Sunday, October 15, 2017

Syarat Lulus Kuliah di KUBS

Gue udah separo jalan. Udah natural buat mikirin kelulusan, eh terus baru inget, sistem syarat kelulusan disini beda banget dan gue belom pernah ngomongin. Jadi emang sebenernya gimana sih?

Ga ada skripsi. Cukup penuhin SKS sama syarat teknis seperti TOPIK dan TOEIC/IBT/IELTS.

Terdengar mudah? Memang :))))

Eits, inget, gue hanya berbicara untuk S1 Korea University Business School, sesuai dengan angkatan gue (2016). Ok mari kita liat SKS atau credits yang dibutuhkan apa aja.

Secara mudah, lo harus lulus dengan lebih dari 130 credits selama 8 semester. Mau extend sampe 8 tahun boleh sih but no. Asumsinya, lu major Business aja. Tiap semester lu bisa ambil 19 credits maksimal, kecuali GPA semester lalu lu bagus, lu jadi boleh ambil maksimal 22 credits. Normal pelajaran yang 3 credits itu 150 menit perminggu tatap mukanya. Seminggu 2x jadi 1x pertemuan 1 jam 15 menit. Paham?

Dalam 130 credits itu, ada 10 credits wajib yang ga ada hubungannya sama Business seperti freshman seminar (online - gampang), thinking and writing alias bahasa korea ilmiah yang susah meskipun buat foreigner udah dibagi tiga level sesuai kemampuan dan yang terakhir academic english (juga pake level-levelan). Lalu ada 3 electives (masing-masing bobotnya 3 credits) wajib dari kategori World Cultures, Literature and Arts, Ethics and Ideas, Science and Technology. Jadi lu penuhin 9 credits dari 3 kategori berbeda. Sulit paham? Kan ada 4 kategori, ambil satu dari tiga kategori gitu, ga perlu dari empat-empatnya. Sampai saat ini ada total 19 credits yang uh oh, sama sekali ga berhubungan dengan Business.

Berikutnya masuk ke Business-related yang general alias semua harus ambil ini karena ini basic. Ada 12 credits dari mata kuliah: Principles of Accounting, Business Statistics, Understanding Business Administration dan Principle of Economics I. Tambahan 3 credits lagi yaitu Principles of Economics II. Sampe sini jadi 19+12+3=34 credits yah.

Belom resmi jadi anak business. Soalnya lu masih harus ambil 39 credits wajib business yang 15 credits bebas, 24 credits (8 courses) diantaranya DITENTUKAN. Alias no tawar menawar, harus lu ambil. Apa aja tuh?
Marketing Management, Financial Management, Introduction to Operations Management, Intermediate Accounting I, Introduction to Management Information Systems, Organizational Behavior, International Business dan Management Strategy.

Sampe sini baru 34+39=73
Kurang 57 kan?

Dari 57 credits itu, 27 credits HARUS Business kalo lu cuma mau major di Business aja. Kalo mau minor atau double major didepartemen lain, silahkan daftar. Sedangkan yang 30 lagi lu harus ambil dari General Electives alias mata kuliah umum yang isinya kaya Bahasa Korea, Bahasa Cina, Sejarah Dunia, Hospitality atau apalah sampe Bahasa Indonesia aja ada kok.

Mudah kan? Yes. Kasus gue cukup menyenangkan. Disemester pertama gue ambil 18 credits, semester kedua 22 credits, ditambah winter semester 6 credits. Alhasil gue punya 46 credits dalam 1 tahun. Tahun ini, gue ambil total 36 credits jadi setelah usai semester ini, kalo lulus semua, gue bakal punya 82 credits. Gue punya 4 semester lagi buat lulus, dan 48 credits lagi buat diselesaikan. Bisa nyantai dong?

Ya bisa aja kalo mau. Tapi gue mau ngegas, biar semester terakhir free. Itu boleh. Gue bisa aja 7 semester beres kuliah TAPI boleh lulus cepetnya cuma kalo GPA gue diatas 4...

