Tuesday, April 11, 2017

Hikmah Jadi Pembantu

Udah dua minggu terakhir gue susah tidur. Gue terlalu banyak main dan ketawa, tapi langsung depresi ketika masuk kamar atau setiap liat email masuk. Sumber permasalahannya menyenangkan, cuma tetep bikin ga tenang.

Gue udah punya rencana yang fix buat summer ini. Diawal Maret, rencananya terdengar indah. Lebaran sama Princess, terserah mau dibawa kemana dan ikut apa kata dia sampe pertengahan Juli. Lalu ke Italia, nonton Tiziano Ferro dan pulang. Ga lama di rumah, pergi buat YLS. Setelah itu, awalnya gue mau ke Taipei buat volunteer tapi kayanya gak keterima, jadi lamain di Indonesia aja. Padahal sih udah punya tiket sampe Taipei yang belinya setahun lalu. Mungkin mending ambil diving license atau bisa lah jalan-jalan ke Indonesia timur.

Kemudian negara api menyerang.

Ternyata gue keterima volunteer di Taipei dan masih dikasih kepercayaan buat ngewakilin persatuan pelajar Indonesia disini buat konferensi pelajar Indonesia dunia. Tempatnya? Di Inggris. Gue langsung shock karena rencana liburan gue udah 95% tiba-tiba harus ganti itinerary dan rencana sebulan lebih dirumah jadi cuma 20 hari.

Gue kaget dan mungkin panik. Gue gak bisa tidur berhari-hari, bahkan setelah masalah tiket dan daftar visa hampir selesai. Gue jadi mikir kejauhan soal: "Kenapa?"

Semua orang tau lah gue suka volunteer. Gue suka menyibukkan diri dengan hal yang aneh-aneh dan kadang gue terlewat attached sama hal-hal yang gue lakukan. Semua juga tau banget gue suka jalan-jalan sampe level kelewatan. Secara singkat, harusnya gue senang, bersyukur dan excited. Tapi yang orang gatau adalah dalam banyak organisasi, gue ini bukan siapa-siapa. Gue terlihat sibuk, tapi sebenernya gue cuma... 'Pembantu'.

Saat gue harus isi form ke Inggris, ada pertanyaan "Posisi/Jabatan" di organisasi asal. Gue ngisinya pake galau. Gue cuma member. Pengurus. Pembantu umum. Bukan Presiden, Ketua Divisi atau apalah yang fancy dikit. Pembantu-pembantu, atau bahasa kerennya maid, ini ada banyak. Gimana ceritanya bisa gue yang pergi?

Gue memang berdoa sama Tuhan, tahun 2017 ini gue mau maksimalin kesempatan gue traveling terakhir sebelum tahun depan mau internship. Terus tiba-tiba travelingnya jadi kelewatan gini. Gue sempet galau setengah mati pas dapet undangan Taipei. Gue sampe bilang ke Princess chat panjang 1 screen. Intinya: "Gue seneng jalan-jalan, bobot CV juga nambah, ditanggung semua so murah. Cuma ilang 2 minggu yang bisa dipake jalan-jalan di Indonesia. Gapapa gak?"

Princess dengan simpelnya bilang, asal gue seneng dan kuliah gak keganggu yasudah.

Tapi baru satu hari setelah gue chat gitu... Gue ditugaskan ke Inggris. Gue panik dan kaget total. Gue akhirnya malah email ortu gue sendiri sambil kasih statement:

"..
Ngomong aja. Tiket mah disubsidi mereka. Subsidi sih bukan bayarin. Intinya sih sekarang seneng, summer jadi produktif, kerjaan nambah CVnya banyak. Terhormat, ngewakilin PPI sini padahal ara bukan siapa2. Tapi banyak keluar lagi, gapapa ya muach."

karena gatau harus bilang apa. Udah bukan minta izin lagi karena yang ini judulnya 'penugasan' yang udah terlanjur gue iyakan. Ortu gue bahkan gatau gue udah punya tiket buat ke Italia, ga sempet nanya/peduli/marah karena tiba-tiba gue langsung kasih undangan ke Inggris. Princess yang tadinya gasuka banget kalo gue pulang tapi ga berasa pulang, malah mengizinkan dengan lapang dada. Princess bilang "Yowis, gapapa mumpung ada kesempatan dan kakak juga suka"

Perizinan, pertiketan dan segala dokumen beres. Tapi overthinkingnya belum selesai.

Kenapa gue jadi pembantu/volunteer/miss jalan-jalan yang seberuntung ini? What did I do right? How do I deserve all this?

Gue berpikir mungkin karena Tuhan sayang sama gue. Tapi terlalu vague. Mungkin karena attitude gue, attitude yang banyak orang benci. Gue gak pernah begitu peduli dengan jabatan gue diatas kertas. Lo boleh panggil gue pembantu, kacung atau miss-sibuk, tapi ketika gue udah berada dalam organisasi atas pilihan dan keputusan gue sendiri, gue akan punya mindset untuk kerja. Lo ga perlu ingetin gue apa yang harus gue lakukan, karena gue bisa bertanggung jawab dan lebih dari ekspetasi.

Ga banyak orang yang suka, karena terkadang gue cenderung menghakimi dan bossy. Ketika gue suka dengan sebuah tim atau organisasi, kemungkinannya cuma dua. Antara gue jadi bitchy dan terlihat arogan setengah mati, banyak mengkritik, gapunya temen, bermulut pedas dan bermuka galak saat mengutarakan pendapat atau gila, suka garing sendiri dan masih bisa tertawa saat ngomong kritik dengan sarkasme terjahat. Ketika gue nyaman, gue cenderung gila dan banyak ketawa. Kalo gue belom nyaman, gue bakal jadi ibu tiri atau monster. Kesamaannya? Gue kerja. Kontribusi.

