Showing posts with label refleksi. Show all posts
Showing posts with label refleksi. Show all posts

Saturday, December 18, 2021

2021 Part 1: Total Rest

Ga kerasa udah menuju akhir 2021.

Gue mau flashback sekilas tahun 2021 gue, seperti biasa. Ternyata sangat menyenangkan bisa kilas balik beberapa tahun lalu ada kejadian apa aja. 2021 tahunnya di rumah aja, tanpa paksaan, tanpa suruhan. Gue di rumah aja karena kemauan, dan karna ga ada kebutuhan urgent untuk keluar rumah juga. Perubahan terbesar mungkin fakta bahwa gue sama sekali ga pernah ke bandara atau naik pesawat, naik kereta keluar kota sepanjang tahun, ga kangen juga sih. 

Tempat terjauh yang gue kunjungi sejauh ini? Bandung.

Bagaimana soal memori lainnya? Coba gue tuliskan per bulan.


Januari

Gue baru beradaptasi dengan keadaan dan kebiasaan di rumah. Ternyata, rumah gue ga terima tamu sama sekali dan anggota keluarga gue ga ke mall (kecuali mungkin adek gue yang masih suka ke mall sama temen kerjanya). Ternyata gue harus delivery tiap mau makan, dan ternyata social distancing juga berlaku di rumah. Maksudnya?

Rumah gue ga punya meja makan. Kalo makan, di tempat sendiri-sendiri (kalo gue sih di kamar). Gue suka banget sama kebiasaan baru ini, karena memang budaya makan bersama di meja makan bukanlah sebuah kebiasaan.

Gue juga beradaptasi dengan membereskan semua urusan. Mulai dari apply KTP baru karena ilang (padahal ternyata ada di dompet lain), visit bank buat urus ini itu, marah-marah sana sini ketika aturannya ga jelas, sampe laser muka karena breakout parah - bawaan stress dari Korea.

Gue mulai les Bahasa Italia online, tapi ternyata gue ga terlalu fokus dan enjoy.


Februari

kombinasi semua teman

Seinget gue, bulan ini gue ke kantor untuk pertama kalinya dengan tujuan bertemu teman seteam. Lalu ada perayaan imlek bareng di rumah Kya, dimana gue ngajak semua temen dekat gue, baik teman dekat selama di Korea maupun teman dari Bogor.

Gue juga mulai ketemu temen lama, only saat nyokap gue ngantor. Kalo ngga, pasti panik takut ini itu.


Maret

Gue masuk team baru, belajar ilmu baru. Ada partner kerja baru yang sangat helpful juga, salah satu blessing di kantor yang sekarang.


Kalo personal life, gue punya hobi baru: staycation & fancy breakfast saat harus ke kantor (sebulan 1-2x)
Staycation bulan ini sama Luluk & Vanda, merayakan ulang tahun Luluk.

Gue juga mulai kelas Islamic Finance, karena gue beneran kepo dan pengen tahu lebih banyak. Selain itu, makin gila nonton variety show. Kayanya idup diisi 30% sama variety show Korea. Gatau kenapa, mungkin bosen, mungkin ingin mempertahankan skill Bahasa Korea.

Topik yang menarik minat bulan Maret ini: reverse popularity Rollin Rollin, harga properti dan kecaman terhadap pemilik properti.


April

Assignment kerjaan tersulit, tersibuk, tersusah. Gue belajar inti dari industri kerjaan gue sekarang, dan jadi lebih paham banyak hal.
Ga ada kejadian besar bulan ini, selain shock konser Tiziano Ferro yang harusnya tahun 2020, diundur ke 2023. 2023... Gila gue beli tuh tiket tahun 2019 woy.

Gue switch dari les Bahasa Italia ke Bahasa Mandarin n jauh lebih fun!!! Lebih nyambung dan nyaman muahaha. Euforianya ga bertahan lama sih. Mulai bulan Juni, mulai lanjut nyaman belajar sendiri.

staycation berlanjut jalan-jalan

Bulan ini, gue banyak belajar soal tragedi Sewol. Mungkin karena akhirnya gue ga terikat peraturan untuk tidak berpolitik, gue jadi berani cari tahu lebih banyak soal tragedi ini. Sedih banget.

Selain variety show Korea, gue mulai mengamati bank digital dan berbagai layanan fintech secara intensif. Iya, intensif banget sampe jadi agak obsesif... Ternyata (masih) menyenangkan.


4 bulan dulu, 8 bulan lagi menyusul. Ditulis pelan-pelan, sesuai mood. 
4 bulan ga kemana-mana, tapi ternyata saat itu mungkin gue ga tenang. Jadi coba les ini itu, masih belum terbiasa ga ngapa-ngapain. Masih kaget punya waktu rebahan yang banyak, karena ga perlu commuting ke tempat kerja. Dipikir-pikir ada banyak hal yang dicoba sih dari dalam kamar dan gue super bersyukur untuk fleksibilitas itu. Yay!

Monday, October 25, 2021

251021 - Gratitude Journal

3 hari kerja berturut-turut gue harus ke kantor. Berangkat jam 5.50 pagi paling telat, sampe rumah jam 20.20 malam paling cepat. Siapin mental untuk macet di jalan, hitung biaya perjalanan, pack persiapan ke kantor, bawa tas yang berat, mempertimbangkan sosialisasi disaat kerja maupun jam makan siang, mikirin cara pulang (bis? kereta? nebeng?) - ada banyak detail kecil yang gue lupakan, karena udah 10 bulan kerja dari rumah. Hari pertama gak terbiasa, ngantuk. Hari kedua, sampai harus meluangkan waktu makan siang untuk waktu tidur siang. Hari ketiga, baru bisa beraktivitas dengan normal. 


Mudah disimpulkan, gue pilih WFH daripada harus ke kantor.


Tapi sebenarnya, banyak hal yang gue nikmati dan syukuri dari percobaan jadi pegawai yang harus ngantor. Gue suka pekerjaan gue dan gue cukup senang bahwa gue punya 'kantor'. Gue menghargai sekali work-life balance yang ditawarkan, karena gue merasa dihargai dan diberi kesempatan untuk bereksplorasi. Gue menikmati proses adaptasi gaya kerja bersama kolega yang rentang umurnya sangat lebar dan gaya kerja yang beneran bervariasi, karena mereka tampak enjoy dengan pekerjaannya. 

Pada akhirnya, gue lebih bahagia harus bangun jam 5 pagi dan baru balik rumah setelah jam 8 malam dengan laptop berat dan perjalanan antar kota, daripada rutinitas kerja gue yang lama. We can't always have it all.

Gue juga bersyukur dengan gue ngantor, gue bisa menghabiskan waktu yang maksimal, tanpa penyesalan, dengan teman-teman dekat gue. Quality time yang bener-bener berarti, karena mereka teman-teman yang mungkin paling tau gue dan gue paling nyaman. Yang ga judgemental, meski ada 1001 alasan buat kesel, benci atau cut pertemanan total sama gue. (To take it in a very religious way, gue harap mereka bisa dapet banyak pahala dengan bantuin gue dalam berbagai situasi aneh)

180821 - Day 1 ke kantor setelah 2nd wave

Looking back, I am very proud to say that I am much happier today - than a year ago.


P.S: bisa aja ngeluh karena hari ini gajian, tapi gaji gue bye - gone semua (100% yes) buat kepentingan-kepentingan yang udah direncanakan. Ternyata tetep lebih banyak bersyukurnya

Friday, July 26, 2019

Dibalik Perjalanan: Planning & Mimpi-mimpi Random

I contemplated a lot before writing this. Should I post it? What language should I use? What am I trying to say? Will it be better to keep it to myself or to let other people see this?

Is this just another pointless diary entry?

Meski suka terkesan seenak jidat atau ngasal kalo bikin pilihan, sebenernya gue hidup penuh planning jangka panjang. Gue punya list of priorities dan hal-hal yang ingin gue capai, dari yang sesepele "pengen nonton konser Tiziano Ferro sebelum lulus kuliah" sampe yang kelewat detail dan serius: jadwal liburan setiap semester, sejak 2011. Ga semua tercapai, ga selalu bertahan sama juga. Tapi semua keinginan itu datang dengan alasan yang kuat. Makanya ketika harus berbelok atau mengalah pun, gue harus meninjau kembali alasan-alasan kenapa ga 'setia', biar hati bisa leluasa menerima.

Ketika gue kelas 10 semester 2, gue udah merencanakan liburan kenaikan kelas 12. Gue merasa saat itu adalah pintu dimana gue ga bisa diganggu gugat sama sekali karena harus belajar dan sebagainya. Gue inget, saat itu gue pengen ke luar negeri yang lebih jauh dari negara tetangga. Gue pengen ke Korea, karena gue dah les Bahasa Korea. Tapi keluarga gue kan bukan tipe yang suka jalan-jalan ke luar negeri, dan bukan penuh luxury juga. Kalo gue beneran mau pergi, ya cari cara gimana biar mampu liburan itu.

Gue sangat persistent, ini salah satu trait yang gue syukuri. Ketika satu jalan gagal, gue akan coba cara lain - dalam diam. Ketika kurang jelas, gue akan selalu memaksa dan mencari kejelasan - dalam hal apapun.

Singkat cerita, summer itu gue bisa liburan ke Korea karena dapet tiket super murah. Begitu juga ke Philippines dan beberapa negara lainnya. Semua didasari satu tekad: udah mau kelas 12, nantinya ga bisa diganggu. Setelah lulus pun ga tau jadwal kuliah kaya apa.

Keinginan jalan-jalan tapi ga punya uang yang begitu kuat pula yang mengantarkan gue masuk SEALNet Youth Leadership Summit (YLS). Di summer tahun 2013, gue memulai karir organisasi gue berdasarkan nafsu jalan-jalan. Kalau cara biar bisa jalan-jalan itu harus tulis aplikasi super niat, I will do it. Disaat harus bertahan ditengah program dimana semua orang jauh lebih jenius dan lu salah satu yang paling bego pun, gue tanya lagi sama diri sendiri: Kenapa gue sampe sini?

Tekad yang mendalam itu membuat gue menyanggupi semua tantangan, asalkan gue bisa lihat end resultnya dan gue merasa itu layak diperjuangkan. Siapa sangka, kelas 12 bukannya malah belajar, gue malah makin dahsyat jalan-jalannya? Siapa sangka 1 bulan lebih setelah Singapore, gue malah menjejakan kaki ke Amerika, dan kembali kurang dari 6 bulan setelahnya - semua bermula dari mau jalan-jalan gratis? Satu jalan-jalan gratis ke Singapore membukakan jalan gue ke berbagai negara dan belahan dunia lainnya. Perlu diingat, kesempatan ini terbuka bagi siapapun yang ikut (YLS), tapi nyatanya yang konsisten itu ga banyak.

