Wednesday, May 3, 2017

Cerita Toleransi, dari Seorang Mayoritas

Tadinya gue gamau komentar soal rasisme dan efek Pilkada yang akhir-akhir ini marak masuk berita dan sosial media. Tapi lama-lama sedih, dan bahkan meneteskan airmata juga baca beberapa artikel potret Indonesia saat ini. Apalagi sebentar lagi bulan puasa, gue prediksi akan banyak cerita yang lebih membuat miris seperti saat gue menulis post Polemik Puasa setahun yang lalu. Gue terpanggil, setelah membaca tulisan ini, tentang kuliah di UI sebagai Tionghoa.

Gue gak akan pernah lupa identitas gue sebagai triple majority: Islam, Jawa dan wanita. Gue lupa bagaimana gue mendapatkan istilah ini, tapi akhirnya nemu tulisan yang sangat keren disini. Secara identitas, ga ada alasan untuk gue mendiskriminasi gue, apalagi dengan latar belakang orangtua yang cenderung birokrat (bukan pengusaha). Tapi kenyataan ini gak pernah membuat gue nyaman. Meski mungkin hidup gue di Indonesia lebih tentram dengan triple majority ini, gue gak pernah minta identitas tertentu saat gue lahir, begitu juga dengan teman-teman gue yang minoritas kan?

Orangtua gue selalu berpendapat sekolah di negeri adalah yang terbaik. Tujuan nyokap gue sederhana, masuk SD terbaik untuk masuk SMP terbaik dan kemudian diterima di SMA terbaik, sehingga pintu menuju PTN terbaik pun terbuka lebar. Setelah dari PTN, bisa dapat kerja yang pasti - dengan penghasilan, asuransi dan pensiun terjamin. Tapi gue gak pernah merasa nyaman dengan sekolah negeri di Bogor, dimana mayoritas adalah pribumi dan Muslim.

Ada puluhan drama dimana gue gak betah sekolah saat SD dan SMP. Terutama dengan keadaan teman-teman gue yang seringkali gak bisa menerima gue yang berbeda. Gue dibesarkan dikeluarga yang multiagama dan penuh toleransi. Gue diberikan kebebasan penuh dalam hidup. Tapi sejak SD, gue yang gak pernah mau dipaksa menjalankan ibadah diwaktu yang telah ditentukan dan pakai kerudung ke sekolah menjadi kontroversi. Buat gue, itu adalah kebebasan menjalankan agama yang gak boleh dipaksakan oleh siapapun. Mungkin aneh, tapi nyokap gue malah pernah suruh gue lapor kalau ada siapapun yang paksa gue pake kerudung di sekolah.

Saat SMP, fanatisme agama makin kental. Ada tadarus Quran tiap pagi dan tentunya harus berkerudung, sholat dhuha bersama di lapangan sekolah sampai kewajiban berkerudung hari jumat. Guru agama gue pun sangat ekstrim, beliau kerap menanyakan hal-hal berbau agama ke teman-teman sekelas gue yang beragama non-Islam. Gue gak betah. SMP gue adalah sekolah negeri yang harusnya bebas dari keberpihakan terhadap agama tertentu, tapi kenyataannya berbeda.

Dengan perjuangan yang sangat sulit, gue masuk ke SMA swasta idaman gue, SMA Regina Pacis. Gak kebayang penolakan orang-orang disekitar gue, dari mulai keluarga sampai guru di sekolah. Kabar bahwa gue akan masuk SMA RP menyebar sangat cepat dikalangan guru-guru SMP gue dan hampir setiap hari, ada guru yang mencari gue ke kelas. Mereka bahkan meminta izin dari guru yang sedang mengajar di kelas gue untuk bicara empat mata dengan gue. Intinya, mereka ingin gue memikirkan kembali keputusan gue untuk memilih SMA RP, dan beberapa bahkan mengira ada tekanan dari orangtua gue dan siap berbicara dengan orangtua gue. Padahal ini murni keinginan gue. Sampai hari ini, keputusan untuk menentang semua 'pendapat mayoritas' dan melawan arus untuk masuk ke SMA Regina Pacis adalah hal yang paling membanggakan dalam hidup gue.

Sampai gue lulus, pertanyaan bernada heran "Kok dari SMP itu malah masuk RP?" gak henti-hentinya gue dapatkan.



Kenapa penolakannya sekeras itu?

Karena Regina Pacis adalah institusi Katolik. Sesederhana itu. Buat orangtua gue, lebih kompleks. Nyokap gue gak rela gue menyia-nyiakan kesempatan masuk SMA-SMA Negeri terbaik dan takut dengan tekanan status sosial. Buat nyokap gue, lebih baik jadi orang yang mampu dikalangan negeri daripada jadi yang termiskin dikalangan swasta elit seperti RP.

Masuk RP adalah dunia baru buat gue. Gue lebih kaget memulai hidup di RP daripada di Korea. Semua berbeda, dari budaya hingga demografis. Tapi satu yang paling menyentuh, semua sangat toleran. Semua bisa menjadi apapun yang mereka mau, tanpa batasan suku, ras dan agama. Siapapun boleh jadi ketua kelas sampai ketua OSIS. Semua siswa dikelas harus bisa memimpin doa yang netral. Semua siswa harus bisa menceritakan tentang agama mereka. Seketika gue merasa hidup dalam tempurung, saking kagetnya dengan level toleransi yang ditunjukkan.