Banyak kasus dimana gue hanya disukai oleh ketua, karena gue berkontribusi lebih. Tapi oleh sesama? Dihujat. Akhir-akhir ini, gue selalu punya grup chat eksklusif diorganisasi yang gue ikuti, dengan isi ketua tim gue, boss tertinggi (Presiden lah, koordinator lah atau pendiri organisasinya) dan gue. Kok bisa? Biasanya, ketua tim gue gak bisa handle speed dan feedback gue. Gue terbiasa kerja dan ambil keputusan super cepat, yang cenderung ga masuk di organisasi tertentu. Merasa terhormat? Gak juga, malah aneh. Gue sih mikir, kalo semua orang bisa kerja efisien dan tanpa hirarki, pasti lebih efisien.

Gue seneng sibuk. Tapi shock setengah mati juga saat ga berhenti diemail dan ditelpon boss-boss besar, karena diantara 'pembantu' lain, gue yang paling responsif. Belakangan malah tanggung jawab gue diupgrade dalam 1 hari: dari cuma ngurusin dokumen, sampe harus jadi penghubung dan pengambil keputusan.

Resikonya besar, dan gue sangat bersyukur. Saat ini gue masih mahasiswa, belum punya nama dan jabatan. Pertaruhannya kecil, tapi pelajaran yang didapat gak ternilai harganya. Gue rasa gue harus bangga dengan pencapaian ini, yang mungkin sebenarnya gak seberapa. Take some small steps. Be proud, karena ga ada lagi orang lain yang akan back up dan menyemangati diri gue, kalo bukan gue sendiri.

Apapun alasannya, gue bangga punya peran tidak bernama. Moral lessonnya, lakukan SEKECIL APAPUN peran yang lo punya dengan effort paling maksumal. Gue bangga dengan apa yang gue lakukan, sebagai pembantu. Semoga makin banyak pembantu-pembantu yang bisa maju.

Dan semoga gue bisa segera tidur nyenyak.

Wednesday, March 29, 2017

SEALNet Youth Leadership Summit 2017

Kayanya tiap taun gue bikin post ginian dimusim rekrutmen SEALNet. Kali ini gue mau fokus ke soal teknis: Apa sih yang diminta dan gimana biar sukses aplikasinya?

YLS taun ini beda dengan seri-seri sebelumnya. Kita punya target yang sangat jelas buat partisipan, setelah YLS17 mereka diharapkan pulang dan mulai gerak buat merealisasikan projeknya. Gue rasa gue udah cerita lebih dari cukup YLS itu apa dan lu bisa kepo sendiri diblog gue. Sekarang langsung ke intinya aja.

So buat daftar, harus gimana dan kaya apa?

Baca pertanyaannya dulu sebelum ngisi
Ada beberapa short essays yang lu harus isi. Lu boleh sih ngisinya alira style, alias ngetik dulu mikir belakangan. Tapi ntar hasilnya juga ga jaminan...
Saran gue, lu isi dulu didokumen terpisah, proof read lagi sebelom dicopy-paste. Terus lu cek ulang lagi pertanyaannya.

Pas ngisi, harus kaya gimana?
Ga usah mepet-mepet panjang-panjangin limit. Kalo lo mau jawab cuma 100 kata di space yang 250 kata, gapapa. Tapi make sure itu udah hasil pemikiran lo yang paling dahsyat. Anggep ini semacam mau apply sekolah gitu. Harus serius. Bukan apa-apa, saingan lu banyak yang jauh lebih dahsyat.

Tapi jangan 1 kalimat juga.... Misal dipertanyaan 'best gift'; jangan cuma jawab 'Uang, karena buat gue uang itu segalanya dan kalo gue kasih uang ke orang berarti dia meaningful banget buat gue'. Jelasin lagi, kenapa meaningful? Kenapa lu bisa ambil keputusan untuk kasih uang? Ya intinya lu bikin jelas dan deep lah.

Video
Ini adalah space buat lu jelasin secara kreatif dan menarik: KENAPA KITA HARUS PILIH LU?
Harus ditekankan, kita mau tau siapa lu dan kenapa satu dari sedikit kuota peserta harus dikasih ke lu. Emangnya tujuan lu dateng apa? Lu mengharapkan apa dan lu mau ngapain?


Proposal
Proposal ini jangan dibawa ribet. Hal yang gue pelajari dari SEALNet, proposal Indonesia itu bener-bener gak standar dan gak ada negara lain yang pake proposal seribet dan sebertele-tele itu.
Kita cuma mau tau dengan sedetil mungkin: lu ini mau ngapain sih? Alasannya apa? Dimana, dikomunitas kaya apa? Targetnya siapa? Caranya gimana?

CV
Ga usah ribet menuh-menuhin, kalo emang relatively kosong yasudah. Jangan down duluan, karena lu kerasa juga kan, CV hanyalah 1 dari sekiaaaaan banyak bahan yang lu kirim ke kita. So kalo lu ga pernah ngapa-ngapain sebelumnya, itu bukan alasan buat nolak lu. Mana tau lu ternyata punya potensi yang lu tunjukkin di essay, proposal dan video.

Kepoin Facebook YLS
Semua penjelasan dipostnya disitu. Dari mulai proposal yang diminta kaya apa, pertanyaannya apa aja, cerita partisipan taun sebelumnya, dsb. LENGKAP.

DITUNGGU APLIKASINYA SAMPAI MINGGU DEPAN.
Jangan menunda-nunda.

Thursday, March 2, 2017

#alirajalanjalan Renungan Winter Break 2017

Setelah lebih dari dua bulan punya status 'libur', akhirnya gue harus kembali ke realita kuliah. Gue cinta statistik, sebenernya liburan gue yang bener-bener liburan cuma 44 hari. Dalam 44 hari itu, gue terbang dengan 26 flights berbeda, jalan-jalan ke minimal 16 kota di 10 negara. Puas dan maksimal banget, kan?