Karena total GPA disini 4.5 dan no, gue bukan A+ student so gue gak bisa sih overall GPA 4. Bukan merendah, tapi udah ngitung :)))))))

Cuma jangan dikira mudah. Temen-temen gue banyak yang kurang credits. Ada yang 4 semester masih butuh 68 credits, yang artinya mereka ga bisa santai sama sekali. Ada yang 1 tahun cuma beres 30 credits. Cuma gue yang ngegas ditahun pertama, biasanya orang ngegas ditahun terakhir hahaha.

Gimana? Tertarik kuliah disini?

Thursday, September 14, 2017

Obrolan Toko Buku

"This is my life, I would do as I wish."

Mungkin kedengarannya sombong sekali, tapi keyakinan ini membuat seseorang bisa maju lebih jauh dari sekedar keamanan dan stabilitas yang diidamkan orangtuanya. Sesaat setelah dipenuhi rasa kagum, gue kembali dikejutkan dengan statement lain.

"Jangan terlalu dibawa stress. Coba keluar dan cari lebih banyak orang, gue rasa di business school cuma kita bertiga yang mikir kaya gini"
*terdiam*

Oh. No. Too good to be true. Ini realita.
Ini adalah sepintas percakapan gue dengan dua orang senior dan satu junior tentang hidup dan masa depan. Mereka semua orang Korea yang belum pernah tinggal diluar negeri. Stereotipe akan ke-Koreaan mereka pun tidak dapat dihindarkan sampai akhirnya kita duduk 2 jam di toko buku. Kita tergabung dalam satu grup mentoring bersama alumni yang lebih tua dari bokap gue, yang bertemakan Social Entrepreneur.

Gak gitu banyak hal tematik yang gue dapat dari mentor kita. Tapi gue malah bisa belajar banget dari dua mas ini. Mereka ada di grup mentoring ini bukan karena tercampakkan dari grup lain, tetapi karena pilihan. Karena mereka ingin membantu orang. Karena mereka ingin menjadikan passionnya sebagai karir.

Senior ini dua-duanya anak pertama dikeluarganya dan punya orang tua yang sangat supportive dan cenderung bebas. Dalam dua jam itu, ada banyak sekali hal tentang sekolah dan hidup yang gue pelajari. Terutama bahwa menjadi beda itu tidak salah. Mereka berbeda dari teman-temannya. Mereka tetap mau dan mampu memperjuangkan masa depan pilihannya.

"Ada banyak temen yang tadinya udah memutuskan mau jadi akuntan, tiba-tiba ganti haluan cuma karena ada lowongan yang gajinya lebih besar. Ada juga yang cuma cari status sosial tinggi. Mereka bisa menjalani apapun untuk hal-hal superficial. Ini gambaran masyarakat kita, dan itu preferensi mayoritas."

Gue tersentuh bukan main. Ternyata ada orang-orang yang berpikiran sama dengan gue. Lebih dahsyat lagi rasanya ketika mereka juga mengakui bahwa susah mencari orang yang berpikir seperti... kita.

Gue sudah separo jalan kuliah. Gue sudah harus memutuskan dengan jelas apa yang gue inginkan, tanpa kehilangan identitas gue. Dari obrolan toko buku ini gue belajar, pilihan lo terhadap apapun bisa berpotensi membuka jalan yang lebih lebar atau malah menjauhkan lo dari tujuan asli lo. Sesimpel pilihan gue untuk ikut mentoring alumni dengan hanya memilih Social Entrepreneur ini. Orang-orang yang menaruh pilihan yang sama ternyata memiliki pandangan hidup yang cukup sejalan dan bisa membantu satu sama lain.

Pelajarannya? Pilihlah teman yang baik untukmu.

Tuesday, August 15, 2017

Jalan-jalan Domestik atau Internasional?

Seperti yang udah gue share di Dilema Explore Indonesia, sekarang gue mau share kenapa gue lebih banyak jalan-jalan internasional. Coba pake studi kasusnya trip yang pernah gue coba ya.