Seiring perjalanan, pikiran gue makin terbuka. Tujuan utama gue awalnya mau kuliah di Singapore. Tapi saat gue ke Boston dan ditanya apa future plan gue, gue dengan pede bisa bilang ke orang-orang gue mau kuliah ke Korea kalau ga keterima di Singapore. Plan cadangan ini ga datang tiba-tiba, tentu ini udah jadi pertimbangan beberapa tahun, terutama sejak les Bahasa Korea.

Oh iya, gue les Bahasa Korea juga alasannya simpel: mau belajar bahasa asing baru yang berguna, tapi diantara yang menjanjikan, yang murah itu les Bahasa Korea. PP 4 jam Jakarta-Bogor no problemo. Bayar sendiri karena ortu gamau bayarin?  No problemo. If I want it, I will find a way.

Before leaving for Korea: my mom still did not like the idea

Ucapan random di Boston soal kuliah ke Korea ini gue sampaikan ke orang-orang yang belum gue kenal. Anak-anak MIT yang super brilliant itu normalnya bertanya balik, "Eh? Korea? Kenapa?"
Perlahan-lahan makin pede dan makin yakin, meski belum diketahui ortu. Kenapa harus pusing sama izin ortu juga, disaat keterima atau ga keterimanya gue di KGSP bukan pengaruh ortu? Setuju atau ga setuju - secara hukum gue udah boleh ambil keputusan sendiri dan saat berangkat pun gue ga minta uang atau tiket juga?

Kenapa pusing dengan orang lain, saat yang menjalani hidup itu gue?
Kenapa harus iri dengan hidup orang lain, saat lu berkuasa penuh atas hidup lu sendiri?
Kenapa harus melihat susahnya dulu, disaat belum memulai?

Sekarang gue udah semakin dekat untuk menutup chapter 1 perjalanan gue di Korea. Ketika gue SMA, gue cuma bisa bayangin dan plan hidup sampai lulus kuliah. Setelah itu loncat langsung bayangin jadi Ibu Negara. Lalu apakah bayangan dan plan hidup gue di Korea sama jika dibandingkan saat pertama datang dan sekarang?

....... bersambung

Wednesday, January 30, 2019

Kenapa Aktif Sosial Media?

Orang-orang suka heran kenapa gue peduli dengan sosmed dan aktif bersosmed. Apakah karena gue suka popularitas? Apa karena uang gue ngalir dari sosmed?

Ga banyak yang tau, gue awalnya ngeblog, jauh sebelum gue mulai sosmed. Blog gue dah on sejak 2007 - lebih dari 11 tahun yang lalu. Isi dan motifnya sederhana, penyaluran kemarahan karena gue gak diperbolehkan menunjukkan emosi di rumah. Terlalu bahagia ketawa-ketawa salah, kalo nangis juga dimarahin. Yasudah, curahan hati masuk blog aja.

Sering gue bilang, blog cenderung jadi platform satu arah. Interaksinya super minim, karena yang komen dikit. Tapi gue tetep ngegas, karena motif dan tujuannya cenderung egois.

Lama kelamaan, terutama sejak SMP, blog jadi media gue menyalurkan opini terhadap isu populer. Pas SMA, blog mulai jadi sarana menyimpan kenangan dan berbagi informasi. Setelah di Korea, konten gue jadi cenderung padat informasi dan testimoni karena akhirnya gue menemukan fungsi utama blog: berbagi pengetahuan.

Gue pernah menjadi orang yang haus informasi, bolak balik google demi cari testimoni orang yang sudah punya pengalaman - bukan sekedar info page resmi. Gue tau susahnya dan betapa berartinya kesaksian orang yang punya pengalaman langsung. Ketika gue sudah layak menjadi "sumber informasi", gue pun merasa punya tanggung jawab untuk berbagi.

SEALNet, volunteer, KGSP, hidup di Korea, jalan-jalan gratis, kuliah di Korea... Konten seperti ini banyak di Youtube tapi susah digoogle. Gue lebih pilih blog atau media dengan kata seperti Twitter. Gue lebih bisa mengekspresikan diri lewat kata juga, bukan lisan.

Alasan kedua, gue pengen jauh dari asumsi. Masih nyambung sama tulisan gue sebelumnya, Be Authentic, gue pengen orang kenal gue sepenuhnya dari perjalanan dan perjuangan gue. Gausah berasumsi gue sampe Korea karena gue kaya, jenius atau apa. Jangan salah paham mengartikan background gue kak. Gue ga ada bedanya sama temen-temen yang lain, kadang gue punya informasi berlebih aja dan dapet kesempatan aneh-aneh karena anaknya terlalu kepo dan senggang.

Semua orang bisa dapet beasiswa ke Korea, mau kaya atau miskin, mau jenius atau nilainya B aja. Semua tergantung usaha dan sekeras apa mau coba.

Semua orang bisa ikut volunteer diluar negeri, kalo tau gimana daftarnya dan niat buat terus memperbaiki diri. That's it. Gue pengen semua anak Indonesia punya kesempatan yang sama, dan gue rasa blog paling pas karena infonya bakal bisa disimpen terus dan terdeteksi Google.

Untuk sosmed, kenapa gue rajin bener sosmedan? Ya motifnya sama. Gue pengen meluruskan asumsi dan berbagi informasi. Masyarakat Indonesia adanya disosmed, cara tercepat, termudah dan gratis ya berarti berkoar-koar (kata followers sih "teriak") disosmed. Gue sadar betul masalah rejeki dan resiko jadi persona non-anonymous disosmed. Gue pernah berpikir dalam-dalam untuk meninggalkan sosmed, tapi pada akhirnya gue merasa gue egois kalo gue menutup rejeki orang lain dengan ga berbagi informasi...

Which leads me to my main point: pernah mikir gak ketika ada orang/institusi yang investasi di lu, mau berupa uang/waktu/sumber daya lainnya, lu sebenernya seperti diberikan kekuatan dan pilihan. Kekuatan bisa berupa pengetahuan atau pengaruh sosial nih. Contohnya saat SEALNet pilih gue jadi project leader, atau saat pemerintah Korea kasih gue beasiswa. Gue diberikan "power" berupa kesempatan pengembangan diri, pengetahuan dan koneksi.

Nah dengan power tersebut, gue mendapat pilihan untuk menyimpan itu sendiri, jadi lebih maju, bisa jadi yang paling unggul sampe mungkin ga punya saingan - atau gue berbagi kekuatan yang gue dapet dan maju bersama orang lain tapi resikonya gue bisa disalip 'follower' atau mungkin gak dihargai sama sekali?

Gue pilih yang kedua. Gue berharap ketika ada siapapun yang investasi di gue (dalam bentuk apapun), mereka bisa melihat bahwa mereka ga hanya membantu dan membuat Alira lebih maju, tetapi juga memajukan komunitasnya. Gue akan senang kalo temen atau orang disekitar gue turut mendapatkan manfaat dari hal tersebut dan ga masalah ketika gue harus mengalah atau dikalahkan. Buat gue, rejeki sudah ada porsinya masing-masing dan yang terpenting: kebahagiaan gue bukan bersumber dari kemenangan atas sebuah persaingan.

Gue harap gue gak sendirian. Kalo ngga, apa bedanya society kita sama orang-orang yang ngebet masuk SKY dengan sikut sana sini untuk memajukan diri sendiri... #foodforthought

Sunday, January 27, 2019

Be Authentic: Sesulit Apa?

Sudah seminggu terakhir gue merenung soal pilihan hidup dan karir gue, terutama dalam konteks sebagai pelajar di Korea. Gue cuma punya waktu kurang dari setaun lagi sebelum masuk ke dunia kerja dan menurut gue, keputusan hidup kedepannya mau apa dan kemana adalah tanggung jawab yang besar. Gue tau apa yang gue mau, tapi berusaha tidak menutup diri terhadap berbagai pilihan. Hanya saja, ada satu syarat utama yaitu apapun pekerjaan yang gue ambil, gue ingin diperlakukan fair dan industrinya tidak semena-mena.

Akhir-akhir ini, fokus utama gue adalah diskriminasi yang gue terima sebagai mahasiswa asing. Mayoritas orang di Korea belum terbuka terhadap orang asing sebagai talent, masih cenderung menganggap sebagai musuh, kalau bukan dianggap lebih rendah karena gue dari negara berkembang. Gue gak terlalu ambil pusing soal dianggap "kurang layak" karena gue bisa super idealis dan memilih tempat yang hanya menghargai gue, tapi pagi ini gue kepancing banget dengan sebuah artikel tentang pendidikan di Korea (cek disini). 

Inti dari artikelnya adalah Korea punya banyak sekali manusia-manusia berkualitas, malah cenderung overqualified. Tapi Korea cuma ranking 74 untuk keterbukaan pasar dan ranking 81 untuk tingkat atraktif bagi global talent. Bahkan problem ini sebenarnya sudah terlihat dimana asalnya: pendidikan di Korea selalu mengajarkan murid-muridnya untuk bersaing dijalur yang sama dan berlomba menjadi yang terbaik dibidang yang sama. Ga ada uniknya, ga ada kepribadiannya. Eh ditambah lagi kebijakan ketenaga kerjaan yang mempersulit orang-orang dengan pendidikan tinggi untuk bisa dapet kerja, apalagi untuk berpikir pake bakat dan potensinya secara bebas.

Gue merasa pikiran gue terjawab. Gue sering mendengar nasihat-nasihat general dari banyak orang. Mayoritas tentunya sangat bagus dan penuh makna, seperti coba banyak hal, planning itu penting, jangan mudah menyerah, kerja keras, belajar yang rajin, berani coba tantangan dsb tapi satu yang kurang. Gue ga pernah diajarkan untuk menjadi diri sendiri. Sedikit sekali orang yang percaya dengan penuh bahwa gue bisa menemukan jalan sendiri dan gak harus selalu bermain aman.

Di Korea, ini sangat relevan. Semua orang menginginkan hal yang sama dan mencoba bertanding dengan strategi yang sama. Masuk sekolah bagus, belajar keras untuk GPA tinggi dan kemudian masuk perusahaan besar. Gue berkaca pada diri gue sendiri. Gue ada di sekolah bagus, tapi gue gak belajar keras dan gak punya GPA tinggi. Mimpi gue juga bukan jadi successful salaryman. Lalu apa gue bisa sukses di sistem ini? Apa ada perusahaan atau tempat yang bisa menghargai talenta gue dan melihat gue sebagai manusia, memberikan gue ruang gerak dan bisa membantu gue tumbuh sebagai manusia yang all-rounded, bukan sekedar pegawai super produktif yang jago ikut template?