Gue inget, gue sering banget menolak untuk memimpin doa, semata-mata karena gak pede bahwa gue Islam dan minoritas. Sampai akhirnya ada guru yang meminta gue untuk memimpin doa. Kaget dan gak terbiasa, doa gue sangat aneh. Guru tersebut pun bertanya, "Kamu Kristen?"
"Bukan, Pak."
"Terus?"
"Islam, Pak."

Tanpa menghakimi, beliau meminta teman-teman sekelas untuk lebih bisa membimbing teman-teman yang non-Katolik dalam memimpin doa - tanpa harus merasa kecil. Sejak saat itu, gue gak takut lagi mimpin doa.

Lalu saat acara tertentu atau kegiatan diluar sekolah yang melewati waktu sholat, mereka sangat terbuka dengan gue yang meminta izin untuk sholat. Bahkan ditempat retreat sekalipun, dilingkungan yang tentunya sangat Katolik. Kapanpun gue harus sholat ditengah-tengah acara sekolah, Ci Metta, temen gue yang jelas Cina dan Katolik, selalu setia nemenin gue dan nungguin gue. Bulan puasa dan lebaran dimasa SMA juga rasanya sangat berbeda dan berarti. Gak ada perbedaan antara bulan puasa dan bulan biasa. Tapi mereka bisa hormat dan bahkan kadang merasa bersalah makan di depan gue. Padahal yang puasa cuma satu atau dua orang di kelas, yang gak puasa 30 orang. Tentu bukan salah mereka. Kalau gue terganggu, gue yang harus pergi, kan? Tetapi penghormatannya memang sangat besar dan temen-temen gue juga gak pernah lupa mengucapkan selamat lebaran. Spesial, karena saat SMA, tiba-tiba gue dapet banyak ucapan lebaran, wujud sederhana dari perhatian yang sangat indah. Sedangkan diluar sana, masih banyak yang sibuk berkoar-koar mengucapkan Selamat Natal itu haram. Miris.

Cerita lain adalah kagetnya gue saat pemilihan ketua OSIS. Memang, tidak pernah ada peraturan yang membatasi siapapun untuk jadi ketua OSIS. Tapi pemikiran negeri gue berkata, "Sekolah Katolik ya ketua OSISnya Katolik lah"

Pemikiran gue terbukti dangkal dan salah. Pemilihannya berlangsung dengan demokratis dan gue cukup terkejut saat yang terpilih adalah siswa yang beragama Kristen. Siswa yang gak bisa bantu-bantu menyiapkan beberapa perayaan agama Katolik, karena memang dia gak mengerti tentang itu. Keterkejutan gue dipandang gak masuk akal oleh teman-teman gue. Mereka gak menganggap itu sebagai sesuatu yang spesial. Mereka gak tau kalau di sekolah negeri dimana gue berasal, hal seperti itu hampir tidak mungkin terjadi.

Disisi lain, teman-teman gue sadar akan rasisme diluar sana. Maka itu, dibalik segala joke rasis yang terlontar dengan bahagia, tetap ada rasa tidak aman bagi mereka. Mereka sadar akan ke-Cina-an mereka dan ke-kafir-an mereka. Buat temen-temen gue, mudah kok mengatakan "Kan gue Cina" atau "Kan gue kafir". Tanpa mereka minta, mereka selalu diingatkan dengan kenyataan itu, kenyataan bahwa mereka kurang diterima. Tapi mereka dengan begitu baiknya menerima gue dengan tangan terbuka.

Teman-teman gue juga hampir ga ada yang tertarik dengan politik. Buat mereka, politik cenderung buang-buang waktu karena semua tahu pemenangnya akan selalu mayoritas. Gue inget banget bagaimana semua orang terpaku pada Pilkada DKI 2012, momen pertama kalinya teman-teman gue bisa sepeduli itu dengan politik. Tentu mereka berharap Jokowi yang akan terpilih jadi gubernur. Sederhana, Ahok adalah keturunan Chinese dan mereka ingin terwakili.

Di SMA RP, gak pernah sekalipun gue merasa didiskriminasi. Malah, identitas gue menjadi hal yang sangat gue banggakan. Menjadi minoritas dikalangan mayoritas yang sangat suportif rasanya sangat menyenangkan. Gue pernah ditawari untuk mewakili sekolah ke lomba baca Quran tingkat kota (FL2SN), karena obviously, pilihan orang yang bisa baca Quran kan gak banyak. Gue merasa terhormat dan sangat diapresiasi, di SMA RP gue bisa menjadi siapapun dan melakukan hal apapun yang gue mau dengan cara yang adil dan benar.

Tapi beda halnya dengan teman-teman gue. Seperti yang Kak Sefin katakan ditulisan beliau mengenai kuliah di UI, mereka skeptis dengan dunia luar. Mereka takut gak diterima. Mereka banyak bertanya ke gue mengenai minoritas di sekolah negeri, yang memang kurang dihargai. Hal ini tercermin jelas diprofil pendaftar SNMPTN. Gak semua orang minat daftar SNMPTN, alasannya karena emang gak pengen masuk negeri. Entah karena sudah punya rencana lain untuk kuliah diswasta/luar, atau karena gak dibolehin ke negeri oleh orangtuanya. Hal ini bukan dirasakan oleh teman-teman yang Chinese saja, tetapi juga pribumi yang beragama non-Muslim.

Gue sendiri daftar SNMPTN ke jurusan Bisnis Islam dan Ekonomi Islam Saat mendaftar, gue udah tau, kesempatannya akan sangat kecil. Entah karena nilai gue yang gak spektakular, atau karena fakta sederhana: gue berasal dari SMA Katolik.

