Tuesday, October 6, 2026

Setting Boundaries

It's been a few years since I read kalau consent dan boundary itu bisa berubah-ubah. Hari ini boleh, besok ga boleh, lusa beda lagi. Seperti bertamu, kemarin diizinkan untuk masuk ke kamar atau area personal, hari ini hanya sampai ruang tamu, besok bahkan ga diterima masuk sama sekali. Gue paham teorinya. Pemilik rumah punya hak untuk menentukan level of consent dan boundary dia, tidak mengikat dan dapat berubah sewaktu-waktu. Kan rumah dia.

Tapi ternyata, saat praktek, gue sering lupa. 

Di awal Oktober, gue chatting sama manager yang gue anggap dekat di pagi hari. Chatting personal, ke nomor pribadi. Ditengah percakapan, dia bilang "Maaf ya gue kontak lu sebelum jam kerja"
Reaksi langsung gue, "oh chatting tuh ikut jam kerja kah?"
Dia bilang dia merasa ga enak (sorry) dari pagi buta sudah ada notif masuk.

Gue tersulut. Logic gue, kalau memang sorry, kenapa ga disampaikan di awal percakapan? Kenapa setelah kita 'ngobrol' tiba-tiba sorry? Merujuk pada grammar yang dipakai, dia baru kepikiran ditengah-tengah.

Gue bilang gue happy membalas pesan dia, tapi kalau dia mau pakai boundary jam kerja, I would respect that.

Si linglung ini bilang, bukan itu maksudnya. Dia merasa bagus dong kalau kita bisa kontak-kontakan dengan lancar.

Gue nangis saat itu juga. Gue gatau kenapa. Susah untuk membahasakan apa yang gue rasakan. Kata pertama yang terpikir adalah insult. I feel insulted. 

Dramatis banget ya, cuma karena diingatkan secara halus untuk ga kontak diluar jam kerja, gue merasa tersinggung. Butuh waktu beberapa hari buat gue berpikir sambil terus menangis. Di proses itu juga, gue sadar dia punya hak penuh untuk merubah boundary dan consentnya kapanpun. Kalau gue tau dan terima fakta itu, seharusnya gue bisa lebih tenang. Tapi gue malah makin sedih dan nangis. Sebenernya kenapa ya?

I think I felt stupid. I felt stupid for thinking of him as a friend. Jadi ga ada boundary dan merasa bisa ngomong apa aja, kapan aja. Disaat dia adalah senior dan technically part of jajaran bos gw.

Gue merasa offended atas effort untuk selalu hadir dan reachable. Tapi terus kepikiran, itu kan boundary dan consent dia, yang bisa berubah kapan aja? Jadi kayanya ga fair kalo gue merasa offended? Then back to the point above, mungkin merasa bodoh lebih tepat daripada merasa tersinggung.

Kejadian ini juga bikin gue merasa unfair. I gave him easy access to my life, my world, tapi ternyata ga timbal balik. Sah-sah aja. Dia ga salah. Gue yang salah karena punya ekspetasi. Apakah gue menyesal gue memberikan akses? Ngga. Gue menyesal karena berpikir dari sudut pandang gue doang. Tapi gue ga menyesal for giving him everything that I could. Ada kekecewaan juga, karena sempat ada ekspetasi.

I don't think he is actually worth my tears. Tapi gue mau jadi manusia yang tulus dan transparan. I did cry a LOT. Gue merasa sedih banget karena pintu (buat berkomunikasi diluar konteks kerja) yang gue suka ditutup. That was a privilege, bukan hak. Privilege tersebut sudah tidak ada lagi. Sekarang gue udah ga boleh berharap untuk bisa berkomunikasi di luar kebutuhan kantor. Membatasi diri atas sesuatu yang bener-bener gue hargai dan sukai (just the whole interaction with him) rasanya sulit, tapi pasti bisa. 

Tuesday, September 22, 2026

My 20s Recap

So akhirnya gue catch up sama era usia kebanyakan temen-temen gue. Ada banyak refleksi atas kehidupan 1 dekade terakhir. Ada banyak juga harapan untuk 1 dekade ke depan, kalau dikasih umur.

