Akhir-akhir ini, fokus utama gue adalah diskriminasi yang gue terima sebagai mahasiswa asing. Mayoritas orang di Korea belum terbuka terhadap orang asing sebagai talent, masih cenderung menganggap sebagai musuh, kalau bukan dianggap lebih rendah karena gue dari negara berkembang. Gue gak terlalu ambil pusing soal dianggap "kurang layak" karena gue bisa super idealis dan memilih tempat yang hanya menghargai gue, tapi pagi ini gue kepancing banget dengan sebuah artikel tentang pendidikan di Korea (cek disini).
Inti dari artikelnya adalah Korea punya banyak sekali manusia-manusia berkualitas, malah cenderung overqualified. Tapi Korea cuma ranking 74 untuk keterbukaan pasar dan ranking 81 untuk tingkat atraktif bagi global talent. Bahkan problem ini sebenarnya sudah terlihat dimana asalnya: pendidikan di Korea selalu mengajarkan murid-muridnya untuk bersaing dijalur yang sama dan berlomba menjadi yang terbaik dibidang yang sama. Ga ada uniknya, ga ada kepribadiannya. Eh ditambah lagi kebijakan ketenaga kerjaan yang mempersulit orang-orang dengan pendidikan tinggi untuk bisa dapet kerja, apalagi untuk berpikir pake bakat dan potensinya secara bebas.
Gue merasa pikiran gue terjawab. Gue sering mendengar nasihat-nasihat general dari banyak orang. Mayoritas tentunya sangat bagus dan penuh makna, seperti coba banyak hal, planning itu penting, jangan mudah menyerah, kerja keras, belajar yang rajin, berani coba tantangan dsb tapi satu yang kurang. Gue ga pernah diajarkan untuk menjadi diri sendiri. Sedikit sekali orang yang percaya dengan penuh bahwa gue bisa menemukan jalan sendiri dan gak harus selalu bermain aman.
Di Korea, ini sangat relevan. Semua orang menginginkan hal yang sama dan mencoba bertanding dengan strategi yang sama. Masuk sekolah bagus, belajar keras untuk GPA tinggi dan kemudian masuk perusahaan besar. Gue berkaca pada diri gue sendiri. Gue ada di sekolah bagus, tapi gue gak belajar keras dan gak punya GPA tinggi. Mimpi gue juga bukan jadi successful salaryman. Lalu apa gue bisa sukses di sistem ini? Apa ada perusahaan atau tempat yang bisa menghargai talenta gue dan melihat gue sebagai manusia, memberikan gue ruang gerak dan bisa membantu gue tumbuh sebagai manusia yang all-rounded, bukan sekedar pegawai super produktif yang jago ikut template?
Inti kegalauannya: apa orang akan bisa melihat gue seutuhnya, ketika gue menolak menjadi bagian dari sistem yang gue anggap toxic dan tidak sehat?
Di Korea, ini sangat relevan. Semua orang menginginkan hal yang sama dan mencoba bertanding dengan strategi yang sama. Masuk sekolah bagus, belajar keras untuk GPA tinggi dan kemudian masuk perusahaan besar. Gue berkaca pada diri gue sendiri. Gue ada di sekolah bagus, tapi gue gak belajar keras dan gak punya GPA tinggi. Mimpi gue juga bukan jadi successful salaryman. Lalu apa gue bisa sukses di sistem ini? Apa ada perusahaan atau tempat yang bisa menghargai talenta gue dan melihat gue sebagai manusia, memberikan gue ruang gerak dan bisa membantu gue tumbuh sebagai manusia yang all-rounded, bukan sekedar pegawai super produktif yang jago ikut template?
Inti kegalauannya: apa orang akan bisa melihat gue seutuhnya, ketika gue menolak menjadi bagian dari sistem yang gue anggap toxic dan tidak sehat?
Karena gue belum bisa jawab pertanyaan diatas, gue berusaha memikirkan hal lain. Sebenarnya, apa itu "be authentic" dan seberapa sulitkah? Seberapa pentingkah menjadi otentik buat diri gue? Akankah gue bisa berkompromi?
Be authentic or be real does not always involve going antimainstream. Banyak yang berpikir lo harus unik dan beda buat jadi diri sendiri. I don't think so. Gue genuinely suka traveling dan gue rasa ada miliaran orang yang juga suka traveling. Pilihan makanan dan pilihan baju gue bisa jadi sangat pasaran, tapi gue memilihnya karena gue memang suka.
Be authentic mungkin lebih dekat ke "walk the talk", penuh komitmen dan bisa dipercaya. Apa yang lu katakan sejalan dengan apa yang lu lakukan. Apa yang lu mau sesuai dengan values hidup yang lu dambakan, bukan karena orang lain atau karena tekanan masyarakat. Menjadi otentik berarti bisa mengurangi judgment terhadap orang lain, berlaku dengan penuh respek dan tetap jujur.