Bagian terbaik dari pengalaman gue bersekolah di SMA Katolik sebenarnya sangat tidak disangka-sangka. Gue menjadi jauh lebih religius, lebih dekat dan percaya kepada Allah SWT. Gue gak bisa bilang gue menjadi Muslim yang baik, belum. Tapi hubungan gue dengan Allah jauh lebih baik ketimbang SD dan SMP. Gue tersentil dengan lingkungan gue, gue diberikan kesempatan untuk menjadi apapun yang gue mau. Gue bisa pindah agama dan melakukan hal-hal yang gak lazim dilingkungan gue sebelumnya seperti, mungkin, makan babi. Tapi gak. Lingkungan gue di SMA mengajarkan gue untuk tidak pernah mengorbankan identitas diri sendiri dan menghargai setiap proses yang ada. Gue mencari identitas dan agama terbaik buat gue sepanjang hidup gue. Jawaban yang memperdalam keislaman gue malah gue dapatkan di SMA Katolik. Seperti motto SMA RP, "Mencari kebenaran melalui cinta kasih."

Masa-masa penuh toleransi ini sangat gue rindukan. Gue sangat bersyukur gue diberi kesempatan untuk melihat keberagaman Indonesia dari sisi yang berbeda. Semoga kaum mayoritas mau lebih berbesar hati, membuka diri dan pikiran. Semoga kaum mayoritas Indonesia bisa belajar dari teman-teman minoritas yang gue temui di SMA RP. Semoga Indonesia bisa jadi rumah bagi semua orang yang percaya akan ideologi kita, Pancasila. Semoga Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya slogan semata.

Sunday, April 30, 2017

Dear Tyas

Uh uh, udah 30 April lagi.

Udah yang ke berapa? Udah berapa taun lo dengerin segala curhatan sampah gue dari A-Z?
Coba rewind dikit, kapan kita ketemu? 7C, 2008. 
Udah hampir 3 masa hidup kita lewatin, SMP, SMA dan sekarang lo udah hampir beres kuliah. Wow, masih selalu seru dan penuh drama.
Gue gak inget apakah lo temen gue dariawal. Yang gue inget, gue di SMP pernah nanya, "Kenapa kita gak pernah berantem jir?"

Gue gak mau cheesy soal prosesnya, tapi liat transformasi kita. Dari yang shallow, sampe lebih dangkal lagi. Ketawain hal ga jelas, sampe late night talk sebelum tidur. Ngomongin transformasi yang terlihat, gue jarang muji tapi lo udah jadi cantiiiiik banget sekarang dan jauh lebih mature. Bisa diandalkan.

Tapi coba kalo direwind dari awal. Gue merasa sedih saat ultah lo kelas 9. 2011. Gue merasa itu adalah last chance gue untuk kasih sesuatu yang berkesan, karena gue gatau kapan kita bisa sedeket itu lagi, seenggaknya ga akan ketemu tiap hari lagi kaya di SMP.

Lalu waktu berjalan, ternyata kita bukan berantem deng. Seperti yang gue bayangkan, gradually kita pisah di SMA. Entah kenapa, gue gak pernah kepikiran buat kontak lu juga. Lo terlihat bahagia di SMA dan gue juga sangat bahagia. Gue liat-liat sih sebenernya ga seburuk itu. Foto kita banyak juga di 2012, cuma kurang berasa (yha, alira anaknya demanding). Sampe akhirnya, 30 April 2013.

foto ini ga akan pernah ilang
Untuk banyak alasan yang berbeda, hari itu spesial buat gue. Gue punya pencapaian yang gak terbayangkan buat gue sebelumnya: ngewakilin sekolah buat lomba nari dan ditawarin lomba ngaji. Nari adalah kata pertama yang gue bakal pake buat deskripsiin lo. Eh di SMA, ternyata gue juga nemuin jalan untuk nari. 

Dan ternyata gue ketemu lu. Kali ini, gue yang full make up dan kostum tari, sedangkan lo berseragam. Kebalikan dari foto kita di tahun 2010.

gue gak suka tapi...
Hidup ini misterius. :))))

Waktu berjalan, kita mulai deket lagi. Gak tau sedeket apa, berdasarkan foto sih lo bantuin gue dibeberapa performance gue dan gue inget kita nari bareng di acara gereja. Ini bisa jadi kebiasaan buruk atau baik, gue suka banget menggabungkan teman-teman gue dari dunia yang berbeda. Dari masa SMA, tiap latihan nari sama lo dan Metta adalah salah satu memori paling baik yang gue punya. 

2014. Di lapangan UGM. Gue gatau lo inget apa gak. gue seneng banget ketemu lo saat lagi rehearsal PPSMB. Gue seneng banget saat lo beneran masuk UGM, bukan STAN, UI, Undip atau yang lain. Dari sekian banyak hal yang bisa gue ceritain dan kenang di masa-masa kita di UGM, gue masih paling inget saat kita ketemu lagi. Sederhana tapi drama. Dan dari sekian panjang percakapan, gue gak lupa buat nanya, "Lo kemana aja di SMA jir!?"

Hidup gue emang ditakdirkan untuk penuh drama. Dan meski itu artinya bisa baik atau buruk, gue masih sedih kenapa lo ilang 2 taun+... HAHAHA. Dan yang terdrama pasti... Kenapa gue harus berderai air mata tiap lo ulang tahun.

2014-2016. Wow. Up and down tapi hampir selalu ada lonya. Mau diceritain satu-satu juga semuanya masih fresh. Dari mulai kita yang benci Yogya, kita yang sama-sama mau keluar, lo yang bantuin gue KGSP. Lo yang selalu ada disetiap kecelakaan yang kita lalui (dipikir-pikir, mayan banyak juga). Lo yang akhirnya pindah dan jadi anak Princess. Lo yang selalu ada setiap gue balik. Sebenernya, at this point gue gatau lagi kenapa lo sebaik itu.