Kalo mau dirangkum per region, trip Eropa gue rasanya santai dan penuh discovery. Maklum, pertama kali ke Eropa. Ekspetasi dan realita ga jauh berbeda, gue lebih banyak discover makan-makan dan melihat kehidupan orang sana yang beda banget phasenya sama orang Asia.


spreading the ASEAN love dari Yangon, Myanmar
Trip ASEAN gue... Wah. Dahsyat. Gue ga cuma ketemu dan reuni dengan temen-temen di ASEAN, gue juga lihat banyak warna-warni ASEAN yang terus mengejutkan gue. Gue suka banget ngebandingin kota satu dengan kota lainnya. Buat gue, Warsaw berasa Rio. Milan mirip suasananya sama Sao Paulo, semacam itu. Tapi Hanoi dan Yangon... Gak ada bandingannya. Punya warna dan karakteristik sendiri. Bahkan menurut gue, Hanoi bener-bener beda feelingnya sama Saigon atau Ho Chi Minh City.

Taipei, cinta gue

Terus Asia Timur, meski cuma Taipei, Taichung dan Seoul, penuh dengan makan dan apresiasi terhadap hal-hal kecil. Liat apa dikit, seneng. Foto cantik sekali, langsung ketawa-ketawa. Gatau kenapa, tiap gue ke Taiwan bawaannya seneng mulu, meski kadang gue ga ngapa-ngapain. Jalan-jalan di Asia Timur juga menuntut kecepatan waktu, saat di ASEAN santainya luar biasa. Untungnya partner jalan setia gue di Taiwan punya style dan stamina yang mirip (sebenernya jauh lebih kuat dari gue sih), jadi setiap visit ke Taiwan rasanya... Ah unforgettable!

Lebih dari foto, pamer dan airline miles, tentu aja ada banyak pelajaran yang gue ambil dari trip ini. Pertama dan yang paling penting adalah bersyukur. Boleh lah gue anggap trip ini sebagai balas dendam, disaat 2015-awal 2016 gue terkunci di Korea. Tapi bahkan kalo saat itu gue bebas traveling, gue rasa gue ga bisa eksplor sepuas dan sebanyak ini. Semua ada waktunya. Gue ga berhenti merasa ajaib, bisa dipertemukan dengan banyak orang yang menolong gue saat trip. Gue juga merasa amazing, gue dikasih kesempatan untuk lihat dunia disaat masih muda.

Kedua, gue diingatkan untuk lebih jadi manusia. Mungkin gue hampir ga pernah ungkit sisi ini, hidup di Korea itu sebenernya capek, kaya robot dan stress. Tiap saat gue dikelilingi oleh orang-orang yang hanya tau ukuran hidup dari duniawi. Kejar nilai, buru uang, saingan kaya ga kenal sosial. Dari traveling ini, gue diingetin lagi bahwa sumber kebahagiaan gue itu bukan materialistis. Gue ngumpulin uang bukan buat beli barang tapi untuk pengalaman.

Tiap orang itu beda-beda dan gue ga perlu takut disaat gaya hidup gue bener-bener ga nyambung dengan orang di sekeliling gue (Korea).

dari yang sekedar kenal, bisa lanjut visit gue di Indonesia!
Ketiga, ternyata gue gak seburuk itu dengan human. Gue selalu bilang kalo gue ga suka ketemu orang. Well, gue orangnya cenderung penyendiri dan ga suka basa-basi. Buat banyak orang, gue terlihat arogan dan gak sopan. Tapi ternyata gue bisa juga bergaul dan menjaga hubungan dengan teman-teman gue. 

Keempat, temen gue baik banget padahal gue shit. Ini gue masih ga habis pikir. Setiap gue ditolong orang, gue suka mikir dan malu sendiri, "Bahkan gue gak mau nolongin kalo gue jadi dia"
Gue egois tapi dengan mendapatkan bantuan darimana-mana, gue disentil untuk jadi lebih peduli dan jahatnya dikurangi.Gue juga termotivasi untuk terus bantu orang, karena gue selama ini terus menerus dibantu.

Kelima, slow down. Nafas. Berkaitan dengan nomor dua, gue punya kebiasaan target tertentu. Kadang gue suka cepet-cepet dan kesel sendiri kalo timing gak berjalan sesuai keinginan. Tapi saat trip yang kadang gue harus nunggu orang, ikut apa rencana host gue dan akhirnya mengorbankan target-target pribadi gue, ternyata gue mampu sabar dan tetep bisa bahagia. Mungkin gue memang harus lebih fleksibel.

Keenam, gue belajar lebih banyak tentang diri sendiri. Gue super self-centered. Gue rasa gue mengenal diri gue dengan baik. Tapi ternyata gue suka underestimate diri gue sendiri. Gue ternyata bisa lebih sabar dari perkiraan gue, gue physically lebih kuat dari yang gue pikirkan dan gue punya self-control yang oke. Cuma hal-hal seperti ini baru sadar ketika gue menikmati waktu gue sendiri. 

Oh, ternyata gue memang gak suka daging dan itu completely normal. Bahkan disaat gue bisa party chicken atau seafood, gue carinya vegan. 

mojok, duduk, ngafe. inget syukur dan terus jalan-jalan (Hanoi)

Ketujuh, semua ada timingnya dan ini ga bisa dilawan. Gue ngunjungin Italia dimusim terbaik dan ke Hanoi disaat temen gue bisa nemenin 24 jam. Gue gatau kenapa kosongin minggu terakhir sebelum balik Korea, eh pas banget diundang nikahan temen deket dan bisa sekalian reuni. Gue juga ke Myanmar setelah guru gue ada di Myanmar, jadi bisa jalan-jalan bareng. Masih banyak lagi 'kebetulan' lainnya. Kalo mau lebih dalem sih, gue traveling mumpung pas single jadi bisa asik sendiri tanpa perlu sibuk kabarin si doi.

