Showing posts with label Life in Korea. Show all posts
Showing posts with label Life in Korea. Show all posts

Saturday, July 25, 2020

Impulsif Gaya Baru

Gue lagi memikirkan planning jangka pendek, jangka panjang, dan segala possibility. Stress? Engga sih, seru. Tapi karena ada banyak sekali opsi, gue jadi melakukan beberapa hal impulsif.

Kesehatan 

Berat badan gue melambung diluar batas normal sejak awal 2020. Mind you, gue memang overweight atau gendut. Batas normal berat gue biasanya dikisaran 70-74 (idealnya sih target gue selalu 68, oh well tapi sejak kuliah susah ahaha). Cuma kok dari Summer 2019, gue hampir ga pernah menyentuh 74 lagi...

Gue awalnya cuek aja, karena 2019 gue emang sibuk banget dengan cari kerja. Semua usaha, ikhtiar, doa, pikiran hanya ke cari kerja (padahal lulusnya masih Februari 2020). Sampai akhirnya gue udah settle diawal 2020, gue mulai watch out pola hidup gue. Ga terlihat ada yang salah awalnya, sampe akhirnya gue mikir "Hmmm, ayo diet."

Daftar lah gue member gym di bulan April dengan investasi super besar. Gue tuh super bodoh untuk urusan olahraga apapun kecuali berenang. Jadi gue pun cari gym fancy yang ada kolam renangnya. Harganya juga tentu fancy.... 1.1 juta won per tahun, disaat gym yang b aja harganya 300ribu pertahun -> hampir 4x lipat kan. Tapi yaudah lah, bisa berenang. Kalau daftar membership renang terpisah, lebih mahal juga, kisaran sebulan 90-100ribu.

Tapi olahraga rutin, bulan puasa dan bahkan personal trainer ga ada hasilnya. Makan gue saat ditrack pun biasa banget secara kalori/lemak, malah terbilang terlalu dikit buat orang normal. Saat ditest 3 hari ga makan gula, terigu dan nasi pun perubahaannya super minim, menandakan ada yang salah. Gue kesel, karena ini ga normal tapi gue gatau apa. Gue kenal tipe diet untuk diri gue, tapi kok sekarang sama sekali ga mempan. Akhirnya gue pun memutuskan ke Korean Traditional Medicine Clinic aka 한의원. Anggap aja kaya klinik tong fang gitu, tapi tentu versi fancy.

First step di klinik: tidur dengan bantal panas+sinar

Disana gue dapet kesimpulan bahwa residu dan side effect obat asma yang gue minum bikin body gue ga bisa burn fat dengan normal. Gue juga somehow ga bisa ngerasain lapar. Ga gitu jelas prosesnya, dokternya tusuk-tusuk tangan dan kaki gue dua menit, cek nadi gue dan dia dapet kesimpulan tipe badan gue juga menurut pembagian oriental. Gue dikasih tau kalo ga bisa diet langsung karena organ dan hormon gue harus dibenerin dulu, lalu hal-hal yang gue ga boleh makan, dan hal-hal yang baik buat gue makan. Seminggu dua kali, gue ke kliniknya untuk dicek progress dan akupuntur. Seminggu sekali, gue dikirimin ramuan (yes, legit ramuan) yang harus diminum sehari 2x. Gue suka-suka aja sih dengan si ramuan ini.

RAMUAN MAGIC - yha.

Dokter dan perawatnya semua care banget. Gue juga happy gue harus kesana sering-sering, buat cek progress dan buat konsul ma dokternya. Kalau ada perubahan atau keluhan apapun, si ramuan bakal langsung diganti. Jadi ga sia-sia kan. Setelah sebulan, lumayan ada hasil meski gak drastis.  Downside? Mahal kak, sebulan 200 ribu alias 2.4 jutaan untuk ramuannya. 1 kali akupuntur 14,900 atau 175ribuan.

Akademis

Gue ga suka belajar, seluruh dunia mungkin tau karena gue sangat terbuka dengan kebencian gue dengan pelajaran secara akademis. Gue selalu menolak S2 sebagai opsi setelah lulus S1, karena gue beneran ga suka belajar. Tapi dipikir-pikir, gue tahu gue butuh S2. Gue juga tahu opsi-opsi logis yang bisa gue ambil, ga terlalu buta soal bidang atau jurusan yang gue mau tau, gue suka dan gue bisa.

Gue ga akan S2 tahun ini ataupun tahun depan (2021). Tergantung bagaimana stories unfold, gue minatnya S2 2023 gitu deh. Dimana? Awalnya masih ga terlalu informed dan cuma punya 2-3 pilhan, tapi karena akhir-akhir ini gue punya banyak kekepoan, gue pun sudah punya beberapa negara dan universitas tujuan.

Gue pengen belajar finance. Tapi gue ga terlalu kuat di quantitative...
Gue pengen tau soal Islamic finance. Both words, Islamic dan Finance, bukan area yang gue kuasai. Cuma minat aja.

Berbekal fakta-fakta ini, gue lagi mempertimbangkan program online yang harganya lebih dari $2,000. Dua ribu dollar tuh uang yang gede, jadi meskipun gue pengen banget, gue masih galau untuk ambil atau ngga. Nah bukannya fokus dan berpikir lebih dalam soal plus minus investasi $2,000+ itu, gue malah impulsif daftar GMAT.

GMAT tuh kaya standarized test sebagai syarat masuk berbagai program Master didunia. Harganya $250 sekali test, setaun cuma boleh maksimal 5x, susah banget. Sekali ujian 3.5 jam, pake komputer, dan dengan sistem adaptif so soalnya beneran beda-beda per orang. Kalo lu keliatan bego soal pemahaman GMATnya, soal ujian lu bakal mayoritas level easy. Semakin pinter dalam menjawab, soal-soal yang keluar pun bakal makin susah levelnya. Bisa sampe level monster - kata salah satu reviewer GMAT. Karena computerized, hasilnya bisa langsung dilihat setelah test. Serem banget. Gue biasanya bego juga soal ujian kaya gini.

Gue gatau kenapa gue seimpulsif ini, gue cuma takut kalau udah balik ke Indonesia, study resources dan tempat testnya ga akan semudah di Korea. Gue daftar sebelum gue coba mock test (kaya try out gitu) GMAT dan ternyata susah banget, saudara-saudara. Yak, gue punya dua bulan untuk mulai dari 0. Let's see.

Liburan

Gue gatau apa ini efek impulsifnya lari ke kesehatan dan akademis, jadi ga mikirin liburan. Atau kebalik, karena ga bisa liburan, budgetnya semua lari ke hal-hal lain?

Yak, Alira 2020 adalah Alira yang gapunya hasrat buat eksplor. Gue bakal punya 9 hari libur di awal  Agustus, tapi gue memutuskan untuk untuk belajar aja. Mau liburan domestik juga harganya udah ga waras, efek samping semua orang Korea harus menahan hasrat keluar negeri.

Berani gagal itu baik

Liburan terakhir gue tu cuma ke provinsi sebelah buat main wakeboarding. Tapi gue bego, jadi belom berhasil dalam 1x pertemuan. Rencananya sih dalam waktu dekat, gue pengen balik lagi biar beneran bisa main hahaha. Kesel liat mas-mas lain cuma 10 menit langsung bisa berdiri diatas air. Gue sama temen gue udah 2 jam tetep gagal. Terus karena liburan domestik, budget yang dikeluarkan jadi terasa banyak, soalnya mata uangnya sama kan. Kebiasaan kalo jalan-jalan ke luar negeri, males konversi kurs biar ga merasa bersalah HAHAHA.

Gue rasa ini new normal buat gue, fokus ke hal-hal lain yang sebelumnya sama sekali ga ada diprioritas hidup gue. Let's see, who knows gue bisa melewati 2020 dengan produktif, berkat pengembangan diri yang jauh dari ekspetasi =))

Thursday, June 6, 2019

Summer 2019 - The Beginning

Masih awal bulan Juni tapi udah ngomongin summer. Berbeda dengan tahun-tahun lalu, rencana gue summer ini super clear dan intensitas travelingnya berkurang drastis. Berikut cerita gue menyambut summer 2019, berdasarkan prioritas terendah hingga tertinggi.


Kerja

Usaha tidak mengkhianati hasil, setelah scrolling RATUSAN pages lowongan kerja diwebsite sekolah, gue punya beberapa pilihan kerjaan. Ada yang perusahaannya oke banget tapi jadwalnya ga cocok, ada yang kerjaannya menarik tapi chemistrynya ga dapet, ada yang super menggoda karena dibayarin pulang ke Indonesia tapi ga dibayar...

Pertimbangannya banyak banget sebelum akhirnya gue memutuskan pekerjaan yang gue ambil: pembantu umum disebuah start-up.

Eh? Bingung? Muahaha. Gue suka tantangan dan summer ini, gue mau belajar berbagai hal yang gue ga familiar. Gue apply sebagai social media manager, tapi pengalaman gue dirasa ga mencukupi. Mereka cari native speaker English, tapi gue bukan. Apa terus gue ditolak begitu saja?

Otidak. Gue punya hal-hal lain yang menarik dan mereka sukai. Akhirnya gue pun ditawari jadi generalist dengan jadwal super flexible. Bukan flexible masuk kerja seenaknya, duduk-duduk di beanbag atau typical image startup pada umumnya. Tetep pake jam ngantor rutin, tapi mereka open untuk mengakomodasi jadwal gue dihari gue ga bisa ngantor. Semua responsif dan cukup santai. Ini deciding factor kenapa gue merasa cocok disana.

Gue jujur banget tentang rencana jangka panjang gue, kerjaan idaman gue yang harus fair dan ethical, skill, kelebihan sampe kekurangan gue. CEOnya sangat open dan menghargai jawaban gue, so semoga kerjaan gue dan startupnya bisa sukses!!!


