Thursday, April 19, 2012

BEBAS

Kalo diminta untuk menggambarkan hidup gue (bukan gue-nya) dalam 1 kata, jawabannya BEBAS. Sebebas apa? Bebas yang kaya gimana? 

Well, I feel like there's no limit or boundary in my life. Mau pakaian, sekolah, kegiatan, atau apapun. Orangtua? Ada. Masih ngasi advice and permissions juga tapi sifatnya hanya untuk hal tertentu, yang penting doang. Batasan dari orangtua gue jauh lebih luas daripada orangtua lain. Misalnya kalo mau pergi ke somewhere, I have to tell them but it's not asking for permission because they'll mostly say "OK" lol.

Aktivitas pun begitu. Cari, tentukan pilihan, tell them. Usually they only give some thoughts dan diserahkan lagi ke gue. Untuk biaya, selama ga setinggi langit, always can lah. They support me kok. Sekolah juga gitu. Dimana pun mau sekolah, selama bagus, terjangkau dan terbukti kualitasnya, pasti boleh. Bener-bener bebas kan? Nah.

Seneng ga sih dengan freedom yang diberikan? Seneng. Tapi jangan mikir bebas itu rasanya kaya idup di surga. Engga. Belum mencapai taraf itu.

Kebebasan yang dikasih tentu ada alasan dan konsekuensinya. Jangan pikir itu emang style orangtua gue dalam ngedidik anak. Kayanya sih engga karena adek gue ga dapetin hal yang sama. Teori gue sih, orangtua gue kasih gue kebebasan karena percaya sama gue dan mungkin ini cara yang mereka pikir terbaik buat anak seperti gue. Gue ga suka diatur tapi butuh diatur. Nah lo, bingung kan? Maksudnya, gue gasuka dikasih batesan-batesan aneh, tapi gue masih berharap untuk diperhatikan dengan cara diatur-atur juga. Yeah, kebebasan itu ga perfect, teman-teman. 

Ibu pernah bilang, "Kalo Ibu kuliah nilainya jelek, berhenti aja ya?". Gue pun jawab dengan semangat, "Kalo Ibu berhenti, berarti Ara juga boleh berhenti sekolah dong?". Jawaban dari Ibu simple, kalo mau berhenti ya berhenti aja. Resiko lu yang nanggung. Simple banget kan?

Coba kalo semua orangtua ngasi jawaban kaya gitu, gue yakin manusia putus sekolah bakal banyak banget. Makanya gue tau, mungkin Ibu berani jawab gitu karena beliau mikirnya gue udah bisa bedain mana yang baik dan buruk. Cuma belum bisa bedain mana yang normal dan mana yang aneh. Hahahaha, kadang pilihan yang gue ambil emang suka nyentrik dan ga biasa, begitupun dalam berpakaian dan selera musik (orang Indonesia mana sih yang tahan denger Tiziano ngerap? anak sekolah mana yang kerjaannya ngedownload lakorn Ken Theeradeth?).

Bagian darimana yang ngga enak dari bebas? Hmmm, susah jelasinnya. Tapi bayangin aja dunia yang full of affection diganti sama dunia yang full of freedom. Kadang freedom itu berarti cuek. Sibuk dengan dunia masing-masing. Nah, itu yang gaenak. Berasa bukan part of the world karena masing-masing punya jalan sendiri buat dirintis.
Selain itu, pengaruh kebebasan sedikit banyak mengubah pola pikir. Kalo orang yang besar dilingkungan religius, dia akan mikir dari sisi agama mulu. Sedangkan kalo yang bebas kaya gue, pasti mikirnya dari sudut aneh-aneh. Kadang yang "aneh" itu ga bisa diterima masyarakat dan orang malah ngecap lu kafir. Ga adil kan? Yeah, that's the picture of our world baby. Hahaha.

Tapi gue lebih milih hidup dengan kebebasan kaya sekarang sih daripada menggantinya dengan dunia yang penuh perhatian tapi kurang petualangan. Gue jadi bisa bisnis sejak kecil (dari SD nih muahaha), jalan-jalan sendiri untuk sekedar cari tempat hangout baru, menjalin networking sama orang dan banyak lagi dengan hidup gue yang bebas ini, ga terbatas sama "kata mama-kata papa" atau sibuk les ini dan les itu, karena gue memegang kendali penuh atas hidup gue HAHAHA.


No comments:

Post a Comment