Karena lo selalu ada dan selalu menyentuh, gue sampe gatau harus mulai darimana. Mendingan dibalik, 3 tahun terakhir ini, apa sih yang lo gatau tentang gue?

Tapi kalo apa yang gue gatau tentang lo, mungkin masih banyak juga =)


Ke Salatiga saat gue balik pertama. Ke Bandung saat gue balik kedua. Ke YLS saat gue balik ketiga. Nginep bareng saat gue balik keempat... Ortu gue lebih inget tentang lu daripada gue, selalu nanyain lo dan nyariin lo. Lo juga lebih sering ada buat mereka dan it really warmed my heart. I mean, gue bahkan gatau apa gue bisa sebaik itu sama orang lain? Tapi lo selalu lovely dan selalu ada, yay.

2017 ini intensitasnya beda. Tapi sayang gue ga bisa diukur dari seberapa sering kita telponan atau chattingan. Kesimpulannya, mau seberapa lama kita menghilang, kita selalu bisa balik lagi. 

Thank you. Thank you banget. Bukan cuma gue yang sayang sama lo, lo tau betapa ortu gue dan Ero pun appreciate adanya lo. Temen-temen gue disini, di Korea, dan dimanapun gue beraktivitas pun tahu siapa best friend gue dan gue harap itu gak akan berubah. Selamat senang-senang, gue yakin hari ini lo senang.

Menuju 10 tahun dan masih bertahun-tahun lagi, lo yang ga cuma ada di kontak, foto, memori dan catatan gue, tapi juga didalam doa gue.

Pertanyaan idup: gue sih udah 5x ganti sekolah, kalo lu udah berapa kali ganti pacar dari pertama kali kita kenal sampe sekarang?

Refleksi April

Ada banyak kejadian yang menampar gue dibulan ini, terutama yang berkaitan dengan realisasi diri. Gue memulai banyak hubungan intrapersonal yang lebih dalam dengan beberapa teman, dan gue disadarkan pada beberapa hal.

"Lo suka muji secara profesional, tapi gak personal."

Ini bener banget. Sangat mudah buat gue memuji hasil kerja seseorang dan memberikan feedback dalam manner yang baik. Tapi personally, sangat susah buat gue bilang "Lo punya kepribadian yang menyenangkan" atau sekedar "Lo kenapa cute banget!"

Sedangkan gue bisa berapi-api email dosen betapa gue suka kelas dia, atau bilang ke senior betapa dia sudah memberikan impact diorganisasi yang dia mulai. Gue juga dengan mudah memberikan feedback positif terhadap semua yang berbau kerjaan. Tapi bukan yang menyangkut kepribadian. 

Gue gak terbiasa atau dibiasakan mendapatkan pujian yang personal. Itu terbawa, tapi pengalaman gue berorganisasi membuat gue berubah. Cuma masih berat dan gak natural rasanya untuk muji orang. Gue merasa terdengar fake, meski sebenernya itu tulus. Gue punya prinsip kalo gue pikir orang itu awesome, dia harus tau saat itu juga. Semua orang suka dan layak untuk dipuji. Tapi entah kenapa, gue sangat pelit dan selektif dengan kriteria gue sendiri saat itu menyangkut dengan sesuatu yang personal.Ini adalah sesuatu yang harus gue tingkatkan secara personal. 

"Kata-kata lu itu punya power, orang dengerin lu, makanya harus ati-ati"

Temen gue keluar dari tempat internshipnya sebulan setelah gue bilang dia diperbudak disana. Temen gue yang lain putus sama pacarnya karena gue menyarankan dia untuk cari orang yang lebih worth waktunya. Disisi lain, temen gue juga ada yang mau cerita sama gue, tapi takut setengah mati karena dia udah ngebayangin gue bakal teriak, "Stupid!"

Gue ga sadar bahwa kejujuran yang tanpa batas atau filter ini ga selalu baik endingnya. Gue merasa bersalah dengan tiga kejadian diatas. Mereka harusnya bisa approach gue dan walk out dengan pencerahan, bukan dengan beban.

"Lo orangnya tertutup"

Gue berhari-hari mikirin ini. Gue gapaham gue tertutupnya sebelah mana, ketika gue udah buka semua hidup gue online???

Masih belajar untuk memahami poin ini. Beneran. Bahkan ada saat-saat dimana gue merasa gue oversharing, sampe gue harus bikin survey #2016, untuk double check apakah yang gue pikirkan itu sama dengan yang orang lain pikirkan. 

Pada akhirnya, poin-poin ini membuat gue cukup ragu untuk menulis atau mengungkapkan sesuatu secara frontal. Gue merasa gue harus saring apa yang gue mau sampaikan, karena gue gak bisa kontrol siapa audiens gue dan bagaimana impact yang gue tinggalkan buat mereka. Bisa positif, bisa super negatif.

Seketika gue pengen berhenti bersosial media. Kayanya lebih tenang dan produktif.
*hening*

Tapi mikir lagi...

Through all the good and bad, gue bernafas dengan sosial media. Bahkan setelah berbagai hal yang tidak menyenangkan, gue tetep hidup dengan sosial media. Kenapa tiba-tiba harus merubah diri? Kenapa tiba-tiba mau jadi orang lain?