Inti kegalauannya: apa orang akan bisa melihat gue seutuhnya, ketika gue menolak menjadi bagian dari sistem yang gue anggap toxic dan tidak sehat?

Karena gue belum bisa jawab pertanyaan diatas, gue berusaha memikirkan hal lain. Sebenarnya, apa itu "be authentic" dan seberapa sulitkah? Seberapa pentingkah menjadi otentik buat diri gue? Akankah gue bisa berkompromi?

Be authentic or be real does not always involve going antimainstream. Banyak yang berpikir lo harus unik dan beda buat jadi diri sendiri. I don't think so. Gue genuinely suka traveling dan gue rasa ada miliaran orang yang juga suka traveling. Pilihan makanan dan pilihan baju gue bisa jadi sangat pasaran, tapi gue memilihnya karena gue memang suka. 

Be authentic mungkin lebih dekat ke "walk the talk", penuh komitmen dan bisa dipercaya. Apa yang lu katakan sejalan dengan apa yang lu lakukan. Apa yang lu mau sesuai dengan values hidup yang lu dambakan, bukan karena orang lain atau karena tekanan masyarakat. Menjadi otentik berarti bisa mengurangi judgment terhadap orang lain, berlaku dengan penuh respek dan tetap jujur.

"Every authentic person I’ve met is someone that is open to new ideas. They may live by a code of values and morals that remain constant, but when it comes to opinions, people and events, they’re always open to listening. Authenticity asks that we judge free of bias. That we’re honest brokers who are impartial in all affairs." - Christopher Connors

Gak mudah untuk jadi diri sendiri disaat semua orang melihat, mengamati, mengomentari dan tentunya melawan keputusan kita untuk jadi "real". Secara matematika, lebih mudah berdamai dengan satu orang (diri sendiri) dibanding melawan begitu banyak orang yang menuntut kita untuk mengikuti standar mereka, kan? Tapi hidup bukan soal kuantitas. Satu orang (diri sendiri) ini lah yang akan selalu ada, selalu bisa diandalkan dan selalu menjadi sumber kekuatan. Gue pilih memperjuangkan diri sendiri daripada berusaha memuaskan 1000 orang diluar sana yang belom tentu mau bantu gue saat gue jatuh.

Seberapa pentingkah menjadi otentik untuk gue? Akankah gue bisa berkompromi?

Ini jadi pertanyaan besar dalam hidup gue, karena gue nyaman menjadi seseorang yang jujur dan otentik. Gue mencapai titik dimana gue berada saat ini karena gue selalu berusaha menerima diri sendiri, dengan segala kekurangannya, dan gue sangat bahagia. Gue masih mencari jawaban apakah prioritas utama gue dalam hidup, dan sanggupkan gue mengkompromikan personal values gue untuk hal lain - misalnya pekerjaan yang super menggiurkan secara status sosial dan gaji?

Bisakah gue meninggalkan identitas gue sebagai Alira - untuk kesuksesan jalur cepat yang mungkin harganya adalah idealisme dan personal values gue?

Saat ini, rasanya gak mungkin.

"Be passionately authentic. Do what you really want to do, be damn good at it and live your life passionately." - pesan ini menangkap prioritas hidup gue hari ini. Buat gue, gak ada ilmu yang sia-sia. Buat gue, gak ada pilihan hidup yang paling baik diantara yang lainnya, selain pilihan yang kita tentukan sendiri dengan penuh tanggung jawab. Gak ada jalan hidup yang paling benar, selain hidup yang kita bisa banggakan kini (di dunia) dan nanti (di akhirat). Gak ada pendukung yang bisa selalu ada 24/7 kalau bukan diri sendiri dan Tuhan.

Find your purpose in life. Semoga kita semua tidak harus mengalami kehilangan arah dan tujuan dalam hidup. Selamat mencari jati diri dan mencoba menjadi fans dan pendukung nomor satu diri sendiri.

Thursday, November 22, 2018

Pelajaran dari Tweet Viral

Baru-baru ini tweet gue soal orang Indoesia termurah hati sedunia (disini) meledak dan sudah dilihat sampai dengan lebih dari 270ribu kali berdasarkan Twitter Analytics. Hal ini tentu membuat gue happy, terutama karena isi beritanya menyenangkan dan memang sesuai minat gue. Gue gak jadi tidur buat baca report World Giving Index 44 halaman. Apalah 44 halaman, ketika lo udah mencari landasan selama beberapa tahun buat bilang bahwa "Orang Indonesia itu baik dan kita punya giving pattern tersendiri. Berbagi buat kita merupakan hal yang mudah."

Fokus gue sebenernya sih soal kebiasaan berdonasi dan kemurahan hati. Tapi pada akhirnya yang  terhighlight adalah soal kebiasaan volunteer. Volunteer bukan hal baru buat gue, gue juga sharing terus soal info-info yang gue dapet sejak masih SMA. Alasan utama gue sharing adalah karena gue merasakan langsung benefitnya dan pengen mengajak banyak Indonesia buat ikutan. Tapi selama ini rasanya peminatnya ga gitu banyak.

Lalu gue pun tweet pengalaman gue, ikut booming, dan banyak respon menyenangkan yang masuk. Dari tweet yang 'viral' ini gue belajar banyak hal.


1. Pakai Bahasa Indonesia yang santai

Gue kalo share mungkin entah ga mikir langsung ngetweet Bahasa Inggris atau Bahasa Indonesianya terlalu formal, makanya orang ga baca. Riset-riset menarik soal kebaikan juga dilewatin aja karena kayanya sih orang Indonesia ga terlalu minat.

Info sama, beda bahasa

Gue dapet infografis dan berita bahwa orang Indonesia dianggap sebagai orang paling murah hati sedunia dari akun Jakarta Post. Gue langsung retweet penuh semangat, tapi ga ada yang respon. Begitu gue buka reportnya (dinihari, ga tidur saking senengnya), gue sampaikan kembali infonya pake Bahasa Indonesia - perlahan-lahan responnya hangat. Sampe akhirnya diretweet artis Twitter dan penguasa Korea University, @ustadchen, jadi deh meledak. Terima kasih Babah, senior idaman yang senantiasa membantu dan semester ini menyelamatkan idup gue huhuhu. (terus followers naik 150%)

Berarti kalo info penting pake Bahasa Indonesia aja kali ya. Tweet galau boleh dah pake Bahasa Inggris. Orang Indonesia kayanya pinter kalo quotes galau. Tenang, ga akan pake Bahasa Korea karena gue ga nyaman (ga fasih) nulis dengan Bahasa Korea.

2. Orang Indonesia baik-baik dan suka denger berita baik

Sebenernya lebih banyak sih yang ngeretweet twit gue soal Gading-Gisel tapi respon untuk survey ini ga kalah hangat kok. Banyak yang berkomentar bahwa mereka senang dan percaya Indonesia sebenarnya menjanjikan, cuma lagi terpecah-belah politik aja.

Gue bangga dan bahagia ternyata sebenernya bisa juga berita baik ini jadi rame. Ga harus menarik perhatian pake Twitwor.

3. Minat volunteer tinggi tapi...

Tweet gue berikutnya soal pengalaman volunteer yang membawa gue ke US, Brazil dan beasiswa Korea juga viral. Responnya banyak yang super sweet, super minat dan excited buat ikut volunteer. Tapi rata-rata terhalang kendala bahasa dan gatau infonya.

Nekad biasanya jadi kebiasaan orang Indonesia (ada yang bikin studi tentang ini gak?). Tapi kok kalo udah urusan bahasa, mundur duluan? Ini terlihat dari banyak temen-temen yang masih menganggap kendala belajar bahasa sebagai halangan utama. Haduh, halangan utama gue sih dulu uang dan izin...

Memang susah dan ga instan sih. Belajar bahasa itu perlu minat, niat dan kebiasaan. Belajar bahasa juga rasanya jadi proses bertahun-tahun, ga ada akhirnya. Cuma benefitnya juga ga ada habisnya. Sekarang gue bisa kerja sebagai interpreter dan dapat penghasilan super wow karena kemampuan bahasa gue berharga. Makanya gue ga ngeluh belajar bahasa, karena gue tau manfaatnya. Nah banyak temen-temen yang fokus sama benefitnya doang, giliran berhadapan sama proses, kok kabur...


4. Mau daftar tapi...

Gatau caranya. Takut. Minder. Malu sama bahasa (lagi).

Ini semua asalnya dari diri lo kan. Gatau caranya, bisa googling atau tanya orang. Masih gatau? Email. Udah tau ternyata ga qualified? Masih ga paham-paham? Yasudah berarti bukan buat lo. Cari lagi kesempatan lain.

Takut. Minder. Gue ga bisa paham 'takut ga keterima'. Lagian belom daftar kok udah takut atau minder? Buat gue, takut tuh kalo udah daftar dan ternyata kepilih. Baru boleh khawatir "Tar gimana ya, kalo ga bisa kerja dengan baik gimana ya? Kalo dimarah-marahin gimana ya?"

Prinsip gue, gimana orang lain mau percaya sama kita kalo lu sendiri ga percaya diri? Gimana orang lain mau investasi dikita kalo lu sendiri gamau investasi waktu dan usaha untuk memperbaiki diri?  Apa yang harus ditakutkan selain 'honest feedback'? Menurut gue, kalo lu bisa terima dan berbesar hati saat diberi kritik, lo akan lebih cepat maju. Dibilang bodoh? Ya tandanya harus belajar lagi. Dianggap ga mampu atau ga bisa kerja? Tanya balik, gimana cara terbaik biar bisa meningkatkan kemampuan, biar dimasa depan jadi mampu.

Soal malu sama bahasa, gue pernah ngalamin bertahun-tahun jadi orang 'bego' karena Bahasa Inggris yang lemah. Bukan soal takut salah lagi, kosakata dan kemampuan bikin kalimatnya emang gak ada. Gak bisa. Gue bikin partner gue TRAUMA kerja sama gue, karena gue ga bisa diandalkan dan dia harus kerja sendiri. Tapi semua masukan dan kekurangan itu gue terima. Gue jadikan motivasi buat belajar.

Gue gak gengsi untuk ngaku emang skill gue ga ada dan harus belajar lagi. Gue sincerely minta maaf ke partner gue dan mentor kita, karena merasa gue menyia-nyiakan effort mereka. Apa lantas gue dijudge? Engga. Ini balasan mentor gue, yang membuat gue ga jadi kecil hati.