Usia 20

Tahun pertama kuliah. Gak merasa telat karena it was a time well-spent. I remember ngerayain ulang tahun bersama temen-temen baru di depan kampus, menunya chicken.

Highlight being 20 mungkin pertemanan baru di Korea. Mulai dari nol di kampus, ekspansi, lalu mencari circle yang bener-bener gue rasa cocok.

Usia 21

Gue inget gue banyak nangis. Ada transisi di keluarga. Ada masa dimana gue terbang ICN-DPS dan gue nangis terus. Gak berapa lama setelah turning 21, gue harus pindah dari asrama ke rumah baru. Masih banyak foto-fotonya. Disitu feeling yang tercapture adalah grateful. Bersyukur karena ada banyak banget orang yang bantu kepindahan gue.

Bersyukur juga rumah itu, rumah Chungjeongno di kampung tempat syuting Parasite, jadi best chapter gue di Korea.

Usia 22

Kerja kerja kerja. Memori terdahsyat mungkin LG Global Challenger dan segala usaha yang gue tempuh buat mendekatkan diri ke Social Entrepreneurship world. Endingnya, pintu itu masih belum terbuka buat gue. Even after 10 years.

Tapi along the way, gue ketemu banyak teman dan koneksi yang jadi lifelong friends. Salah satu yang berkesan adalah Daniel, professor prodi Arsitektur di kampus. RANDOM banget but beliau banyak bantu gue buat dapet eksposur ke lingkungan yang gue mau.

Usia 23

Cari kerja dan kerja. First time ke Peru. First time berada di Korean company buat kerja full-time. Jujur, KENA banget mentalnya. Gue harus mengikuti budaya dan tata krama yang berlaku, tapi nurani gue ga bisa. Gue harus rekrut orang berdasarkan penampilan dan ras. Sering juga bikin katalog per kriteria yang diinginkan. Sadly, selalu buat hal-hal yang gak terlalu prinsip.
Sebelum berganti umur, gue udah secure job sebagai talent MT di Jakarta. Gue bersyukur, meski ga terlalu excited. Mood gue naik turun mau pulang atau ngga. Di akhir-akhir, yakin si harus pulang.

Usia 24

Gue inget temen-temen gue mengabulkan birthday wish gue: cake Haagen Dazs di Seoul. Toko Haagen Dazs di Korea ini sangat sedikit, beda sama di Indonesia. Jadi gue susah belinya, temen-temen gue juga full effort.
Saat ulang tahun, gue udah tahu gue bakal meninggalkan Korea soon. Ninggalin Korea ga sulit. Pengalaman kerja gue di Korean company ga terlalu bagus, jadi gue merasa gapapa juga. Cuma gue punya ketakutan sendiri.

Gue takut gue ga punya uang cukup. Gue takut harus tunduk dan ga betah balik ke rumah. Gue takut kebebasan gue hilang. 

Syukurnya, none of these concerns kejadian. Balik ke rumah di usia 24 was not so bad. Gaji masuk sebagai MT 10 juta sebelum dipotong tax dan ini itu juga ternyata sangat mumpuni. Toh karena pandemi, uangnya utuh ga bisa dipake jalan-jalan. Gue inget, di usia ini lah gue galau pengen beli branded bag.

Tiba-tiba banget, karena ga bisa jalan-jalan wkwkwk. 


dari Cakung ke Bogor

Merayakan di Bandung

Usia 25

COVID masih berlangsung. Gue menghabiskan ulang tahun bersama Luluk dan Vanda, the last one sebelum Luluk nikah. Mau ketemu temen selalu susah, tapi emang kalo lu tujuan dan prioritas, TETEP akan dibela-belain kok. Ni Ilen aja sampe ke Bogor, meski rumahnya di ujung dunia yang lain.
Hal yang paling gue inget di usia 25 ini mungkin bisa jalan-jalan lagi. Kelantan dan KL jadi destinasi pertama gue. Pertama kali bisa keluar negara tanpa karantina rasanya exciting. Bisa reconnect dan ketemu Yan in person lagi, setelah lebih dari 1 tahun gak ketemu. 