Disaat yang tepat, gue mendapatkan beberapa email manis. Gue juga mendapatkan banyak message yang cukup encouraging. Kadang, mendengarkan atau membaca 'terima kasih' itu cukup untuk menyenangkan hati gue, bahwa apa yang gue lakukan itu gak sia-sia. Bahwa gue masih berbuat sesuatu yang berguna. Gak perlu dipuji-puji, toh gue sendiri sadar gue pelit pujian.

Hari ini, gue juga mendapatkan sebuah message dari pembaca gue yang bilang bahwa dia merasa terbantu dengan post tentang kehidupan di Korea gue. Timing yang sempurna, gue pun merasa cukup untuk membuat keputusan untuk tetap berjalan dengan apa yang gue telah mulai. Selama masih bisa membantu dan ada yang merasa terbantu. Hidup gue pendek dan cuma sekali, kenapa fokus pada hal-hal yang negatif?

Terima kasih untuk pelajarannya, April 2017!

Friday, April 28, 2017

Kuliah Semester 3 di Korea

Gue rasa gue cerita banyakan jalan-jalannya. Tapi pernah inget gak kalo gue disini KULIAH, bukan kerja atau jalan-jalan? Gue sendiri suka lupa...


Gue udah semester tiga, udah ga asing sama sistem pembelajaran di Korea University, mesti kaget-kagetnya sih masih suka ada. Gue udah lumayan kenal banyak orang, seenggaknya dalam 1 bulan, mungkin ada 2-3 orang yang nyapa gue di kampus. Masih kalah jauh dibanding temen gue yang disapa 3-4 orang perhari. Tapi gapapa, gue di kampus buat kuliah, bukan buat ngeksis.

Sisi yang gak masuk instagram

Jadwal gue semester ini sangat indah. Kuliah Senin-Kamis, long weekend tiap minggu. 3X sehari masih sempet berenang pagi-pagi. Gue 'cuma' ambil 18SKS alias 6 mata kuliah. Buat gue ini dikit, tapi jangan sekali-kali bilang gitu ke orang lain. Mereka bisa kesel, karena beban kuliah disini beraaaaat kalo lo mau dapet A+ semua. Gue? Target hidup gue sih yang realistis aja, A+ semua simply ketinggian. Satu dua boleh lah. 

Pertanyaan standar tiap orang: "Ambil berapa kelas? Kelas majornya berapa?"

Soalnya syarat lulus disini (atau seenggaknya di Business School) harus ambil banyak electives. Electives itu terkenal gampang dan ga terlalu burden. Sedangkan mata kuliah jurusan tentu dikenal bisa bikin orang bunuh diri, depresi atau minimal minum soju berbotol-botol buat ngilangin stress. Semester lalu gue ambi 4 major dan 4 electives. Semester ini gue ambil 3 major dan 3 electives. Hidup gue dipastikan ringan.

Eh tapi ringan atau berat itu relatif. 3 major yang gue ambil semester ini sebenernya gampang atau minimal gue suka. Cuma gue pemalas, gamau belajar, lupa kalo gue ini statusnya pelajar. Alhasil dimidterm akunting gue ada diposisi 25% terbawah kelas dan berdasarkan profesor Organizational Behavior, gue masuk sebagai "poor performer" karena hasil jauh dibawah rata-rata kelas.

Mungkin at this point, lo mikir, "Kok bisa sebego itu?" atau dalam nada yang lebih positif, "Emang susah banget ya di Korea?"

Yes, lumayan susah (but I swear SMA gue jauh lebih tough) dan gue gak sepinter itu juga. Orang disini tidur sampe lupa belajar. Gue gak pernah ngalamin begadang di ruang baca buat ujian. Perjuangan terkeras gue cuma 2 jam baca-1 jam tidur-3 jam baca-2 jam tidur saat mau ujian Operations Management. Itupun diselingi delivery ayam jam 4 pagi... Usaha gue gak sekeras orang lain, so naturally hasilnya juga ga sebagus itu kan.

Gue gak terlalu affected sih. Mental health gue jauh lebih penting dari apapun juga.

Budaya belajar ga kenal waktu ini sebenernya contagious alias menular. Temen-temen Indo gue juga banyak yang gitu. Cuma gue emang sengaja gak mengekspos diri gue terhadap sesuatu yang bukan gue. Sempet kaget aja waktu salah satu senior gue ngajakin ngemil tengah malem dan terus ngintip ruang baca kampus yang... Penuh. Padahal itu jam 1 pagi. Senior gue dengan santainya, "Loh Lira ga pernah?"

Sekarang udah kebayang kan betapa santainya gue. Semester ini gue gak punya banyak kegiatan 'real' diluar kelas. Gak kaya semester lalu, dimana gue bisa keluar kamar jam 8 dan masuk kamar lagi jam 1 setelah muter-muter Seoul ketemu orang-orang yang berbeda untuk urusan berbagai organisasi. Gue banyakan di asrama, kerja virtual buat siapin YLS dan fangirling Il Volo.

Tugas apa kabar? Business School tugasnya paling team project. Gue gapaham sama orang yang mengutuk team project, it's not that bad. Kita punya team project sejak SD, kenapa harus panik sih?

musuh mahasiswa sini

Sebenernya musuh utama kuliah di KUBS itu cuma kurva atau relative grading. Maksudnya penilaian disini itu diranking, dan hanya 30% bisa dapet A, 40% dapet B dan sisanya harus C atau lebih rendah. Artinya, hidup dan usaha lu sia-sia kalo lu gak bisa ngalahin anak lain di kelas. Karena alasan inilah, mahasiswa di Korea bukan mahasiswa terfriendly sedunia. Ga ada cerita masuk bareng, lulus bareng. Semua orang bersaing dan seringnya sikut temen sendiri. 