Kedelapan,  keep traveling. Lesson yang gue ambil dari trip kali ini pada akhirnya membuat gue sadar bahwa traveling adalah sumber kebahagiaan gue dan gue harus berpetualang lebih jauh lagi. Baru sedikit hal-hal yang gue lihat dan masih dangkal pengetahuan gue tentang budaya di dunia ini. 

Sekarang kuliah dulu. Nanti jalan-jalan lagi.

Tuesday, February 21, 2017

Jalan-jalan ke Negara Ketiga

Gue baru aja balik dari destinasi utang gue yaitu Hanoi dan destinasi asal alias Yangon! Dua-duanya kota baru buat gue, tapi kalo Vietnam sih bukan negara baru. Gue udah pernah ke Vietnam selatan tahun 2012, tepatnya ke Ho Chi Minh City. Saat itu gue belajar kalo ternyata Ho Chi Minh itu nama pahlawannya Vietnam Utara dan kalo orang selatan sih lebih suka nyebut kotanya Saigon.

Anyway, sejarah bisa di google. Gue mau ceritain gimana gue bisa sampe Hanoi dan Yangon dan cuma keluar kurang dari $200 buat seminggu.

Tahu 2013 adalah awal dari segala kegilaan traveling gue. Saat itu gue mikir, 2013 adalah kesempatan terakhir jalan-jalan karena tahun depannya kan mau UN. Cari tiket murah ke Korea dan Jepang, sekalian ikut YLS. Di YLS, gue ketemu banyak temen dan salah satunya adalah Ha, dari Hanoi. Gue janji sama Ha kalo gue bakal visit Hanoi segera.

Apa daya, janji itu ketunda terus dan baru terpenuhi 2017 ini. Beruntungnya, saat ini Ha malah lagi nganggur dan udah punya anak yang lagi usia lucu-lucunya hampir 3 tahun. Alhasil Ha nemenin gue 24 jam sehari, bahkan anaknya dititipin ke daycare dan kita jalan-jalan. Gila gak hahahaha.

Ha!
Soal perjalanan, gue berangkat Senin malem dari Jakarta ke Kuala Lumpur. Dari KL, pesawat gue ke Hanoi jam 6 pagi so gue di bandara aja deh. Di Hanoi, gue diarahin Ha buat naik van ke kota terus dia jemput. Ternyata gue dijemput naik vespa yang mewah. Masalahnya si Ha ini badannya keciiiiiil banget sedangkan gue kan jumbo + koper. Tapi emang 100% Hanoi asli, motor adalah CARA HIDUP. Ha jago banget, bro!

3 malem gue di Hanoi, gue menyaksikan betapa ganasnya motor. Gue jadi malu, gue kira gue sama Tyas dari rumah Yogya ke Ratu Boko naik motor itu udah hebat banget. Tapi ternyata ga ada apa-apanya sama Ha yang sehari 20km lebih. Polusinya juga... DAHSYAT. Tiap malem gue meler, sampe dikasi cairan anti meler sama Ha.

Ha adalah host terbaik gue. 4 hari di Vietnam gue cuma ngeluarin uang $100 plus $20 yang harusnya bisa gue save tapi nanti gue ceritain :)))

Berikutnya adalah destinasi terandom seumur hidup gue... Yangon.

Man, bahkan setelah mendarat gue cuma mikirin Pagoda. Ga ada lagi atraksi di Yangon selain Pagoda. Tapi ternyata gue gain lebih dari Pagoda yang cantik. Gue serasa diajak ke Jakarta 20 taun lalu. Gue rasa tiap kota melewati masa seperti Yangon sekarang. Mau tau kejutan terbesar Yangon?

Mas-masnya mau ganteng, jelek, tua, muda... Semua sarungan.

ceritanya pacaran di Pagoda

Gue juga diajak rok-an sama temen Myanmar gue. Namanya Ricky dan kita hampir ga ketemu karena Rick sibuk belajar. Maklumin, anak kedokteran tahun ke 3. Tapi akhirnya Rick nyempetin jemput gue dan dia bilang dia mau nyelundupin gue ke Pagoda sebagai orang lokal biar ga bayar. Weey.

Sebelum turun pagoda, dia sampein plotnya. Jadi gue dan dia adalah pasangan yang lagi mau berdoa. Temen-temennya ngecover sambil ngobrol bahasa lokal sama dia. Nah loh. HAHAHA. Lolos kok.

Pengalaman one of a kind lainnya adalah ke Sekolah Internasional Indonesia! Jadi pemerintah kita punya sekolah Indonesia yang bertaraf internasional. Anak-anaknya mayoritas lokal Myanmar dan diajarin Bahasa Indonesia. Gue bahkan nginep disini deng. Kok bisa? Namanya juga usaha ngehemat duit. Jadinya gue di Myanmar 2 malem cuma keluar uang $40! Cerita lebih lanjut nanti.

Overall, Yangon murahnya kelewatan, Sumpeh, gue betah deh tinggal disini kalo bisa Bahasa Burma mah. Mau foya-foya juga susah, orang kuno banget mau dibelanjain apa?

Cerita detail jalan-jalannya nanti tapi gue jauh lebih bahagia merakyat begini daripada ke Bali penuh kemewahan. Kayanya gue emang cocoknya jadi master di negara ketiga, man,

Monday, February 13, 2017

#alirajalanjalan 10 Hari di Indonesia

10 hari liburan gue di Indonesia baru saja berakhir. Gila, ternyata 10 hari seneng-seneng itu cepet juga ya.

super alam ke curug
Sampe Jakarta, gue langsung eksplor bareng temen Korea gue, Hanyeong Onni. Gue ngajak Onni jalan-jalan di Jakarta, Bogor dan Yogya selama 6 hari. Jadwalnya 3 hari di Jakarta-Bogor dan 3 hari di Yogya. Onni cuma pisah dari gue sehari, dimana gue minta tolong temen buat nganterin Onni ke TMII dan guepun nyalon sekalian nongkrong cantik sama Tyas dan nyokap. Meski sebenernya Jakarta-Bogor-Yogya adalah rutin gue tiap balik, kali ini beda.

