Tuesday, April 11, 2017

Hikmah Jadi Pembantu

Udah dua minggu terakhir gue susah tidur. Gue terlalu banyak main dan ketawa, tapi langsung depresi ketika masuk kamar atau setiap liat email masuk. Sumber permasalahannya menyenangkan, cuma tetep bikin ga tenang.

Gue udah punya rencana yang fix buat summer ini. Diawal Maret, rencananya terdengar indah. Lebaran sama Princess, terserah mau dibawa kemana dan ikut apa kata dia sampe pertengahan Juli. Lalu ke Italia, nonton Tiziano Ferro dan pulang. Ga lama di rumah, pergi buat YLS. Setelah itu, awalnya gue mau ke Taipei buat volunteer tapi kayanya gak keterima, jadi lamain di Indonesia aja. Padahal sih udah punya tiket sampe Taipei yang belinya setahun lalu. Mungkin mending ambil diving license atau bisa lah jalan-jalan ke Indonesia timur.

Kemudian negara api menyerang.

Ternyata gue keterima volunteer di Taipei dan masih dikasih kepercayaan buat ngewakilin persatuan pelajar Indonesia disini buat konferensi pelajar Indonesia dunia. Tempatnya? Di Inggris. Gue langsung shock karena rencana liburan gue udah 95% tiba-tiba harus ganti itinerary dan rencana sebulan lebih dirumah jadi cuma 20 hari.

Gue kaget dan mungkin panik. Gue gak bisa tidur berhari-hari, bahkan setelah masalah tiket dan daftar visa hampir selesai. Gue jadi mikir kejauhan soal: "Kenapa?"

Semua orang tau lah gue suka volunteer. Gue suka menyibukkan diri dengan hal yang aneh-aneh dan kadang gue terlewat attached sama hal-hal yang gue lakukan. Semua juga tau banget gue suka jalan-jalan sampe level kelewatan. Secara singkat, harusnya gue senang, bersyukur dan excited. Tapi yang orang gatau adalah dalam banyak organisasi, gue ini bukan siapa-siapa. Gue terlihat sibuk, tapi sebenernya gue cuma... 'Pembantu'.

Saat gue harus isi form ke Inggris, ada pertanyaan "Posisi/Jabatan" di organisasi asal. Gue ngisinya pake galau. Gue cuma member. Pengurus. Pembantu umum. Bukan Presiden, Ketua Divisi atau apalah yang fancy dikit. Pembantu-pembantu, atau bahasa kerennya maid, ini ada banyak. Gimana ceritanya bisa gue yang pergi?

Gue memang berdoa sama Tuhan, tahun 2017 ini gue mau maksimalin kesempatan gue traveling terakhir sebelum tahun depan mau internship. Terus tiba-tiba travelingnya jadi kelewatan gini. Gue sempet galau setengah mati pas dapet undangan Taipei. Gue sampe bilang ke Princess chat panjang 1 screen. Intinya: "Gue seneng jalan-jalan, bobot CV juga nambah, ditanggung semua so murah. Cuma ilang 2 minggu yang bisa dipake jalan-jalan di Indonesia. Gapapa gak?"

Princess dengan simpelnya bilang, asal gue seneng dan kuliah gak keganggu yasudah.

Tapi baru satu hari setelah gue chat gitu... Gue ditugaskan ke Inggris. Gue panik dan kaget total. Gue akhirnya malah email ortu gue sendiri sambil kasih statement:

"..
Ngomong aja. Tiket mah disubsidi mereka. Subsidi sih bukan bayarin. Intinya sih sekarang seneng, summer jadi produktif, kerjaan nambah CVnya banyak. Terhormat, ngewakilin PPI sini padahal ara bukan siapa2. Tapi banyak keluar lagi, gapapa ya muach."

karena gatau harus bilang apa. Udah bukan minta izin lagi karena yang ini judulnya 'penugasan' yang udah terlanjur gue iyakan. Ortu gue bahkan gatau gue udah punya tiket buat ke Italia, ga sempet nanya/peduli/marah karena tiba-tiba gue langsung kasih undangan ke Inggris. Princess yang tadinya gasuka banget kalo gue pulang tapi ga berasa pulang, malah mengizinkan dengan lapang dada. Princess bilang "Yowis, gapapa mumpung ada kesempatan dan kakak juga suka"

Perizinan, pertiketan dan segala dokumen beres. Tapi overthinkingnya belum selesai.