"Every authentic person I’ve met is someone that is open to new ideas. They may live by a code of values and morals that remain constant, but when it comes to opinions, people and events, they’re always open to listening. Authenticity asks that we judge free of bias. That we’re honest brokers who are impartial in all affairs." - Christopher Connors
Gak mudah untuk jadi diri sendiri disaat semua orang melihat, mengamati, mengomentari dan tentunya melawan keputusan kita untuk jadi "real". Secara matematika, lebih mudah berdamai dengan satu orang (diri sendiri) dibanding melawan begitu banyak orang yang menuntut kita untuk mengikuti standar mereka, kan? Tapi hidup bukan soal kuantitas. Satu orang (diri sendiri) ini lah yang akan selalu ada, selalu bisa diandalkan dan selalu menjadi sumber kekuatan. Gue pilih memperjuangkan diri sendiri daripada berusaha memuaskan 1000 orang diluar sana yang belom tentu mau bantu gue saat gue jatuh.
Seberapa pentingkah menjadi otentik untuk gue? Akankah gue bisa berkompromi?
Ini jadi pertanyaan besar dalam hidup gue, karena gue nyaman menjadi seseorang yang jujur dan otentik. Gue mencapai titik dimana gue berada saat ini karena gue selalu berusaha menerima diri sendiri, dengan segala kekurangannya, dan gue sangat bahagia. Gue masih mencari jawaban apakah prioritas utama gue dalam hidup, dan sanggupkan gue mengkompromikan personal values gue untuk hal lain - misalnya pekerjaan yang super menggiurkan secara status sosial dan gaji?
Bisakah gue meninggalkan identitas gue sebagai Alira - untuk kesuksesan jalur cepat yang mungkin harganya adalah idealisme dan personal values gue?
Saat ini, rasanya gak mungkin.
Seberapa pentingkah menjadi otentik untuk gue? Akankah gue bisa berkompromi?
Ini jadi pertanyaan besar dalam hidup gue, karena gue nyaman menjadi seseorang yang jujur dan otentik. Gue mencapai titik dimana gue berada saat ini karena gue selalu berusaha menerima diri sendiri, dengan segala kekurangannya, dan gue sangat bahagia. Gue masih mencari jawaban apakah prioritas utama gue dalam hidup, dan sanggupkan gue mengkompromikan personal values gue untuk hal lain - misalnya pekerjaan yang super menggiurkan secara status sosial dan gaji?
Bisakah gue meninggalkan identitas gue sebagai Alira - untuk kesuksesan jalur cepat yang mungkin harganya adalah idealisme dan personal values gue?
Saat ini, rasanya gak mungkin.
"Be passionately authentic. Do what you really want to do, be damn good at it and live your life passionately." - pesan ini menangkap prioritas hidup gue hari ini. Buat gue, gak ada ilmu yang sia-sia. Buat gue, gak ada pilihan hidup yang paling baik diantara yang lainnya, selain pilihan yang kita tentukan sendiri dengan penuh tanggung jawab. Gak ada jalan hidup yang paling benar, selain hidup yang kita bisa banggakan kini (di dunia) dan nanti (di akhirat). Gak ada pendukung yang bisa selalu ada 24/7 kalau bukan diri sendiri dan Tuhan.
Find your purpose in life. Semoga kita semua tidak harus mengalami kehilangan arah dan tujuan dalam hidup. Selamat mencari jati diri dan mencoba menjadi fans dan pendukung nomor satu diri sendiri.
Find your purpose in life. Semoga kita semua tidak harus mengalami kehilangan arah dan tujuan dalam hidup. Selamat mencari jati diri dan mencoba menjadi fans dan pendukung nomor satu diri sendiri.
Thank you for writing this. It means a lot to me
ReplyDeleteya, aku sepemikiran kalo hidup bukan soal kuantitas. aku jadi inget salah satu lirik lagu ed ed sheeran yg judulnya save myself. disitu ada lirik yang kurang lebih seperti ini "Before I save someone else, I've got to save myself..." jadi, bener, ketika kita udah bisa berbuat untuk diri kita sendiri, kita bahkan mampu untuk membantu orang lain karena kita sudah berpengalaman mengatasi itu untuk diri sendiri. gak muna sih, aku merinding baca tulisan kakak ini. thanks banget hal seperti ini seliweran waktu aku lg down. huhu keep fighting kakak! i know you'll do your best! hwaiting~
ReplyDeleteSuka bgt tulisannya
ReplyDeleteMotivasi
ReplyDeleteTulisannya amat bermakna
ReplyDeletetulisannya bagus bgt kak! thankyou for writing thisπππππ
ReplyDeleteLiterally me.
ReplyDeleteTulisannya bagus dan enlightning. Thanks a lot for writing this. Tulisanmu cukup membantuku nge cope krisis hidupku especially ketika pengalaman buruk di luar negeri selalu di invalidate sama orang2.
ReplyDelete