Harga tiket ke Italia emang mahal, apalagi kalo dari Indonesia. Gue dapet PP sekitar $700 atau 10juta rupiah. Sampe sini, udah jelas trip domestik bakal jauh lebih murah. Apalagi di Indonesia, dimana maskapai lokal kita kalo buka harga murahnya bukan main. Kalo lo udah kepentok sama angka 10 juta ini, lo cari tiket Jakarta-Makassar PP 1.5 juta, lo naik taksi tiap hari selama 3 hari (tarolah sehari 200ribu) terus naik bus eksekutif ke Toraja, dengan penginapan di hotel berbintang yang taro aja 500 ribu semalam selama 5 malam, makan enak di mall tanpa kontrol biaya, sewa kapal snorkeling ke Samalona, ke Bantimurung yang juga diluar kota - gue yakin expense lo ada dirange dibawah 9 juta. Travel domestik menang secara biaya.

Makassar my love

Kelemahannya disini menurut gue adalah lo tergantung dengan taksi atau Grab yang cuma ada di kota besar. Ini yang gue kurang sreg di Indonesia. Belum lagi penginapan lo terbatas di hotel.

Dulu destinasi favorit gue adalah Singapur. Tiket PP ke Singapur murahnya suka kelewatan. Hostel rangenya belasan sampe SGD 30. Gue biasa ambil yang $20. Taro 3 malam di Singapur, makan mewah jajan banyak sehari $50, transport no taxi tapi muter-muter kemana-mana cuma $20 3 hari pake tourist pas. Untuk leisure, semua yang di Singapur berbayar. Alokasikan $60 deh buat masuk museum sampe mabok atau $150 deh kalo lo mau masukkin Universal Studio juga. Berapa totalnya? Roughly $500 (Seumur-umur gue ga pernah sih ngabisin $500 4 hari di Singapur, kecuali kalo lo itung belanjaan CD gue yang sampe $150). Let's say mau ke Johor Bahru juga 2 malam so harus beli tiket bis lagi, tetep aja PP max cuma $10. Penginapan taruh lah sama (in reality harusnya lebih murah) dan makannya sampe mabok $30. Totalnya tambah roughly $100. So asumsikan tiket pesawat sama harganya dengan ke Makassar, 6 malam Singapur-Johor Bahru bisa 6 juta rupiah.

Kalau biayanya sama, kenapa gue lebih suka ke luar negeri?

Nyaman. Bisa, oranglokal juga biasa liatnya, untuk jalan-jalan sendiri dan aman. Trip ke Bangkok dan ke negara-negara ASEAN lain jauh lebih murah dari ini. Di Bangkok, hostel yang best banget menurut gue harganya 240 ribu per malam. Buat temen-temen gue ini udah kemahalan. Cari yang lebih murah sampai separonya masih mungkin. Transportasi? Jangan ditanya. Kelewat murah. Taksi ke city aja cuma 120 ribu-an.

Masuk Vatikan gratis!
Kalo lo ke Italia, misalnya lo mau bikin perjalanan Roma-Florence-Genova-Milan kaya trip winter gue, biayanya ga semahal itu. Pass transportasi umum di Roma 7 Euro sehari tapi gue aja cuma pake 6 Euroan. Di Florence juga sama. Di Genova lebih murah soalnya lo kemana-mana jalan kaki, paling ke Cinque Terre tiket kereta all-in sekitar 24 euro. Airport-Roma 6 Euro, Roma-Florence 12 Euro naik kereta (ini udah mahal, naik FlixBus lebih murah), Florence-Genova 5 euro dan Genova-Milan 9 Euro. Terakhir, Milan-Airport 10 euro. Total transportasi buat taro kira-kira 7hari adalah 100 euro atau 1.5 juta rupiah.

Penginapannya lumayan, taro 25 euro semalem, dikali 6 malam berarti 150 euro ata 2.4juta. Masuk museum atau leisure activity (yang warga lokal jarang lakukan) alokasikan 150 euro lagi, makan sehari 25 euro juga meski ini udah kebanyakan menurut gue. Totalnya semua expense lo adalah 550 euro atau sekitar 8.7 juta diluar tiket. In reality sih gue menghabiskan 400 euro aja, udah termasuk shopping yang mmmm... Ampe koper susah nutup. Ini perkiraan maksimal untuk ala backpacker. See, ga semahal yang orang pikir selama lo bisa dapet tiket murah untuk sampe sana.

