Udah official masuk Summer di Korea. Setelah berbagai kejutan manis di bulan Mei, Juni ternyata bawa lebih banyak blessing. Salah satu yang terbesar adalah dinas ke Korea.
Gue dikirim dinas dengan hari efektif 10 hari. Beda sama kantor sebelumnya, status gue disini memang pekerja projek, bukan pegawai tetap kantor ini. Jadi absensi dan jadwal gue dikontrol sama boss besar (anggap aja ketua projek), bukan sama perusahaan. Gue memilih untuk melihatnya sebagai hal yang positif, ketimbang mikirin aspek negatif "lah bukan kartap". Kenapa? Karna gue jadi punya fleksibilitas sangat tinggi.
10 hari di Korea, gue cuma harus kerja 1 hari.
Padahal dinas. Padahal fully funded. Kok bisa? Gue pun ga bisa berkata apa-apa selain bersyukur. Baik banget.
Pegawai tetap kantor banyak yang gak tahu kalau status gue tuh pekerja projek. Jadi ga ada yang menyangka kalau gue punya fleksibilitas ga perlu ngikutin peraturan perusahaan. Gue ditanya sama salah satu petinggi, "Selesai agenda hari ini, kamu ngapain di Korea?"
Gue bilang gue bakal main-main aja. Dia kemudian bertanya, "Oh kamu cuti?"
Jujur, gue membisu gatau harus jawab apa. Boss besar langsung cover dan bilang, "Iya, dia cuti"
YA AMPUN. Baik banget. Beliau pasang badan bilang gue cuti, padahal ngga.
Dinas kali ini membawa gue flashback ke masa-masa kuliah. Gue dulu bermimpi ingin kerja di daerah sini. Daerah Yeouido, yaitu distrik keuangan di Seoul. Gue sudah mendapatkan kesempatan 'trial' part time di Yeouido beberapa kali, intern full time di salah satu perusahaan paling bergengsi 1x. Setelah mengalami itu semua, gue merasa budaya korporat di sana gak cocok dengan gue. Gaji dan prestise tinggi banget, tapi gue ga bahagia. Setelah cari kerja, gue selalu dapet offer malah bukan di daerah sini.
Fast forward, 2026 gue kembali ke sini. Gue bisa bilang gue bagian dari salah satu perusahaan bonafid di Yeouido. Tapi gue udah ga pengen sama sekali untuk kembali ke sini. Gue udah lebih tahu apa yang gue mau, dah ga penasaran sama 'bling-bling' gemerlap Yeouido. Harus diakui, gajinya GEDE BANGET. Tapi ternyata itu bukan prioritas gue, dan gue berani bilang hal ini ke boss gue, tanpa takut gue jadi 'dibayar murah'. Kesempatan untuk bertumbuh dan berkembang jadi hal yang lebih menarik buat gue daripada uang.
Di visit gue kali ini, gue menyempatkan ketemu beberapa teman. Gue sering banget ketemu orang di taman, outdoor, siang-siang, karena temen-temen gue banyak yang punya anak dan suka ngajak anaknya main di taman. Mereka ada di fase hidup yang berbeda dengan gue, dan gue bener-bener bersyukur masih bisa reconnect dan ngobrol bareng. Mereka lebih sibuk dari gue, mereka masih menyempatkan waktu.
Ternyata meskipun gue bilang gue capek dan bosen ke Korea, gue masih menantikan kesempatan buat ketemu temen-temen yang memilih untuk menetap di Korea saat ini.
Highlight terakhir adalah ketemu Hengyan, bestie gue dari jaman kuliah. Kita beda kewarganegaraan, jurusan, dan bidang kerja. Setelah gue meninggalkan Korea, kita ketemu paling setahun sekali, sempet ga ketemu 1.5 tahun pas COVID. Tapi gue bener-bener memprioritaskan ketemu Yan, meski tiap ketemu gak kerasa kaya "udah lama ya??" karena kita selalu telponan tiap minggu. Yan penting banget buat gue, so destinasi pertama gue setelah syarat karantina dihapuskan tuh kampung halaman Yan. Segitu dibela-belain. Anything for Yan.