Lomba dan jalan-jalan

Tim gue masuk sebagai finalis LG Global Challenger 2019! Lomba ini bentuknya ekspedisi keliling dunia (untuk orang Korea) dan keliling Korea (untung orang asing) selama 11 hari dengan tema yang kita pilih sendiri. 1 tim anggotanya harus 4 orang WNA semua atau orang Korea semua dari universitas yang sama, harus bisa bahasa Korea dan Inggris. Bahasa lain kaya Mandarin juga dianggap aset.

Tim yang terpilih

Super kompetitif karena lu bener-bener bebas ngajuin tema apapun dan budgetnya sangat flexible! Untuk jadi finalis, kita harus mengumpulkan proposal super panjang dan kalau lolos, diundang interview. Interview ala Korea ini ga bisa dianggep ringan ya. Orang-orang mau ngadepin juri udah kaya mau menghadap dosen penguji atau Pak CEO... Hasil akhirnya, ada 5 tim WNA yang kepilih dari gatau berapa banyak peserta (rasanya banyak banget dan keren-keren banget temanya). Fix jalan-jalannya, tapi masih ada hadiah utama cash lebih dari 35 juta rupiah, HP terbaru LG buat tiap member dan tawaran kerjaan di LG hanya untuk satu tim saja.

More on the tough process later, tapi gue kenalin dulu anggota tim gue.


Isinya Hengyan dari Malaysia, Mbak Ilen dari (ngakunya) Bekasi, sama Eunhee dari Amerika. Kita beda angkatan, tapi cuma Yan yang jurusan arsitektur. Sisanya mahasiswa Korea University Business School. Tema yang kita pilih adalah Social Entreprenurship di  Korea dari sudut pandang foreigners. Ilen adalah partner gue diskusi soal tema ini, karena dia pengen nyelametin kura-kura dan makhluk laut tanpa harus jadi charity, Yan semester ini punya projek arsitektur tentang social venture dan Eunhee adalah pendatang baru yang semangat belajar.

Kita ga terlalu picky soal latar belakang member. Banyak tim yang seleksi membernya sesuai skill, buat gue dan Ilen sih selama lu sincerely pengen belajar dan asik (aka ga princess), yuk kita gerak bareng.

Kita punya list panjang tempat-tempat yang akan kita kunjungi tapi bocorannya, kita bakal ke Seoul, Seongnam, Gwangju, Suncheon, Busan, Ulsan dan Jeju. AKHIRNYA KE JEJU YA gue udah 5 tahun keliling Korea, belum juga ke Jeju loh.

[UPDATE]
LOMBANYA NAMBAH!
Tiba-tiba gue mengikuti keinginan impulsive untuk menantang diri di 2019 SOCIAL VALUE RESEARCH COMPETITION. Team gue jadi finalis dan dapat hadiah 3 juta won. Masih ada grand prize berupa trip ke Washington atau California. Baru bakal berakhir bulan Oktober!

Haji

Haji tahun ini jatuh dimusim liburan dan sejak gue pindah ke Korea, ini udah jadi keinginan terbesar gue. Gue udah ngitung pas banget, gue gatau tahun depan gue ada dimana. Gue pengen pake kesempatan ini karena berangkat di Korea jauh lebih mudah dan nabungnya juga bisa dicapai.

Diawal tahun, gue dikabarin oleh penyelenggara haji di Korea bahwa wanita single dibawah 45 tahun harus pergi sama Mahramnya tapi gue ga bisa, gue kan belum nikah dan ortu gue ga ada di Korea. Kalo dari Indonesia, gue harus antri dong...

Gue udah terima keputusan ini, sibuk cari rencana baru dengan scroll ratusan pages lowongan kerja diportal sekolah itu. Tapi puji Tuhan, dibulan April peraturannya diganti. Wanita diatas 20 tahun boleh berangkat sendiri. Bersyukur banget, niat dan mimpi gue dimudahkan. Gue langsung transfer biar ga kehilangan kesempatan lagi. Gue menolak semua kerjaan yang ga bisa akomodir jadwal haji gue. Haji adalah prioritas gue summer ini. Atau mungkin ditahun 2019 ini. Doakan aja semua lancar ya.



Terima kasih semuanya, tahun 2019 gue sejauh ini penuh berkah.  Selamat liburan semuanya!

Sunday, March 17, 2019

Kerja ala Korea VS ala Indonesia

Berhubung lagi sibuk menimbang kerja di Korea VS di Indonesia berdasarkan pengalaman gue mencari berlian disana-sini, gue jadi kepikiran soal kultur kerja didua negara yang super beda. Mana sih yang lebih baik? Mana yang bikin lebih betah?

Perlu diingat, ini berdasarkan pengalaman sempit gue. Super sempit, namanya juga semua kerja short-term ga pernah long-term. Indonesia disini juga maksudnya institusi Indonesia di Korea ya! Gue pernah kerja di perusahaan dan di institusi pemerintahan. Untuk Korea, gue pernah nyobain berbagai industri dari inovasi ala startup, sales tradisional, kerja asistensi sampe kerja dikantor besar yang formal.

Jam Kerja

Indonesia 
raja banget urusan fleksibilitas tanpa batas. Datang telat, pulang lebih telat lagi. Jadi sebenernya jam kerja jauh lebih panjang daripada yang seharusnya. Cuma karena bossnya pake prinsip "Selooooow", lu ga bisa berkata apa-apa dan jarang ngeluh juga.

Wisdom #1 dari mantan boss gue yang ga akan pernah gue lupain, "Kalo ngantor tuh jangan cepet-cepet datengnya."
Awalnya gue geli dan kesel, akhirnya gue paham, datang tepat waktu suka bikin sedih dan kesel sendiri karena si boss suka masih di rumah dan gue harus tunggu di stasiun.

Sisi baiknya, welfare terjaga baik karena makan siang dan makan malam banyak traktiran. Belum jam makan siang, udah disuruh mikirin mau makan malam apa. Meski "imbasnya" harus rela gatau pulang jam berapa.

Korea
Ga sefleksibel Indonesia, tapi gue cuma pernah kerja dikantor-kantor yang anti lembur. Semua orang panik lari kalo telat dateng, disaat gue jalan santai. Gue kan mikirnya, ah 5 menit maksimal kenapa sih? Tapi disini super ga enak hati kalo telat. Urusan lembur, gue gak pernah lembur diinstitusi Korea. Paling telat pulang 1 jam setelah jam seharusnya. Itupun boss gue udah ngingetin, "Besok aja dikerjainnya Alira. Gapapa kok."

Semua orang disiplin tanpa ada yang mengingatkan. Kadang gue guilty mau keluar buat cari snack atau power nap.

Pakaian

Indonesia
Super formal dan gue harus bawa handbag ala tante-tante. Ini peraturan tidak tertulis sih, tapi kerasa banget pakaian lu bakal dijudge A-Z. Gue sendiri baru punya baju kerja Summer 2017 saat magang di bank. Celana selalu formal, atasan pake blouse-blouse. Kalo dipemerintahan, gue pake batik aneh-aneh lucu-lucu ga ada yang komentar. 

Contoh pakaian gue di kantor Indo 
Tapi uniknya, yang penting baju aja. Sandal super bebas, kalo dikantor, sandal jepit juga ga masalah. Bawahan pendek-pendek juga ga ada yang komentar. Anehnya, baju gue diatas kena komentar, "Kamu intern tapi seksi ya!" dari salah satu kolega orang Korea...

The Indonesian way: Batik

I was an outcast once without batik....
Intinya, play safe, pake batik aja.

Korea
Kelewat formal vs kelewat santai.
Beda industri beda aturan. Di sales, bebas sopan. Jadi jatuhnya semi-formal. Gue juga pernah kerja diindustri inovasi, pakaiannya 100% bebas mau pake kaos celana pendek atau ga mandi juga gapapa. Kalo gue dikasih kebebasan, gue akan cenderung pake dress.

Summer 2018, gue seneng banget tiap hari mandi terus cuma asal tarik baju.

Beda industri beda baju
Setelah kerja disana, gue pulang dan ketemu temen-temen gue setelah pulang kerja di Jakarta. Foto diatas adalah contoh nyata perbedaannya. Dari kiri ke kanan: Mbak Startup Unicorn, Mbak Kantor Swasta, gue (saat itu anak industri inovasi Korea), Mbak Pegawai Bank.

Perubahan drastis terjadi saat gue masuk kantor tradisional Korea. Semua laki-laki pake jas. Bukannya salah fokus karena kerasa ganteng, rasanya super intimidating, karena kan Pak Dirut di Indonesia aja jarang pake jas. Kemeja cukup. Baru kerasa culture shock dan gue sempet bingung harus pake baju semacam apa. SOS Call ke nyokap gue dan doi terlalu serius, gue dikasih berbagai blazer.

Minggu pertama, gue pake kemeja blus berbagai jenis, kadang pake blazer kadang ngga. Minggu berikutnya, gue udah mulai santai dikit pake dress dan blazer. Ternyata wanita lumayan santai, banyak yang cuma pake turtle neck aja dan itu udah acceptable?
Satu hal yang ga lazim: gue jarang liat orang pake rok panjang. Selain celana, either pake dress pendek atau rok pendek. Padahal gue kerja disana saat musim dingin.

Makan Siang dan Istirahat

Indonesia
Semua kantor by rule sih 1 jam. Kalo Jumat boleh 2 jam. Tapi realitanya, ga terhitung coffee time di pemerintahan. Bahkan ke mall adalah bagian dari tugas gue. Untuk menu makanan juga cenderung ga terbatas, karena mantan boss gue suka aja ngajak jalan ke tempat-tempat jauh. Mau baliknya telat 1 jam, lah dia bossnya...

Gue suka atmosfir istirahat yang santai. Bisa ngomongin A-Z, beres makan bisa guling-guling, tidur siang... Semua bebas. Temen kantor kerasa temen beneran. Selain itu, boss juga ga ada jarak sama bawahannya kerasa saat makan siang.

Korea
Semua kantor Korea gue disiplin soal waktu. Cuma awkwardnya adalah meeting dan percakapan kerja kerap terjadi saat makan siang. Gue ga terlalu nyaman dengan atmosfir kakunya, seperti makan siang dimana ikut selera boss dan percakapan cenderung dipaksakan.