Gue bangun pagi tiap hari buat jalan bareng Onni ke tempat aneh-aneh, kaya SMA gue (yes, SMA gue layak dijadiin tempat wisata!), curug alias air terjun yang jauh banget dan pantai. Bukannya turisnya yang banyak foto-foto, malah gue.


Terus di Yogya pun beda karena biasanya gue kerjanya nyalon, makan, nongkrong dengan motor. Kali ini, gue ditemenin Bondan yang gue percaya ‘lebih Yogya’ dari gue meski ternyata abal-abal juga, plus Kak Farras buat jalan. No motor karena gue sayang idup Onni dan gamau buat dia trauma :)))

Balik satu hari ke Bogor, ngalay sama temen-temen, guepun lanjut ke Bali. Gue udah beberapa kali ke Bali dan selalu memorable. Dari mulai Ero masih bayi, bangun aja belom, terus naik bis bareng temen-temen Princess, atau yang pas SMA naik bis bareng tur saudara-saudara bokap dan yang terakhir, Agustus tahun 2014 sebelum masuk kuliah banget sama Maro.

Kali ini juga beda dan pastinya unforgettable. Ini adalah liburan pertama keluarga gue setelah 3 tahun. Udah lama banget kita ga liburan berempat. Padahal dulu, saat gue SMA, liburan keluar kota pas weekend tuh rasanya gampang banget. Kita datang pisah-pisah di tiga flight berbeda. Gue dari rumah, bokap darimana, Ero dari sekolah dan Princess dari kantor. Pulangnya baru bareng diflight yang sama. Gila, gue bahkan udah ga inget kapan kita terakhir satu flight. Mungkin 2013? 2014? Karena pasti deh kalo gak bokap, ya gue yang misah sendiri.


Terus biasanya kalo dalam negeri, Princess yang nyusun flight dan penginapan, bokap bagian transport disananya. Gue kebagian ambil urusan kalo luar negeri. Tapi kali ini, Ero yang urus hampir 80% dari segala urusan planning dan booking. Nama dia bahkan dihapal mbak-mbak pegawai hotel karena komunikasi apa-apa selalu sama Ero. Anyway, yes, Ero sudah berubah jadi manajer.

Tanpa disadari, tema liburan weekend kali ini adalah… Kemewahan. Sesuatu yang bukan gaya hidup keluarga gue.

Cerita kemewahannya nanti dulu, tapi yang jelas gue bahagia banget dan bersyukur pastinya dengan pengalaman ini, cuma kalo ditanya mau lagi gak? Mungkin nggak. Bagian favorit gue adalah foto-foto dan malas-malasan di villa. Gue kayanya gak cocok dikasih yang kelas-kelas atas, karena gue sukanya tidur di kasur sendiri tanpa dikejar waktu. Udah, 

Terakhir, gue punya beberapa jam (bahkan ga sampe 12 jam) di Bogor sebelum berangkat leg ASEAN gue. Nah, gue manfaatkan buat ke SMP gue dan ketemu guru-guru. Rasanya capek tapi... seneng dong!

Kesimpulanya adalah... Ternyata gue bisa seneng-seneng di Indonesia dengan teman-teman. Ternyata gue kepo tapi gitu aja dengan fasilitas wow. Ternyata gue sukanya jalan-jalan dengan sandal jepit kemana-mana. Ternyata gue bangganya kalo dapet harga yang murah banget, bukannya kemewahan.

Ternyata bahagia itu sederhana, dan bahagia itu diciptakan sendiri.

Friday, February 3, 2017

Dibalik Jalan-jalan Pertama 2017

Hobi gue emang jalan-jalan, so sebenernya tiap trip rasanya ga terlalu beda. Tapi yang kali ini spesial. Trip gue ke Eropa (sebenernya gue lebih suka nyebutnya trip ke Italia) adalah trip yang gue nantikan ntah sejak kapan. Mungkin sejak SD?

Gue obsesi sama Italia. Gatau kenapa. Karena makanannya, bahasanya, penyanyinya... Karena ada Vatikan dan pendidikan Katolik sangat menyentuh hidup gue, karena cowonya dibilang ganteng? Ada banyak alasan yang gak terlalu masuk akal. Ga ada yang paham, apalagi Princess. Gue inget dulu waktu SMP pernah mohon-mohon minta CD Tiziano Ferro dan Princess nanya, "Emang kenal darimana sih?"
"Wikipedia." For real.

Anyway, gue selalu berpikir ke Eropa itu gampang. Ortu gue yang gak banyak traveling diluar negeri aja dua-duanya udah pernah ke Eropa. Kalo mimpi mau traveling yang wah, ya pasti kepikirannya negara Eropa, terutama Belanda. Bukan USA atau yang Princess cap 'negara aneh' kaya Taiwan dan Kamboja. Tapi bayangan gak sama dengan realita. Gue malah dikasih kesempatan bolak balik USA dan 'negara aneh' dulu sebelum akhirnya mewujudkan mimpi ke Eropa.