Malah termotivasi kan

Seperti kata om ini, yang terpenting dari setiap proses adalah soal gimana lu menyikapinya. Gengsi ga akan membawa lu kemana-mana. Ketika lu ga punya skill, 'tebus' dengan triple effort.

5. Lebih enak ditanya soal volunteer daripada KGSP

Ini nyata banget. Lo boleh tanya gue A-Z soal SEALNet, gue akan lebih sabar daripada soal KGSP.

Kenapa?

Gue pernah ngalamin kesepian jadi anak Indonesia sendiri. Gue yang merasakan benefit langsung sering mikir, "Napa pada ga ikutan dah?"
Gue juga masuk bukan karena super good, tapi karena mereka percaya dengan potensial gue. Nah berarti kan semua anak juga bisa, kalo niat.

Dan poin paling penting, kalo untuk setiap anak yang gue bantu atau yang akhirnya masuk SEALNet, gue punya keyakinan bahwa kita investasi ga cuma di diri anak yang terpilih itu, tapi juga dikomunitasnya. Sedangkan kalo KGSP, gue ga yakin lu bakal punya semangat berbagi setelah terpilih? Gue skeptis apakah benefit KGSP akan sampe ke komunitas lu, atau cuma ke lu dan keluarga lu aja?

Gue tentu lebih suka membawa perubahan ke komunitas daripada individual.


6. Syukur dan pentingnya konsisten

Gue super humbled dan merasa bersyukur sih bahwa tulisan gue berguna dan viral untuk alasan yang baik. Penting buat gue untuk selalu menjadi diri sendiri dan 'berbagi', meski temen-temen gue suka komen, "Lo tuh orangnya kalo baca sesuatu hobi banget dishare ya?!"

Ya tau banyak hal sendirian juga lonely. Lagian gue emang hobi baca, gue bisa bantu 'meringkas', kenapa engga. Gue ga pernah melihat hal itu sebagai sesuatu yang useless, meski tingkat feedbacknya memang rendah. But it does not really matter as I am not doing it to impress anyone. I am doing it because I like it.

Terima kasih untuk respon hangatnya, terutama buat temen-temen yang mention bahwa kalian suka baca-baca blog gue. Gue mulai ngeblog 2010 dan gue selalu merasa bahwa blog adalah medium satu arah, karena jumlah komen sangat minim. Gue jarang menerima feedback, kalau bukan soal KGSP.
Gue juga ragu apa style nulis gue ada yang nyambung? Apa orang paham maksud gue? Apa pada akhirnya ini cuma catatan diri gue sendiri?

Kalau gue mulai blog untuk mencari popularitas, harusnya gue baru mulai saat gue dapet KGSP kan. Tapi tujuan utama gue adalah untuk diri sendiri. Gue emang suka nulis, meski dengan format yang temen gue bilang "Alira banget, alias lu doang yang ngerti."

Lama kelamaan, tujuannya berubah. Gue pengen berbagi informasi karena gue pernah berada diposisi pencari informasi. Gue suka para penulis yang menjabarkan pengalamannya dengan detail. Berkaca dari perasaan senang ketika bisa baca pengalaman orang, gue merasa gue harus melakukan hal yang sama juga. Untungnya bisa konsisten, dan enak juga ga usah ngetweet panjang-panjang, suruh klik blog beres. Hahaha.


Yak, all in all, terima kasih untuk dukungannya. Terima kasih sudah baca. Semoga semua orang makin semangat berbagi ya!

Wednesday, October 3, 2018

22: Grateful and Blessed

Gak terasa umur gue telah berganti. Ada banyak refleksi yang hadir kali ini, terutama tentang rasa syukur atas orang-orang yang gue sayangi.

Gue sangat beruntung bisa pulang dihari ulang tahun dan merayakannya bersama keluarga dan teman-teman yang berarti. 5 tahun lalu, gue merayakan ulang tahun ke 17 gue bersama teman-teman SD, SMP dan SMA. Ga terasa, 5 tahun berlalu dan gue masih bisa bertemu dengan wajah-wajah yang sama. Hal yang ga mudah dan harus disyukuri, karena pertemanan butuh dijaga (maintain) dan banyak hal terjadi dalam satu tahun terakhir, terutama faktor bahwa teman-teman gue banyaknya sudah kerja.

Tanggal 21 September 2018.

Bukan hari yang sibuk. Ga ada lilin atau kue ulang tahun juga. Dihari ini, gue bangun santai dan menjalani rutinitas lama seperti ke rumah sakit, kirim paket dan ke Jakarta untuk ketemu klien dan Princess. Gue gak overwhelm dengan pesan-pesan yang masuk. Semua berjalan seperti biasa.

Agenda spesial hari itu hanya makan malam fancy. Tapi gue juga ga super excited karena semua ide restoran gue direject dan hanya ikut apa kata Princess aja. Cuma dihari ini, gue ditunjukkan banyak cinta dan effort dari orang-orang yang gue sayangi, meski dalam konteks ulang tahun yang low key.

Orang tersulit hari itu

Biggest appreciation tentu ditujukan ke nyokap gue. Malam sebelumnya kita baru sampai Bogor jam 11 malam dari bandara, karena doi jemput gue. Saat gue cari nyokap di bandara, gue nemuin dia ketiduran di kursi ruang tunggu karena capek langsung abis balik kantor (dan sekarang gue bisa lebih paham capeknya ngantor). Jam 12 dia masih bangun dan sempet ngucapin selamat ulang tahun ke gue.

Doi lagi-lagi punya kesabaran super buat dinner panjang hari itu. Begitu sampe mobil, langsung tepar. Tapi tidurnya ga bisa lama-lama karena jam setengah 2 doi harus packing karena jam 3 kurang kita berangkat ke bandara. Gue punya flight jam 5 dan dia punya flight jam 6. Kalo aja bukan karena flight gue, dia bisa tidur lebih 1 jam lagi. Gue bener-bener respek dan tersentuh dengan dedikasinya untuk membuat 30 jam gue di Indonesia worth every second of it. I did tell her that I am super happy with my very short visit this time but I don't know if she got how touched I am with HER effort?

Kali ini kita ga berantem. Ga ada komentar soal baju gue yang harusnya ga lolos sensor. Ga ada omelan soal jalan-jalan. Princess membuat hari gue super dengan caranya sendiri.



Apresiasi lain tentu untuk teman-teman gue yang ada saat dinner. Vanda dan Ghea, gue kenal mereka udah lebih dari separuh hidup gue. Terkesan dramatis padahal ngga sih. Lebih dari dinner, mereka juga nurutin keinginan gue buat jalan-jalan ke Singapur. Love you :)))

Tyas, gue ga expect Tyas bisa dateng. Gue udah siap direject lagi, udah siap nyesel nanya, but you never know. I guess you just really want to keep trying for the people you love? Despite all the possible heartbreaks, you just know you will be willing to go through it all over again.

Ero yang rela jauh bener dari Jatinangor di planet lain buat makan doang, nganter ke bandara dan kemudian balik lagi. Ga banyak hal yang bisa dia lakukan diwaktu yang sempit. Tapi gue tahu dia juga punya level of appreciation yang mirip dengan gue ke temen-temennya dan dia bisa nyempetin ketemu temennya di Bogor meski kurang dari sehari.

Yang ga terlihat tapi selalu dihati karena udah jadi bagian hidup gue: temen-temen di Korea. Gue menghabiskan 3 birthday di Korea dan 2016 adalah salah satu yang paling berkesan.

Gue bersyukur kali ini gue gak harus di Korea karena gue rasa Tuhan mencegah gue dari patah hati. Temen-temen gue banyak yang lagi ga di Seoul juga. Dibanding sensi dan sedih sendiri...

Oh, gue dapet kado dari Luluk, Vanda dan Ghea. Semuanya spesial dan menggambarkan kedekatan kita. Ghea kasih gue anting, sedangkan gue gak bisa pake anting. Yes, ini adalah gambaran pertemanan kita yang super low maintenance. Saking lownya sampe ga tau hahahaha. Berikutnya dari Luluk dan Vanda, sukses bikin gue ketawa. These two bitches know me too well.



Vanda 100% anak komunikasi dengan DIY-aliranismnya. Ini fix bakal nangkring di sebelah poster Bhutan kreasi Ilen tahun lalu. Doi bilang doi ga bisa lupa quote gue soal jalan-jalan sebagai prioritas. Gue rasa memang bener sih hahaha. Gue inget gue pernah punya foto ini tapi ga jelas kapan. Ternyata fotonya diambil dari tahun 2015 saat gue pulang untuk pertama kalinya setelah pindah ke Korea.

Luluk... Gue ketawa banget pas buka.


Gue rasa cuma Luluk, Ilen dan Bunga yang bisa paham referencenya.
Gue penggemar Swatch karena anaknya ngga anggun buat pake jam-jam yang terlalu cewe. Nah kenapa ketawa karena motifnya bunga-bunga. Gue emang ga suka motif polos untuk kebanyakan hal. Tapi ya ngga terus jam tangan jadi bunga-bunga juga sih...

Menurut pengakuan Luluk, dia bingung mau pilih yang bagus atau yang alira banget.  Akhirnya dia pilih ini karena "lu kan orangnya unik Lir!"

Terima kasih Luluk yang selalu ingat aku di Bogor, di Depok, di Jakarta, beli kado di Medan, dan masih mau telepon dari Makassar. I tetep love you meski kamu ga ada tanggal 21.

All in all...

21 September kali ini terasa cepat dan ketimbang 'fun', gue lebih memilih kata blessed. Gue sampai ke titik yang jauh dari bayangan gue 4-5 tahun lalu. Blessed, karena gue masih memegang teguh prinsip gue, meski dengan jalan hidup yang super drama kalau dilihat dari SMA. Blessed, karena gue masih dan terus disayang Princess dan teman-teman. Blessed, karena gue yakin, Allah ga lupa sama gue.

21 September ke dua puluh dua kalinya dalam hidup gue, gue bersyukur dan senantiasa diingatkan betapa banyak anugrah yang gue terima dalam hidup sampai bisa pulang, bisa jalan-jalan dan bisa tinggal di Korea.

(Tulisan ini ditulis di Singapura dan diselesaikan di Bari, 2 Oktober 2018)

Monday, August 13, 2018

Pelajaran dari IGD

Seminggu yang lalu, gue memang lagi bukan dalam kondisi terbaik. Asumsi utama gue adalah gue kepanasan, bete dan kemudian jam tidur berantakan. Dilihat-lihat, mood harusnya menjadi faktor terberat. Tapi ternyata, gue capek fisik dan mental, dan akhirnya berujung di IGD.