Di ujung usia 25, gue potong rambut yang terpendek selama hidup. Pendek banget. Niatnya buat donasi rambut, didn't get to do it in the end. Tapi the experience was significant.

Gak penting, tapi karena gue punya uang lebih akibat ga traveling, gue pun mulai beli tas mahal. Tumi. Bukan tas mahal yang wahhh gimana, buat kerja aja. Ini diluar kebiasaan karena gue ga punya tas mahal sebelumnya, so it's a milestone?


inisiasi reuni SD di September 2022

Usia 26

Setelah dunia pelan-pelan kembali normal, gue pindah ke Jakarta. Gue, Ilen, Bon nyewa apartemen 34 juta setahun. 1 orang bayar dibawah 1.5 juta sebulan all in. 

Gue jadi punya circle Jakarta.

Gue juga makin aktif ketemu orang random dan berujung ketemu sama satu temen cowo. Temenannya berkembang jadi situationship. Gue inget masa-masa bahagia dengan dia, tapi juga masa-masa dimana gue nangis karena dia. 1 hari nangis di Central Park, New York sama one crazy night 22 Februari kita ketawa-ketawa gila, eh berikutnya 24 Februari semua HILANG... Gue diremove dari prioritasnya.

Seru banget. Ga ada yang gue sesali atau pertanyakan. It was genuinely fun. Gue beneran belajar buanyaaak banget dari dia. Belajar tentang perbedaan budaya, sikap, tentang diri sendiri juga. 
Overall, I would say it was a great love interest di masa dewasa. Ketemu 4-5x seminggu was crazy but menurut gue, itu menunjukan posisi gue di hidupnya saat itu.

Usia 27

Galau karir to the maxxx. 
Cinta sama company, tapi benci sama kerjaan sendiri. Galau daftar S2 kemana-mana tapi GMAT jeleknya banget. Fokus gue mungkin terpecah ya. Atau sebenernya masih pengen kerja, tapi ga fulfilling dan cara escape paling gampang ya persiapan S2 aja.

Akhirnya malah ke Startup IT Korea.

Menurut gue, salah satu tahun paling challenging. Gue banyak galau, sering nangis, banyak stress. Tidur ga nyenyak, sampe sangat mudah kebangun untuk terima telpon. Tapi disisi lain, jadi rajin ibadah malam juga. Ada banyak pertanyaan saat itu. Akankah path yang gue ambil ini benar? Akankah gue menyesal meninggalkan company yang sangat gue sukai - tapi rolenya gue benci?

Resign beneran gak mudah, gak terus langsung happy ending. Gue YAKIN akan masa depan cerah company tersebut, tapi gue merasa ga bisa terus menerus melakukan hal yang gue ga suka. Sebenernya kalo ga neko-neko, ya gapapa. Tetep bisa pensiun bahagia disitu. Tapi... terlalu banyak tapi. Endingnya tetep resign sih. Begitu masuk ke company baru di bulan Juni 2024 pun ujiannya gila banget. Gue melakukan hal yang gue ga pernah lakukan, diingetin kalo gue gak capable tiap hari.

1 highlight lagi: jujur ke temen kalo I have NO CAPACITY to be kind enough to support him unconditionally, karena gue merasa sangat lelah dan butuh disupport juga. I think at that time, he did not understand it completely. Sampai sekarang pun mungkin masih begitu. Tapi I did not regret saying it. Saat itu, gue bener-bener habis energi dan butuh bantuan.

Usia 28

New life in Korea. Ini highlightnya. 2 hari setelah ulang tahun, tiba-tiba dapat kesempatan pindah sebentar ke Korea. Crazy. Dapet chance baru di umur 28, disaat tahun sebelumnya gue terus menerus galau karir. Ternyata pilihan gue tepat.