Cuma bukan selalu begitu casenya sih. Summer ini expense gue meledak soalnya penginapannya mahal-mahal. Maklum, gue ke desa dan pilihan hostelnya terbatas banget. Semua demi Om Tiziano Ferro dan Il Volo, ya ampun...

So kalo ada kesempatan, cobalah beranikan diri jalan-jalan ke luar negeri.

Monday, August 7, 2017

HP ILANG

Halo,

Pengumuman ga penting tapi HP gue barusan ilang. Gapapa sih, sayang foto-fotonya aja belom ke transfer. Tapi all kind of kekayaan material itu renewable, mungkin udah bukan rejekinya.

Yuuhuu. Kalo ada yang pake mobile device, nomor HP, bales email aneh atau apa-apa, kemungkinan bukan gue yah.

Love,
Alira

Monday, July 24, 2017

Dibalik Mimpi yang Terwujud: Explore Italia

Berakhir sudah 13 hari gue di area Schengen. Tiap hari, gue rasanya gak berhenti bersyukur karena apa yang gue idam-idamkan sejak dulu terwujud dalam 6 bulan. Dimulai dari kesempatan ke Vatikan, ambisi yang tumbuh dalam benak gue sejak SD. Lalu bisa travel ke lebih banyak negara dari yang gue inginkan dan sampai akhirnya summer ini gue bisa nonton konser yang selalu gue mimpikan.

I am more than blessed.

Ada banyak feeling yang gue rasakan saat ini, disaat gue mengingat lagi perjalanan gue dan perjuangannya. Gak mudah, tangisan dan malam-malam ga bisa tidurnya itu bikin gue stress banget. Belum lagi hari-hari dimana gue merasa bloated tiada henti dan ga bisa makan. Bukan karena excited, tapi karena pusing dengan schedulingnya.

Ngurus visa untuk dua kali perjalanan ke Italia ini juga penuh air mata. Gue berusaha untuk tidak terpengaruh saat gue tau bahwa visa gue hanya keluar untuk 11 hari sedangkan dihari ke 12 gue mau ke konser Il Volo. Tapi ternyata gak tahan dan akhirnya gue nangis juga. Shallow ya, tiap musim masa nangisnya karena visa. Mungkin ini salah satu tanda bahwa gue memang benar-benar pengen banget pergi ke Italia dan ke konser.

Konser apaan sih?
Tiziano Ferro sama Il Volo. Gatau gapapa, temen-temen gue juga ga ada yang tau kok.

Selfie bahagia dari hati
Gue gak suka selfie sebenernya tapi omg, bahkan gue terpana liat foto-foto gue dari konser... Selalu terlihat "kelewat senang" karena emang beneran seneng banget....

Mau tau totalitas ngefans? Gue ampe kaya viking pake atribut konser. Satu-satunya wajah Asia, gapapa pede aja.

Bajunya juga baju official

Anyway, kenapa Italia? Dan kenapa gue cuma ke Italia doang fokusnya saat udah di Eropa?

Karena ladang gandum?
Gue pecinta budaya dan nama Italia udah ada didalam list negara yang pengen gue kunjungi sejak SD. Makanan favorit gue juga makanan Italia. Gak ada makanan Italia yang gue ga suka, sedangkan buat keluarga gue, gue picky setengah mati dan merepotkan. Tapi tiap disodorin makanan Italia, apapun itu pasti gue makan. Gue belajar Bahasa Italia jauh lebih awal daripada Mandarin atau Bahasa Korea karena saat itu (2008), gue cuma mau belajar bahasa yang pelafalannya mudah dan pakai huruf latin. Pas belajar Bahasa Italia itulah cinta gue buat lagu-lagu Italia dimulai.

Quality over quantity. Seperti yang gue ceritakan sebelumnya, adek gue gak belajar dan lihat apa-apa setelah mengunjungi 34 provinsi di Indonesia karena dia mengutamakan jumlah provinsinya. Disisi lain, dengan fokus ke Italia, gak cuma gue bahagia, gue juga jadi paham banyak hal baru tentang orang-orang dan negaranya. Alasan lainnya memang gue kurang tertarik dengan negara lain. Gue ngalamin sehari di Budapest dan meski kotanya sangat murah dan menyenangkan, gue agak kesal ketika gue gak paham sedikitpun bahasa sana, not even 'thank you'.