Gue pernah bete banget saat team gue beres makan super cepat, dan kemudian bye. Semua kembali ke kesibukan masing-masing, ga ada acara ngobrol-ngobrol santai. Semuanya business relationship. Beda kantor beda atmosfir, tapi semua seakan paham "Kita disini kan sementara sebelum keluar atau kena reshuffle."

Style Kerja

Indonesia
Gue belum pernah nemu kantor yang... Kerja serius. Semua kerja santai dan semua kecepatannya... Jauh dibawah kecepatan kerja gue. Boss sangat santai dan bisa diajak diskusi bebas. Seringnya udah tau maunya apa, tapi masih terbuka sama saran. Kekeluargaan, bisa mengerti halangan a b c d tak terduga yang mungkin muncul. Ga ada hirarki. Semua pak bu, bukan pak jenderal, bu direktur.

Bikin jadwal cenderung lebih jauh-jauh hari karena di Korea semua serba mendadak. Teguran biasanya disampaikan langsung dengan sopan atau sindiran kecil. Ada feedback. Harus banyak sabar dengan berbagai formalitas (acara yang kadang suka ga penting, tapi ga bisa nolak karena kekeluargaan atau tradisi) dan ketika eksekusi berbeda sama planning, karena jawaban masalah sering kali "Oh yah yaudah santai aja." atau "Ya gimana dong ya..."

Korea
Serius, mau industri 'santai'pun super serius. Hirarki dimana-mana. Kecepatan kerja jauh lebih masuk buat gue yang sukanya cepet-cepet. Kerjaan selalu mendadak. Boss kadang gatau maunya apa, atau ga jujur jadi diajak muter-muter. Ga kekeluargaan, jadi strictly business relationship yang bikin kerjaan cepet beres tapi susah mengerti orang lain. Bawahan juga ga bisa jujur ke atasan, bukan karena segan, tapi lebih kearah takut karena sabda boss ga bisa dibantah.

Komunikasi suka... Satu arah. Beda didepan dan dibelakang karena muter-muter mengutamakan "Tidak menyinggung perasaan boss"
Kalau ada masalah, problem-solving cepat atau pake jurus sumbu pendek. Hampir ga ada feedback, semua selalu "Oh you did a great job" tapi dibelakang ngomongin.


Hubungan Kerja

Indonesia
Terbaik. Semua jadi temen. Mantan boss gue hobi telpon gue dan kita bisa diskusi dua arah. Kita bisa main ke rumah temen kantor atau main bersama temen kantor tanpa mikir kepanjangan. Kekeluargaan, kalau sakit ya jenguk. Ada duka, melayat.

Semua orang kenal semua. 1 gedung kenal semua meski ga pernah kerja bareng. Kerja banyakan ngobrol daripada gerak. Sering bercanda. Kalau kasarnya sih, mending lembur tapi hati tenang karena kerja santai daripada kerja kaya robot tapi ga punya temen. Betenya hubungan banyak "ga enakan"

Korea
Kaku. Semua formalitas, temen kantor bukan temen hidup. Yang terparah, ada disatu ruangan pun bisa ga kenal kalo ga perlu kenal. Harus hati-hati kalau terlalu dekat............

Kalau sakit atau kenapa-kenapa, yaudah. Titik. Gue tunggu di kantor pas udah sembuh, jangan bawa virus ke kantor. Gue rasa mereka juga ga dateng ke wedding satu sama lain, atau yang jelas sih kalau sanak saudara meninggal, ga melayat. Ga kenal "ga enak" karena semua didasari profesionalitas.

Komunikasi

Indonesia
Asal sopan, semua media bisa diterima. Mau jadi friend facebook, instagram... Normal.
Kirim email tapi dibalesnya verbal? Yaudah. Keluar dari tempat kerja pun silaturahmi terjalan via sosial media. Kadang telpon tanya apa kabar juga ga masalah, nyokap gue bahkan bisa dateng ke rumah bawahannya pas pulang kampung karena "searah".

Orang Indonesia masih berdasar "semua teman, semua saudara", sebenernya oke aja sih. Downsidenya: SEMUA SALING KEPO. Semua jadi bahan gosip, banyak yang bikin grup chatting kecil cuma buat ngomongin orang. Kadang dari yang jabatannya sama, tapi bisa juga ga kenal hirarki, senior dan boss ikutan asal ada common enemy alias musuh yang sama.

Korea
Semua sistematik, meski tekanan dari boss tetep ga kenal waktu. Soal ekstensi komunikasi di jalur informal, tergantung lu siapa. Kalo jabatan masih kacung sih, jangan harap bisa nyantai-nyantai. Lu diharapkan sempurna, biasanya lu juga memilih buat menutup sosmed dari orang-orang kantor. Kalaupun dibuka, pasti ga ada unsur hal pribadi disana. Dah difilter.

Ga kepo, idup lu idup lu, idup gue idup gue. Selama hasil kerja lu masih memenuhi ekspetasi dan perangai lu masuk ke "standar yang seharusnya", ga ada alasan buat terlalu kepo sampe buka-buka semua channel sosmed. Pengecualian buat yang kelakuannya diluar standar, tentu mengundang orang buat kepo ini orang siapa dan kenapa sih. Tapi ga terlalu secretive juga, endingnya diomongin depan muka (tapi kalo soal performa kerjaan, kenapa ga diomongin depan muka juga sih??)

terakhir:

Gaji

Indonesia
Sumber daya manusia yang melimpah membuat gaji terasa tidak berimbang dengan beban hidup di ibukota. Itu sih yang gue denger ya. Gue sendiri ga pernah kerja di Indonesia jadi ga terlalu tau. 3 tempat kerja Indonesia gue membayar gue dengan cukup. Pemerintahan jauh lebih murah hati daripada swasta soal benefit. Gue kerja freelance (bukan magang ya!) untuk bidang kantoran alias beres-beres dokumen atau bantu event perhari dibayar minimum 100 ribu won atau 1.2 juta perhari, ini diatas UMR Korea. Makan biasanya bebas, pilih sendiri. Kalau lagi dibidang jasa, tips juga sangat besar.

Tapi kalo jadi pegawai tetap atau pegawai magang, emang jauh lebih kecil daripada kerja freelance gitu.

Korea
Aturannya jelas, jadi gaji minimum pun ga akan sekecil itu. Belum lagi, gue terbiasa hidup dengan uang beasiswa 900 ribu won (11 jutaan) perbulan. So ketika gue dapet gaji minimum yang besarnya dua kali lipat dari beasiswa gue, harusnya gue ga komplain kan?

Oh no no. Gue bisa lebih demanding dan minta diangka setara 30 juta rupiah dan itu masih terbilang kecil. Kok bisa? Soalnya sumber daya manusia sangat dihargai disini. Aturan perlindungan ketenaga kerjaannya banyak juga. Makanya susah cari kerja. Susah karena saingannya juga berkualitas, dan pelaku bisnis mikirin banget porsi upah yang besar dineraca. Anyway, tawar menawar gaji ga ada di perusahaan besar. Sudah ada standarnya. Kalo perusahaan kecil, baru ditanya "Maunya berapa?"

Karakter negara maju: jadi pegawai tetap lebih sejahtera daripada pegawai panggilan (freelance). Kalo kerja freelance, seringnya dibayar UMR. Kebalik kan dengan pengalaman gue diinstitusi Indonesia.

Sekian pengamatan gue. Beda banget kan budaya kerjanya, semua ada plus minusnya. Jadi masih bingung, mau coba kerja seperti apa berikutnya?

Sunday, November 11, 2018

Nonton Konser #7: BLACKPINK IN YOUR AREA

Setelah setaun lebih ga ngereview konser, akhirnya gue menemukan semangat untuk review lagi. Padahal diantara 2PM 6 Nights sampe sekarang, gue udah melewati banyak konser seperti Tiziano Ferro - Il Mestiere Della Vita di Salerno dan Firenze, Il Volo di Lucca dan Kawasaki, TVXQ Concert Circle Welcome di Seoul, JJ Lin - Sanctuary di Singapura, Eric Chou - Twenty Two Plus di Malaysia dan MAYDAY Live in Seoul.

Sebelum lu melanjutkan baca, mungkin bisa baca referensi review Bigbang gue tahun 2015 karena konser BLACKPINK IN YOUR AREA in Seoul Day 1 ini mengingatkan gue dengan pengalaman pertama gue. Satu perusahaan, style mirip, dan sama-sama hari pembukaan konser.

VERDICT:  sebelom lu nyesel beli full-priced ticket mending lu liatin dulu performance ‘pemanasan’nya di event Shopee. Baca deh artikel Allkpop soal Blackpink Concert, intinya ini konser rada aneh.

BELI TIKET

Kali ini gue ga beli. Setelah berbagai jenis rintangan gue hadapi buat beli tiket, sekarang gue bisa tenang karena gue dapet tiket undangan (Bahasa Koreanya 초대권) dari kerjaan gue. Ternyata kalo lu dapet tiket undangan itu sistemnya random allocation, alias tiket yang lu dapet ga ada nomornya. Lu baru bisa tau nomornya dihari H saat lu ke booth penukaran, dan untuk Auction sendiri semua udah diprint. Si mbak petugas kasih asal aja ke gue.

Ini beda sama sistem JYP/2PM yang lu bisa dateng ke booth bilang "Gue diundang si xxx"
Gue ga pernah nyoba sih, cuma liat di Facebook salah satu membernya aja.

Harga tiket asli 110,000 won alias sekitar 1.5 juta mau duduk dimanapun. Sampe hari H, tiket ga abis kok, jadi lu bisa beli dengan leluasa di venue.


SEATING




Gue dapet di section 35 row 13. Ga masalah karena venuenya di Olympic Park, yang mana lu duduk paling belakang pun tetep keliatan dengan jelas, karena seating cenderung landai dan melebar. Ga ada standing dikonser kali ini, adanya numbered seating di floor.