Setelah pindah, gue memulai episode baru di perusahaan Korea, sebagai satu-satunya orang asing yang ga punya darah Korea di kampung situ. Less traveling. More chance ketemu orang-orang. Ada friendship lama yang bersemi lagi. Ada juga friendship baru. 

Highlight dari usia 28 ini gue rasa sih konser JJ Lin. Gue ada di Korea disaat yang tepat, dimana JJ Lin konser untuk pertama kalinya di Korea. Gue bisa join fandom lokal dan dapet kesempatan yang ga pernah ada sebelumnya. Fangirling lain gue ke Xia Junsu, Hong Kwangho juga unbelievably TERLALU lancar. Gue bingung, sering banget ticketing yang kerasa impossible dipermudah? Contohnya keinginan buat nonton Hong Kwangho sekali lagi sebelum pulang. Tiba-tiba aktor lain sakit, performancenya di cancel dan digantikan Hong Kwangho. Gue jadi bisa beli tiket, karena H-1 dibuka lagi dengan aktor baru Hong Kwangho.

Dari friendship yang terjalin, gue rasa gue jadi deket banget sama Ci Anita, cici yang suka gue panggil Ibu Peri. Kalo gue ga di Korea, gue ga travel bareng sama Cici, dan mungkin kita ga akan pernah bisa jadi deket.

Sempet ada fling baru, tapi setelah 2-3x jalan ke luar negeri bareng dia, gue merasa teryakinkan dia bukan orang yang baik buat gue. Dia ga paham dunia gue, dan cenderung merendahkan dunia gue. Aduh capek banget.

Usia 29

Mengawali umur baru karena nangis tiap hari karena CFO/sunbae kesayangan resign. Gue banyak berutang budi karena bisa berkembang pesat dibawah beliau. Keinget 1 bulan penuh dikit-dikit nangis. Lagi ga ngapa-ngapain tau-tau nangis. Ternyata karena gue merasa stress dan frustasi ga bisa menyampaikan apresiasi gue dengan baik, full, candid ke beliau. Ga ada kesempatan dan beliau bukan listener.

First layoff di umur 29. Wow pengangguran buat kurang lebih 2 bulan? Officially gue dapet offer 2 minggu-an setelah my last day. Bersyukur banget sangat CEPET, tapi saat gue menjalani hari-hari itu sih kerasa luamaaaa banget.

Highlight umur 29 adalah tidak punya job tetap. Job yang sekarang beneran best job of my life (so far), tapi projekan. Ga tetap. Banyak ketidak pastian. Part signifikan lain adalah bertemu bos yang membalikkan stigma dan stereotipe gue ke orang Korea dan menjalin hubungan linglung sama salah satu dari mereka. Dari proses ini, gue banyak belajar soal diri sendiri sih.

Ternyata gue bisa absorb risk pekerjaan yang sangat besar, asalkan values gue sesuai dengan kerjaannya. Ternyata gue HARUS mengekspresikan apa yang gue rasakan, kalo gak, gue stress dan sedih. Ternyata gue masih bisa toleransi boundary yang ga jelas bersama cowo linglung. Ternyata gue punya kecenderungan mengabdi, kalo udah merasa berhutang budi.
Tapi gongnya, ternyata gue mudah detach. Thanks to cowo linglung sih, gue jadi dapet kesempatan untuk belajar banyak tentang diri gue sendiri.

Setelah dipikir-pikir, mayoritas highlight hubungannya sama karir. Ya pantes aja gue gak banyak love story. Yang berbekas di hati gue beneran soal kerjaan dan kerjaan.

In my 20s, gue rasa gue belajar banyak soal being flexible. Gue boleh punya plan sedetail apapun, tapi akhirnya gue harus berserah dan terima apapun yang datang dan yang terjadi. Harus banyak pasrah dan terbuka. Selain itu, dari sisi pertemanan, harus bisa menerima perbedaan tapi tegas terhadap batas dan value diri sendiri. Gue dikelilingi teman-teman dari berbagai background. Beda secara selera, agama, prinsip hidup dan sebagainya. Kita tetep berteman baik, tapi saling menghormati. Gak pernah saling maksa untuk mengikuti style masing-masing.