Planningnya gimana kalo belum tau apa-apa?

Online dong. Effortnya emang dahsyat berminggu-minggu tapi gue spontan kok orangnya. Biasanya gue cuma memutuskan kota, terus disana mau kemana atau mau ngapain, liat nanti aja. Tanya hostel disana. Gue lebih suka liat atraksi lokal daripada tempat turis. Ekspetasi gue juga selalu rendah, so lebih mudah senang hahaha.

Gue juga suka tanya temen. Kebetulan gue punya temen atau ajak kenalan orang di daerah sana. Gue sempet ketemu temen SD gue dan dia berbaik hati ngehost gue dikamarnya. Begitu juga dengan temen kuliah gue yang lagi summer school di London. Ga cuma bisa hemat biaya hostel karena gue tidur di lantai bermodal sprei dan bantal traveling yang gue bawa buat dua malem di kamar mereka, gue juga lebih tau culture tempat tersebut.

Ada takutnya gak traveling sendiri ke tempat baru? Ada downnya gak?

Gue sih down liat jalanan sepanjang+sepanas ini pake koper+ransel

Italia itu pamornya bukan negara aman. Waktu Januari gue kesana, gue berdoa tiap hari biar balik utuh gak kurang suatu apapun. Jangan ngomongin foto, ngeluarin HP dan kemana-mana juga was-was. Tapi setelah gue tau lebih dalam tentang karakteristik kotanya, orangnya dan bisa sedikit bahasanya, kekhawatirannya hilang. Terlebih lagi gue ke desa-desa, yang emang relatif lebih aman. Saat trip summer ini, gue ngalamin tidur bersama 3 cowok telanjang di dorm yang mixed gender, jalan malem-malem geret koper di Roma, baru balik konser jam 1 pagi di Salerno, Firenze dan Lucca sampe naik mobil stranger di Perugia karena panas banget dan bawa koper berat.

Downnya juga banyak. Gue gampang capek setelah kebanyakan jalan dan Italia itu panasnya bukan main. Serius. Tapi gue kan jalan kaki kemana-mana dan itu menguras energi. Kadang mau explore lebih banyak tapi kepala udah pusing banget. Selain itu, gue juga masih kerja ngurus beberapa event yang waktunya bener-bener setelah Italy trip gue. So gue harus bawa laptop yang beratnya bukan main, modal begadang atau rapat online beberapa jam siang hari karena perbedaan waktu.

Oh, gue juga down tiap ga bisa buka pintu. Ini ceritanya panjang, tapi kejadian berkali-kali. Gue kaayanya gak jodoh sama pintu kayu manual. Masalah sering timbul dengan pesawat dan transportasi lainnya. Biasanya gue cari murah, tapi schedulenya jadi berantakan. Misalnya saat di Salerno, gue harus naik kereta jam 5.28 pagi dan ternyata keretanya telat sehingga gue ketinggalan bus ke Perugia. Terus pas mau ke Turin, gue pilih kereta cepat dengan niat nyaman. Eh ternyata ga ada tempat bagasi di dekat pintu gerbong, so gue harus angkat koper 18kg gue ke kompartemen diatas kursi. Gak kuat. Desperate pasang muka 'anak hilang' biar ada yang nolongin.

Biayanya gimana?

Pas winter sih gue bangga banget, kelewat murah soalnya. Tapi yang barusan...

MAHAL. Gue gak mau ngitung berapa banyak uang yang gue keluarkan untuk trip summer ini tapi MAHAL. Tetep sih Allah baik banget sama gue, semester lalu gue dianugrahi banyak job dan yes, itu buat modal gue liburan. Sebagai ilustrasi, gue menghabiskan 180 euro buat 3x apply visa Schengen (!), tiket pesawat ganti 1x dan cancel 1x, tiket bus hangus 1, b&b di Lucca harganya 80 euro semalem karena ga ada yang lain plus tiket 3 konser harganya total hampir 400 euro. Belum lagi satu godaan setan yang gak akan gue sesali: beli CD ampe 110 euro.