Setelah gue liat-liat dihistory konser gue, ternyata section 35 adalah pencapaian terbaik karena TVXQ dan Shinee gue dapetnya di Section 39. Yang menarik, section gue dipenuhi undangan YG dan gue duduk dibelakang (tampaknya) gerombolan trainee muda mereka.

CONCERT GEAR


Cuma ada slogan. Ini super weird karena slogan didistribusikan di luar venue (bukan di kursi, seperti artis lainnya) dan ga ada Bahasa Inggrisnya, cuma pure Korean. Ini juga keluhan banyak Blinks International yang gue temui di venue. Sampe akhir, gue gatau itu slogan dipakenya kapan soalnya sama sekali ga coordinated.

Gue ampe mikir, ini fandom emang ga koordinasi sama promotor apa gimana?

ANTRIAN

Sangat teratur dan lebih panjang antrian beli merchandise daripada masuk venue. Yak, harus gue akui merchandise dan brand Blackpink memang keren. Tapi ada satu hal yang aneh, TERLALU BANYAK booth komersial disini. Ada moonshot lah, jualan album juga.

Super leluasa buat masuk venue karena ga ada bag checking sama sekali.


JAM MULAI DAN DURASI

Gue expect telat karena Bigbang aja telat 35 menit. Kemarin mayan sih, jam 18.16 udah mulai, harusnya jam 18.00

Durasi 2.5 jam kurang, lebih dari ekspetasi gue yang mikir "Blackpink mau ngapain ya dua jam?"


PANGGUNG



Panggungnya keren banget dan jauh lebih wah dari Bigbang 2015 yang gue tonton. Stage utama punya settingan level yang dipake beberapa kali dan di stage extension ada flying platformnya gitu yang bisa gerak horizontal dari section 2/3 ke section 13/14. Apa sih nama resminya...

Detil tambahan kaya chandelier dan live band di akhir-akhirnya keren. Lightingnya juga bagus dan mendukung. Gue suka banget deh.

ini kenapa ga sering-sering dipake

Tapi sayangnya, mereka cuma pake si platform melayangnya 1 kali. Hadu sayang biaya produksinya. Satu kritik lagi soal angle kamera ke monitor di kanan kiri panggung yang terlalu cepat berganti atau gagal fokus. Masa nyanyi berempat terus dizoom berdua - bagian yang ga nyanyi? Liat monitor terkadang ga membantu karena si sudut yang diambil kebanyakan ga pas dengan fokus performancenya.

AKSI PANGGUNG

Mereka 100% live dan gue kaget. Gatau kenapa, gue ga expect bisa denger total live performance. Kebiasaan dikonser KPop lain, kalo opening suka lipsync. Makanya gue ampe bilang di Instagram "Opening rasa Encore", karena dariawal udah natural dan setlistnya langsung panas.

Untuk dance, BLACKPINK bagus banget dan Lisa beneran super talented. Tapi untuk vokal, masih banyak miss disana sini, terutama  Jisoo. Jennie powerful sih vokalnya.

Cuma gue harus komentar soal audio yang jelek banget. Banyak banget waktu-waktu dimana volume mic jauh lebih besar daripada musik dan suara membernya pecah. Iini super noticeable terutama di bagian Jisoo solo. Gue harus meringis beberapa kali saking kagetnya sama vokal yang meleber kemana-mana.

Oh iya gue gatau harus masukin ini ke kategori mana, gue suka banget hairstyle Lisa yang bisa ganti-ganti dalam waktu singkat Great job, Stylist Eonnie!

PILIHAN LAGU DAN VCR


Setlist dari Blackvelvet US

Lagu BLACKPINK ada berapa sih... Dikit. Jadi udah pasti ada yang diulang. Nah dari sini gue bisa deduce khas YG -> Lagu terhits akan dipake buat opening dan encore. Dalam case BLACKPINK, tentu Ddu Du Ddu Du yang dimaksud. Selain itu, lagu baru yang belum rilis akan ditampilin dulu MVnya, langsung dilanjut performancenya. Kali ini, penonton jadi yang pertama kali denger Solo-nya Jennie.

Berhubung yang punya lagu solo baru Jennie, member lain muncul dengan coveran lagu-lagu terkenal. Jisoo dengan Clarity, Lisa dengan dance performance, Rose dengan mash-up beriringan piano lagu Let It Be, You and I (Park Bom) dan Only Look At Me (Taeyang).

Ada Seungri yang muncul sebagai guest setelah Solo by Jennie. Seungri adalah highlight of the night karena doi powerful banget nyanyiin Bang Bang Bang, Fantastic Baby, Where Are You From dan 1, 2, 3! Bagus dan tentunya menghibur gue TAPI yes, dia overshadow BLACKPINK. Rasanya kaya nonton EXO terus tamunya BTS (ga mungkin sih, cuma perumpamaan aja). Kalo dulu gue bingung "Ini konser GD solo apa Bigbang?" tadi malem gue bingung "Ini yang hadir Blinks apa VIP?"

Tapi the rest, gue harus tepuk tangan karena mereka gak terlalu repetitive. Setlistnya cukup baik.

Soal VCR, cuma ada dikit. Yang pertama bertema escape room dengan very poor acting tapi untung Seungri lumayan lucu, terus yang kedua bertema balapan gitu gue ga gitu paham maksudnya. Konsepnya cukup random gue jadi bingung sendiri?

INTERAKSI DENGAN PENONTON

Haduh ini minim dan scripted sekali aing kesel. Harus dimaklumi, konser pertama. Cuma kalo begini jadi inget Bigbang lagi.


SUASANA DAN PENONTON

Pink Ocean sesaat sebelum konser mulai

Suasananya menurut gue sih tipikal. Ga terlalu high banget, tapi ga bisa dibilang sepi juga. TAPI INGAT, mungkin ini karena gue duduk dikalangan undangan YG yang terdiri dari bapak-ibu tua yang tampak tidak minat, gerombolan trainee yang kaya orang Korut nonton konser alias ga terlalu hype sama banyak pegawai.

Penontonnya sih oke lah. Section gue ga gitu banyak yang bawa lightstick juga. Demografinya yang gue cukup salut, karena ada banyaaaaaaak banget international fans dari berbagai belahan dunia. Selain itu juga banyak fanboy. Dua hal ini gue ga bisa dapetin di konser Kpop lain, mainly karena gue nontonnya boyband dan tiketnya susah didapat jadi international fans susah saingannya.

Hal yang aneh adalah BEBAS recording, foto-foto, keluarin HP. Super bebas. Gue udah keluar masuk berbagai konser di Korea, baru BLACKPINK ini konser skala gede yang sebebas itu ngeluarin HP. 6 Nights juga ga ketat, tapi seinget gue ga kaya gini juga. Ini terjadi disemua section, bahkan difloor. Padahal biasanya Korea paling strict soal dokumentasi, lah malem kemaren mah ngeLIVE instagram juga bisa hmmmm.

Gue sebagai fans Kpop sih seneng-seneng aja, soalnya gue juga sempet 'concert-deprived' banget dan gue install Mixlr - aplikasi streaming suara yang banyak digunakan fans Kpop buat konser. La semalem streaming video juga bisa.

OVERALL

Ada banyak keanehan. Misteri terbesarnya adalah projek slogan (hand-banner), soal boleh recording dan IKLAN SPONSOR. Haduh sepanjang gue nonton konser Kpop, baru sekarang ada yang bikin 'Sponsor Time' khusus buat lebih dari 3 sponsor. Yang gue inget ada BC Card, Adidas, Vibe sama Guess.

Mungkin I've never been to a very commercial Kpop concert, biasanya special thank you time itu buat agensinya, membernya, dancernya. Awkward banget tiba-tiba acknowledge sponsor ditengah-tengah acara, dengan line yang super cringey.

Overall, gue appreciate konser pertama dalam dua tahun yang 'wah'. Gue suka panggungnya dan berterimakasih banget setlistnya ga repetitive, karena gue gak akan pernah lupa betapa marahnya gue denger lagu yang sama berkali-kali dalam satu konser. Menurut gue, mereka ga salah pilih venue di Olympic Park (banyak yang mikir itu terlalu besar). Karena kalo venuenya lebih kecil, bakal lebih gede beban buat emphasize divokal, padahal kekuatan BLACKPINK itu performance. Tapi mungkin sectionnya dipersempit, gausah buka terlalu lebar/banyak. Gue sih berharap harga tiket ga perlu regular price 110 ribu, karena biasanya konser pertama mulainya ga segitu. Apalagi ini sponsornya udah bejibun banyak bener.

100% Live juga sesuatu yang perlu dihargai, karena biasanya gue amused sama power dan stage presence boyband tapi mereka ga 100% live. Next concert mungkin bisa dikurangin persentase scriptnya, naikin lagi stage presencenya.

Terimakasih undangannya YG dan Shopee, ku sangat puas bisa nonton konser YG lagi setelah 3 tahun.

Sunday, November 4, 2018

Late Birthday Party

Mid Oktober 2018

Ulang tahun gue sudah 23 hari berlalu tapi karena gue kelamaan di Italia, gue baru bisa ngerayain sama temen-temen di Korea tanggal 14 Oktober kemarin. Gue sempet tulis disini bahwa gue diselamatkan dari patah hati karena tanggal 21 September temen-temen gue yang di Korea lagi liburan sendiri. Ini adalah ulang tahun keempat gue di Korea dan ketiga kalinya sejak masuk kuliah. Biasanya kita memang makan-makan bareng, dan kali inipun maunya makan bareng. Tapi beda dengan tahun-tahun sebelumnya, gue sekarang tinggal di rumah, jadi gue bisa bawa banyak orang masuk ketimbang harus ke restoran.

Terencanalah makan bareng bersama muka-muka lama, Ilen, Bondan, Bunga, Kya setelah gue pulang kerja, gatau jam berapa karena kerjaan gue selesainya ga tentu. Tampaknya Tuhan merestui, kebetulan banget gue pulang cepet hari itu. jam 7.30an malam udah di rumah.