Termasuk kesempatan di bulan Juni ini. Yan sekarang kerja di Taiwan dan emang punya jadwal liburan ke Korea di bulan Juni. Dia pesen tiket duluan dan ga ngajak gue, karena dia ke Taiwan sama temen-temen kantornya. Gue suruh dia berdoa sejak April biar kita bisa ketemu di Korea. Gue gatau gimana caranya, karena tanggal gue mau ke Korea buat nonton konser pake tanggal merah tuh fix di 13-16 Juni. Ga bisa geser, karena tanggal merah di Indonesia kan 16 Juni. Sedangkan tanggal visit Yan tuh 19-23 Juni. Satu-satunya cara kita bisa ketemu adalah kalau gue harus dinas di Korea. Kenapa? Biar ga potong cuti gue.
Yan lah alasan gue 10 hari di Korea. Gue extend periode gue di Korea, meski udah ga ada agenda kerja, karena gue mau ketemu Yan. Beneran Yan doang alasannya. Gue jujur ke kantor dan ke bos, gue pengen 10 hari, karena mau ketemu Yan. Luckily, didukung dan diperbolehkan. Huhuhu dimana lagi cari kantor begini...
![]() |
| ube season in Korea |
Cerita positif mulu, apakah gue selalu senang di Korea? Ngga. Ada dua kejadian besar yang membuat gue sedih banget. Yang pertama, gue janjian dengan CFO gue dari kantor sebelumnya. Beliau adalah sosok yang merubah hidup gue secara profesional. Beliau kasih gue kesempatan untuk kerja di Finance, tanpa pengalaman sebelumnya. Beliau bener-bener invest waktu dan resource, secara professional dan personal ke gue. Gue mau ketemu beliau buat catch up dan pastinya berterima kasih dong. Di hari janjian, beliau cancel last minute. Hal ini sangat gak sopan dan gak wajar di konteks professional Korea, tapi mungkin gue udah gak masuk bucket professional network beliau? Gue sedih banget. Gue udah di restoran dan mulai makan bersama mantan CEO. Bahkan mantan CEO gue sampe ga bawa mobil, karena mikirnya akan minum bareng. Tapi ternyata ga jadi dateng dan ga ada reschedule. Patah hati sih.
Ditolak. Dibilang dia ga capable, dia ga bisa selesaiin masalah orang, sebelum dia mendengar pertanyaan gue. Gue sedih banget dan nangis karena merasa dia memilih untuk ga mendengar, ga cari tahu, dan langsung menolak. This feeling lingered for a long long time. Gue bilang gue gatau ini cultural gap, language barrier, atau as simple as generation gap, I felt so bad. Tapi dia ga paham gue lagi ngomong apa, karena via chat.
So all in all, dinas kali ini panas secara cuaca, tapi sangat hangat di hati. Berkali-kali gue diingatkan betapa beruntungnya gue. Ada berbagai banyak blessings, dari mulai tanggal yang memungkinkan gue ketemu Yan, kesempatan dinas yang langka dan membawa eksposur positif buat gue, bisa sekalian nonton konser dan ketemu temen-temen juga. Bantuan juga datang dari banyak sumber, dari mantan CEO yang ngajak makan, mantan kolega saat intern yang ngajak ke rumahnya, temen yang bukain pintu rumahnya biar gue ga perlu bayar hotel, dan masih banyak lagi. I feel so blessed.
Ada beberapa kali gue nangis, nangis karena kesal dan sedih karena hal pribadi. Tapi ga mengurangi rasa syukur gue sedikit pun. Semoga ini jadi awal yang baik untuk adventure gue berikutnya di tahun 2026 ini.
.jpeg)
.jpeg)