Gak pernah merasa sayang atau sedih sih dengan biaya, karena ini mimpi gue. Gue kerja keras juga endingnya untuk ini dan gue beneran bahagia.

Kesimpulannya, yang lo liat di Instagram atau social media gue yang lainnya memang benar. Gue bahagia dan itu bukan sekedar image. Gue juga menjalani hidup yang sangat blessed dan nyaman karena penuh jalan-jalan, itu authentic. Gue bersyukur dan meski kebahagiannya bisa terlihat 'shallow' buat orang lain, ini hidup yang gue pilih. Asumsi yang mungkin kurang tepat adalah bahwa gue bergelimang uang untuk punya kenyamanan yang dahsyat. Ya kalo uangnya sampe tumpah-tumpah sih gue gak perlu bangun pagi buat cari pesawat paling murah, atau sampe ngalamin culture shock tidur sama mas-mas telanjang itu.

Happy beneran kok!
Orang bisa punya pengalaman yang sama tapi pelajaran dan feeling yang berbeda. Buat gue, traveling tentu saja menjadi kesempatan emas buat memperkaya diri sendiri dengan lebih banyak tahu budaya lain. Not so much about foto-foto pajangan instagram, itu bonus. Kali ini, gue belajar bahwa gue harus lebih fleksibel dalam hidup dan gue juga bisa lebih santai. Yes, gue masih kebangun tiap jam 6 pagi karena gue morning person. Tapi bukan berarti gue harus terburu-buru ninggalin kamar sepagi mungkin biar bisa mengunjungi lebih banyak tempat. Saat visit suatu tempat pun, satu dua foto cukup, lebih baik belajar cerita dari tempat tersebut. Yes, gue masih merasa 'jir udah sampe sini masa gak total?'
Tapi tanya lagi, totalnya ini apa? Jumlah? Hasil foto? Atau bahagia dan pemahaman yang lebih dalam? Gue belajar untuk lebih sayang dengan diri sendiri dan mengurangi gaya barbie. Maksudnya? Berpakaian lah yang nyaman, ga perlu cantik atau representable. Gue jalan-jalan buat diri sendiri kok, bukan untuk photoshoot.

Yak siapa yang tertarik jalan-jalan bareng sehari jalan kaki minimal 6km dan siap tidur di lantai atau camping di pinggir ladang gandum?

Saturday, July 15, 2017

Dilema Explore Indonesia

Sebelum gue pindah ke Korea, gue berencana tiap balik ke Indonesia mau visit provinsi baru di Indonesia. Gue emang suka traveling, tapi di tahun 2015 itu, dari 34 provinsi di Indonesia gue baru pernah ke 18 Provinsi (baru ngitung). Sebelum berangkat pun gue akhirnya ke Manado, biar seengganya nambah provinsi baru.

Ero, adek gue, dan bokap gue udah ke 34 provinsi. Ero pake gap period SMP-SMA dia buat keliling Indonesia sama bokap dan temennya. Gue gak pernah iri dengan experience itu karena gue liat, gak gitu fun. Mereka kejar waktu buat menuhin target 34 provinsi dalam 2-3 bulan tapi gak explore mendalam. Sekedar menginjak dan sekedar check in di ibukota provinsinya cukup. Mana fun.

Gue sendiri selalu disindir sebagai anak yang lebih suka keluar negeri. Benar. Tapi bukan berarti gue gak cinta atau gak mau keliling Indonesia. Masalahnya keliling Indonesia itu ga mudah.

Iya tiket pesawat memang murah, apalagi kalo pake Lion kan? Cuma tetep ga semurah itu, ga seperti keliling Eropa yang tiketnya bisa 150 ribu dari Milan ke Amsterdam nett udah termasuk pajak dsb. Belum lagi gue anti Lion Air. Hambatannya ga cuma disitu. Ketika gue ke Manado, gue sadar kenapa gue lebih pilih keluar negeri. Karena gue bisa pergi sendiri, ga tergantung siapa-siapa. Sampe sana tinggal naik transportasi umum. Penginapan juga bisa cari yang 300 ribuan, tanpa takut itu hostel remang-remang.

