Wednesday, May 3, 2017

Cerita Toleransi, dari Seorang Mayoritas

Tadinya gue gamau komentar soal rasisme dan efek Pilkada yang akhir-akhir ini marak masuk berita dan sosial media. Tapi lama-lama sedih, dan bahkan meneteskan airmata juga baca beberapa artikel potret Indonesia saat ini. Apalagi sebentar lagi bulan puasa, gue prediksi akan banyak cerita yang lebih membuat miris seperti saat gue menulis post Polemik Puasa setahun yang lalu. Gue terpanggil, setelah membaca tulisan ini, tentang kuliah di UI sebagai Tionghoa.

Gue gak akan pernah lupa identitas gue sebagai triple majority: Islam, Jawa dan wanita. Gue lupa bagaimana gue mendapatkan istilah ini, tapi akhirnya nemu tulisan yang sangat keren disini. Secara identitas, ga ada alasan untuk gue mendiskriminasi gue, apalagi dengan latar belakang orangtua yang cenderung birokrat (bukan pengusaha). Tapi kenyataan ini gak pernah membuat gue nyaman. Meski mungkin hidup gue di Indonesia lebih tentram dengan triple majority ini, gue gak pernah minta identitas tertentu saat gue lahir, begitu juga dengan teman-teman gue yang minoritas kan?

Orangtua gue selalu berpendapat sekolah di negeri adalah yang terbaik. Tujuan nyokap gue sederhana, masuk SD terbaik untuk masuk SMP terbaik dan kemudian diterima di SMA terbaik, sehingga pintu menuju PTN terbaik pun terbuka lebar. Setelah dari PTN, bisa dapat kerja yang pasti - dengan penghasilan, asuransi dan pensiun terjamin. Tapi gue gak pernah merasa nyaman dengan sekolah negeri di Bogor, dimana mayoritas adalah pribumi dan Muslim.

Ada puluhan drama dimana gue gak betah sekolah saat SD dan SMP. Terutama dengan keadaan teman-teman gue yang seringkali gak bisa menerima gue yang berbeda. Gue dibesarkan dikeluarga yang multiagama dan penuh toleransi. Gue diberikan kebebasan penuh dalam hidup. Tapi sejak SD, gue yang gak pernah mau dipaksa menjalankan ibadah diwaktu yang telah ditentukan dan pakai kerudung ke sekolah menjadi kontroversi. Buat gue, itu adalah kebebasan menjalankan agama yang gak boleh dipaksakan oleh siapapun. Mungkin aneh, tapi nyokap gue malah pernah suruh gue lapor kalau ada siapapun yang paksa gue pake kerudung di sekolah.

Saat SMP, fanatisme agama makin kental. Ada tadarus Quran tiap pagi dan tentunya harus berkerudung, sholat dhuha bersama di lapangan sekolah sampai kewajiban berkerudung hari jumat. Guru agama gue pun sangat ekstrim, beliau kerap menanyakan hal-hal berbau agama ke teman-teman sekelas gue yang beragama non-Islam. Gue gak betah. SMP gue adalah sekolah negeri yang harusnya bebas dari keberpihakan terhadap agama tertentu, tapi kenyataannya berbeda.

Dengan perjuangan yang sangat sulit, gue masuk ke SMA swasta idaman gue, SMA Regina Pacis. Gak kebayang penolakan orang-orang disekitar gue, dari mulai keluarga sampai guru di sekolah. Kabar bahwa gue akan masuk SMA RP menyebar sangat cepat dikalangan guru-guru SMP gue dan hampir setiap hari, ada guru yang mencari gue ke kelas. Mereka bahkan meminta izin dari guru yang sedang mengajar di kelas gue untuk bicara empat mata dengan gue. Intinya, mereka ingin gue memikirkan kembali keputusan gue untuk memilih SMA RP, dan beberapa bahkan mengira ada tekanan dari orangtua gue dan siap berbicara dengan orangtua gue. Padahal ini murni keinginan gue. Sampai hari ini, keputusan untuk menentang semua 'pendapat mayoritas' dan melawan arus untuk masuk ke SMA Regina Pacis adalah hal yang paling membanggakan dalam hidup gue.

Sampai gue lulus, pertanyaan bernada heran "Kok dari SMP itu malah masuk RP?" gak henti-hentinya gue dapatkan.