Dari sisi pekerjaan, gue lebih jelas atas apa yang gue mau.
Growth. Gue masih muda, gue pengen selalu belajar dan berkembang.
Money. Ini sangat amat penting. Ga bisa dikesampingkan. Ternyata lifestyle gue mahal di kebutuhan jalan-jalan dan bayar asuransi.
Path. Gue harus tau bagaimana karir yang gue pilih ini bisa mendekatkan gue ke bigger life goals yang gue punya. Kalo ga mendekat, ngapain bertahan?
Title dan prestige baru bukan prioritas. Asal gue merasa gue berkembang, gue ga terlalu butuh title atau kerja untuk company ngetop.

30s surely will be a new era. Hopefully masih punya value yang sama dan dikelilingi banyak cinta, seperti era 20s gue yang banyak diberkati orang-orang baik.

Thursday, September 10, 2026

Wedding Weekend to Wedding Week

Sudah hampir seminggu setelah wedding week adek gue berakhir. Gue mendapat kehormatan bisa dikunjungi teman-teman dari berbagai negara. Ada banyak plot twist, terutama karena bandara ditutup sampai 2 hari setelah wedding berakhir (6 dan 7 September). So temen-temen gue jadi ga bisa pulang ke negaranya sesuai rencana.

Acara ini bukan wedding gue. Pemeran utamanya ya bukan gue.
Gue ga terlibat dalam perencanaan. Gue awalnya cuma mau mengundang 2 teman Bogor gue, Luluk dan Vanda. Gue ga berharap teman-teman yang lain datang, karena lokasi yang jauh dari Bogor atau Jakarta.

Nyokap gue yang gak konsisten itu tiba-tiba berubah konsep. Dari kecil dan sederhana jadi lebih proper dan bisa undang siapa aja. Nyokap gue pun mengundang boss dan teman-teman Jakarta gue. Lalu gue mulai expand list undangan ke... teman-teman dekat gue dari luar negeri.

Gue ga punya banyak waktu, gue sendiri baru tau rundown acara h-1 bulan. Undangan baru ada h-10 hari? 14 hari?

Ditengah waktu yang sempit itu, gue mengontak temen-temen gue TANPA undangan. Gue pake essay, bilang perspektif gue. Gue paham lu jauh, ga perlu dateng. But I love you, so I am inviting you.

Tapi temen-temen gue ternyata langsung say yes. Tanpa mikir. Langsung komit. Gue yang ngundang, gue yang kaget.

segampang itu...

Endingnya berkumpul lah teman yang terbang dari Korea, Taiwan, Kamboja, Vietnam, dan Malaysia. Plus 3 Filipino yang emang tinggal di Jakarta. Masing-masing dengan strugglenya sendiri. Yan, bestie gue yang tinggal di Taiwan, harus pulang ke Malaysia dulu buat bikin paspor. Ci Anita, yang tinggal di Korea, beneran padat jadwalnya. Pulang kerja hari Jumat terbang ke Jakarta terus Minggu langsung balik lagi, buat kerja di hari Senin. Ry, dari Malaysia, merelakan weekend terakhir dia di Malaysia sebelum pindah negara buat visit gue.

Semua bener-bener totalitas dan menyentuh. Akhirnya gue pun plan 3 days weekend. Welcome dinner hari Jumat, serangkaian wedding day + jalan-jalan di hari Sabtu, chill dan thank you dinner di hari Minggu. Asumsi gue rata-rata pulang hari Senin, so 3 hari bersama cukup.

Manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang menentukan.
Bandara tutup di hari Minggu dan Senin so temen-temen gue punya extra day di hari Senin. Yan malah decide pulang hari Kamis, so dia di Indonesia selama 1 minggu penuh. Ga ada agenda khusus, istirahat dan leha-leha aja.