Awalnya gue gak rencana mau ke Italia dibulan Januari ini. Tapi tiketnya kelewat murah, $550 PP dari Korea, uangnya ada dan jadwalnya masuk. Kalo gak sekarang, kapan lagi kan?
Iseng bilang, seperti biasa ortu gue cuma lightly "Oh yaudah", karena mereka kan kaga bayar, jadi suruh pergi-pergi aja. Tapi seperti biasa juga, gue ya beneran pergi bukan wacana doang. Akhirnya terbelilah tiket PP Seoul-Milan-Seoul via Warsaw sejak awal Mei. Bayangkan, bahkan saat itu gue belum UAS semester pertama gue kuliah, tapi rencana traveling udah beres sampe winter. Ga ada orang lain yang tau rencana gue kemana atau ngapain, sampe sebelum gue boarding ke Warsaw, baru gue bilang ke ortu.

Wallpaper gue
Dalam perencanaannya, gak sesmooth yang gue bayangkan. Urus visa lama, ribet, kesel sampe mau marah. Terus gue sempet berhenti bernafas (maafin lebay, tapi sekaget itu), pas tau Tiziano Ferro rilis album dan jadwal tur konsernya deket sama jadwal gue kesana. Terlalu excited, sampe-sampe dia gue jadiin wallpaper HP biar keinget dan termotivasi bisa nonton konsernya. Padahal seumur-umur punya smartphone, wallpaper gue selalu Garfield.

Udah ngomongin background storynya, emang ngapain aja sih?

Vatican visit, worth more than anything

Gue cuma mau ke Vatikan, udah. Mimpi terbesar gue itu ke Basilika Santo Petrus, seharian di Vatikan. Terus makan makanan Italia di Italinya langsung. Sederhana. Ya tapi masa 11 hari cuma mau makan, makan, makan? Mau pergi kemana juga sebenernya kurang tau. Bokap, yang notabene ga suka Italia, bilang udah sampe Eropa masa cuma ke Italia doang? Awalnya gue sih ga peduli sampe akhirnya gue liat promo tiket dihari ulang tahun gue.

Terbeli lah tiket ke Amsterdam 10 Euro. Yes, 140 ribu rupiah. Nett gak pake plusplus. Akhirnya dibulan September trip gue mulai terbentuk, dari Milan ke Amsterdam, terus baliknya ke Roma dan jalan darat sampe Milan, sambil mampir kota-kota kecil, kalo bisa desa. Ternyata cari destinasi gak semudah itu. Gue gatau Eropa itu kaya apa, ini pertama kalinya gue visit ke Eropa yang bukan transit. Tempat-tempat yang gue pernah denger dan mau kunjungi ternyata kelewat desa (mungkin pengetahuan gue soal Italia terlalu spesifik), sampe susah kesananya. Gue gatau bagusan bis atau kereta, enakan yang mana, terus kalo di kota yang stasiunnya banyak, harus pilih stasiun yang mana.

bus serasa punya sendiri, cuma dengan 9 Euro
Risetnya menyita waktu. Di kelas bukannya belajar malah planning trip. Mau ngerjain apa, malah cari tiket kereta atau bis. Syukurnya, effort smart hemat gak sia-sia. Harga yang gue dapet selalu best. Transport untuk perjalanan gue dari Milan-Amsterdam-Roma-Firenze/Florence-Genova/Genoa-Milan cuma menghabiskan 60 Euro atau kurang dari 900 ribu rupiah.

Transport beres, penginapan urusan gampang. Bukan hasil endorse, tapi hostelworld adalah jawaban segala masalah hidup traveller budget pas-pasan. Lo bisa cari deh tuh yang budget dan reviewnya sesuai dengan apa yang lu mau. Untuk soal ini gue gak terlalu concern, asal bisa bayar, ya ga ada masalah.

Yang jadi permasalahan adalah, jalan-jalan sendiri emang enak? Emang gak takut?

Takut. Gue boleh jadi master ASEAN, lo lepas di desa manapun gue gak khawatir, tapi gue masih keinget betapa ngerinya gue di Rio, kemana-mana was-was. Bahkan gue sampe gak pengen kemana-mana di Rio, separo karena niat kerja, separo karena banyakan khawatirnya. Tapi ini gue effort ke Italia kan emang buat menikmati Italianya. Masa gak keluar? Cuma gimana... Gue juga diingetin kalo Italia itu ga aman banget, apalagi Roma.

Untungnya gue berhasil kembali ke Seoul tanpa kurang suatu apapun, yang ada malah gain banyak barang, berat badan dan teman-teman.

Concern besar yang selalu ditanya temen-temen gue berikutnya adalah: urusan foto gimana? Ya ini sih ada tongsis sama bisa minta tolong orang kan. Cari aja sesama turis biar HPnya ga dibawa lari.

Duomo di Firenze - tongsis not bad loh!
Trip ini serba baru buat gue. Setelah Taiwan Natal kemaren, gue masih belum terbiasa pergi ke negara baru yang pure jalan-jalan. Pas planning, bawaannya pengen ada schedule, maksimalin waktu dan penuh kegiatan. Cuma setelah sampe sih bisa ngerem diri sendiri untuk santai, fleksibel, ga buru-buru dan nikmatin hidup. Meski ada beberapa saat gue guilty karena duduk terlalu lama di tempat makan atau kafe.

Terus ditrip ini gue juga gak punya kenalan sama sekali, kecuali temen UGM gue di Belanda. Tapi hajar aja, karena gue sih yakinnya temen itu bisa dicari dan jujur, gue lebih suka jalan-jalan sama temen deket banget atau sekalian sendiri aja. Tapi gue mencoba untuk open, ini kan pengalaman baru, trip yang modelnya belum pernah gue coba. So gue gak resistan dan menutup diri untuk kenal orang juga.

