Ada banyak hal yang terjadi dalam 4 minggu di pekerjaan yang membuat hati gue nyaman. Udah lama ga ngerasain gimana tiap hari semangat bangun tidur buat kerja, meski cuaca hujan dan kadang gue ke kantor dengan mode 'perang' pake celana pendek, sandal jepit dan jas hujan. Lokasi kerjanya jauh, gak ideal buat gue. Tapi karena perasaannya senang, gue ga merasa terbebani sama sekali.
Di post sebelumnya, gue bercerita soal BTS mendapatkan pekerjaan ini. Di post kali ini, gue mau cerita soal cerita dibalik hiring gue, versi yang gue dapatkan dari boss-boss dan testimoni orang lain yang terlibat dalam prosesnya. Perspektif kali ini datangnya dari talent hunter, sisi berlawanan dari pencari kerja.
 |
| hujan pun semangat kerja |
Komposisi Team
Gue bekerja untuk BUMK skala besar (menurut aset dan size bisnis di sana). Team yang dikirim ke Jakarta diberikan otoritas penuh untuk hire pegawai lokal. Ga perlu approval dari pusat, selain urusan budget. Tim di Indonesia sangat kecil, secara jabatan tentu dikepalai senior, yang levelnya mungkin equivalent ke Senior Manager. Beliau dah mentok sih, kalo promote lagi, langsung jadi level eksekutif (bukan pegawai).
Mari kita panggil bapak dengan jabatan tertinggi sebagai boss besar.
Boss besar ini adalah orang yang membuat dan mengupload lowongan pekerjaan panjang dan mendetail itu ke grup Kakao. Boss besar juga jadi PIC hiring gue, so semua kontak terkait perekrutan 100% dihandle bos besar. Awalnya agak aneh, kok boss besar terlibat pekerjaan remeh rekrutmen end-to-end, tapi ternyata ada alasannya. Setelah deal sama gue, baru dia menunjuk timnya untuk mengurus administrasi gue.
Decision Making
Sesuai feeling saat baca lowongan dan pengukuhan secara verbal pas interview, boss besar punya kuasa penuh. Dalam hirarki Korean company sih wajar ya, keputusan diambil satu orang. Tapi beliau ga terlihat otoriter.
Pas interview, beliau tanya tendensi gue untuk melakukan pekerjaan yang berbeda-beda sekaligus. Gue bilang, gue suka sekali multitasking dan selalu pengen belajar ini itu. Disitulah beliau langsung merespon, "Itu bukan hambatan disini. Kalau memang keinginannya belajar hal lain, itu termasuk kuasa (otoritas) saya kok. Saya ga banyak ketemu pegawai lokal yang bisa multitasking. Kalau kamu bisa, saya dengan senang hati mendukung kamu cobain kerja bidang lain, belajar ini itu."
Gue merasa lega, karena kegalauan gue emang rasa bosan di tempat kerja (setelah tahu scope pekerjaannya dengan lebih detail) saat fase projek belum di level peak. Kekhawatiran ini ternyata direspon baik dan gue merasa bisa percaya dengan boss besar ini.
Pencarian Sengit Kandidat
Di minggu ketiga gw bekerja, ada orang kantor pusat yang datang ke Jakarta. Dalam obrolan santai, boss besar bilang kalau beliau sangat kesulitan dalam mencari kandidat. Ini kali pertama gue tahu cerita dibalik rekrutmen gue. Beliau menghabiskan waktu 4 bulan berusaha cari pegawai yang punya kemampuan penerjemahan dan attitude sesuai keinginan. Beliau cerita, beliau terima banyak pelamar dari berbagai sumber. Awalnya dari tim HR lokal. Tapi ga memuaskan. Lalu pakai headhunter khusus Korean speaker di Jakarta, tetep ga memuaskan.
Beliau bilang pas interview dengan kandidat-kandidat lain, banyak yang level Koreanya belum memenuhi ekspetasi. Atau kandidat yang Bahasa Koreanya oke, tapi ga dirasa bakal terlalu membantu dalam meringankan pekerjaannya. Ada juga rasa frustasi, kenapa ga nemu-nemu ya?
Akhirnya beliau bilang ke headhunter, beliau mau coba cara sendiri. Beliau tulis lowongan sendiri, upload sendiri ke grup kakao dan terima langsung lamaran-lamaran tersebut. Disinilah ketemu aplikasi gue. Gue kaget, karena gue kira beliau baru cari pegawai di bulan Desember 2025 (seperti yang gue ceritakan di post sebelumnya).