Di Indonesia belum bisa.

Summer kali ini, gue punya kira-kira 18 hari di Indonesia sebelum gue ke Italia. 3 hari setelah lebaran, gue memutuskan buat ke Tanjung Bira, Bulukumba, Sulawesi Selatan. Dimana tuh? Di ujung pulau Sulawesi yang sebelah kir kalo dipeta. Bahasa gue gak scientific banget tapi intinya, 6 jam dari Makassar. Gue totally impressed dengan Tanjung Bira yang bersih dan terkelola dengan baik tapi coba kita hitung costnya.

Tanjung Bir punya pasir putih terbaik
Flight ke Makassar, mobil ke Tanjung Bira karena ga ada transport umum, terus nginep disana yang minimal 800 ribu untuk resort, baru fun activities kaya sewa kapal dsb yang harganya sih muraaaah banget untuk standar Indonesia (apalagi buat standar Korea). Kalo gue sendirian, sewa mobil, nginep, sewa kapal udah simply tidak terjangkau.

Explore Indonesia gue kali ini paling seru ke SULAWESI TENGGARA! Harus dicapslock karena gue belum pernah kesana sebelumnya.

Next leg, gue ke Wakatobi. Penginapan di Wakatobi surprisingly murah, cuma 500 ribuan untuk resort. Flight kesana juga ternyata ga semahal yang gue bayangkan kalo dari Makassar. 800ribu. Tapi begitu sampe resort, lo ga bisa kemana-mana kalo gak pake fasilitas resort. Sewa mobil 500 ribu buat 6 jam, mahal banget. Snorkeling 400 ribu seorang... Nah loh.

Kerjaan di Wakatobi
Gue gak ngapa-ngapain di Wakatobi karena cuaca buruk. So costnya cuma makan aja. Ya tapi jauh-jauh ke Wakatobi masa buat makan...

Berikutnya gue ke Kendari. Flight kesana ternyata susah dan gak murah, padahal ibukota provinsi. Sampe sana, gue kaget karena ternyata bandaranya jauh banget dari kota, sekitar 25 km. Semacam di Makassar yang bandaranya di Maros, atau Soekarno Hatta - Cengkareng yang adanya di Banten. Bandara Haluoleo ini adanya di Konawe Selatan. Itungannya kalo pake taksi mahal juga.

Masalah nginep, hotelnya relatif terjangkau sih. 400-500 ribu masih dapet dan dengan fasilitas yang sangat ok. Taksi juga banyak di kota, meski gue gak nyoba jadi gatau. Tapi wisatanya beda cerita. Kendari di kota sih ga ada apa-apa. Lo harus ke pulau buat tau bestnya Kendari dan lagi-lagi sewa kapal jadi soal.

Gue beruntung banget kali ini gue dihost Elaine, temen gue di Korea. Sebagai super host dengan kesaktian di Kendari, gue ditunjukkan best of Kendari dan sekitarnya. Kita explore pulau-pulau super dengan kesaktian kapal dia dan om-om super ramah. Di Kendari lah gue baru sadar, meski kesana susah dan penuh perjuangan, pesawat juga jarang, cuaca suka buruk dan susah landing... Ternyata worth banget. Kalo lu tau hidden gemnya dan punya uang.

Pulau Bokori

Bagian terfavorit gue adalah island hopping sama Elaine. Tapi impossible gue bisa kaya gini sendiri. Bukan cuma mahal, fasilitasnya simply belum ada. Misalnya ke Labengki dari Kendari, gue denger normalnya makan waktu 4 jam naik kapal. Kita cut short jadi 1jam lebih dikit. Kalo lo makan waktu berjam-jam di kapal dan cuma sebentar, apa worth it? Sedangkan paket menginapnya lumayan juga 2 juta 350 ribu per orang.

Cost buat island hopping rasanya bisa buat ke Eropa. Atau tur makan sampe puas di Taiwan. Tapi poinnya bukan itu.

