak Fanny, temen gue dari trip Italia pertama gue. Gue stay di tempat Mbak Fanny dan ditemenin ke Venezia, Burano dan keliling Mira. Seneng banget dan setelah itu gue ke Peschiera del Garda.

unexpectedly nice:  Lake Garda

Gue gatau apa-apa soal Peschiera del Garda. Asal pilih karena gue punya waktu sebelum harus pulang via Milan. Jadi gue pure cuma cari kota diantara Venezia dan Milan. Ternyata gue JATUH CINTA sama Danau Garda dan gue punya mimpi baru: pensiun di Danau Garda. Di hari terakhir gue bahkan masih sempet ke Verona dan bener-bener tersentuh karena biasanya cuma liat Arena di Verona dari DVD konser penyanyi Italia kesukaan gue.

Pulang lewat Frankfurt dan Srilanka lagi, nothing much selain salah tanggal check in dan kekurangan cash. Akhirnya gue ditolongin staff hostel super baik yang mau kasih diskon buat gue dan early check in jam 6 pagi meski harusnya check in jam 3 sore. Betapa bersyukurnya gue bisa ketemu orang-orang baik di setiap tempat yang gue kunjungi.

Bulan belum berakhir, gue masih ke Derawan sama Bunga buat island hopping dan KEREN BANGEEEET! Super berkesan karena alamnya sangat cantik dan resortnya memadai. Tapi emang ga lucu sih 12 jam perjalanan dari Bogor sampe penginapan di Pulau. Gue jadi pengen eksplor makin banyak daerah di Indonesia tapi masih terhalang dana dan teman. Kali ini trip kita sponsored, tapi lebih dari itu, gue susah cari temennya. Lingkaran gue di Bogor ga gitu minat sama laut apalagi berenang -_-

Maret

Gue mendalami Kpop dengan ke kafe-kafe milik idol kpop dan pameran Kai EXO. Sounds boring? Enak aja, ini modal sangat berharga buat kerja karena klien gue kan banyak penggemar Kpop.

Sisanya gue lupa, tampaknya nothing much.

April


Gue ga inget banyak selain ke Jinhae buat liat sakura bersama klien dan bunga-bunga di Busan. So fun I liked it!




Akhir bulan, gue ke Busan lagi buat kerjaan. Sekolahnya pa kabar? Baik kok.

Mei

Diawali dengan konser TVXQ dan piknik di Hangang, gue kayanya bulan Mei super jenuh. Gue sempet ke Hanoi buat visit Ha, temen gue, dan keluarganya 4 hari. SUPER FUN SUPER NICE. Gue juga mulai ketagihan hiking jadi gue sempet ke Ba Vi Mountain.


Ga sampe disitu, kesel ga bisa lebaran, gue, Bunga dan Kya sempet ke Damyang, 3.5 jam dari Seoul, buat liat hutan bambu. Serasa ga penting? Wey bagusan Damyang daripada jauh-jauh ke Jepang buat atraksi yang sama.

Juni

Incheon - kerja sambil jalan

Gue dapet klien yang super seru jadi gue ke tempat-tempat anti mainstream di Incheon dan Seoul. Menjelajah bersama, karena gue juga beberapa belom pernah. Selanjutnya gue PULANG! Cuma buat waktu super singkat tapi sempet Pilkada di rumah.

Juli

Suncheon
Gue kira gue bakal jadi pengangguran 1.5 bulan jadi gue jalan-jalan ke Yeosu dan Suncheon.  Suncheon officially jadi salah satu kota favorit gue di Korea, karena banyak destinasi seru dan temen gue disana asyik banget! Padahal kita cuma pernah ketemu sekali loh.

15 Juli gue eksplor Songdo, Incheon bersama warga Songdo yang dulu roommate gue. Banyak banget nemu mainan seru, meski hari itu SUPER PANAS. Gue dan Bunga pun jadi jatuh hati sama Songdo.

Bach Ma Mountain, Hue

Diakhir bulan gue terima job ke Hue, Vietnam. Hue adalah kota terbaik buat vegetarian dan harganya super murah bikin pengen nangis. Hue makin seru karena Ha dan suaminya nyusul gue naik kereta malem. Super touched!

Kerjaannya juga sebenernya eksotis: jalan-jalan meditasi ke Gunung Bach Ma. Tapi gue ga suka karena listrik cuma ada jam 5-11 malam dan kita tidur di rumah hantu. Tetap disyukuri, kalo bukan karna kerjaan, ga akan sampe ke Hue.