"Oh tidak, saya udah lama cari dan saya sampai di titik introspeksi, apakah standar saya ketinggian? Rasanya ngga ya? Saya ga minta kriteria yang terlalu rumit. Makanya saya coba sendiri deh kalau saya yang tulis dan upload, manatahu hasilnya beda"
Beda banget. Ternyata ini alasannya handle rekrutmen sendirian, karena sudah pernah coba cara lewat orang lain cuma ga berhasil. Gue bilang, gue ga akan apply kalo lowongannya ga sedetail itu dan gue sama sekali ga tertarik untuk jadi sekedar penerjemah doang.
Malam itu, gue pulang ke rumah dengan perasaan sangat terharu. Wah... Bener-bener meant to be ya? Timingnya, feelingnya dari awal, dan caranya. Orang dari HQ juga merespon cerita tersebut dengan sangat baik, mereka banyak memuji gue dan berkata "Wah boss besar harus keep talent seperti Alira ya!"
Boss gue bilang, dia pasti akan do his best untuk retain gue. Wow.... beneran... nangis. Gue merasakan effort dia, dari awal sejak ketemu sampai setelah gue jadi pegawai. Hal-hal besar sampai kecil benar-benar diperhatikan.
 |
| malam ngobrol bersama orang HQ |
Keesokan harinya, gue ketemu boss headhunter Korean speaker yang boss gue sempat mau pakai. Om headhunter ini bilang, dia udah kasih best Korean speaker profiles ke boss besar, ga ada yang lolos. Tapi begitu selesai interview gue, boss besar langsung telpon si Om headhunter dan bilang "Saya udah ketemu pegawai yang saya mau!"
Headhunter ini sampe heran, dia merasa dia kenal semua Korean speaker yang bagus di Jakarta, siapa yang kira-kira dia lewatkan? Lah ternyata gue. Gue memang sudah kenal Om ini sejak beberapa tahun lalu, tapi ga pernah ambil job dari dia, karena gue ga suka kerjaan full time interpreter. Gue mau pegang tanggung jawab lain selain interpreter.
Setelah tau bahwa gue yang terpilih, terkuak lah cerita kalau sebenernya dia sudah menawarkan posisi ini ke mantan kolega gue di kantor sebelumnya. Tapi kolega gue minta angka terlalu tinggi yang ga masuk akal, jadi dia pikir gue akan minta budget yang sama. Dia berasumsi gaji gue di company lama sudah sangat tinggi, jadi ga nawarin gue karena 'tebakan' budget tersebut. Padahal mah kolega gue aja yang gila n ngadi-ngadi... (she even lied about her current benefits)
Headhunter ini juga spill banyak hal sangat positif soal boss-boss gue. Rupanya ga cuma gue aja yang merasa boss-boss gue ini anomali tingat kebaikannya. Semua orang yang kenal bisa langsung merasa bahwa team ini sangat sopan, nice to work with, dan educated. Om headhunter yang udah bekerjasama dengan ratusan PT dan boss Korea pun punya kesan yang sama. Beliau malah menambahkan dengan penuh optimisme, beliau yakin si boss besar akan jadi pemimpin di kantor pusat pada waktunya. Track record dan attitudenya sangat mendukung.
Lagi-lagi... Gue bener-bener takjub sama timingnya yang pas. Gue baru dapet job ini setelah gue di PHK, dapet pesangon, dan udah puas liburan 2 bulanan. Timingnya bagus banget. Gue juga malah happy, boss gue bisa cut fee dan menemukan gue langsung, dengan caranya sendiri.
Kesan Interview dari Boss
Seminggu setelah gue mendengar cerita dibalik perekrutan gue, gue minta 1:1 sama boss besar. Gue merasa ada beberapa concern besar untuk progres karir gue. Pembicaraan dibuka dengan "Kamu udah sebulan disini? Gimana so far, ga ada yang susah kan?'
Terus tanpa gue minta, beliau lanjut dengan berkata "Saya mungkin udah pernah cerita sedikit ya sebelumnya. Saat saya ketemu kamu pas interview, kesannya sangat mendalam. Saya bener-bener terkesan. Kamu punya keinginan untuk belajar yang sangat kuat. Kamu haus akan growth. Saya merasa lihat diri saya saat ketemu kamu. Saya suka orang-orang yang ingin belajar. Skill ga ada tuh gapapa. Kalo ada kemauan, cepet kok memoles dan membantu talent buat tumbuh."