Bener aja, gue banyak dibantu orang-orang gak terduga, meski kali ini caranya beda. Bukan effort sengaja kenalan online atau ketemu di jalan, tapi dikenalin bokap. Bokap cuma ngenalin ke tiga orang, terus kaya domino, mereka ngenalin gue lagi sama orang-orang di kota yang gue kunjungin. Gue dihost sama temen-temen dengan background dan hati yang super. Dijemput, ditraktir dan dibolehin numpang di rumah mbak yang kerja sebagai domestic worker (pembantu) di Roma, ditampung dan diliatin hidup ala Italia di flatnya tukang sampah lokal di Genova, dianterin jalan-jalan sama mbak yang asyik banget ke Cinque Terre sampe dijamu total sama entrepreneur sukses di Belanda. Masih ditambah ngopi-ngobrol produktif sama tante-tante karir yang menikah dengan WNA setempat dan menetap di Eropa.

Jangan asal liat kerjaan, mereka semua content dan tentunya cukup bangga dengan pencapaian mereka. Konsep ini yang orang Asia, apalagi Korea, susah terima. Masih suka banget main judge sana judge sini sebelah mata.

seru-seruan sama Mbak Fanny, masternya Cinque Terre
Terdengar keren, tapi tentu ada trade offnya. Gue masih suka kesendirian dan feeling 'jangan ngerepotin orang'. Gue gain pengalaman, pengetahuan, teman dan pastinya, trip yang paling autentik dengan ketemu malaikat-malaikat itu. Tapi ada kalanya gue merasa ga enak, burden dan mikir, "Anjir kenapa baik abis? Gue ngerepotin banget nih. Apa yang gue lakukan sampe gue deserve trip yang sekeren ini?"

Kalo sendiri gini, gue jadi rada filosofis dan gak take things for granted. Gue bersyukur banget karena dipermudah segala urusan dan tentu jadi bahan refleksi gue, sekalian motivasi untuk berbuat baik lebih banyak lagi. Gue berterimakasih banget dengan teman-teman baru gue itu dan gue mungkin ga bisa bales mereka secara langsung, tapi gue bisa meneruskan semangat berbuat baiknya, kan?

Kemudian mikir, jadi manusia boleh oportunis, tapi jangan gatau diri, gatau bersyukur dan ga bisa berterimakasih. Jangan berat bantu orang, kalo mau dibantu. Simpelnya, jangan pamrih.

All in all, jalan-jalan kali ini beneran berkesan banget dan gue mau segera balik lagi ke Italia! Berikutnya harus ke desa yang lebih terpencil lagi dan harus upgrade Bahasa Italia biar makin betah.

Nah review jalan-jalannya menyusul, karena sekarang gue mau lanjut sektor Indonesia + ASEAN! Setelah 3 tahun, akhirnya terencanakan juga jalan-jalan sama keluarga sendiri. Woohoo!

Saturday, January 14, 2017

Recap 2016

Ga kerasa udah mau 1 bulan sejak 2016 berakhir. Tahun yang bener-bener keren dan penuh syukur buat gue. Akhir-akhir ini gue suka banget look back dan refleksi dan wow, banyak banget hal terjadi dan berubah dalam 1 tahun. Cuma 1 tahun.

So buat yang merasa 2016 berjalan begitu cepat, gue rasa ngga juga sih.

Gue mengawali 2016 dengan nonton konser XIA. Romantis banget gak, tanggal 31 Desember mainnya sama Junsu. Lanjut makan chicken terfavorit dengan Kak Anung, yang saat itu masih sibuk dengan thesis. Gue masih jadi anak Ewha, Kak Anung masih tinggal di Kodae. Kita tidur di tempat senior lain, Kak Linda dan menghabiskan hari pertama 2016 dengan banyak obrolan seru. Ok, unexpectedly gue masih inget semua detail ini. Jalan yang kita lewatin, restoran yang kita kunjungin...

Januari, gue sibuk dengan TOPIK, TOPIK dan TOPIK. Stress dengan TOPIK. Ada juga culture class terakhir dan drama yang terbesar adalah ketika gue shock coordi gue resign. The rest, rasanya santai dan gue masih menikmati hidup sebagai anak kelas bahasa. Makan-makan terus tiap minggu :)))

Januari tahun ini dingin banget sampe -25 dan dipeak hari terdingin gue malah shopping outdoor sama Tugce :)))

Halo dari Amsadong

Februari, awalnya indah. TOPIK diumumin dan pastinya gue seneng banget dong! Gue juga liburan Seollal sama Tugce dan Kak Anung ke tempat-tempat yang gak akan pernah terlintas dipikiran turis normal semacam Bongeunsa, museum perang sini, Muuido dan... Amsadong. Bahkan sampe detik ini gue masih terngiang-ngiang jauh-jauh ke Amsadong, taman yang isinya dinosaurus :(

ter-emo 2016

Tapi akhir Februari, banyak twist banyak drama. Gue switch area sama Kak Anung. Pindahan keluar Ewha juga bukan perkara gampang dan urusan visa adalah urusan yang paling mengurus hati. Gue sampe nangis kejer karena coordi telat ngeluarin dokumen gue.

Maret, gue punya kerjaan tetap diweekend. Kuliah dimulai, gue mulai merasakan lagi jadi mahasiswa. Tapi masih longgar dan gue masih bisa bolak-balik nongkrong di kedutaan. Dibulan ini, gue diajak lagi untuk masuk ke YLS. It changed my whole summer plan, sekaligus my whole life for the rest of the semester. Menurut Path, gue juga kenalan sama mas boyband classmate gue dibulan ini hahaha. High momentnya adalah ketika gue jadi interpreter di Kementerian sini. Bahkan Bahasa Korea gue gak sebagus itu kak....

reconnect dengan teman Ewha di Busan

Jinhae!
April rasanya lebih indah karena Sakura! Trip semacam rombongan umroh ke Jinhae :))) Gue makin sibuk YLS, tapi kerjaan dan temen makin banyak dan gue bener-bener happy. Gue juga sempet pulang dibulan April dan gue terharu banget sama Tyas yang naik kereta dari Yogya, ngikutin gue selama weekend, bawain gue martabak Pandega. Masa pulang gue bener-bener pendek, dan Tyas selalu ada. Delighted.