Cerita minggu lalu adalah Selasa gue kurang tidur dan Rabu gue ga kerja. Kamis gue dessert hunting dilanjut begadang di pinggir Sungai Han sampe jam 3 pagi, tapi baru tidur sekitar jam 5. Jumat gue practically dead pulang kerja, dan merasa pressured juga karena ada perubahan ritme di kantor. Sabtu gue mentally and physically overworked, gue tidur jam 12 tapi ga nyenyak... Puncaknya di Minggu pagi gue kebangun beberapa kali sampe kira-kira ga bisa tidur lagi jam setengah enam karena gue kesakitan.

Gue gak pernah begini, penyakit gue biasanya berkutat dengan pernafasan. Paling dekat ya tahun lalu saat sakit punggung berminggu-minggu. Gue nunggu lebih dari satu jam sambil cluelessly (and helplessly) nanya temen apa yang harus gue lakukan, sebelum memutuskan untuk beranjak dari kasur dan ke rumah sakit. Sayangnya, saat itu belum jam 7 pagi jadi temen gue ga ada yang jawab. Untungnya, gue punya temen yang lagi di rumah dan berbaik hati mau menolong gue dengan ikut ke RS.

IGD di Minggu pagi
Ada banyak hal yang gue pelajari dari ER rush kali ini (the last time I was rushed to ER alone was in 2010). Gue bersyukur bahwa:
-Timingnya bukan saat gue kerja atau di jalan
-Gue masih bisa bergerak ke RS sendiri tanpa tangisan atau keringat dingin seperti dulu-dulu dan gue tinggal dekat RS favorit gue
-Ada teman yang berbaik hati dan sabar menemani, meski gue rasa dia capek banget pagi-pagi
-Banyak teman yang suportif dan menasehati (re:scolding) 
-Staff dan dokter hari itu semua super lancar Bahasa Inggrisnya
-Nothing too serious

Selain itu, gue juga belajar dan diingatkan, particularly oleh seorang teman, bahwa gue:
-Terlalu forsir diri sendiri dan akhirnya sakit yang ga perlu
-Terlalu obsesi isi jadwal dan ga kenal physical pain
-Harus dipaksa 'jatuh' dulu baru bisa tau batas diri sendiri
-Boleh pinter skill external (karir, jalan-jalan etc) tapi bego buat jaga diri dan common sense (internal)

Buat gue, biggest lesson adalah batas antara "sendiri" dan tidak. Sejak SD, Princess suka dengan bangga bercerita bahwa gue sanggup ke dokter sendiri. Iya, karena kalo nunggu doi kan yang ada sembuh duluan. Padahal, ke dokter sendiri bukanlah hal yang membahagiakan, meski mungkin membanggakan karena menggambarkan kemandirian. 

Bahkan ngingetnya aja masih sedih. Sedih karena semerana itu. Gue inget perjalanan gue ke dokter, sengsaranya nunggu sendirian di BMC, anehnya perasaan di'teriaki' dokter karena gue dateng sendiri dan dia ga berani ambil tindakan sebelum orang tua gue dateng (tapi ya mereka ga akan dateng, gue tinggal switch dokter aja) atau betapa kecewanya saat gue udah helpless di rumah sakit tapi gue masih tetap bukan prioritas, kecuali untuk Eyang gue. 

(Gue baru buka tulisan gue tahun 2011 soal dokter, semuanya isinya nangis dan marah-marah, kemudian gue ikutan nangis ngingetnya)

Mungkin karena selalu terngiang masa-masa itu, gue ga akan lupa saat gue melihat ada nenek yang dibawa ke IGD rumah sakit oleh tim rescuer Korea dan ditanya mana walinya. Beliau menjawab tidak ada karena beliau tinggal sendiri. Realita ini biasa di Korea, tapi gue yang saat itu juga lagi menunggu giliran dipanggil, malah kepikiran dan sedih sendiri. Saat lo helpless, perhatian dan bantuan dari siapapun akan terasa sangat berharga. 

Kali ini gue udah lebih dewasa dan paham bahwa hidup menjadi orang dewasa itu memang harus realistis. Tapi tentu, perhatian lebih yang tidak diharapkan tetep menyentuh hati. Seperti Princess yang akhirnya responsif dengan pesan gue, setelah gue kirim foto gue dengan infusan IGD. 

Gue merasa sangat bersyukur bahwa gue gak sendiri kemaren. Mungkin temen gue juga sebenernya cuma terseret ga sengaja berhubung dia lagi di rumah gue, tapi it meant a lot. Konteksnya bukan hanya soal rumah sakit, tapi soal temen-temen gue yang selalu ready bantuin gue bawa barang keluar asrama, kakak kelas yang mau menyempatkan waktu mendengarkan keluh kesah hidup gue, sampai pasukan super yang setia bantu gue saat pindahan. Honorable mention buat Tugce yang selalu berhasil jadi hero dalam hidup gue, ready kapan saja meski pertemanan kita low maintenance. 

Surprisingly, lebih mudah menemukan 'keluarga' di Korea daripada di Indonesia. Lebih banyak teman yang bisa say yes right away tanpa pikir dua kali dibanding di Indonesia. Mungkin pelajarannya adalah rumah dan keluarga itu adanya dimana lo merasa disambut, bukan terkait status formal diatas kertas. 

Mari jaga kesehatan dan kebahagiaan!

Refleksi Kerja

Minggu lalu mood gue roller coaster, padahal bukan pms. Sering juga kurang tidur berkualitas, most likely karena panas dan ga pake AC, sampe sempat ngungsi ke lobi gedung buat power nap. Titik puncaknya adalah ketika temen gue bilang, "Lu napa sih akhir-akhir ini melankolis semua dibawa sedih?"

Iya juga. Kenapa ya...

Dibalut perasaan sedih itu kemaren gue butuh positive release dengan makan dessert. Kayanya sih mood gue mau bagus mau jelek, emang selalu ngidamnya jajan. Gue pun ngeblast message ke temen-temen gue.

para korban alira

Dari lima orang positif cuma satu, saudara-saudara. Akhirnya kita memutuskan buat ke Gangnam, yang letaknya jauh banget dari kantor gue. 17km di jam pulang kerja. Karena alasan jarak, gue males banget ke Gangnam. Bahkan sebenernya gue udah mau ganti destinasi ditengah karena saking capeknya menuju Gangnam.

Begitu sampe setelah 1jam lebih perjalanan berasa Tante Princess mau dari Bogor-Cibubur, gue merasa super capek. Capek dan overwhelmed. Suasana hati makin parah ditengah kerumunan orang-orang pulang kerja. 1001 pikiran mendera.

jam pulang kerja di Gangnam - Agustus 2018

Pulang kerja is not easy. Kerja is not easy. Adulting is hard. Life is complicated.

Seketika gue punya respek tumpah-tumpah buat Princess yang kerja bukan dari jam 9-5 kaya pegawai pada umumnya, tapi jam 5 pagi-9 malem karena doi memilih untuk stay di Bogor, saat kantornya di Jakarta. Gue ga pernah ngerti kenapa dan gue tanya. Dulu jawabannya adalah karena Princess mau ketemu anak-anaknya. Sekarang anaknya udah ga ada yang di rumah, ngapain pulang? Ketemu ikan? Kenapa ga ngekos aja di Jakarta?

Tapi idup tante-tante ga sesimple itu, ya kan.

Melihat kerumunan salaryman yang hidup dibelakang meja terus harus antri bus buat pulang ke rumah, gue bersyukur banget dengan kerjaan gue dan letak rumah gue yang relatif dekat dari kantor. Gue ga kena rush hour, karena letak rumah gue ada di tengah kota dan kantor gue ada di pinggir kota. Gue malah melawan arah. Gue juga ga harus nunggu bus bermenit-menit karena alasan yang sama. Semua sudah dibuat lebih mudah.

Makin besar juga hidup makin lonely. Temen-temen lu ga selalu ada, ketika temen-temen lu ada pun, seringnya lu yang ga bisa. Gue berusaha menghargai dan treasure setiap waktu yang orang lain korbankan untuk gue. Gue mungkin ga suka segerombolan manusia, tapi gue suka hubungan 1:1. Maka gue memilih socializing pulang kerja, gue memilih berusaha untuk ada dan hadir daripada tidur, karena gue percaya hubungan yang baik akan membawa kebahagiaan.

Tapi sayangnya, karena alasan yang sama pula, gue berakhir di IGD. Work life balance itu ga mudah dan usaha untuk mencapai itu akan terus berlangsung...

More on this ditulisan berikutnya.

Wednesday, February 7, 2018

Cerita dari Brussels

Halo dari Brussels! Mengakhiri hari ke 8 jalan-jalan gue, gue merasa ternyata ada banyak sekali yang belum gue lihat dari dunia ini. Seperti sekarang, gue struggle sekali mengetik dengan keyboard AZERTY... Gue ga pernah tau bahwa ada yang pake keyboard bukan QWERTY?!

Anyway, banyak hal dalam trip gue kali ini yang berjalan tidak sesuai rencana. Dimulai dari bagaimana seharusnya gue jalan-jalan berdua sama Tyas, tapi akhirnya sendiri. Mau bitter juga percuma, udah tau dia emang tukang hoax, salah gue yang masih blindly percaya. Lalu flight gue diganti dan sekarang gue akan punya 20 jam transit di Kuwait... Unik kan, terdampar di Kuwait?

Untuk eksekusinya, gue jatuh cinta banget sama Maroko dan sempat cari 1001 cara buat extend stay gue disana. Tapi Tuhan berkata lain dan gue ditunjukkan bahwa gue ga boleh lama-lama disana. Mungkin lain waktu, karena akhirnya gue stick to the plan, yaitu ke Madrid. Ternyata cuaca di Madrid lagi jelek-jeleknya dan selama 3 malam gue disana, hujan hanya berhenti saat gue sampe dan saat gue mau cabut jam 4 pagi. Gue ga bisa ngapa-ngapain, tur gue juga dicancel dan obyek wisata di Madrid rata-rata outdoor. Tapi hikmahnya adalah gue disuruh istirahat karena gue flu berat setelah kena angin gurun tiada henti di Marrakesh. 3 hari puas deh tidur.


accidentally fell in love with Brussels
Tuhan juga ternyata mau memperlihatkan gue pada Brussels. Gue pure kesini cuma mau makan waffle, alasan sesederhana itu. Tapi ternyata kotanya cantik banget!!! Gue suka semua hal tentang Brussels, dari makanan, arsitektur, orang sampai hostel super grande tempat gue menginap. Tuhan memang paling tahu.