Agustus

The beginning of my weird travel pattern. Gue nonton konser JJ Lin di Singapore terus pulang untuk 4 harian gitu. Tujuan utama emang nonton konser, tapi gue juga jalan sama Ry-Ann dan jalan-jalan bareng doi. Tempat yang kita kunjungi ga banyak, tapi berhubung gue dateng dalam kondisi jenuh banget sama hidup, gue cari hotel yang nyaman dan kemana-mana naik Grab - gamau naik MRT. Kemewahan berlanjut setelah konser. Berhubung gue ga dapet tiket murah buat pulang ke Jakarta, gue pun memutuskan nginep di Montigo Resort di Batam biar terus pulang dari Batam, harganya murah juga. Murah ukuran resort sih.

Montigo

Fancy Moalboal life

Dari rumah, gue langsung ke Cebu buat diving! Bukan di Cebu kota tapi di Moalboal, tempat SUPER KAMPUNG yang jauh banget dari Cebu.  Tapi super recommended karena murah, memuaskan dan bisa ambil sertifikasi PADI. Yes, gue sekarang udah official punya diving license. Udah bisa diajak ngedate dikedalaman 18m. (FYI salah satu idola gue adalah om-om yang hobinya diving)

SEALNutters dan teman-temannya

Beres diving, gue dan Bunga ke Cebu City dan hidup super fancy. Hotel langsung cari yang punya kolam renang standar olimpik, ngemall, tiap makan harus beli dessert, jalan deket tapi ngegrab. Meski cuma semalem, super memorable dan gue juga sempet catch up sama temen SEALNet dan pacarnya yay!

31 Agustus gue terbang ke Malaysia buat kurang dari 1 hari demi nonton konser Eric Chou.

September

I ran for my life ngejar flight balik ke Seoul abis konser Eric Chou. Mishapnya banyak banget tapi gue puas karena dalam belasan jam gue di Malaysia, gue ketemu Kak Afyna - senior super nice dari Malaysia yang dulu kuliah di Korea, nonton Crazy Rich Asian sama Kak Aqhiel - si master sexy body language dan catch up sama Suet Ying, temen gue dari projek SEALNet ditahun 2014. Seneng banget super produktif!
birthday dinner with besties

Singapore trip with besties

Kurang dari 3 minggu kemudian, gue balik ke rumah buat birthday dinner, dan besoknya lanjut Singapore buat jalan-jalan sama Ghea dan Vanda. Super seru karena kita eksplor anti-mainstream Singapore tanpa keluar uang buat admission fee. Uangnya abis dijajan dan jajan...

3 hari 2 malam di Singapore, gue balik bareng mereka ke Jakarta tapi gue langsung terbang ke Incheon. Ga sampe disitu, di Incheon pun gue cuma tuker koper dibantu Bondan yang bawain koper gue dari rumah, terus gue lanjut ke Italia. Seperti orang super sibuk, gue juga gapaham kenapa gue bisa mengiyakan jadwal seperti itu...

SAN MARINO CANTIK BANGET
Gue 10 harian di Italia, eksplor Danau Como, Rimini, San Marino dan sedikit Puglia. Trip kali ini terlalu mendadak dan gue ga punya budget. Harusnya ke Swiss sama keluarga, tapi cuma visa gue yang keluar tepat waktu. Berhubung ga ada rencana, mau kemana-mana juga bingung, karena posisinya diakhir musim panas jadi tempat wisata udah pada tutup. Akhirnya gue cari destinasi yang deket-deket air (seperti biasa).

Eh nyampenya kok ke pedasaan banget?!?! Sempet marah sama diri sendiri karena gue pergi ke desa yang terlalu desa. Nyampe di Stasiun Dervio, stasiunnya tutup! Mau cari makan, eh sialan satu kota tutup semua kedai makanan karena hari Senin dan Rabu, lah gue datengnya Rabu. Gue sempet bete seharian sampe mikir, "Haduh kenapa gak ke Lake Garda lagi aja sih..."

Akhirnya happy juga sih hari berikutnya, karena ternyata Lake Como jauh lebih bagus transportasinya, ada ferry umum. Gue juga seneng bisa ke San Marino dan Bari - destinasi idaman gue sedari dulu. Downside lainnya, gue banyak merenung dalam trip ini, saking gataunya harus kemana atau ngapain dan faktor hemat budget. Akhirnya gue staycation 4 malam di Rimini.

Selagi menikmati hidup, gue ngetweet soal lifestyle traveling gue dan meledak. Dimulai dari kejadian itu, gue jadi merasa lebih leluasa beropini di Twitter karena ternyata banyak teman-teman yang merasa relatable.

Oktober

Kepulangan gue ke Korea ga berlangsung mulus karena masalah visa tapi endingnya gue bisa masuk Korea kok hahaha. Gue kembali ke realita menghadapi kuliah dan midterm. Tapi seperti biasa, habis midterm gue ngegas lagi jalan-jalan. Kali ini destinasinya dekat, Incheon!