Dengan penuh kehati-hatian gue buka pintu rumah karena takut dikagetin. Ternyata kurcaci-kurcacinya belum di rumah. Padahal biasanya mereka suka nyampe duluan, serasa rumah sendiri aja, karena semua temen gue tau password rumah gue. Gue tanya Ilen mau dateng kapan, katanya sih masih lama. Good karena gue ngantuk banget, dan akhirnya gue pun tidur setelah memesan ayam.

Ga berapa lama gue denger suara orang buka pintu rumah, tapi gue ga tergerak untuk bangun. Bunga akhirnya bangunin gue di kamar dan pertanyaan pertama gue adalah, "Si anjing (re: Bondan) mana?"

Gue pun bergerak dari kasur dan keluar kamar. Ternyata semua kurcaci sudah ada di rumah dengan cake yang gue suka!


Gue nangis bukan karena terharu, tapi karena baru bangun tidur dan mata gue masih perih banget. Tapi yang penting timingnya pas kan, guys!

album musikal Park Hyoshin

Terimakasih untuk kreativitas dan usahanya!!!
Bungkus kadonya dari muka mereka sendiri dan gue ketawa banget karena ekspresinya ga ada yang nyantai.

Gue super appreciate pengorbanan seluruh teman-teman gue untuk beli album Park Hyoshin seharga 22 ribu di Blue Square Hall. Album ini cuma bisa didapatkan secara offline dengan mengantri di venue musikal si Om Hyoshin pada jam tertentu. Ga sampe disitu, temen-temen gue juga masih ngide buat ngedapetin tanda tangannya Park Hyoshin dengan ngide nungguin dia beres musikal. Nah, beresnya itu lebih dari 2 jam kak. Lagu dialbumnya juga sebenernya cuma 4.

Semakin tua, emang harus semakin dikurangi komunikasi pake kode. Gue explicitly minta ke Ilen buat beliin case HP dan album Park Hyoshin. Doi adalah temen paling bisa diandalkan untuk urusan segala hal yang touchy-feely dan yes, I got all my requests!




Terima kasih Ilen, Bondan dan Kety yang selalu ada sejak kuliah tahun pertama. Kya yang masuk dihidup gue tahun lalu terus langsung jadi good mate dan kemudian amazingly jadi housemate. Lalu Satya yang terus-terusan gue tanyain, "Lu kenapa disini dah? Lu gimana bisa jadi geng ini dah?" tapi gue appreciate lu mayan menghibur kok.

It was a super memorable birthday celebration with these peeps. Gue beyond blessed ditahun 2018 ini, semoga kita semua diberikan lebih banyak kebahagiaan dan cinta ditahun 2019 saat mempersiapkan karir masing-masing ya!

Love,
Alira

Sunday, May 27, 2018

Kaya Raya = Hidup Senang?

Semester ini, kesibukan gue emang banyaknya kerja dan kerja. Terus gue sempat berpikir, gue bisa mendapatkan uang dengan 'relatif' mudah. Perbandingan kasarnya, bayaran gue kerja 5 hari disini sebagai tour guide kira-kira sama dengan gaji fresh graduate di Indonesia satu bulan. Kalo interpreter, cukup 2 hari aja bahkan.

Pertanyaannya: uang banyak terus happy banget dong?

Hmmm, ngga juga sih. Gue hidup cukup dan nyaman. Pastinya gue sangat senang dan bersyukur. Tapi bukan berarti terus life concern gue berakhir disitu. Kalian tau gak betapa gue nangis darah tiap masuk kelas Investments...? Susahnya cari internship? Atau betapa gue mengeluh saat harus bersih-bersih rumah sendiri? Hahaha ini sepele banget tapi maksud gue adalah: ada banyak hal-hal kecil dan besar yang masih harus gue pikirkan, meski concern gue terhadap uang sudah terangkat.

kalo yang ini, barbie harus mengeluh
Gue selalu berusaha jujur dengan hidup yang gue jalani, begitu juga dengan hidup yang kalian liat di blog atau Instagram. Gue paham, apa yang gue tampilkan membuat asumsi bahwa hidup gue kebanyakan selalu senang, bergelimang harta dan selalu lucky karena di Korea, KGSP pula lalala. Ga salah, karena gue juga bukan tipe yang mengeluh (kecuali soal kelas investments...).
Nah, behind the scenesnya gimana? Berapa orang yang mikir sampe sana?

Balik ke ngomongin uang. Gue pernah hidup ga punya uang karena ortu gue segitu gamau ngasihnya. Apa terus gue salahin mereka? Ya ngga perlu juga, gue punya jalan lain buat jualan di sekolah. Temen-temen gue dari SD-SMA tau betapa businesswoman-nya gue, jualan A-Z semua ada, semua bisa dijual sama Alira. Tapi ga banyak yang tau kan, bahwa motivasi awal jualan itu adalah karena gue ga punya uang, meski gue ke sekolah dianter pake mobil? :)

Ngomongin soal mobil, temen-temen gue tau bahwa yes, gue punya supir yang nganterin ke sekolah. Tapi yes, gue juga hapal rute angkot, kereta dan trayek TransJakarta dan mereka selalu dateng ke gue untuk tanya rute. Kenapa? Soalnya supirnya bukan punya gue, gue juga cuma 'nebeng' adek sendiri dan gue lebih sering naik transportasi umum. Belom jamannya gojek, gocar dsb. Ga punya uang juga buat naik taksi. Akhirnya kebiasaan ini sering jadi bahan berantem sama nyokap kalo gue balik ke Indonesia, soalnya nyokap sering suruh "Naik taksi aja sih kak! Atau mau dianterin sama supir aja?" padahal supirnya posisi di Jakarta, gue di Bogor. Lah ngapain bolak-balik, gue juga pecinta bus.

Interupsi: gue pernah tulis soal liburan domestik vs luar negeri disini. Sampe sekarang nyokap masih nganggep gue korban westernisasi dan gak punya jiwa nasionalisme karena gue selalu liburan ke luar negeri. Padahal sesepele diluar negeri gue bisa backpacker dan mandiri, di Indo gue harus sewa mobil dsb. Gue juga nyobain ke Derawan dan damn! Masnya juga bilang, lo ga mungkin trip sendirian kesana. Berdua aja sepi. YA ITU DIA MAKKK, KENAPA MAK GA PAHAAAAAM.

Nyokap gue ngajarin bahwa ketika lu punya uang, upgrade gaya hidup itu super gampang, tapi downgrade itu super susah. Gengsi manusia ga bisa diboongin. Jadi itulah fenomena manusia yang bergaya diatas kemampuannya, karena mereka memilih untuk mengikuti keinginan tampil glamor. Sama juga dengan temen-temen yang mungkin dilahirkan dikeluarga mampu, tapi ga banyak gaya. Karena faktanya, lo bisa kok memilih jalan hidup sendiri.

Oh adalagi. Kalian tau gak gue missing out banyak hal di Indonesia dan di lingkungan gue sendiri? Misalnya, beberapa waktu lalu keluarga gue pergi umrah. Gue baru pernah umrah tahun 2012, yes alhamdulillah pernah. Meanwhile buat adek gue, ini yang ketiga kalinya. Gue ga bisa ikut yang kedua dan ketiga kalinya karena gue ada di Korea dan literally, punya dunia sendiri.

Jangan lupa, gue punya pilihan. Gue gak pernah disuruh ke Korea kok. Gue berkali-kali disuruh balik dan bahkan juga ditawarin masuk universitas idaman gue. Gue juga gak pernah disuruh kerja. Gue yakin kalo uang KGSP gue gak cukup, gue bisa bilang sama ortu gue dan gue kemungkinan akan mendengar dua respon:
-Tuhkan hidup di Korea ga enak. Kalo ga mampu, ya pulang aja.
-Berapa kurangnya? Mau Ibu kirimin?

ga ada yang suruh juga hidup fangirling, tapi aku pilih TVXQ

Tapi realitanya adalah: gue pilih ke Korea karena berbagai alasan (termasuk bitter ga dibolehin masuk univ idaman karena katanya 'kemahalan dan orang tua ga mampu bayar') dan gue pilih kerja karena gue suka dengan kerjaannya, jadwal gue kosong plus gue mau jalan-jalan. Kalo udah gini, masih mau cari pembenaran atau menyalahkan keadaan? :)

Semua pilihan itu ada konsekuensinya. Aing sekarang bahagia bener tinggal di rumah sendiri, tapi tahukah kaliah buang sampah sesuai kategori itu tidak mudah, begitu juga dengan membersihkan kamar mandi sendiri karena biasanya di dorm ada yang bersihin... HAHAHA

Intinya: ketika hidup menjadi susah, jangan pernah melihat dari satu sisi. Yang ada masalah lu ga kelar-kelar. Sedih lu berlarut-larut.

Pesan yang ingin gue sampaikan adalah: be real. Jangan suka berasumsi. Perluas perspektif juga.
Gue juga masih belajar untuk ga berasumsi dan menghakimi orang lain sebelum tau kisah aslinya. Susah, karena lebih enak menebak-nebak sendiri daripada mendengarkan. Cuma ketika lo jadi korban asumsi, disitu rasanya lo paham kenapa asumsi itu jahat.

Berhubung sekarang bulan Ramadhan, sempatkan juga berdonasi ya. Hidup sudah mudah, donasi online juga banyak. Buka-buka deh campaign menarik di kitabisa, atau yak banyak sedekah di sekitar rumah. Tebar dulu kebaikan, jangan maunya 'panen' harta dulu baru bisa berbuat baik.

Sunday, April 29, 2018

Social Network, Bukan tentang Sosmed

Gue baru sadar ternyata gue belom pernah share soal kelas-kelas menarik di KUBS. Padahal KUBS variatif banget mata kuliahnya. Nah mari kita bahas kelas yang membuat gue bahagia dan terbangun selama satu semester penuh. Kelas ini berjudul Social Network and Competitive Advantage. Boleh diliat silabusnya disini.

Gue lupa kenapa gue ambil kelas ini, cuma yang jelas gue merasa seru aja ngomongin Social Network meski gue gatau itu apa. Gue baca review, cuma dibilang "jangan salah paham sama sosmed, ini kelas kaga ngomongin sosial media!"