Gue mungkin sudah kehilangan kekaguman saat melihat bangunan-bangunan cantik bergaya Eropa. Gue juga cenderung membandingkan satu kota dan lainnya, suka lupa bahwa tiap tempat punya pesonanya masing-masing. Tapi dari trip kali ini gue belajar bahwa baru sedikit sekali belahan dunia yang gue liat dan betapa banyak hal yang bisa gue pelajari dari setiap perjalanan gue.

Brussels dan waffle

Gue suka mengamati orang dan betapa budaya membedakan sikap setiap orang. Baru saja gue tersentuh sama mas-mas server di tempat fish n chips terkenal di Brussels. Gue cari makan vegetarian, cari kentang, cari apapun hasilnya selalu mengarah ke resto yang sama. Saat gue kepo menunya, ternyata dia punya fish n chips. Random banget, mendadak craving gue ganti jadi fish n chips. Kemudian gue google 'fish n chips Brussels', resultnya hanya satu: BiaMara.

Long story short, gue ke BiaMara dan bener-bener terkesan. Yes makanannya memang enak, tapi dining experience gue jadi 3x lebih menyenangkan karena servernya sangat ramah dan sincere. Gue pikir ini bukan pertama kalinya gue ketemu orang ramah atau helpful. Cuma energi positif dari server yang secara tulus menanyakan dining experience gue, ngajak ngobrol dan menjelaskan menu dengan sabar itu sangat menular. Dia memperlakukan semua orang dengan sama, sembari diselingi jokes dan tentu didasari keramahan dari hati. Pengalaman-pengalaman seperti ini yang gue paling hargai dari setiap perjalanan gue.

Besok gue akan kembali ke Italia. Nyokap gue sekarang udah sadar obsesi gue sama Italia sedalam apa dan udah bertanya, "Nanti kalo ternyata kerjanya dapet di Italia gimana?"

Gue pun senyum dan menjawab, "Oh itu udah dipikirin kok. Jadi sebenernya abis lulus kuliah ...."

Sunday, December 10, 2017

Kaleidoskop 2017: Most Meaningful Trip

I did not know that the English meaning of 'Kaleidoscope' is a scene, situation, or experience that keeps changing and has many different aspects. For me, Kaleidoskop (in Indonesian) refers to the review of the past year. I guess the annual segment of those infotainments taught me that...

The end of 2017 is approaching and I already started my financial audit, my review of the year and my reflection this weekend. It was not a smooth year. In fact, if I never reviewed my year, I would simply say I hate 2017. One bad thing blinded me from all the beautiful things that happened this year.

As I organized my collection of boarding passes, I was reminded that I traveled a lot this year. But which trip was the best one? Which was the most fun? Which was the hardest? Which trip do I want to repeat? Those questions running through my mind but all I could answer was, me being me: the most expensive trip, the hottest and coldest trip, the longest and shortest trip, the trip with the highest expectation, the most complicated trip. the most dramatic visa process... There was barely any feeling nor meaningful reflection.

I tried to scroll through my blog and my drive, I could barely find any clue. I was too swamped by I-swear-I-have-no-idea-what and my 'alone' time this year, that I forgot all the things that were actually meaningful to me. So this brought me scrolling through my photos and asked 'Which one was the most meaningful trip in 2017?'

the 5th flight
28 September - 7 October 2017, the trip back home.
I bought the ticket for this Chuseok break November last year and I never forgot about the exact dates. In fact, I registered for my classes this semester while always considering this trip, looking for classes on Thursday that would allow me to be absent for a day without penalty.

The trip was short but I learned so much things. It brought me to endless realizations that our lives, our family's lives, had changed. I came with the mindset and the intention of being fully present: I would take whatever schedule Princess gave me with no complain and squeeze in for other things in between. It was not easy, as turned out there were many obstacles and going back-and-forth to the airport was rather time-consuming.

The first realization, coming to an empty house. There is no more driver around. I do not drive nor tempted to ride the motorbike. That was not the main problem. It was just the fact that I had no one to talk to during the day and barely any familiar TV show to catch up with. There was no internet too, as my brother, the owner of the wifi (and the rest of the facilities, I'd say) had gone. My room stays pretty much the same, except for the fact that most of my belongings are kept somewhere else. I am rarely home yet I was bothered. What about Princess who has to feel the emptiness every day?

Second realization, how much I was annoyed with the flight arrangement. I had to take 6 flights during the 10 days. We are completely used to it (I had 10 flights in 14 days in February) -  and I truly understand the burden of going to the airport multiple times when you live 80km+ away. But it was more about the flight arrangement that slapped me. We are a family of four yet we are always taking different flights from different points of departure to gather at the destination of the week. I am not sure when did we start this habit, probably the moment I entered high school. Who started it? Arguably me. I remembered taking different flights to some cities because I had my own schedule. My schoolmates always teased my endless-traveling and I missed many class pictures due to my high mobility, yet on the other side, I also missed many family trips because I could not skip too many classes... Uh. More on this, see point four.

The ability to take different flights rather than forcing on a schedule that works for everyone means flexibility for us. I just realized I was not happy waiting alone in the lounge or roaming alone in a city that I am not familiar with, or to keep going back and forth to the airport to pick up the next person if I arrive earlier than the others. I guess I wanted to be treated special, as I came from Korea with the high opportunity costs. For a moment, I was being selfish. I forgot that each of us has to sacrifice something to be able to gather in Surabaya.

The third was the concept of 'home, home where?' 
So my dad asked about my plan after the Surabaya-Malang trip. I said, "Nothing, I am going home."
"Oh, which home?"
"Hmmm? What do you mean?"
"Bogor or Yogya or where?"
"Oh... Bogor"
It was a very simple and short conversation yet I felt very confused. At least until the last time I went home, which was barely a month before, we were always very clear about where the 'home' is. Now everything is a blur.

This brought me to the thoughts I had in the summer. 2 weeks before I came back home in June, things were crystal clear. We would all (by status) relocate to Yogya, as my brother would go to private uni in Yogya and Princess would also transfer there. Then suddenly after the SBMPTN announcement, it turned to be a confusing change for everyone. My bro got accepted in the public uni (my parents' greatest obsession), supposedly it was a good news, yet we all were not sure about what's next...

1 hr of standing and laughing before I flew back
Fourth, point one to three lead me to the realization of our the ultra-high mobility to be together and the sacrifices behind. My 6 flights in 10 days are nothing, really. My bro flew to Malang only to stay there for less than 30 hours. Yet due to a logistics mishap, we only met during the lunch and the dinner. The following week, I had to lure him to skip classes so that we could spend a *slightly* longer time together. He flew to Yogya on Friday late noon and I was already there since the morning, yet that day I did not meet him at all. I only met him briefly on Saturday morning and when my fam was sending me to the airport to catch my flight back to Seoul via Jakarta.

I was talking only about my brother, a relatively free student. Think about Princess who works 5-to-9, instead of 9-to-5. Meeting in a third city every weekend is time-money-and-energy-consuming. Yet we do that because we treasure our 'unique' quality time.

My point is: for my friends in Korea, I go home too often. Yet for the people home, I am always away. There is a discrepancy between the two worlds and I am slowly adapting to it. For my mom, it would be better if I go home every weekend than go back for two months in the summer. It is never about the duration of me being in Indonesia (because where 'home' is has become hard to judge), rather it is about how often and how long I meet her everytime I am home. It is very tough to juggle my personal ambition of maximizing my every school break for traveling and the time to meet my family. I am working on it. It is a tough job.

Fifth, the time I spent in Yogya is worth every kilogram that I gained. I am referring to both the semester I spent in 2014 and the 30hours I spent on this trip. I was reluctant to go as I was skeptical on what would a night in Yogya mean to me. I was too lazy to pack early to go back to Korea too. I ended up going only to repay my junior's kindness of lending me his phone (and I needed to pass it to his mom in Yogya). Turned out, I had a good time catching up with my past uni classmates and eating all the stuff I craved for. I had a good 6 hours in the hospital to check up on every problem that I had. Hospital visit never been this fun, especially after knowing the real power of my new insurance coverage (ok me being a finance lady here). I also got to catch up with a senior from Korea and learned a lot from her experience working in a Korean company in Indonesia.

Not to forget, I finally attended my dad's public event for the first time in many years (aside from his doctorate degree open defense, I think the last one I attended was in 2013). He openly said that we are the icon of KB - Keluarga Berserakan (re: scattered family) because we are mostly located in different places.

Now, move to the more fun realizations.

Coz dance studio is our habitat
Having no schedule feels so great. I live in constant fear of having nothing to do. I actually enjoyed the spontaneity of going to swimming pool or dance class with Tyas. There was nothing to be afraid of - I would always find things to do and I support the idea of walking out to jajan rather than Go-Food.

coz pedestrian is equal to a challenging motorbike track
Ngojek is actually scary. I had no slightest intention to repeat my Grab trip from Kota Kasablanka to Grand Indonesia on a motorbike at a full speed. I almost took 20km+ ojek from Depok to Lotte Avenue, as I was trapped inside the train in Depok for more than 30 minutes and left with no option other than ngojek.
I split my ride into two, from Depok to Pasar Minggu with a very kind biker and then sudden change of plan forced me to find the best way to go from Tebet to Grand Indonesia. My luck, after heavy rain and freaking train disruption. those Grab bikers did not pick me and I had to use my old secrets: put the word URGENT and insert TIPS. Going from Tebet to Grand Indonesia never felt that threatening, especially with occasional against-the-traffic-speeding on a motorbike that was not even registered on the app.
Why did I believe that Indonesians should use public transportation more often? Oh, I am really sorry, it was a stupid idea thinking that we have been improving.

Luluk, my idol
Next, I learned about the true meaning of 'making time'. Props to Luluk on this one, she is truly the best. She made time to meet me and I think it was one of the best days of the week. We consolidated our very-different schedules spontaneously. I brought her to meet my high school principal, someone that she barely knows yet she did not reject. Then we went to her internship office, where I was 'rejected' for entrance in advance for clothings :))))))
We then continued to go to Depok to meet a mutual friend, even when she was supposed to go somewhere else. Luluk, I am your fan since 2010. Since the day we realized we sneaked on each other's IQ test paper.

Good timing is also something to be grateful for. If it was not for the mooncake season, I'd probably have no valid reason to keep visiting my best friend's family. First I came for the mooncake, then for the tahu goreng then... just for food. The best vegan mooncake that the aunty bought is already a solid and valid reason to always go back home every Chuseok.
Mooncake business aside, I am surprised how fun it was just to reconnect with my friends' family, even when they are not there. I played with Metta's cats and talked with her parents, spending more than 2 hours in joy everytime I dropped by. I also got to know my juniors' parents while passing his phone or taking her stuff to be brought to Korea, even with no advance introduction before.