Explore Indonesia gue kali ini buat gue paham kenapa Elaine bangga dan sangat nasionalis. Karena dia pernah liat sisi-sisi dari Indonesia yang gak banyak orang tahu. Karena dia pernah ke daerah-daerah terpencil dan menemukan keindahan yang truly Indonesia. Gue juga jadi sadar, bodoh banget gue mau ke Filipina buat cari pantai di Cebu disaat Indonesia begitu cantiknya.

Pulau Labengki - Sulawesi Utara
Gue gak perlu ke Bari, Italia. Bira jauh lebih baik. Gue gak perlu iri sama orang-orang yang island hopping di Yunani, island hopping gue di Sulawesi Tenggara udah one of a kind. Gue berharap bisa menemukan lebih banyak keindahan Indonesia, dengan cara yang entah bagaimana, dan hemat.

Targetnya sebelom gue kuliah, boleh lah 19 provinsi jadi 23 provinsi. Gamau ambisius, karena berkaca dari Ero, gue sadar kualitas lebih baik daripada kuantitas. Mungkin next time gue harus open trip biar bisa cari sesama explorer Indonesia? :)

Sunday, June 18, 2017

Permintaan Lebaran

Semester ini hampir berakhir dan ada banyak cerita yang gue lalui, darimulai mengenal teman disekitar gue dengan lebih baik lagi, perjuangan kelas siang disaat gue maunya kelas pagi, kerjaan yang mendadak naik level, kejutan mental yang datang bertubi-tubi dan pelajaran-pelajaran hidup yang gak ada abisnya.

Refleksi gue semester ini adalah bahwa tiap orang punya perjuangannya masing-masing dan hidup itu sebenernya berjuang melawan diri sendiri. Mau nyerah atau terus maju. Mau marah atau berlapang dada. Mau kecewa atau mau berefleksi. Mau berusaha atau mau diam dan menunggu.

Tingkat perjuangan itu relatif dan yang pasti, gue diingatkan bahwa hidup gue masih banyak rahmatnya. Masih banyak hal-hal yang harus disyukuri, daripada diratapi.

Gak mudah, tapi gue senang. Gue bersyukur.

Nah, kali ini gue punya request khusus. Gue butuh bantuan teman-teman untuk berbagi. Gue sadar, orang Indonesia itu baik hati dan suka sekali berbagi. Tapi masih cenderung kebanyakan mikir atau penuh mager. Atau sesimpel ragu. No. Perubahan dan kontribusi itu dimulai dari titik terkecil. Gak perlu besar, gak perlu nanti.

Saat ini gue lagi concern banget sama pendidikan di daerah-daerah yang terbatas. Nah coba deh lo liat dua kampanye untuk bantu di Morotai dan di Sungkung, Kalimantan Barat.

Gue selalu sedih dengan kualitas sekolah di daerah terpencil. Anak-anak ini gak minta dilahirkan di lokasi geografis yang salah. Kalau aja mereka di kota, seengganya baca tulis sudah jadi hak mereka. Sama klasiknya, anak-anak ini nanti penerus bangsa. Mereka adalah orang Indonesia yang mungkin belum tahu, apa sih blessing jadi orang Indonesia. Indonesia juga milik semua, bukan cuma orang Jawa atau orang Kota atau orang Islam - nada-nada mayoritas di negeri ini.

Jadi kalau memang ada rejeki lebih, sebarang 10ribu 20ribu, ikutlah berkontribusi. Jangan pikir "apa sih arti uang segitu?"
Untuk sebuah perubahan, rupiah yang sepele itu besar maknanya. Saat ini donasi juga sudah dimudahkan caranya. So jangan jadi anak bangsa yang penuh mager. Ga malu sama temen-temen yang harus jalan kaki ke sekolah, bahkan terkadang pake nyebrang sungai/laut?

Mau mengingatkan perkataan klasik,

"Gak ada orang yang jatuh miskin karena memberi"

Terima kasih teman-teman!

P.S: gue juga punya fundraising sendiri buat YLS17 di bit.ly/supportyls17 tapi gue merasa isu yang gue sebutkan diatas jauh lebih penting dari sentimen pribadi yang gue punya untuk YLS.