Kenapa gue jadi pembantu/volunteer/miss jalan-jalan yang seberuntung ini? What did I do right? How do I deserve all this?

Gue berpikir mungkin karena Tuhan sayang sama gue. Tapi terlalu vague. Mungkin karena attitude gue, attitude yang banyak orang benci. Gue gak pernah begitu peduli dengan jabatan gue diatas kertas. Lo boleh panggil gue pembantu, kacung atau miss-sibuk, tapi ketika gue udah berada dalam organisasi atas pilihan dan keputusan gue sendiri, gue akan punya mindset untuk kerja. Lo ga perlu ingetin gue apa yang harus gue lakukan, karena gue bisa bertanggung jawab dan lebih dari ekspetasi.

Ga banyak orang yang suka, karena terkadang gue cenderung menghakimi dan bossy. Ketika gue suka dengan sebuah tim atau organisasi, kemungkinannya cuma dua. Antara gue jadi bitchy dan terlihat arogan setengah mati, banyak mengkritik, gapunya temen, bermulut pedas dan bermuka galak saat mengutarakan pendapat atau gila, suka garing sendiri dan masih bisa tertawa saat ngomong kritik dengan sarkasme terjahat. Ketika gue nyaman, gue cenderung gila dan banyak ketawa. Kalo gue belom nyaman, gue bakal jadi ibu tiri atau monster. Kesamaannya? Gue kerja. Kontribusi.

Banyak kasus dimana gue hanya disukai oleh ketua, karena gue berkontribusi lebih. Tapi oleh sesama? Dihujat. Akhir-akhir ini, gue selalu punya grup chat eksklusif diorganisasi yang gue ikuti, dengan isi ketua tim gue, boss tertinggi (Presiden lah, koordinator lah atau pendiri organisasinya) dan gue. Kok bisa? Biasanya, ketua tim gue gak bisa handle speed dan feedback gue. Gue terbiasa kerja dan ambil keputusan super cepat, yang cenderung ga masuk di organisasi tertentu. Merasa terhormat? Gak juga, malah aneh. Gue sih mikir, kalo semua orang bisa kerja efisien dan tanpa hirarki, pasti lebih efisien.

Gue seneng sibuk. Tapi shock setengah mati juga saat ga berhenti diemail dan ditelpon boss-boss besar, karena diantara 'pembantu' lain, gue yang paling responsif. Belakangan malah tanggung jawab gue diupgrade dalam 1 hari: dari cuma ngurusin dokumen, sampe harus jadi penghubung dan pengambil keputusan.

Resikonya besar, dan gue sangat bersyukur. Saat ini gue masih mahasiswa, belum punya nama dan jabatan. Pertaruhannya kecil, tapi pelajaran yang didapat gak ternilai harganya. Gue rasa gue harus bangga dengan pencapaian ini, yang mungkin sebenarnya gak seberapa. Take some small steps. Be proud, karena ga ada lagi orang lain yang akan back up dan menyemangati diri gue, kalo bukan gue sendiri.

Apapun alasannya, gue bangga punya peran tidak bernama. Moral lessonnya, lakukan SEKECIL APAPUN peran yang lo punya dengan effort paling maksumal. Gue bangga dengan apa yang gue lakukan, sebagai pembantu. Semoga makin banyak pembantu-pembantu yang bisa maju.

Dan semoga gue bisa segera tidur nyenyak.

No comments:

Post a Comment