I also had my first midterm and it did not go well, but who cares? Hahaha

Sate VEGAN BEST

Mei, bulan terlelah. Gue merasa drained physically and mentally. Probably karena ada tanggung jawab YLS, AYNK, Perpikalimpic dan ditengah bulan gue sempet kerja ke Busan right after ketemu Presiden? Positifnya, ada vegan festival yang keren banget! Selain itu gue makin deket dengan dosen dan asdos. Terus gue juga dapet konfirmasi soal Rio2016 tapi udah, gitu aja. Yang ada ribet diurus visa. Disisi lain, Kak Anung juga makin gila dengan thesisnya.

XIGNATURE juga Juni

Juni, OMG ini tersibuk dan terdrama karena visa, final dan pulang. Gue udah cukup lah koar-koar soal ini hahaha. Gue juga bisa bilang salah satu yang paling ditunggu karena YLS.

Gue balik buat lebaran dan gue merasakan physically terlelah 2016. 5menit duduk langsung tidur. Dipesawat bener-bener kaya kucing karena secapek itu. Setelah pulang kampung singkat dibulan Juli, gue balik ke Korea buat persiapan Olimpiade. Nothing much kalo diinget sekarang, tapi saat menjalaninya sih gue hampir give up...


Paling roller coaster pastinya Agustus.
Olimpiade bener-bener menguras emosi dan perasaan. Gue gak berhenti mikir, merenung dan bersedih hati. Gue bingung juga apakah itu pilihan yang bener untuk dateng jauh-jauh ke Brazil...


September was a total blast. Birthday month! Happynya gak karuan. September adalah bulan penuh refleksi sama bermimpi: semester ini mau ngapain?
Karena terlalu seneng, bulan September rasanya cepet banget.


Oktober gue ga inget. Mau ngecek juga susah soalnya gue mulai jarang ngepost. Yang pasti mulai sibuk kali ya. Ga terlalu berkesan tapi gue inget ada AYNK Film Festival, dimana menurut gue, krisis AYNK terbesar tahun gue terjadi. Dari 12 member, 6 member ga hadir. Padahal ini acara besar dan kontribusi setiap orang bener-bener dibutuhkan. Tapi syukur 10000x, temen-temen gue yang baik, dari Kety, Bondan, Hengyan, Elaine, dan member honorary: Tugce, setia banget bantuin gue dan tim. Mereka dengan penuh inisiatif ikut hard labor kaya tempel arah jalan, ushering, jaga panggung dan lainnya.

Oh. Gue tau kenapa gue gak inget. Soalnya ada midterm dan nilai gue jelek semua :')

November adalah bulan gila jalan dan volunteer. Gue volunteer di center lansia seperti yang udah gue bilang dan juga diakhir bulan, loncat Seoul sana sini bareng Prilly. Capeknya gak karuan, tapi gak separah Mei karena lebih happy dan santai.

manusia terfavorit di pedalaman Thailand

Desember... Gila. Gue mengawali bulan di Thailand. Terus balik-balik langsung sibuk dengan finals. Abis final, langsung cabut Taiwan. Dari Taiwan, ketemu Kak Anung buat Christmas dan besoknya langsung mulai winter semester. Tiada akhir, sampe main ski bareng temen Korea gue dan akhirnya tepar dimalam tahun baru. Yeah.

Kalo mau diinget-inget berdasarkan pelajaran yang gue terima... Hmmm.

Reality slap adalah ketika gue ke Brazil dan ngomong Bahasa Korea lebih banyak dari 1.5 tahun hidup gue di Korea. Gue langsung mikir, "Jir selama ini gue ngapain aja di Korea?!"
Lalu reality slap berikutnya adalah ketika gue baru sadar gue punya ambisi yang terlalu besar dan kemudian gak dianggep bukan karena kemampuan gue, tapi karena umur yang terlalu muda. Sempet down dan gak semangat kerja, tapi akhirnya gue bisa tahan diri dan mikir "Yaudahlah lakuin aja apapun semaksimal mungkin"

Momen terbangga 2016 adalah ketika gue bisa hold percakapan selama hampir 2.5 jam dengan mas-mas Korea, full Bahasa Korea. Ini terjadi habis Olimpiade dan rasanya bangga aja, man, ternyata Korean gue bisa dipake buat sosial!

Momen terbersyukur adalah ketika gue yang 'ga dianggep' setelah Projek Malaysia 2014 karena bego banget, bisa balik ke YLS16 dan ga nyampah. Dari situ, ada banyak hal yang gue pelajari dan bersyukur, karena gue bisa ketemu orang-orang terhebat dan super rendah hati.Bersyukur juga karena gue bisa ikut kontribusi, gak cuma bengong dan kosong kaya tahun 2014 :)))

Gue juga bersyukur dikelilingi orang-orang baik dan bisa kenal lebih banyak orang hebat ditahun 2016!

Momen teraneh tapi terberkesan adalah ketika terima hasil midterm. Muahaha asli, nilai gue JELEK SEMUA. Tapi gue tetep... seneng-seneng aja :")
Gue emang udah bertekad semester fall mau bahagia, gaul, aktif, belajar Korea. Eh terus beneran kesampean semua dan nilainya jelek. Sempet ngerasa aneh, sampe lapor Princess. Tapi Princessnya gapapa... Suruh mitigasi kalo udah ga aman. Yaudah... Santai sampe akhir.

All in all, 2016 adalah tahun tersibuk yang pernah gue lalui tapi juga tahun terproduktif dan paling disyukuri. Mungkin makin dewasa, makin inget bahwa waktu gak bisa diulang dan harus makin hati-hati sama kelakuan sendiri. Di 2016, gue belajar untuk lebih appreciate lagi orang-orang yang ada dihidup gue. 2016, it was hell of a fun ride!