Kenapa penolakannya sekeras itu?

Karena Regina Pacis adalah institusi Katolik. Sesederhana itu. Buat orangtua gue, lebih kompleks. Nyokap gue gak rela gue menyia-nyiakan kesempatan masuk SMA-SMA Negeri terbaik dan takut dengan tekanan status sosial. Buat nyokap gue, lebih baik jadi orang yang mampu dikalangan negeri daripada jadi yang termiskin dikalangan swasta elit seperti RP.

Masuk RP adalah dunia baru buat gue. Gue lebih kaget memulai hidup di RP daripada di Korea. Semua berbeda, dari budaya hingga demografis. Tapi satu yang paling menyentuh, semua sangat toleran. Semua bisa menjadi apapun yang mereka mau, tanpa batasan suku, ras dan agama. Siapapun boleh jadi ketua kelas sampai ketua OSIS. Semua siswa dikelas harus bisa memimpin doa yang netral. Semua siswa harus bisa menceritakan tentang agama mereka. Seketika gue merasa hidup dalam tempurung, saking kagetnya dengan level toleransi yang ditunjukkan.

Gue inget, gue sering banget menolak untuk memimpin doa, semata-mata karena gak pede bahwa gue Islam dan minoritas. Sampai akhirnya ada guru yang meminta gue untuk memimpin doa. Kaget dan gak terbiasa, doa gue sangat aneh. Guru tersebut pun bertanya, "Kamu Kristen?"
"Bukan, Pak."
"Terus?"
"Islam, Pak."

Tanpa menghakimi, beliau meminta teman-teman sekelas untuk lebih bisa membimbing teman-teman yang non-Katolik dalam memimpin doa - tanpa harus merasa kecil. Sejak saat itu, gue gak takut lagi mimpin doa.

Lalu saat acara tertentu atau kegiatan diluar sekolah yang melewati waktu sholat, mereka sangat terbuka dengan gue yang meminta izin untuk sholat. Bahkan ditempat retreat sekalipun, dilingkungan yang tentunya sangat Katolik. Kapanpun gue harus sholat ditengah-tengah acara sekolah, Ci Metta, temen gue yang jelas Cina dan Katolik, selalu setia nemenin gue dan nungguin gue. Bulan puasa dan lebaran dimasa SMA juga rasanya sangat berbeda dan berarti. Gak ada perbedaan antara bulan puasa dan bulan biasa. Tapi mereka bisa hormat dan bahkan kadang merasa bersalah makan di depan gue. Padahal yang puasa cuma satu atau dua orang di kelas, yang gak puasa 30 orang. Tentu bukan salah mereka. Kalau gue terganggu, gue yang harus pergi, kan? Tetapi penghormatannya memang sangat besar dan temen-temen gue juga gak pernah lupa mengucapkan selamat lebaran. Spesial, karena saat SMA, tiba-tiba gue dapet banyak ucapan lebaran, wujud sederhana dari perhatian yang sangat indah. Sedangkan diluar sana, masih banyak yang sibuk berkoar-koar mengucapkan Selamat Natal itu haram. Miris.

Cerita lain adalah kagetnya gue saat pemilihan ketua OSIS. Memang, tidak pernah ada peraturan yang membatasi siapapun untuk jadi ketua OSIS. Tapi pemikiran negeri gue berkata, "Sekolah Katolik ya ketua OSISnya Katolik lah"

Pemikiran gue terbukti dangkal dan salah. Pemilihannya berlangsung dengan demokratis dan gue cukup terkejut saat yang terpilih adalah siswa yang beragama Kristen. Siswa yang gak bisa bantu-bantu menyiapkan beberapa perayaan agama Katolik, karena memang dia gak mengerti tentang itu. Keterkejutan gue dipandang gak masuk akal oleh teman-teman gue. Mereka gak menganggap itu sebagai sesuatu yang spesial. Mereka gak tau kalau di sekolah negeri dimana gue berasal, hal seperti itu hampir tidak mungkin terjadi.