Incheon super fun karena gue spending buat makanan semacam orang gila bersama Kya, housemate gue. Kita foto-foto dan nyantai-nyantai aja.

November

post-hiking, super dead

puncaknyaaaaa

Gue slowdown dengan jalan-jalan gue karena gue mulai stress liat bahan perkuliahan. Tapi bukan berarti gue jadi anak rumahan juga. Diawal bulan gue masih sempet hiking ke Bukhansan, gunung tertinggi di Seoul, sama Marcell. Gue menyesali keputusan itu tapi sebenernya good experience sih. Gue bisa sampe puncak karena ga ada jalan keluar lain selain beresin tracknya dan kalo ga jalan, ya ga beres-beres... Mungkin next time gue ga perlu mencari puncak tertinggi dan perginya harus selalu sama temen yang siap ngelayanin keluhan dan bisa jadi motivator disaat lu mau give up.

Selebihnya, gue nonton konser hampir tiap minggu. Konser yang gue hadiri ada Blackpink, Fly To The Sky sama XIA. Akhir bulan gue sakit parah, jadi gue lebih banyak tidur. Good decision.

Desember

sleepin raccoon

kyutie

Entah kenapa gue mainan sama binatang dibulan ini. Bermula dari badmood dan jenuh butuh hiburan, Ilen menawarkan diri nemenin gue main sama kucing. So precious karena dia ga suka kucing. Beberapa minggu kemudian, gue diseret Kya main ke kafe raccoon tapi ternyata banyak anjingnya... Mau marah juga udah terlanjur nyampe sana.

Gue ga terlalu banyak liburan domestik selain Kpop Tour yang beneran full Kpop, menelusuri jejak BTS dan artis-artis SM. Highlightnya adalah gue pulang ke Indonesia sebelum mulai kerja!

Satu hal yang gue pelajari ditahun 2018: pulang ke Indonesia bukan berarti pulang ke rumah. Ini adalah kali kedua gue ditolak pulang ke rumah karena ga ada orang, dan disuruh nginep di Jakarta aja. Ternyata rasanya ga terlalu menyenangkan.

Yak, seru banget semua trip gue di 2018. Ada suka, duka, susah, senang dan semua banyak pelajaran hidupnya. Gue pulang ke rumah 5 kali, gue masih sempat internship saat summer dan GPA masih super disemester 1. Gue ketemu banyak temen lama diperjalanan dan bersyukur bisa terus jaga hubungan.

Gue ga punya banyak travel plan ditahun 2019. Gue harap gue bisa terus ingat betapa berharganya semua pengalaman yang gue dapet dari traveling ditahun 2018 dan terus bersyukur untuk kesempatan backpacking hingga luxury travel tahun ini.

Nantikan 2019: haji.


Sunday, December 9, 2018

GIVEAWAY #2 2018

Merayakan kebahagian dan berkah yang berlimpah, sekalian ngabisin stok album yang nganggur di kamar... Berikut beberapa album yang siap dibagikan.

TVXQ The Chance of Love


I gatau versi mana, bahkan baru tau ada dua versi. Masih dikardus beli online karena mau dukung TVXQ comeback pertama tapi ga pernah dibuka. Ada poster tubenya juga, tapi ga janji bisa bawa ke Indonesia atau ngga. Diusahakan :D

Album Hwang Chi Yeul - unsealed

Versi yang kanan. Dapet dari Teh Zahra dan siap dibagikan bagi yang ngefans.

EXO - Don't Mess Up My Tempo (cover random)
Lagi-lagi ada yang beli online belom dibuka dapet yang mana, no poster karena udah bukan masanya hahaha.

2 CD NCT 2018 - Empathy



Udah ga segel tapi ga pernah diplay sih, dapet lungsuran dari temen karena dia beli kebanyakan cuma buat fansign aja.


Novel Sarong Party Girls

Ini totally ga related sama Kpop tapi kalo suka fiksi rasa Singapore, cocok. Liat review disini.
Kondisi bagus. Ga gue coverin sih. Buat yang kepincut Crazy Rich Asian, ini ceritanya soal cewe yang obsesi mau naikin status sosial dengan nikahin bule. Cuma mau bule.

Bahasanya dari kalimat pertama sampe terakhir super Singlish (Inggris gue juga Singlish btw makanya gue suka buku ginian).

LEE WEI LING - A Hakka Woman's Singapore Stories


Ini buku serius dan gue gatau apakah ada yang minat atau ngga? Penulisnya, Lee Wei Ling, adalah dokter bedah yang memutuskan untuk stay single seumur hidup karena banyak alasan. Dia share banyak pespektif hidup dan tentu alasan dan pola pikir dia. Gue belajar banyak dari kumpulan artikel Lee Wei Ling yang dimuat dibuku ini, soal pandangannya sebagai rakyat, sebagai anak pendiri negara Singapore (Lee Kuan Yew) dan hidupnya yang jauh dari politik. Bagian favorit gue adalah hidupnya yang super strict sama aturan dan super sederhana meski kaya raya.