Kelas ini berkesan buat gue karena faktor pertama: gue merasa bisa menyuarakan pendapat gue secara bebas ditopik yang menarik buat gue. Curiositynya pure dari hati, bukan dari ngejar nilai partisipasi. Selain itu, tiap sesi memang selalu ada waktu buat diskusi dengan grup kecil. Nah disini gue merasa value cari teman di kelas bener-bener kerasa. Soalnya di kelas lain, lo cuma dateng, duduk, dengerin, pulang. Kalo ada group project, pasrah aja sama gurunya. So bener-bener minim waktu buat interaksi sama temen sekelas.

Faktor kedua, gue kerja dengan teman yang gue cintai dan beneran seide. So sepanjang satu semester, kita bisa diskusi ga wajib buat kelas ini sampe jam 1-2 malem. Semua kerjaan juga terasa ringan dan membahagiakan. Bonusnya kita berdua dapet A+ dan skor akhir gw bahkan 97.8% alias suatu kemustahilan hal itu bisa terjadi di kelas investments atau finance yang sekarang sedang gue ambil HAHAHA.

Anyway! Jadi kelasnya tentang apa sih?


Ngitung value network alias kenalan atau temen-temen lu. No kidding, lu diminta buat peta temen lu dan diitung hubungannya berapa atau gimana nilainya secara ilmiah. Gue ga perlu jelasin, tapi contohnya seperti diatas, lalu diterjemahkan menjadi sebuah peta pake software khusus.


Yak ini adalah assignment pertama. Assignment berikutnya adalah ngitung hubungan disebuah lingkup, misalnya difilm Harry Potter. Siapa orang yang paling berpengaruh difilm Harry Potter? Jawabannya ternyata Ginny Weasley karena dia konek kemana-mana. Gimana cara tau dan ngitungnya? Nah itu yang lu pelajari dikelas ini.

Manusia dengan ide terunik dapet wine dari Professornya. So good kan. Temen gue peringkat kedua, dapet coklat dari ngide network antara Latina Youtubers di Korea. Kreatif gitu kan.


Exploiting Social Networks (By Prof Young Kyu Kim)
Professor yang agak nyentrik ini juga sempat mengundang mantan mahasiswanya yang sekarang kerja di Naver. Fengshui gue bagus banget di kelas ini, so meski presenternya agak draggy dan ga semenyenangkan itu, gue ready banget dengan pertanyaan-pertanyaan yang relevant. Gue merasa tiap pertemuan di kelas ini ada faedahnya. Kehadiran gue 100% dan nilai partisipasi gue diatas persentase maksimal (liat silabusnya). Gue bahkan hadir di kelas opsional, cuma bertiga. Gue, temen gue dan satu mahasiswa lain. Kita berdua menghabiskan lebih dari 30 menit buat menghujani professornya 101 pertanyaan, sedangkan mahasiswa yang satu lagi hanya ingin klarifikasi hal kecil....

Selain itu ada juga assignment bikin NETWORK-BASED BUSINESS. Apaan tuh? Jadi lu bergrup harus ngide gimana caranya manfaatin network effect alias koneksi. Salah satu contohnya itu TripAdvisor. Orang pake TripAdvisor karena ga cuma bisa terima info, user juga bisa sharing info kan. Hubungannya ga satu arah. Gojek juga gitu, karna ngumpulin yang kasih service dan pengguna service. Seru deh.

Final examnya juga keren banget. Profnya kasih satu case study dan kita disuruh membuat analisis tentang masalah tersebut, maksimal 7 slide PPT. Gue awalnya merasa "Halah paling 2 jam kelar lah bikin final ini" eh ternyata gue attached banget sama kasusnya dan begadang karena gue mendedikasikan 6 jam buat tugas ini.

Yak, menarik dan practical kan kelasnya! Untung memori gue dari kelas ini sempurna karena gue dapet nilai bagus. Biasanya gue cinta sama suatu kelas tapi nilainya... Erm... :)

Terima kasih buat mbak @ronainaqz yang ngide ngebahas matkul KUBS! Adakah bidang business school yang lu minati diantara Marketing; Management; Logistics, Service and Operations Management; Finance; International Business; Management Information System; atau Accounting? Mungkin yang popular bisa gue jadiin inspirasi post berikutnya.

Friday, April 13, 2018

Kesibukan 2018-1: Olahraga

Mungkin udah banyak yang tau, schedule resmi gue semester ini (2 Maret - 22 Juni) sangatlah santai dan kosong. Siapa bilang kuliah di Korea sibuk? Siapa bilang kuliah di Korea susah?

HAHA itu sebenarnya memang fakta, kecuali buat Alira. Gue sendiri bingung kok bisa hidup semenyenangkan ini. Nah lalu banyak yang kepo, terus sisanya gue ngapain?

Jadwal canggih


Percayalah, gue berusaha berkata "ya enak nyantai, free aja" tapi kenyataannya puji Tuhan gue diberikan kesibukan tiada akhir. Mulai dari yang penting seperti jalan-jalan (yes ini penting banget!) sampe musuh gue dimasa lalu: olahraga.

Gue maniak renang. Gue tau gue suka renang, tapi gue ga sadar bahwa renang memberikan gue kebahagiaan tingkat tinggi sampe gue pindah ke Korea dan berusaha renang dijam-jam aneh. Gue pernah cerita dulu banget, berenang di Korea itu ribet, ga bisa dateng terus langsung bayar. Ada jam khusus, peraturannya banyak dan bahan di kolam renang Ewha ga bisa bayar cash. Harus transfer. Nah, beruntungnya karena gue mulai berenang sejak 6 bulan pertama gue di Korea, gue agak terbiasa dengan segala keribetan itu.

Waktu gue masih belajar bahasa di Ewha Womans University, kolam renang tinggal jalan kaki, jamnya pun sore dan gue bahkan punya teman berenang. Kemudian gue pindah ke Korea University, jaraknya 1 jam dari kolam renang Ewha. KU ga punya kolam sendiri dan harus ke kolam umum. Banyak bapak-bapak, ibu-ibu, pokoknya super diverse. Belum lagi karena terbiasa di kolam renang cewe, gue jadi gasuka berenang sama mahasiswa cowo. Gue juga gasuka ketemu orang yang gue kenal. Dudums. Akhirnya, ditahun 2017 (1 tahun lebih setelah gue caw dari Ewha), gue memutuskan buat balik berenang ke Ewha. 1 jam perjalanan one-way? No problemo.

Ewha Indoor Swimming Pool
Gue coba berenang jam 9 pagi di semester pertama dan jam 7 pagi di semester kedua. Jam 7 pagi artinya gue keluar asrama dengan BUS PERTAMA hari itu jam 6, lalu gue harus rush buru-buru setelah selesai renang jam 7.50 karena kelas gue jam 9 pagi. Rasanya emang gila. Temen gue gagal paham kenapa gue mau idup kaya gitu. Tapi tiap abis berenang, selalu bahagia dan fresh, gimana dong?

Diakhir tahun 2017, gue ambil keputusan besar: ayo pindah rumah mendekati kolam renang Ewha. Seakan-akan di Seoul ga ada kolam renang lain.

Dikatain gila karena pilih kolam renang daripada kampus, tapi memang gue udah gerah banget tinggal di kampung bernama Anam. Sekarang gue tinggal ditengah kota, tapi bagian terbaiknya adalah rumah gue cuma 15 menit dari kolam renang. Gue juga bertransformasi menjadi morning person paling disiplin digeng gue. Bangun pagi jam 6, siap-siap berenang 2x seminggu atau sisanya gue ngegym sebelum berangkat sekolah. Nah, ke gym juga a big challenge buat gue. Again: gue ga suka ketemu orang yang dikenal dan gue pecinta solo sport. Tapi gue gatau sama sekali cara olahraga. Seumur hidup, gue selalu ranking terbawah urusan fitness, kecuali kalo renang atau nari.

Gue memutuskan gym hunting di sekitar rumah. AKHIRNYA BISA karena sebelumnya kan gue tinggal di area kampus, yang artinya gue akan selalu ketemu anak dari kampus gue sendiri. Keluar masuk 4 gym, membandingkan dan mempertimbangkan. Ada 1 gym yang gue suka dan harganya murah, tapi dia buka jam 10 saat weekend. Gue pikir, "Siang amat jam 10?! Kalo mau olahraga pagi gimana?"

Temen-temen gue cuma bisa geleng-geleng sambil berkata, "Gila lu. Siapa juga yang bangun sepagi itu kalo weekend!"

Tapi persistent ada hasilnya kok. Gue ketemu gym yang mayan mahal tapi buka jam 6 pagi tiap hari. Muahaha. Gym ini terfancy dan terbesar di area gue. Mempertimbangkan bahwa gue bego banget gatau apa-apa soal olahraga, gue juga sign up buat personal trainer (PT). Kebetulan harga trainernya sh termurah di area rumah gue.

moi gym life

section that I always skip
Dimulai lah semester gue penuh dengan olahraga kaya mau diet. Padahal... cuma mau sehat. Orang susah percaya, bahkan ketika gue dikasih form personal trainer yang isinya nanya habit gue, tujuan gue dsb dengan bahasa Korea fancy, gue cuma tulis tujuan gue "Meningkatkan daya tahan tubuh" dan "PTnya bisa bahasa Inggris plis"

Udah sebulan sejak gue mencoba jadi gymrats. Gym masih bukan tempat yang menyenangkan buat gue, terlebih tiap gue ketemu PT gue sendiri diluar jam janjian. Urusan olahraga, gue masih bego. Masih gatau apa-apa tapi seengganya gue sudah mulai kembali ke tingkat daya tahan tubuh sebelum masa depresi tahun lalu.