Disisi lain, teman-teman gue sadar akan rasisme diluar sana. Maka itu, dibalik segala joke rasis yang terlontar dengan bahagia, tetap ada rasa tidak aman bagi mereka. Mereka sadar akan ke-Cina-an mereka dan ke-kafir-an mereka. Buat temen-temen gue, mudah kok mengatakan "Kan gue Cina" atau "Kan gue kafir". Tanpa mereka minta, mereka selalu diingatkan dengan kenyataan itu, kenyataan bahwa mereka kurang diterima. Tapi mereka dengan begitu baiknya menerima gue dengan tangan terbuka.

Teman-teman gue juga hampir ga ada yang tertarik dengan politik. Buat mereka, politik cenderung buang-buang waktu karena semua tahu pemenangnya akan selalu mayoritas. Gue inget banget bagaimana semua orang terpaku pada Pilkada DKI 2012, momen pertama kalinya teman-teman gue bisa sepeduli itu dengan politik. Tentu mereka berharap Jokowi yang akan terpilih jadi gubernur. Sederhana, Ahok adalah keturunan Chinese dan mereka ingin terwakili.

Di SMA RP, gak pernah sekalipun gue merasa didiskriminasi. Malah, identitas gue menjadi hal yang sangat gue banggakan. Menjadi minoritas dikalangan mayoritas yang sangat suportif rasanya sangat menyenangkan. Gue pernah ditawari untuk mewakili sekolah ke lomba baca Quran tingkat kota (FL2SN), karena obviously, pilihan orang yang bisa baca Quran kan gak banyak. Gue merasa terhormat dan sangat diapresiasi, di SMA RP gue bisa menjadi siapapun dan melakukan hal apapun yang gue mau dengan cara yang adil dan benar.

Tapi beda halnya dengan teman-teman gue. Seperti yang Kak Sefin katakan ditulisan beliau mengenai kuliah di UI, mereka skeptis dengan dunia luar. Mereka takut gak diterima. Mereka banyak bertanya ke gue mengenai minoritas di sekolah negeri, yang memang kurang dihargai. Hal ini tercermin jelas diprofil pendaftar SNMPTN. Gak semua orang minat daftar SNMPTN, alasannya karena emang gak pengen masuk negeri. Entah karena sudah punya rencana lain untuk kuliah diswasta/luar, atau karena gak dibolehin ke negeri oleh orangtuanya. Hal ini bukan dirasakan oleh teman-teman yang Chinese saja, tetapi juga pribumi yang beragama non-Muslim.

Gue sendiri daftar SNMPTN ke jurusan Bisnis Islam dan Ekonomi Islam Saat mendaftar, gue udah tau, kesempatannya akan sangat kecil. Entah karena nilai gue yang gak spektakular, atau karena fakta sederhana: gue berasal dari SMA Katolik.

Bagian terbaik dari pengalaman gue bersekolah di SMA Katolik sebenarnya sangat tidak disangka-sangka. Gue menjadi jauh lebih religius, lebih dekat dan percaya kepada Allah SWT. Gue gak bisa bilang gue menjadi Muslim yang baik, belum. Tapi hubungan gue dengan Allah jauh lebih baik ketimbang SD dan SMP. Gue tersentil dengan lingkungan gue, gue diberikan kesempatan untuk menjadi apapun yang gue mau. Gue bisa pindah agama dan melakukan hal-hal yang gak lazim dilingkungan gue sebelumnya seperti, mungkin, makan babi. Tapi gak. Lingkungan gue di SMA mengajarkan gue untuk tidak pernah mengorbankan identitas diri sendiri dan menghargai setiap proses yang ada. Gue mencari identitas dan agama terbaik buat gue sepanjang hidup gue. Jawaban yang memperdalam keislaman gue malah gue dapatkan di SMA Katolik. Seperti motto SMA RP, "Mencari kebenaran melalui cinta kasih."

Masa-masa penuh toleransi ini sangat gue rindukan. Gue sangat bersyukur gue diberi kesempatan untuk melihat keberagaman Indonesia dari sisi yang berbeda. Semoga kaum mayoritas mau lebih berbesar hati, membuka diri dan pikiran. Semoga kaum mayoritas Indonesia bisa belajar dari teman-teman minoritas yang gue temui di SMA RP. Semoga Indonesia bisa jadi rumah bagi semua orang yang percaya akan ideologi kita, Pancasila. Semoga Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya slogan semata.

No comments:

Post a Comment