Gue... bersyukur sekaligus khawatir. Khawatir gue ga bisa full hosting mereka karena kerjaan, tapi bersyukur karena gue punya banyaaaak extra time buat catch up. Gue memang sudah mempersiapkan logistik secara cukup matang, tapi gue cuma 1 orang yang harus berbagi perhatian ke banyak tamu. Pasti ga bisa totalitas dengan semua orang di hari H.


Ada banyak highlight di wedding week kali ini. Semua temen gue dateng. Temen yang gue kira ga bisa dateng, ternyata bisa dateng. Boss yang gue kira akan bosan, ternyata bisa stay sampe lebih dari 2 jam di venue. Thank You Dinner yang gue kira akan sepi, ternyata sangat berkesan karena ada lebih banyak teman yang dateng. Gue happy dan bersyukur banget.

Krisis gak bisa pulang buat temen-temen gue juga jadi highlight.
Maybe I needed that. Maybe Tuhan tau gue masih butuh temen-temen gue stay lebih lama. 

with my current boss(es)

Ada banyak self realization juga. Seperti how lucky I am punya temen-temen yang selalu ready. How blessed I am punya dunia yang terintegrasi, keluarga, pertemanan dan kerjaan. Jujur, gue tersentuh banget pas boss gue pergi untuk sebuah urusan ditemani dua temen gue yang mereka baru ketemu untuk pertama kali, terus gimana gue boleh mengurangi intensitas kerja saat temen-temen gue disini, dan terkejut pas cowo linglung bayarin dinner sama teman-teman gue yang buanyaaak itu, dan terakhir, saat bos besar secara random ngajak Yan makan dengan antusiasme yang tinggi. 

Integrasi. Ini mungkin kata kuncinya. Gue ga perlu jadi orang yang berbeda dengan status sosial yang berbeda, sebagai anak, sebagai teman, atau sebagai pekerja.
Gue ga perlu mikirin gimana berbagi waktu dan tenaga, karena gue boleh anggap mereka semua sebagai circle gue.

I am spending my last days of being 20s being fully loved and supported, memories from this week will surely stay with me for a long long time.

Wednesday, September 2, 2026

Ending with Cowo Linglung

So I have been sharing that lately kalo gue lagi spending a lot of time with cowok linglung. A confused man. Gue percaya banget gue memang tidak melihat masa depan sama dia, sebagai teman, apalagi sebagai pasangan. Tapi dia mempengaruhi mood gue, lebih dari yang gue bisa kontrol.

Hari ini, gue diingatkan lagi dan lagi kenapa dia bukan orang yang baik buat gue. He is a people pleaser, sampe ga bisa bikin keputusan (yang menurut gue) sederhana, karena terlalu banyak orang yang dia pikirkan. Ini cuma urusan nentuin tanggal pulang. Main stakeholders dia ada dua, dan untuk keputusan sederhana ini, dua-duanya punya pendapat yang berbeda. Menurut gue, tinggal dia buat aja keputusannya, sesuai keinginan dia. Toh he would have one stakeholder supporting anyway. Tapi buat dia ga semudah itu.

Maju kena, mundur kena.

Dalam proses ini, gue melihat bagaimana dia meletakkan dirinya sendiri sama dengan urutan prioritas yang dia punya buat gue: so freakin' low.

Gue ternyata kesal dan frustasi melihat proses tersebut. Gue cuma melihat, gak komen dan gak dimintai pendapat juga. Tapi saking keselnya, gue nangis. Bukan karena gue merasa dia harus memfaktorkan gue dalam keputusannya, tapi karena "wow you really do not know how to prioritize yourself."

Selain itu, waktu kita bareng akan berakhir sebentar lagi. This is a fate that was informed early to me. Dengan niat yang baik, gue mau dia bahagia di minggu-minggu terakhirnya. Gue disadarkan cara dia menghabiskan waktu yang menyenangkan itu berbeda dengan gue. Dia ga suka ketemu orang yang bukan dari negaranya, karena faktor bahasa. Dia merasa diundang ke berbagai kesempatan informal dan casual buat ketemu temen-temen gue itu sangat stress dan membebani dia. Buat gue, it is a way to include him to my world.  Tapi dia ga mau dan ga happy.