Cerita menarik dari gym adalah fakta bahwa ga banyak foreigner disekitar rumah gue. Jadi kehadiran gue pasti menarik perhatian meski gue transaksi 100% pake bahasa Korea. Ditambah gue maksa mengeja nama "ALIRA" dalam Bahasa Inggris, bukan dalam hangeul. Hari pertama, PT gue, cowo muda tipikal otot, bilang "Yang bisa Bahasa Inggris sih banyak, tapi kamu dipasangin sama saya soalnya personality saya kayanya paling bagus."

Seketika gue ketawa. Sialan, pede amat masnya. Nama boleh lah pake nama bule, tapi bahasa dia juga pas-pasan ah. Makin lama gue makin banyak tau lifestyle masnya. Masnya ternyata penggiat clubbing paling antusias dan wah, darah muda banget. Gak cocok sama aing tapi mayan deh lucu buat dikepoin. Dia juga tukang kepo, suka nanyain pacar lah sekolah lah... Semua yang gak berhubungan sama esensi olahraga gue.

Meanwhile dari sekian banyak cerita, gue bilang gue sih lancar aja Koreanya tapi gue lebih nyaman pake bahasa Inggris dong. Si masnya Inggris campur-campur oke lah gue ga masalah, tapi gue males kalo disuruh ngomong banyak. Terus satu insiden saat gue perpanjang kontrak PT, gue dijelasin syarat dan ketentuannya dalam Bahasa Korea dan diliatin oleh segerombolan PT lain. Mbaknya kaget dan seperti biasa, "Bahasanya bagus banget! Kirain PT lu full bahasa Inggris! Taunya lu jago yah Koreanya."
"Mmm ya saya udah lama mbak disini"
"Udah berapa lama emang?"
"3 taun"
"3 taun doang tapi bahasanya sampe kaya gini? Wah keren amat"
"Ya rajin belajar mbak hehehe"

Seminggu kemudian gue dateng ke gym, gue lupa bawa kartu. Tapi mbak resepsionis apal nama dan ternyata semua PT tau nama gue (seketika gue pen kabur) dan menyapa gue dengan 3x lebih ramah... Ya Tuhanku.

So far so good. Ada kalanya mau pingsan aja, seringnya sih teringat masa-masa nari dan lebih pilih disuruh nari 4 jam daripada ngegym 1 jam karena ngegym ga seru. Goyang jauh lebih menyenangkan. Tapi gue bangga lah produktivitas gue dimulai sejak jam 6 pagi tiap harinya. Yak tunggu kesibukan siang dan malam hari dipost berikutnya.

Thursday, September 14, 2017

Obrolan Toko Buku

"This is my life, I would do as I wish."

Mungkin kedengarannya sombong sekali, tapi keyakinan ini membuat seseorang bisa maju lebih jauh dari sekedar keamanan dan stabilitas yang diidamkan orangtuanya. Sesaat setelah dipenuhi rasa kagum, gue kembali dikejutkan dengan statement lain.

"Jangan terlalu dibawa stress. Coba keluar dan cari lebih banyak orang, gue rasa di business school cuma kita bertiga yang mikir kaya gini"
*terdiam*

Oh. No. Too good to be true. Ini realita.
Ini adalah sepintas percakapan gue dengan dua orang senior dan satu junior tentang hidup dan masa depan. Mereka semua orang Korea yang belum pernah tinggal diluar negeri. Stereotipe akan ke-Koreaan mereka pun tidak dapat dihindarkan sampai akhirnya kita duduk 2 jam di toko buku. Kita tergabung dalam satu grup mentoring bersama alumni yang lebih tua dari bokap gue, yang bertemakan Social Entrepreneur.

Gak gitu banyak hal tematik yang gue dapat dari mentor kita. Tapi gue malah bisa belajar banget dari dua mas ini. Mereka ada di grup mentoring ini bukan karena tercampakkan dari grup lain, tetapi karena pilihan. Karena mereka ingin membantu orang. Karena mereka ingin menjadikan passionnya sebagai karir.

Senior ini dua-duanya anak pertama dikeluarganya dan punya orang tua yang sangat supportive dan cenderung bebas. Dalam dua jam itu, ada banyak sekali hal tentang sekolah dan hidup yang gue pelajari. Terutama bahwa menjadi beda itu tidak salah. Mereka berbeda dari teman-temannya. Mereka tetap mau dan mampu memperjuangkan masa depan pilihannya.

"Ada banyak temen yang tadinya udah memutuskan mau jadi akuntan, tiba-tiba ganti haluan cuma karena ada lowongan yang gajinya lebih besar. Ada juga yang cuma cari status sosial tinggi. Mereka bisa menjalani apapun untuk hal-hal superficial. Ini gambaran masyarakat kita, dan itu preferensi mayoritas."

Gue tersentuh bukan main. Ternyata ada orang-orang yang berpikiran sama dengan gue. Lebih dahsyat lagi rasanya ketika mereka juga mengakui bahwa susah mencari orang yang berpikir seperti... kita.

Gue sudah separo jalan kuliah. Gue sudah harus memutuskan dengan jelas apa yang gue inginkan, tanpa kehilangan identitas gue. Dari obrolan toko buku ini gue belajar, pilihan lo terhadap apapun bisa berpotensi membuka jalan yang lebih lebar atau malah menjauhkan lo dari tujuan asli lo. Sesimpel pilihan gue untuk ikut mentoring alumni dengan hanya memilih Social Entrepreneur ini. Orang-orang yang menaruh pilihan yang sama ternyata memiliki pandangan hidup yang cukup sejalan dan bisa membantu satu sama lain.

Pelajarannya? Pilihlah teman yang baik untukmu.

Sunday, June 11, 2017

Nonton Konser #6: 2PM 6 Nights

Udah lama ga ngereview konser, gue bahkan lupa cara nulisnya...


Anyway, ini adalah salah satu konser Korea favorit gue meski gue biasa aja sama 2PMnya karena faktor yang tidak disangka-sangka yaitu: LOKASI. Bayangkan saudara, konsernya dibelakang asrama gue! So ga ada alasan untuk gak nonton!

Beli Tiket
Santai sekali saudara-saudara soalnya gimana dong, mereka emang udah ga sengetop dulu. Terus ada 6 tanggal, jadi yaa banyak pilihan dan cadangan. Faktor lain adalah karena ini konser ulang, akibat Jun.K yang cedera pas konser pertama. Cederanya sadis btw, sampe patah sana sini.

Gue beli banyak karena mau nonton bareng kakak-kakak. Gue beli hari pertama dan hari kelima, gatau kenapa. Iseng aja. Mungkin kesenengan karena tinggal jalan kaki. Eh tapi kalo lo mau langsung dateng juga bakal kebagian tiket kok. Beneran kosong

Seating


Santai sih santai tapi gue ga jago juga dapet seat bagus. Cuma ga perlu kecewa, soalnya venuenya kecil banget. Gue duduk di M dan A yang belakang.


Menjanjikan kan viewnya? Yak, memang. Apalagi pas nunggu bisa konek ke wifi sekolah. Ya ampun aku bangga.

Venue
Special review karena gue terlalu senang.

Jadi ini adalah hall yang suka dipake cheering dan pembukaan awal tahun. Ga ada yang spesial. Yang gue tau sih kapasitasnya 7000 tapi di 2PM ini kurang lah ya soalnya settingannya. Di sekitar sini ga ada apa-apa, stasiun terdekat jaraknya 1km dan lo harus mendaki gunung lewati lembah. Kalo laper? Bestnya mampir ke minimarket asrama.

Berhubung gue adalah residen kampung sini, gue baru keluar asrama 20 menit sebelom konser. Mampir minimarket buat beli jajanan buka puasa dan masuk 5 menit sebelum konser mulai.

Kalo diliat-liat, settingannya rada sedih sebenernya.



Semua serba minimalis gitu. Gue mikir aja kalo di Indo penitipan barangnya macem gitu... Gue rasa ga ada yang mau nitipin barang juga hahaha.

Concert gear
Tidak ada. Hanya slogan yang ganti-ganti tiap hari. 2PMnya aja chill masa gue rebek.

Anyway, karena nontonnya bareng-bareng, bisa foto-foto dong.


Oh ngomongin gear, lightstick mereka jadi keren dan centralized gitu. Ya gue mau muji tapi keinget TVXQ udah duluan jadi biasa aja sih :)))

Jam Mulai dan Durasi
Wa bingung, baru pertama kalinya konser telat karena macet. Maksudnya, kalo telat sih udah biasa. Tapi dia pake speaker, bilang kalo mulainya ditunda bentar karena macet. Berasa nungguin audiens yang kejebak. Well sebenernya memang iya sih.

Durasinya draggy 2.5 jam. Kenapa draggy? Soalnya ada perpanjangan ment sambil nunggu matahari tenggelam demi efek yang lebih cantik.

Panggung
Efeknya biasa banget, ala dugem gitu. Gue terganggu banget dengan speaker dan mic hari pertama. Soalnya musiknya kegedean dan jedar jedar. Gue sampe semena-mena menjudge bahwa mic-ing 2PM berantakan kecuali Junho. Eh tapi things were different in day 5. Semua smoth dan enak.

Mereka invest di panggung yang turun dari atas gitu buat opening, tapi utilisasinya gak begitu bagus, cuma diopening doang. Yang maksimal malah panggung didepan section yang melingkar. Mereka sering banget kesitu, meski akhirnya panggung utama jadi void.

Aksi Panggung
Nah ini baru kekuatan 2PM. Bagus banget dan masih intact kekompakannya, meski Jun.K berperban tangan kanannya. Tapi jangan harap full choreo mayoritas lagu, karena mereka having fun dan ga terlalu coordinate di beberapa lagu yang medium beat.

Di hari pertama, gue sibuk ngeliatin mereka ngedance. Wooyoung emang udah beda banget levelnya dan surprisingly, Nichkhun terlihat lebih baik daripada Junho. Yang lain? Yha gausah ditanya. Masih niat dan super (yes ini beneran) tapi gak sepowerful Wooyoung Nichkhun Junho.