And oh, having a slow life made me realize how much I still love angkot and talk in Sundanese. Wow, knowing all this I feel like I should've just stayed home rather than going to UK or Thailand last summer, man.

Finally, it is all about people. People and the world keep changing, it is up to us to adapt and keep up with the change or to stay static and grow irrelevant to our surroundings. It is definitely tough and challenging to continue catching up with friends and relatives back home when I am away in Korea, but it is not impossible. I can keep talking about how much I appreciate everyone that I met throughout the trip (yes, everyone. Including the shady Grab biker with different registered motorcycle). I can choose to take only the happy memories. I can choose to let my negativity to blind me from seeing the beautiful things that God has given me. But I prefer to always be open and be grateful for all the good and the bad things that I experience.

Chuseok trip 2017 certainly won the most meaningful trip of the year! Conclusion, I do not need to go far away to feel content. A trip back home might be the best answer.

Sunday, November 12, 2017

Interest dan Passion

Semester ini, gue banyak ngobrol hal-hal berbobot dengan salah satu teman gue disini. Sebenarnya, ada banyak topik yang cukup menggugah gue tapi yang tadi malam benar-benar menyentuh. Berawal dari ngomongin kurikulum sekolah impian, sampailah kita kepada bagaimana passion berperan besar terhadap hidup.

Temen gue ini lulusan sekolah (SMA) internasional. Tapi bukan asal sekolah fancy, orang tuanya masih melek dan ngitung uang tiap bayar sekolah. Dia ga bisa masuk sekolah impian, karena harga yang diluar jangkauan. Gue sangat mengerti, karena situasi gue serupa. Gausah ngomong sekolah internasional impian, sekedar sekolah swasta impian yang bayarnya masih dibawah 1 juta perbulan aja gue perlu melewati berbagai ujian mental. 

SMA gue dulu pake sistem subsidi silang, bayar sesuai pendapatan orang tua. Uang sekolah bulanan gue cukup mahal, ya karena orang tua gue dianggap memiliki kemampuan segitu. Tapi orang kan ga tau kalau mereka gamau bayar sebesar itu? Jangan lagi bermimpi masuk sekolah internasional. Gue sangat sering bercerita dan mengatakan seberapa bangganya gue masuk SMA RP, dan suatu hari, gue 'mengiklankan' SMA RP ke adek gue yang lagi galau pilih SMA mana. Nyokap gue menyambar, "Iya kakak seneng sekolah disana, tapi bayarnya nyusahin orang tua."

Urusan biaya memang jadi tantangan rutin hidup gue. 

Back to topic. Kalau gue dan temen itu boleh memilih, kita pengennya masuk IB alias International Baccalaurate. Kita peduli dengan pendidikan dan interest kita. Kita ga mencari sekolah yang mudah lulus atau nama terkenal, kita mau value pendidikan itu sesuai dengan effort dan waktu kita. Bukan kita, kesempatan yang datang dan pintu-pintu yang terbuka setelah lulus IB itu worth all the pain and money. Apa daya, money-nya bukan milik kita tapi orangtua kita kan?

Nah, generasi adik gue dan adiknya jauh lebih beruntung. Adek gue pada akhirnya 'diseret' masuk SMA RP karena somehow nyokap gue convinced kalo SMA RP itu terbaik buat dia. Adek temen gue juga sudah on track untuk IB, bahkan tanpa dia mau. Tapi kemudian, ada satu persamaan: dua-duanya menolak 'privilege' itu, karena SMA RP atau IB bukan interest mereka.

Gue ngalamin betapa susahnya belajar di sekolah negeri, karena itu ga sesuai dengan warna gue. Adek gue tersiksa bukan main di SMA RP, karena dia ga suka belajar dan kualitas pelajaran di RP memang hell. Senada dengan kasus temen gue dan adeknya, ini malah ekstrim karena akhirnya adeknya berhenti sekolah. Then temen gue bilang, "Punya saudara itu emang susah, karena kakaknya dijadiin standar terus adeknya jadi shadow. Padahal minatnya ya bisa beda banget"

Bener. Mana ada cerita adek gue jadi anak bisnis, lah dia kalo punya uang atau apapun merasa lebih baik dibagi ke temen-temennya dibanding diuangkan lagi. Sedangkan gue yang super bisnis ini udah tau banget apa yang gue mau, dan ga perlu sih liat ke siapa-siapa untuk cari konfirmasi. Tapi gue yang buka path dan adek gue akan selalu ada dibelakang gue kan? Padahal kita dua individu yang berbeda, kebetulan aja muka mirip, family name sama. Value gue dan value dia pun bisa jadi berbeda.

Jalan hidup orang emang ga pernah sama, tapi pada akhirnya, gue dan temen gue ini meyakini bahwa kita sama-sama mencari kebahagiaan, memenuhi minat kita dan mengejar passion kita. Definisi kebahagiaan buat gue saat ini bukan uang atau status, karena gue pernah punya banyak uang dan pernah gak punya uang, tapi tetep bisa sedih banget atau seneng banget, gak tergantung sama uangnya. Gue lebih bahagia ketika gue punya kebebasan untuk menata hidup gue sendiri, melakukan hobi-hobi gue yang gak dipahami orang lain (ke Italia nonton konser... bangun jam 5 pagi buat berenang atau buat nonton Lee Chong Wei). Gue sangat bahagia ketika bisa membantu, siapapun itu, disaat gue melihat diri gue sendiri masih suka egois.

Minat gue dan minat temen gue sangat berbeda dan beragam. Gue suka badminton, jalan-jalan, musikal, volunteering, banking, finance, reservasi lingkungan, vegan, fair trading, social entrepreneurship, social innovation, (commercial) aviation... banyak banget dan gak saling nyambung. Temen gue bilang, minat itu bisa berubah kapan aja. Yes, dulu gue minat banget sama handcraft dan tari tradisional, tapi sekarang udah ga berbekas karena keterbatasan waktu. Minat itu hilang dan tumbuh.

Nah sekarang passion. Menurut gue, passion lebih steady dan long-term. Temen gue punya extreme view, buat dia passion itu semacam pride. Kalo orang lain berkata negatif soal passion, lo bakal down. Lu bakal selalu inget dan mengarahkan path lu ke passion atau passion itu alasan lu buat hidup. Gue mungkin masih takut mengatakan bahwa passion gue adalah ini atau itu. Tapi dia bilang, kalo lu udah passionate banget soal suatu hal, tau atau gak tau, qualified atau gak qualified itu selalu bisa diusahakan karena endingnya lo punya dorongan yang sangat kuat untuk menguasai hal tersebut.

Passion gue rasanya mengabdikan diri untuk masyarakat lewat social entrepreneurship. Gue masih yakin dengan kemampuan gue berbisnis, terutama dalam mencari kesempatan untuk menguangkan semua hal. Tapi gue juga peduli banget sama etika, hidup gue ini mau bahagia dunia akhirat tapi gak sendirian. Kalo mau sendirian sih, gampang dong. Tinggal hidup dengan gelimang harta, nonton konser tiap hari, keliling dunia... Tapi nyatanya, kebahagiaan dari concert trip gue did not last long. Yang last long malah kebahagiaan gue keluar masuk Asia Tenggara buat ketemu anak-anak muda penuh semangat dan gak lupa, mainin sisi bisnisnya. Harus bisa cari uang buat membangun region, gak selalu minta donasi.

Nah, ini pelajaran banget. Gue sempet lupa sama beberapa passion gue karena kesibukan ini dan itu. Tapi pada akhirnya, setiap ada sesuatu yang berbau social entrepreneurship, gue bisa buang semua aktivitas gue demi belajar sedikit tentang sesuatu yang gue sangat sukai. Gue tahan baca riset dengan bahasa ketinggian, karena gue merasa itu fun kalo soal masyarakat luas. Gue memang taro pengembangan masyarakat lewat social entrepreneurship sebagai life goal gue dan ga berencana langsung kesana setelah lulus kuliah. Tapi gue, sadar atau gak sadar, akan selalu balik ke passion itu. 

Buat yang masih belum tau apa passionnya, coba deh cari. Prosesnya ga instan karena lo harus coba berbagai hal sebelum bisa menentukan apakah itu bener-bener yang lu cari dalam hidup. Selamat mengenal diri sendiri lebih baik lagi. :)

Thursday, September 14, 2017

Obrolan Toko Buku

"This is my life, I would do as I wish."

Mungkin kedengarannya sombong sekali, tapi keyakinan ini membuat seseorang bisa maju lebih jauh dari sekedar keamanan dan stabilitas yang diidamkan orangtuanya. Sesaat setelah dipenuhi rasa kagum, gue kembali dikejutkan dengan statement lain.

"Jangan terlalu dibawa stress. Coba keluar dan cari lebih banyak orang, gue rasa di business school cuma kita bertiga yang mikir kaya gini"
*terdiam*

Oh. No. Too good to be true. Ini realita.
Ini adalah sepintas percakapan gue dengan dua orang senior dan satu junior tentang hidup dan masa depan. Mereka semua orang Korea yang belum pernah tinggal diluar negeri. Stereotipe akan ke-Koreaan mereka pun tidak dapat dihindarkan sampai akhirnya kita duduk 2 jam di toko buku. Kita tergabung dalam satu grup mentoring bersama alumni yang lebih tua dari bokap gue, yang bertemakan Social Entrepreneur.

Gak gitu banyak hal tematik yang gue dapat dari mentor kita. Tapi gue malah bisa belajar banget dari dua mas ini. Mereka ada di grup mentoring ini bukan karena tercampakkan dari grup lain, tetapi karena pilihan. Karena mereka ingin membantu orang. Karena mereka ingin menjadikan passionnya sebagai karir.

Senior ini dua-duanya anak pertama dikeluarganya dan punya orang tua yang sangat supportive dan cenderung bebas. Dalam dua jam itu, ada banyak sekali hal tentang sekolah dan hidup yang gue pelajari. Terutama bahwa menjadi beda itu tidak salah. Mereka berbeda dari teman-temannya. Mereka tetap mau dan mampu memperjuangkan masa depan pilihannya.

"Ada banyak temen yang tadinya udah memutuskan mau jadi akuntan, tiba-tiba ganti haluan cuma karena ada lowongan yang gajinya lebih besar. Ada juga yang cuma cari status sosial tinggi. Mereka bisa menjalani apapun untuk hal-hal superficial. Ini gambaran masyarakat kita, dan itu preferensi mayoritas."