Sebagai ilustrasi, tiap semester sekitar 40 dari 400 anak di KUBS dapet GPA sempurna alias nilainya A+ SEMUA. Taro GPA lu 4 dari 4.5, lu cuma ada diposisi 130-140 dari 400.

Sekarang bisa lihat kan realitanya, mayoritas anak sini itu HIGH PERFORMERS. Kalo lo ga termasuk didalamnya, temen-temen lu pasti bersukacita. Kenapa? Karena lo gak ngambil kuota A. Buat gue, musuh gue adalah diri gue sendiri. Selama gue mengerti apa yang gue pelajari dan bahagia, gue rasa gue gak perlu terlalu concern dengan posisi gue dikurva. Gue udah punya path sendiri dan punya karir yang gue cintai.

Gimana soal social life semester 3? Gue gak punya banyak cerita di kampus meski sekarang gue join organisasi di kampus. Gue main dengan yang itu-itu aja dan lebih suka keluar kampus. Sesama angkatan atau jurusan cenderung mengkategorikan mahasiswa asing sebagai either pesaing atau golongan yang ke Korea cuma buat main.

Intinya, ketika lo kuliah di Korea atau lebih tepatnya di jurusan gue, hidup lu pretty much isinya belajar atau minum. Peer pressure itu real adanya, dan kalo gak teguh hati, bisa either kebawa stress atau kebawa negatif. Gue masih mencintai KUBS dan hidup gue di Korea, rasa bersyukurnya sejak gue pertama kali sampe masih gak berubah atau mungkin malah nambah. 

Buat yang baru lulus SMA, semangat! Pilih kampus yang bener karena pendidikan S1 lo bakal stay seumur hidup diresume lo. 

Wednesday, March 29, 2017

SEALNet Youth Leadership Summit 2017

Kayanya tiap taun gue bikin post ginian dimusim rekrutmen SEALNet. Kali ini gue mau fokus ke soal teknis: Apa sih yang diminta dan gimana biar sukses aplikasinya?

YLS taun ini beda dengan seri-seri sebelumnya. Kita punya target yang sangat jelas buat partisipan, setelah YLS17 mereka diharapkan pulang dan mulai gerak buat merealisasikan projeknya. Gue rasa gue udah cerita lebih dari cukup YLS itu apa dan lu bisa kepo sendiri diblog gue. Sekarang langsung ke intinya aja.

So buat daftar, harus gimana dan kaya apa?

Baca pertanyaannya dulu sebelum ngisi
Ada beberapa short essays yang lu harus isi. Lu boleh sih ngisinya alira style, alias ngetik dulu mikir belakangan. Tapi ntar hasilnya juga ga jaminan...
Saran gue, lu isi dulu didokumen terpisah, proof read lagi sebelom dicopy-paste. Terus lu cek ulang lagi pertanyaannya.

Pas ngisi, harus kaya gimana?
Ga usah mepet-mepet panjang-panjangin limit. Kalo lo mau jawab cuma 100 kata di space yang 250 kata, gapapa. Tapi make sure itu udah hasil pemikiran lo yang paling dahsyat. Anggep ini semacam mau apply sekolah gitu. Harus serius. Bukan apa-apa, saingan lu banyak yang jauh lebih dahsyat.

Tapi jangan 1 kalimat juga.... Misal dipertanyaan 'best gift'; jangan cuma jawab 'Uang, karena buat gue uang itu segalanya dan kalo gue kasih uang ke orang berarti dia meaningful banget buat gue'. Jelasin lagi, kenapa meaningful? Kenapa lu bisa ambil keputusan untuk kasih uang? Ya intinya lu bikin jelas dan deep lah.

Video
Ini adalah space buat lu jelasin secara kreatif dan menarik: KENAPA KITA HARUS PILIH LU?
Harus ditekankan, kita mau tau siapa lu dan kenapa satu dari sedikit kuota peserta harus dikasih ke lu. Emangnya tujuan lu dateng apa? Lu mengharapkan apa dan lu mau ngapain?


Proposal
Proposal ini jangan dibawa ribet. Hal yang gue pelajari dari SEALNet, proposal Indonesia itu bener-bener gak standar dan gak ada negara lain yang pake proposal seribet dan sebertele-tele itu.
Kita cuma mau tau dengan sedetil mungkin: lu ini mau ngapain sih? Alasannya apa? Dimana, dikomunitas kaya apa? Targetnya siapa? Caranya gimana?

CV
Ga usah ribet menuh-menuhin, kalo emang relatively kosong yasudah. Jangan down duluan, karena lu kerasa juga kan, CV hanyalah 1 dari sekiaaaaan banyak bahan yang lu kirim ke kita. So kalo lu ga pernah ngapa-ngapain sebelumnya, itu bukan alasan buat nolak lu. Mana tau lu ternyata punya potensi yang lu tunjukkin di essay, proposal dan video.

Kepoin Facebook YLS
Semua penjelasan dipostnya disitu. Dari mulai proposal yang diminta kaya apa, pertanyaannya apa aja, cerita partisipan taun sebelumnya, dsb. LENGKAP.

DITUNGGU APLIKASINYA SAMPAI MINGGU DEPAN.
Jangan menunda-nunda.

Thursday, March 2, 2017

#alirajalanjalan Renungan Winter Break 2017

Setelah lebih dari dua bulan punya status 'libur', akhirnya gue harus kembali ke realita kuliah. Gue cinta statistik, sebenernya liburan gue yang bener-bener liburan cuma 44 hari. Dalam 44 hari itu, gue terbang dengan 26 flights berbeda, jalan-jalan ke minimal 16 kota di 10 negara. Puas dan maksimal banget, kan?