Seru juga baca bukunya dengan pikiran terbuka, karena gue ga selalu setuju sama pendapatnya. Dibeberapa artikel gue suka mikir, "Lah keras amat. Kok ngotot banget, kok dia bisa kritik sekeras ini?"

Oh bagian terbaiknya, karena ini adalah kumpulan artikel, semua tulisannya pendek-pendek. Jadi ga usah khawatir bakal pusing atau capek bacanya. 1 chapter paling cuma 3-5 halaman gitu.

Yak, akan diupdate kalau ada yang keinget lagi. Koleksi gue banyak yang aneh-aneh kalo soal buku.

SEPERTI SEBELUMNYA. 
No biaya no pungutan, gue yang kirim sampe rumah kalian selama masih di Indonesia. Syarat kali ini adalah follow insta pribadi gue dan insta 'review' gue di @ayamtheexplorer! Muahah banyak yah?

Kalo udah, kasih tau gue via komen di POST INI mau item yang mana (dari tiga album dan satu buku) dan channel sharing apa yang paling menarik diantara Blog, Insta, Twitter atau Youtube. Kenapa dan mau konten apa. Sekalian kasih tau juga ID insta kalian biar bisa aing DM nanti kalo menang!!  Pemenang dipilih dari undian diantara kandidat yang jawabannya terniat. 

DITUTUP SAAT GUE MENGAKHIRI HIDUP SEMESTER INI (17 DESEMBER). Yang menang gue akan bales komennya atau DM Insta untuk minta alamat.
Yak sekian.

Monday, November 26, 2018

I Left

Beberapa minggu lalu, gue tulis post Budak Quote, dimana gue bercerita tentang perasaan gue terhadap seorang mas-mas yang gak ekspresif. Akhirnya gue memutuskan untuk pergi.


Kita bisa hidup tanpa satu sama lain and we are doing fine. Kita teman. Kita gak gitu sensi soal siapa yang kontak duluan, kalo butuh, saling kontak aja. Gue dan dia sama-sama merasa bebas untuk tiba-tiba ngechat, meski ngga sampe telpon. Akhir-akhir ini, dia yang selalu kontak gue duluan. Gue rasa sambutan gue selalu baik, gue gak pernah nyuekin dia, tapi gue merasa gue yang dicuekin.

Ingat, ini semua asumsi. Versi dia bisa beda dengan versi gue.

Percakapan sama masnya hampir sebulan yang lalu terasa sama menyenangkan. Percakapannya juga terkesan sehat, saling berbalas, sampe gue sadar akan sesuatu hal: semua selalu tentang dia. Dia mau didengarkan, tapi seringnya dia kurang mendengarkan. Dia baru sadar seberapa serius atau seberapa ga setujunya gue ketika gue meninggikan suara gue. Disini gue mulai ga sreg, iya dia peka, tapi selama ini mungkin dia bercerita ke gue hanya karena gue adalah pendengar terbaik buat dia. That's perfectly fine, gue suka jadi pendengar yang baik.

Tapi I feel that the way he makes me feel worthless at times is unhealthy.

We could've been more supportive toward each other, dimana menyayangi dia sama dengan menyayangi diri sendiri. Dimana mendukung dia sama dengan memberikan kekuatan untuk diri sendiri. Tapi ngga, gue bahagia ketika dia bahagia - hanya sampai situ. Gue gatau gimana dia, karena kehadiran gue dengan perasaan, keluhan dan sensian gue gak berharga dimata dia. Gue mendengarkan dia dengan penuh konsentrasi, begitu gue yang membuka cerita tentang hari gue, dia mulai beralih perhatiannya ke hp atau ke hal-hal sekelilingnya.

Ingat, dia ga salah. Tapi reaksinya unhealthy buat gue.

I think I've had enough. It's a good time to leave. Gue memang awalnya berpikir bisa hanya terus 'memberi' dengan tulus, tapi ternyata gue masih punya ekspetasi-ekspetasi mengenai reaksi yang gue inginkan. Ternyata gue sangat menghargai hubungan dua arah, bukan satu arah. Mungkin untuk alasan yang sama pula gue bertahan dibidang youth development, karena gue merasa gue selalu bisa belajar juga, tidak hanya memberi. Tentu banyak hikmahnya dari roller coaster hubungan gue sama mas ini. I don't want to harm myself further at the expense of making him feel better. As selfish as it sounds, I should always prioritize myself.

So, terima kasih untuk lessonnya. This tweet is also for you.