Gue... ga nyangka banget. Boss besar ini orang yang cenderung pendiam. Gue ga nyangka beliau akan bilang dan cerita sendiri tentang apa yang membuat beliau terkesan dan mau rekrut gue. Beliau tipe pengamat. Semua komen dan permintaan gue, untuk hal besar maupun hal kecil, sangat diperhatikan.
Gue jadi teringat gimana saat nego, gue minta laptop yang bagus (gue bahkan sebut minimum spek). Beliau telpon dan tanya, ada alasan tertentu kah? Gue bilang, gue mau bekerja dengan nyaman tanpa masalah teknis. Gue tahu di Jakarta belum ada tim teknis, jadi kalau ada masalah nanti kerjanya ga maksimal. Permintan ini disambut dengan beliau mendatangkan laptop kerja baru, spek sangat bagus, langsung dari kantor pusat di Korea. Beneran diperhatikan banget.
Lalu komen gue saat interview, dimana gue bilang gue sangat gak suka dengan hirarki di perusahaan Korea juga ditanggapi serius. Beliau riset dan tanya perbedaan signifikan hirarki company lokal dan Korea, lalu bertanya pendapat gue. Beliau ingin bisa menyesuaikan. Attitude seperti ini beneran sangat jarang gue dapatkan dari leader yang levelnya sudah sangat tinggi.
Kesan 4 Minggu Pertama
TIAP HARI gue merasa tersentuh. Beneran TIAP HARI. Tempat ini ga ideal. I have seen and worked at better places, tapi gue baru sekarang ke kantor tanpa beban dan tiap hari bersyukur atas kebaikan individu di sekitar gue.
Ada beberapa momen kecil yang mau gue inget terus. Pertama, perhatian dan kesadaran tim setiap gue terlihat ga bawa payung atau akan kesulitan karena hujan. Day 1, gue kerja kehujanan. Manager baik bawain payung dan terus nanya apakah gue baik-baik aja. Tiap hari kalo ujan, mereka concern gimana gue pulang. Small things memang, but it mattered. Kedua, tingkat usaha penyesuaian budaya yang sangat tinggi. Setiap hal kecil mengenai kebiasaan orang Indonesia yang mereka observasi, mereka akan tanya dan ingat terus.
 |
| tiap hari ditraktir lunch fancy |
Ketiga, inisiatif kebaikan hati di berbagai saat. Ada hari dimana gue ditinggal sendiri untuk external event. Gue tetep ditinggalin kartu buat makan siang, meski itu bukan bagian dari benefit yang gue setujui diawal. Atau gesture boss besar yang kasih gue uang tunai untuk naik taksi, karena gue pulang telat setelah dinner bersama perusahaan. Itu semua tambahan yang asalnya dari kebaikan hati. Ga semua boss bisa begini.
Yang terakhir sih semangat belajar Bahasa Indonesia dan paham budaya Indonesia yang sangat tinggi. Ini bener-bener gue acungi jempol.
Kesan positif datang dari mana saja, ga cuma dari keseharian bersama boss dan team, tapi juga dari cara orang-orang kantor pusat mengomentari soal boss besar, dan dari sesama expat di Jakarta yang gue tahu. Seakan-akan satu jagat emang lagi meyakinkan gue, I am in the right place loh.
Concern
Seperti yang gue sampaikan, pekerjaan ini bukanlah pilihan pertama gue. Gue yakin Tuhan taro gue disini untuk alasan yang sangat kuat, saat ini gue belum tahu apa alasan tersebut. Gue bersyukur sekali sama sunbae (ex CFO gue) yang mengarahkan dan meyakinkan gue untuk kesini, karena ternyata jauh lebih baik dari ekspetasi gue.
Tapi tetep, gue masih punya concern yang berhubungan dengan karir jangka panjang gue. Gue sudah menyampaikan hal ini sejujur-jujurnya ke boss besar. Boss besar memahami dan memberikan tanggapan yang sangat menenangkan hati. Beliau acknowledge concern gue, kemudian menawarkan perspektif lain yang realistis, tanpa janji palsu. Lalu beliau pun menutup wejangannya dengan saran untuk mengejar growth yang terbaik buat gue. Ga perlu sungkan, segan, atau takut.
Hal ini terasa sangat sejuk di hati. Kalau kejujuran diterima dengan baik, ga ada alasan kan untuk ga jujur dan ga transparan ke boss sendiri dalam lingkup pekerjaan.
Berada di sini benar-benar jadi pengalaman kerja yang ga pernah ada di rencana atau pikiran gue, tapi perjalanannya sangat lancar dan kerasa "it's meant to be."
Semoga kita semua bisa dipertemukan dan bisa jadi boss yang sebaik boss besar ini huhuhu.