Kalo mau dirangkum per region, trip Eropa gue rasanya santai dan penuh discovery. Maklum, pertama kali ke Eropa. Ekspetasi dan realita ga jauh berbeda, gue lebih banyak discover makan-makan dan melihat kehidupan orang sana yang beda banget phasenya sama orang Asia.


spreading the ASEAN love dari Yangon, Myanmar
Trip ASEAN gue... Wah. Dahsyat. Gue ga cuma ketemu dan reuni dengan temen-temen di ASEAN, gue juga lihat banyak warna-warni ASEAN yang terus mengejutkan gue. Gue suka banget ngebandingin kota satu dengan kota lainnya. Buat gue, Warsaw berasa Rio. Milan mirip suasananya sama Sao Paulo, semacam itu. Tapi Hanoi dan Yangon... Gak ada bandingannya. Punya warna dan karakteristik sendiri. Bahkan menurut gue, Hanoi bener-bener beda feelingnya sama Saigon atau Ho Chi Minh City.

Taipei, cinta gue

Terus Asia Timur, meski cuma Taipei, Taichung dan Seoul, penuh dengan makan dan apresiasi terhadap hal-hal kecil. Liat apa dikit, seneng. Foto cantik sekali, langsung ketawa-ketawa. Gatau kenapa, tiap gue ke Taiwan bawaannya seneng mulu, meski kadang gue ga ngapa-ngapain. Jalan-jalan di Asia Timur juga menuntut kecepatan waktu, saat di ASEAN santainya luar biasa. Untungnya partner jalan setia gue di Taiwan punya style dan stamina yang mirip (sebenernya jauh lebih kuat dari gue sih), jadi setiap visit ke Taiwan rasanya... Ah unforgettable!

Lebih dari foto, pamer dan airline miles, tentu aja ada banyak pelajaran yang gue ambil dari trip ini. Pertama dan yang paling penting adalah bersyukur. Boleh lah gue anggap trip ini sebagai balas dendam, disaat 2015-awal 2016 gue terkunci di Korea. Tapi bahkan kalo saat itu gue bebas traveling, gue rasa gue ga bisa eksplor sepuas dan sebanyak ini. Semua ada waktunya. Gue ga berhenti merasa ajaib, bisa dipertemukan dengan banyak orang yang menolong gue saat trip. Gue juga merasa amazing, gue dikasih kesempatan untuk lihat dunia disaat masih muda.

Kedua, gue diingatkan untuk lebih jadi manusia. Mungkin gue hampir ga pernah ungkit sisi ini, hidup di Korea itu sebenernya capek, kaya robot dan stress. Tiap saat gue dikelilingi oleh orang-orang yang hanya tau ukuran hidup dari duniawi. Kejar nilai, buru uang, saingan kaya ga kenal sosial. Dari traveling ini, gue diingetin lagi bahwa sumber kebahagiaan gue itu bukan materialistis. Gue ngumpulin uang bukan buat beli barang tapi untuk pengalaman.

Tiap orang itu beda-beda dan gue ga perlu takut disaat gaya hidup gue bener-bener ga nyambung dengan orang di sekeliling gue (Korea).

dari yang sekedar kenal, bisa lanjut visit gue di Indonesia!
Ketiga, ternyata gue gak seburuk itu dengan human. Gue selalu bilang kalo gue ga suka ketemu orang. Well, gue orangnya cenderung penyendiri dan ga suka basa-basi. Buat banyak orang, gue terlihat arogan dan gak sopan. Tapi ternyata gue bisa juga bergaul dan menjaga hubungan dengan teman-teman gue. 

Keempat, temen gue baik banget padahal gue shit. Ini gue masih ga habis pikir. Setiap gue ditolong orang, gue suka mikir dan malu sendiri, "Bahkan gue gak mau nolongin kalo gue jadi dia"
Gue egois tapi dengan mendapatkan bantuan darimana-mana, gue disentil untuk jadi lebih peduli dan jahatnya dikurangi.Gue juga termotivasi untuk terus bantu orang, karena gue selama ini terus menerus dibantu.

Kelima, slow down. Nafas. Berkaitan dengan nomor dua, gue punya kebiasaan target tertentu. Kadang gue suka cepet-cepet dan kesel sendiri kalo timing gak berjalan sesuai keinginan. Tapi saat trip yang kadang gue harus nunggu orang, ikut apa rencana host gue dan akhirnya mengorbankan target-target pribadi gue, ternyata gue mampu sabar dan tetep bisa bahagia. Mungkin gue memang harus lebih fleksibel.

Keenam, gue belajar lebih banyak tentang diri sendiri. Gue super self-centered. Gue rasa gue mengenal diri gue dengan baik. Tapi ternyata gue suka underestimate diri gue sendiri. Gue ternyata bisa lebih sabar dari perkiraan gue, gue physically lebih kuat dari yang gue pikirkan dan gue punya self-control yang oke. Cuma hal-hal seperti ini baru sadar ketika gue menikmati waktu gue sendiri. 

Oh, ternyata gue memang gak suka daging dan itu completely normal. Bahkan disaat gue bisa party chicken atau seafood, gue carinya vegan. 

mojok, duduk, ngafe. inget syukur dan terus jalan-jalan (Hanoi)

Ketujuh, semua ada timingnya dan ini ga bisa dilawan. Gue ngunjungin Italia dimusim terbaik dan ke Hanoi disaat temen gue bisa nemenin 24 jam. Gue gatau kenapa kosongin minggu terakhir sebelum balik Korea, eh pas banget diundang nikahan temen deket dan bisa sekalian reuni. Gue juga ke Myanmar setelah guru gue ada di Myanmar, jadi bisa jalan-jalan bareng. Masih banyak lagi 'kebetulan' lainnya. Kalo mau lebih dalem sih, gue traveling mumpung pas single jadi bisa asik sendiri tanpa perlu sibuk kabarin si doi.