Gue tersentuh bukan main. Ternyata ada orang-orang yang berpikiran sama dengan gue. Lebih dahsyat lagi rasanya ketika mereka juga mengakui bahwa susah mencari orang yang berpikir seperti... kita.

Gue sudah separo jalan kuliah. Gue sudah harus memutuskan dengan jelas apa yang gue inginkan, tanpa kehilangan identitas gue. Dari obrolan toko buku ini gue belajar, pilihan lo terhadap apapun bisa berpotensi membuka jalan yang lebih lebar atau malah menjauhkan lo dari tujuan asli lo. Sesimpel pilihan gue untuk ikut mentoring alumni dengan hanya memilih Social Entrepreneur ini. Orang-orang yang menaruh pilihan yang sama ternyata memiliki pandangan hidup yang cukup sejalan dan bisa membantu satu sama lain.

Pelajarannya? Pilihlah teman yang baik untukmu.

Monday, July 24, 2017

Dibalik Mimpi yang Terwujud: Explore Italia

Berakhir sudah 13 hari gue di area Schengen. Tiap hari, gue rasanya gak berhenti bersyukur karena apa yang gue idam-idamkan sejak dulu terwujud dalam 6 bulan. Dimulai dari kesempatan ke Vatikan, ambisi yang tumbuh dalam benak gue sejak SD. Lalu bisa travel ke lebih banyak negara dari yang gue inginkan dan sampai akhirnya summer ini gue bisa nonton konser yang selalu gue mimpikan.

I am more than blessed.

Ada banyak feeling yang gue rasakan saat ini, disaat gue mengingat lagi perjalanan gue dan perjuangannya. Gak mudah, tangisan dan malam-malam ga bisa tidurnya itu bikin gue stress banget. Belum lagi hari-hari dimana gue merasa bloated tiada henti dan ga bisa makan. Bukan karena excited, tapi karena pusing dengan schedulingnya.

Ngurus visa untuk dua kali perjalanan ke Italia ini juga penuh air mata. Gue berusaha untuk tidak terpengaruh saat gue tau bahwa visa gue hanya keluar untuk 11 hari sedangkan dihari ke 12 gue mau ke konser Il Volo. Tapi ternyata gak tahan dan akhirnya gue nangis juga. Shallow ya, tiap musim masa nangisnya karena visa. Mungkin ini salah satu tanda bahwa gue memang benar-benar pengen banget pergi ke Italia dan ke konser.

Konser apaan sih?
Tiziano Ferro sama Il Volo. Gatau gapapa, temen-temen gue juga ga ada yang tau kok.

Selfie bahagia dari hati
Gue gak suka selfie sebenernya tapi omg, bahkan gue terpana liat foto-foto gue dari konser... Selalu terlihat "kelewat senang" karena emang beneran seneng banget....

Mau tau totalitas ngefans? Gue ampe kaya viking pake atribut konser. Satu-satunya wajah Asia, gapapa pede aja.

Bajunya juga baju official

Anyway, kenapa Italia? Dan kenapa gue cuma ke Italia doang fokusnya saat udah di Eropa?

Karena ladang gandum?
Gue pecinta budaya dan nama Italia udah ada didalam list negara yang pengen gue kunjungi sejak SD. Makanan favorit gue juga makanan Italia. Gak ada makanan Italia yang gue ga suka, sedangkan buat keluarga gue, gue picky setengah mati dan merepotkan. Tapi tiap disodorin makanan Italia, apapun itu pasti gue makan. Gue belajar Bahasa Italia jauh lebih awal daripada Mandarin atau Bahasa Korea karena saat itu (2008), gue cuma mau belajar bahasa yang pelafalannya mudah dan pakai huruf latin. Pas belajar Bahasa Italia itulah cinta gue buat lagu-lagu Italia dimulai.

Quality over quantity. Seperti yang gue ceritakan sebelumnya, adek gue gak belajar dan lihat apa-apa setelah mengunjungi 34 provinsi di Indonesia karena dia mengutamakan jumlah provinsinya. Disisi lain, dengan fokus ke Italia, gak cuma gue bahagia, gue juga jadi paham banyak hal baru tentang orang-orang dan negaranya. Alasan lainnya memang gue kurang tertarik dengan negara lain. Gue ngalamin sehari di Budapest dan meski kotanya sangat murah dan menyenangkan, gue agak kesal ketika gue gak paham sedikitpun bahasa sana, not even 'thank you'.

Planningnya gimana kalo belum tau apa-apa?

Online dong. Effortnya emang dahsyat berminggu-minggu tapi gue spontan kok orangnya. Biasanya gue cuma memutuskan kota, terus disana mau kemana atau mau ngapain, liat nanti aja. Tanya hostel disana. Gue lebih suka liat atraksi lokal daripada tempat turis. Ekspetasi gue juga selalu rendah, so lebih mudah senang hahaha.

Gue juga suka tanya temen. Kebetulan gue punya temen atau ajak kenalan orang di daerah sana. Gue sempet ketemu temen SD gue dan dia berbaik hati ngehost gue dikamarnya. Begitu juga dengan temen kuliah gue yang lagi summer school di London. Ga cuma bisa hemat biaya hostel karena gue tidur di lantai bermodal sprei dan bantal traveling yang gue bawa buat dua malem di kamar mereka, gue juga lebih tau culture tempat tersebut.

Ada takutnya gak traveling sendiri ke tempat baru? Ada downnya gak?

Gue sih down liat jalanan sepanjang+sepanas ini pake koper+ransel

Italia itu pamornya bukan negara aman. Waktu Januari gue kesana, gue berdoa tiap hari biar balik utuh gak kurang suatu apapun. Jangan ngomongin foto, ngeluarin HP dan kemana-mana juga was-was. Tapi setelah gue tau lebih dalam tentang karakteristik kotanya, orangnya dan bisa sedikit bahasanya, kekhawatirannya hilang. Terlebih lagi gue ke desa-desa, yang emang relatif lebih aman. Saat trip summer ini, gue ngalamin tidur bersama 3 cowok telanjang di dorm yang mixed gender, jalan malem-malem geret koper di Roma, baru balik konser jam 1 pagi di Salerno, Firenze dan Lucca sampe naik mobil stranger di Perugia karena panas banget dan bawa koper berat.

Downnya juga banyak. Gue gampang capek setelah kebanyakan jalan dan Italia itu panasnya bukan main. Serius. Tapi gue kan jalan kaki kemana-mana dan itu menguras energi. Kadang mau explore lebih banyak tapi kepala udah pusing banget. Selain itu, gue juga masih kerja ngurus beberapa event yang waktunya bener-bener setelah Italy trip gue. So gue harus bawa laptop yang beratnya bukan main, modal begadang atau rapat online beberapa jam siang hari karena perbedaan waktu.

Oh, gue juga down tiap ga bisa buka pintu. Ini ceritanya panjang, tapi kejadian berkali-kali. Gue kaayanya gak jodoh sama pintu kayu manual. Masalah sering timbul dengan pesawat dan transportasi lainnya. Biasanya gue cari murah, tapi schedulenya jadi berantakan. Misalnya saat di Salerno, gue harus naik kereta jam 5.28 pagi dan ternyata keretanya telat sehingga gue ketinggalan bus ke Perugia. Terus pas mau ke Turin, gue pilih kereta cepat dengan niat nyaman. Eh ternyata ga ada tempat bagasi di dekat pintu gerbong, so gue harus angkat koper 18kg gue ke kompartemen diatas kursi. Gak kuat. Desperate pasang muka 'anak hilang' biar ada yang nolongin.

Biayanya gimana?

Pas winter sih gue bangga banget, kelewat murah soalnya. Tapi yang barusan...

MAHAL. Gue gak mau ngitung berapa banyak uang yang gue keluarkan untuk trip summer ini tapi MAHAL. Tetep sih Allah baik banget sama gue, semester lalu gue dianugrahi banyak job dan yes, itu buat modal gue liburan. Sebagai ilustrasi, gue menghabiskan 180 euro buat 3x apply visa Schengen (!), tiket pesawat ganti 1x dan cancel 1x, tiket bus hangus 1, b&b di Lucca harganya 80 euro semalem karena ga ada yang lain plus tiket 3 konser harganya total hampir 400 euro. Belum lagi satu godaan setan yang gak akan gue sesali: beli CD ampe 110 euro.

Gak pernah merasa sayang atau sedih sih dengan biaya, karena ini mimpi gue. Gue kerja keras juga endingnya untuk ini dan gue beneran bahagia.

Kesimpulannya, yang lo liat di Instagram atau social media gue yang lainnya memang benar. Gue bahagia dan itu bukan sekedar image. Gue juga menjalani hidup yang sangat blessed dan nyaman karena penuh jalan-jalan, itu authentic. Gue bersyukur dan meski kebahagiannya bisa terlihat 'shallow' buat orang lain, ini hidup yang gue pilih. Asumsi yang mungkin kurang tepat adalah bahwa gue bergelimang uang untuk punya kenyamanan yang dahsyat. Ya kalo uangnya sampe tumpah-tumpah sih gue gak perlu bangun pagi buat cari pesawat paling murah, atau sampe ngalamin culture shock tidur sama mas-mas telanjang itu.

Happy beneran kok!
Orang bisa punya pengalaman yang sama tapi pelajaran dan feeling yang berbeda. Buat gue, traveling tentu saja menjadi kesempatan emas buat memperkaya diri sendiri dengan lebih banyak tahu budaya lain. Not so much about foto-foto pajangan instagram, itu bonus. Kali ini, gue belajar bahwa gue harus lebih fleksibel dalam hidup dan gue juga bisa lebih santai. Yes, gue masih kebangun tiap jam 6 pagi karena gue morning person. Tapi bukan berarti gue harus terburu-buru ninggalin kamar sepagi mungkin biar bisa mengunjungi lebih banyak tempat. Saat visit suatu tempat pun, satu dua foto cukup, lebih baik belajar cerita dari tempat tersebut. Yes, gue masih merasa 'jir udah sampe sini masa gak total?'
Tapi tanya lagi, totalnya ini apa? Jumlah? Hasil foto? Atau bahagia dan pemahaman yang lebih dalam? Gue belajar untuk lebih sayang dengan diri sendiri dan mengurangi gaya barbie. Maksudnya? Berpakaian lah yang nyaman, ga perlu cantik atau representable. Gue jalan-jalan buat diri sendiri kok, bukan untuk photoshoot.

Yak siapa yang tertarik jalan-jalan bareng sehari jalan kaki minimal 6km dan siap tidur di lantai atau camping di pinggir ladang gandum?