Pilihan Lagu dan VCR
Jujur aja, gue berharap banyak setelah berbulan-bulan nontonin video dari Go Crazy tour. Cuma kali ini memang konsepnya bukan konser biasa, lebih ke konser perpisahan dan time machine, so banyak konten dan lagu-lagu yang gue harapkan ga keluar. Lagu-lagu yang gue suka tuh macem Tired of Waiting, Fight sama I'm Your Man hahaha.


Eh tapi konsepnya kali ini adalah dari lagu paling baru ke 10 out of 10. Nah, disela-sela setlist yang fix, ada 3 lagu yang ganti tiap hari berdasarkan pilihan membernya.Tiap hari tuh beda-beda ini harinya siapa. Hari pertama adalah harinya Jun. K dan hari kelima adalah harinya Junho.

VCRnya minim dan ga bagus. Cuma ada satu yang meaningful, yang terakhir. Ga ada sketch atau konsep yang jelas gitu.

Interaksi dengan Penonton
BESTnya 2PM. Asli. Wow gue salut banget. Mereka terus menerus berkomunikasi langsung dengan penonton dan terlihat sincere. Tapi minusnya adalah saking keenakan, kalo ngomong suka banyak orang sekaligus. Biasanya Nichkhun out of place dan akhirnya sibuk main-main sendiri. Dia juga sibuk lempar handuk dari awal sampe akhir. Sponsoran tah?

Sedekat ini

Mereka ngambilin tongsis penonton diending dan selfie sendiri. Yha boleh mas. Ga ada posisi fix tiap member, semua keliling-keliling dengan hampir fair. Gue selalu nungguin Chansung karena dia terlihat paling sehat diantara yang lain saat ini, dia lebih sering ke kanan sih dariapada ke kiri.

Oh, kejutan lain adalah mereka gak langsung balik setelah ending tapi jalan-jalan sendiri dan selfie-selfie, pake prop dari penonton atau tebar pesona. Intinya, bukan model biasa yang sok encore-VCR-encore beneran-bye. Setelah encore, mereka ada kali 5-10 menit, keliling berterimakasih dengan caranya sendiri.

Yang unik adalah dihari ke5 ini banyak banget artis kenalan mereka yang nonton dan duduknya depan gue (satu section). Ada Twice dan gatau siapa banyak lagi, yang selalu Nichkhun sapa. Waktu semua orang berdiri tapi si mas ini gak berdiri, si Nichkhun bahkan suruh dia buat berdiri. :)))

Interaksi dengan sesama member juga seru banget. Main-main, bercanda dan basically, seperti biasanya aja.

Suasana dan Penonton
Favorit karena relax!
Tapi gue kurang paham aja, 2PM ini bawaannya dugem. Dari efek sampe lagu, semuanya dugem apalagi hari pertama berasa di club banget. Gimana ngga, yang blasting tuh lagunya bukan vokalnya. Nah, dengan suasana kaya gini, audiensnya mayoritas tante-tante berumur.

Well, boleh lah jiwa muda, apa lu kata. Tapi energinya jadi ga semeledak konser lain soalnya tante-tantenya gak ikutan loncat-loncat. (Keinget Shinee yang isinya anak SMA semua)

Gak mengganggu sih, gue tetep enjoy, probably karena gue tau lagu-lagunya, enjoy dengan venuenya dan mereka emang entertaining banget. Satu hal yang unik, disini bebas banget dengan foto dan video. Dari sekian banyak konser yang gue pernah datengin di Korea, ini konser paling chill.

Overall
Hari kelima worth banget sedangkan hari pertama gue bertanya-tanya apa ini bestnya mereka?
Ternyata memang practice makes perfect dan gue sangat senaaaang dihari kelima.

Gue senang 2PM punya warna sendiri dan tulus dengan karyanya. See you again 2 tahun lagi!


Friday, April 28, 2017

Kuliah Semester 3 di Korea

Gue rasa gue cerita banyakan jalan-jalannya. Tapi pernah inget gak kalo gue disini KULIAH, bukan kerja atau jalan-jalan? Gue sendiri suka lupa...


Gue udah semester tiga, udah ga asing sama sistem pembelajaran di Korea University, mesti kaget-kagetnya sih masih suka ada. Gue udah lumayan kenal banyak orang, seenggaknya dalam 1 bulan, mungkin ada 2-3 orang yang nyapa gue di kampus. Masih kalah jauh dibanding temen gue yang disapa 3-4 orang perhari. Tapi gapapa, gue di kampus buat kuliah, bukan buat ngeksis.

Sisi yang gak masuk instagram

Jadwal gue semester ini sangat indah. Kuliah Senin-Kamis, long weekend tiap minggu. 3X sehari masih sempet berenang pagi-pagi. Gue 'cuma' ambil 18SKS alias 6 mata kuliah. Buat gue ini dikit, tapi jangan sekali-kali bilang gitu ke orang lain. Mereka bisa kesel, karena beban kuliah disini beraaaaat kalo lo mau dapet A+ semua. Gue? Target hidup gue sih yang realistis aja, A+ semua simply ketinggian. Satu dua boleh lah. 

Pertanyaan standar tiap orang: "Ambil berapa kelas? Kelas majornya berapa?"

Soalnya syarat lulus disini (atau seenggaknya di Business School) harus ambil banyak electives. Electives itu terkenal gampang dan ga terlalu burden. Sedangkan mata kuliah jurusan tentu dikenal bisa bikin orang bunuh diri, depresi atau minimal minum soju berbotol-botol buat ngilangin stress. Semester lalu gue ambi 4 major dan 4 electives. Semester ini gue ambil 3 major dan 3 electives. Hidup gue dipastikan ringan.

Eh tapi ringan atau berat itu relatif. 3 major yang gue ambil semester ini sebenernya gampang atau minimal gue suka. Cuma gue pemalas, gamau belajar, lupa kalo gue ini statusnya pelajar. Alhasil dimidterm akunting gue ada diposisi 25% terbawah kelas dan berdasarkan profesor Organizational Behavior, gue masuk sebagai "poor performer" karena hasil jauh dibawah rata-rata kelas.

Mungkin at this point, lo mikir, "Kok bisa sebego itu?" atau dalam nada yang lebih positif, "Emang susah banget ya di Korea?"

Yes, lumayan susah (but I swear SMA gue jauh lebih tough) dan gue gak sepinter itu juga. Orang disini tidur sampe lupa belajar. Gue gak pernah ngalamin begadang di ruang baca buat ujian. Perjuangan terkeras gue cuma 2 jam baca-1 jam tidur-3 jam baca-2 jam tidur saat mau ujian Operations Management. Itupun diselingi delivery ayam jam 4 pagi... Usaha gue gak sekeras orang lain, so naturally hasilnya juga ga sebagus itu kan.

Gue gak terlalu affected sih. Mental health gue jauh lebih penting dari apapun juga.

Budaya belajar ga kenal waktu ini sebenernya contagious alias menular. Temen-temen Indo gue juga banyak yang gitu. Cuma gue emang sengaja gak mengekspos diri gue terhadap sesuatu yang bukan gue. Sempet kaget aja waktu salah satu senior gue ngajakin ngemil tengah malem dan terus ngintip ruang baca kampus yang... Penuh. Padahal itu jam 1 pagi. Senior gue dengan santainya, "Loh Lira ga pernah?"

Sekarang udah kebayang kan betapa santainya gue. Semester ini gue gak punya banyak kegiatan 'real' diluar kelas. Gak kaya semester lalu, dimana gue bisa keluar kamar jam 8 dan masuk kamar lagi jam 1 setelah muter-muter Seoul ketemu orang-orang yang berbeda untuk urusan berbagai organisasi. Gue banyakan di asrama, kerja virtual buat siapin YLS dan fangirling Il Volo.

Tugas apa kabar? Business School tugasnya paling team project. Gue gapaham sama orang yang mengutuk team project, it's not that bad. Kita punya team project sejak SD, kenapa harus panik sih?

musuh mahasiswa sini

Sebenernya musuh utama kuliah di KUBS itu cuma kurva atau relative grading. Maksudnya penilaian disini itu diranking, dan hanya 30% bisa dapet A, 40% dapet B dan sisanya harus C atau lebih rendah. Artinya, hidup dan usaha lu sia-sia kalo lu gak bisa ngalahin anak lain di kelas. Karena alasan inilah, mahasiswa di Korea bukan mahasiswa terfriendly sedunia. Ga ada cerita masuk bareng, lulus bareng. Semua orang bersaing dan seringnya sikut temen sendiri. 

Sebagai ilustrasi, tiap semester sekitar 40 dari 400 anak di KUBS dapet GPA sempurna alias nilainya A+ SEMUA. Taro GPA lu 4 dari 4.5, lu cuma ada diposisi 130-140 dari 400.

Sekarang bisa lihat kan realitanya, mayoritas anak sini itu HIGH PERFORMERS. Kalo lo ga termasuk didalamnya, temen-temen lu pasti bersukacita. Kenapa? Karena lo gak ngambil kuota A. Buat gue, musuh gue adalah diri gue sendiri. Selama gue mengerti apa yang gue pelajari dan bahagia, gue rasa gue gak perlu terlalu concern dengan posisi gue dikurva. Gue udah punya path sendiri dan punya karir yang gue cintai.

Gimana soal social life semester 3? Gue gak punya banyak cerita di kampus meski sekarang gue join organisasi di kampus. Gue main dengan yang itu-itu aja dan lebih suka keluar kampus. Sesama angkatan atau jurusan cenderung mengkategorikan mahasiswa asing sebagai either pesaing atau golongan yang ke Korea cuma buat main.

Intinya, ketika lo kuliah di Korea atau lebih tepatnya di jurusan gue, hidup lu pretty much isinya belajar atau minum. Peer pressure itu real adanya, dan kalo gak teguh hati, bisa either kebawa stress atau kebawa negatif. Gue masih mencintai KUBS dan hidup gue di Korea, rasa bersyukurnya sejak gue pertama kali sampe masih gak berubah atau mungkin malah nambah. 

Buat yang baru lulus SMA, semangat! Pilih kampus yang bener karena pendidikan S1 lo bakal stay seumur hidup diresume lo.