Minggu ini, gue mengundang semua orang projek buat international dinner bersama temen-temen gue yang dateng dari luar negeri buat event. Tapi diantara orang projek, dia doang yang bisa hadir. Saat dia nanya rundown, dia plan untuk datang sesuai jadwal dan pulang seawal mungkin. Disitu gue sedih. Bukan karena dia mau pulang cepet, tapi karena gue jadi inget. Agenda ini bukan agenda yang sparks joy atau menyenangkan buat dia.

So I decided to say it to him. Kalo ga happy, ga usah dateng gapapa kok. Waktu lu ga banyak. Please prioritize only things that make you happy.

Dia bilang dengan firm bakal dateng, ini rare opportunity. Dia ga merasa terpaksa.
It feels like a forced formality to me.

Meski sudah terus terang, gue masih merasa sangat sedih. Kalo dia jawab ga mau dateng, mungkin it feels like a confirmation. Emang dia ga bisa bahagia, saat gue jadi diri gue sendiri dan melakukan hal-hal yang gue sukai (termasuk hosting teman kaya plan minggu ini). We are different. Mungkin akan tetap sedih, tapi ga ada plot twist yang harus gue antisipasi.

Dia jawab bakal dateng pun bukan jawaban yang bikin gue bahagia. Gue sedih, karena I have to steal his time for something that he does not like dan buat gue, waktu adalah sesuatu yang sangat berharga karna ga bisa balik lagi. I feel like forcing him to give something so precious, yang mana gue juga ga bahagia menerimanya, buat dia pun ga akan jadi kenangan yang baik. 

So this is how it ends. Ga ada penyesalan sih, meski yes tetep sedih.

Thursday, August 6, 2026

Juli 2026: Dinas yang Lebih Panas

Ternyata tiba-tiba gue harus ke Korea lagi di akhir bulan Juli. Semua terjadi begitu cepat, gue ga punya waktu buat mikir, buat bikin janji, ataupun planning mau kemana dan ngapain. Sebelumnya, gue merasa kepanasan, bulan Juli jauh lebih panas.

Gue berangkat kerja di suatu hari Senin. Gue suka hari Senin, gue kira harinya akan jadi hari Senin yang biasa-biasa aja. Ga ada agenda khusus, ga ada hal yang bikin excited atau takut. Tapi ternyata, di pagi hari, tiba-tiba keluar agenda kerja penting di hari Jumat.

Penting buat klien gue, bukan buat gue.

Semua orang gak sangka agenda tersebut terjadi 4 hari setelah pengumuman jadwal diterima. Panik, bingung, sampailah ke diskusi soal "cara terbaik menghadapi agenda ini" yang jawabannya: kirim gue ke Korea.

Agendanya tuh interview. Tapi karena interviewnya dalam Bahasa Indonesia atau Inggris, gue dihubungi untuk ke Korea. Gue sih ready banget buat berangkat, say yes before knowing how. Yang gue ga sangka, siang itu juga di hari Senin yang sama, gue udah punya tiket buat ke Korea untuk esok lusanya (Rabu malam).

YAAAAAA.... SEBENERNYAAAAA.... emang kalo ada duit dan alasannya, beli tiket ke Korea di hari yang sama juga bisa aja sih. This was new to me. Especially karena nature kerjaan gw itu projek, bukan kantor full-time.

Gue ga punya persiapan khusus, all I know gue akan sampe hari Kamis, kerja di hari Jumat, punya weekend free dan balik di Minggu malam. Gue ke Korea sendirian, karena cuma butuh penerjemah aja kan. Tapi timingnya perfect, manager gue lagi ada di Korea untuk cuti musim panas. Dia ga punya kewajiban apapun untuk entertain gue, tapi dengan kebaikan hatinya, gue menghabiskan 3 dari 4 hari gue dengan dia. Unexpectedly.