Kedelapan,  keep traveling. Lesson yang gue ambil dari trip kali ini pada akhirnya membuat gue sadar bahwa traveling adalah sumber kebahagiaan gue dan gue harus berpetualang lebih jauh lagi. Baru sedikit hal-hal yang gue lihat dan masih dangkal pengetahuan gue tentang budaya di dunia ini. 

Sekarang kuliah dulu. Nanti jalan-jalan lagi.

Tuesday, February 21, 2017

Jalan-jalan ke Negara Ketiga

Gue baru aja balik dari destinasi utang gue yaitu Hanoi dan destinasi asal alias Yangon! Dua-duanya kota baru buat gue, tapi kalo Vietnam sih bukan negara baru. Gue udah pernah ke Vietnam selatan tahun 2012, tepatnya ke Ho Chi Minh City. Saat itu gue belajar kalo ternyata Ho Chi Minh itu nama pahlawannya Vietnam Utara dan kalo orang selatan sih lebih suka nyebut kotanya Saigon.

Anyway, sejarah bisa di google. Gue mau ceritain gimana gue bisa sampe Hanoi dan Yangon dan cuma keluar kurang dari $200 buat seminggu.

Tahu 2013 adalah awal dari segala kegilaan traveling gue. Saat itu gue mikir, 2013 adalah kesempatan terakhir jalan-jalan karena tahun depannya kan mau UN. Cari tiket murah ke Korea dan Jepang, sekalian ikut YLS. Di YLS, gue ketemu banyak temen dan salah satunya adalah Ha, dari Hanoi. Gue janji sama Ha kalo gue bakal visit Hanoi segera.

Apa daya, janji itu ketunda terus dan baru terpenuhi 2017 ini. Beruntungnya, saat ini Ha malah lagi nganggur dan udah punya anak yang lagi usia lucu-lucunya hampir 3 tahun. Alhasil Ha nemenin gue 24 jam sehari, bahkan anaknya dititipin ke daycare dan kita jalan-jalan. Gila gak hahahaha.

Ha!
Soal perjalanan, gue berangkat Senin malem dari Jakarta ke Kuala Lumpur. Dari KL, pesawat gue ke Hanoi jam 6 pagi so gue di bandara aja deh. Di Hanoi, gue diarahin Ha buat naik van ke kota terus dia jemput. Ternyata gue dijemput naik vespa yang mewah. Masalahnya si Ha ini badannya keciiiiiil banget sedangkan gue kan jumbo + koper. Tapi emang 100% Hanoi asli, motor adalah CARA HIDUP. Ha jago banget, bro!

3 malem gue di Hanoi, gue menyaksikan betapa ganasnya motor. Gue jadi malu, gue kira gue sama Tyas dari rumah Yogya ke Ratu Boko naik motor itu udah hebat banget. Tapi ternyata ga ada apa-apanya sama Ha yang sehari 20km lebih. Polusinya juga... DAHSYAT. Tiap malem gue meler, sampe dikasi cairan anti meler sama Ha.

Ha adalah host terbaik gue. 4 hari di Vietnam gue cuma ngeluarin uang $100 plus $20 yang harusnya bisa gue save tapi nanti gue ceritain :)))

Berikutnya adalah destinasi terandom seumur hidup gue... Yangon.

Man, bahkan setelah mendarat gue cuma mikirin Pagoda. Ga ada lagi atraksi di Yangon selain Pagoda. Tapi ternyata gue gain lebih dari Pagoda yang cantik. Gue serasa diajak ke Jakarta 20 taun lalu. Gue rasa tiap kota melewati masa seperti Yangon sekarang. Mau tau kejutan terbesar Yangon?

Mas-masnya mau ganteng, jelek, tua, muda... Semua sarungan.

ceritanya pacaran di Pagoda

Gue juga diajak rok-an sama temen Myanmar gue. Namanya Ricky dan kita hampir ga ketemu karena Rick sibuk belajar. Maklumin, anak kedokteran tahun ke 3. Tapi akhirnya Rick nyempetin jemput gue dan dia bilang dia mau nyelundupin gue ke Pagoda sebagai orang lokal biar ga bayar. Weey.

Sebelum turun pagoda, dia sampein plotnya. Jadi gue dan dia adalah pasangan yang lagi mau berdoa. Temen-temennya ngecover sambil ngobrol bahasa lokal sama dia. Nah loh. HAHAHA. Lolos kok.

Pengalaman one of a kind lainnya adalah ke Sekolah Internasional Indonesia! Jadi pemerintah kita punya sekolah Indonesia yang bertaraf internasional. Anak-anaknya mayoritas lokal Myanmar dan diajarin Bahasa Indonesia. Gue bahkan nginep disini deng. Kok bisa? Namanya juga usaha ngehemat duit. Jadinya gue di Myanmar 2 malem cuma keluar uang $40! Cerita lebih lanjut nanti.

Overall, Yangon murahnya kelewatan, Sumpeh, gue betah deh tinggal disini kalo bisa Bahasa Burma mah. Mau foya-foya juga susah, orang kuno banget mau dibelanjain apa?

Cerita detail jalan-jalannya nanti tapi gue jauh lebih bahagia merakyat begini daripada ke Bali penuh kemewahan. Kayanya gue emang cocoknya jadi master di negara ketiga, man,