Wednesday, July 15, 2026

June 2026: Dinas yang Panas

Udah official masuk Summer di Korea. Setelah berbagai kejutan manis di bulan Mei, Juni ternyata bawa lebih banyak blessing. Salah satu yang terbesar adalah dinas ke Korea.

Gue dikirim dinas dengan hari efektif 10 hari. Beda sama kantor sebelumnya, status gue disini memang pekerja projek, bukan pegawai tetap kantor ini. Jadi absensi dan jadwal gue dikontrol sama boss besar (anggap aja ketua projek), bukan sama perusahaan. Gue memilih untuk melihatnya sebagai hal yang positif, ketimbang mikirin aspek negatif "lah bukan kartap". Kenapa? Karna gue jadi punya fleksibilitas sangat tinggi. 

10 hari di Korea, gue cuma harus kerja 1 hari.

Padahal dinas. Padahal fully funded. Kok bisa? Gue pun ga bisa berkata apa-apa selain bersyukur. Baik banget.

Pegawai tetap kantor banyak yang gak tahu kalau status gue tuh pekerja projek. Jadi ga ada yang menyangka kalau gue punya fleksibilitas ga perlu ngikutin peraturan perusahaan. Gue ditanya sama salah satu petinggi, "Selesai agenda hari ini, kamu ngapain di Korea?"

Gue bilang gue bakal main-main aja. Dia kemudian bertanya, "Oh kamu cuti?"
Jujur, gue membisu gatau harus jawab apa. Boss besar langsung cover dan bilang, "Iya, dia cuti"

YA AMPUN. Baik banget. Beliau pasang badan bilang gue cuti, padahal ngga.

Dinas kali ini membawa gue flashback ke masa-masa kuliah. Gue dulu bermimpi ingin kerja di daerah sini. Daerah Yeouido, yaitu distrik keuangan di Seoul. Gue sudah mendapatkan kesempatan 'trial' part time di Yeouido beberapa kali, intern full time di salah satu perusahaan paling bergengsi 1x. Setelah mengalami itu semua, gue merasa budaya korporat di sana gak cocok dengan gue. Gaji dan prestise tinggi banget, tapi gue ga bahagia. Setelah cari kerja, gue selalu dapet offer malah bukan di daerah sini.

Fast forward, 2026 gue kembali ke sini. Gue bisa bilang gue bagian dari salah satu perusahaan bonafid di Yeouido. Tapi gue udah ga pengen sama sekali untuk kembali ke sini. Gue udah lebih tahu apa yang gue mau, dah ga penasaran sama 'bling-bling' gemerlap Yeouido. Harus diakui, gajinya GEDE BANGET. Tapi ternyata itu bukan prioritas gue, dan gue berani bilang hal ini ke boss gue, tanpa takut gue jadi 'dibayar murah'. Kesempatan untuk bertumbuh dan berkembang jadi hal yang lebih menarik buat gue daripada uang.


Di visit gue kali ini, gue menyempatkan ketemu beberapa teman. Gue sering banget ketemu orang di taman, outdoor, siang-siang, karena temen-temen gue banyak yang punya anak dan suka ngajak anaknya main di taman. Mereka ada di fase hidup yang berbeda dengan gue, dan gue bener-bener bersyukur masih bisa reconnect dan ngobrol bareng. Mereka lebih sibuk dari gue, mereka masih menyempatkan waktu. 

Ternyata meskipun gue bilang gue capek dan bosen ke Korea, gue masih menantikan kesempatan buat ketemu temen-temen yang memilih untuk menetap di Korea saat ini.


Highlight terakhir adalah ketemu Hengyan, bestie gue dari jaman kuliah. Kita beda kewarganegaraan, jurusan, dan bidang kerja. Setelah gue meninggalkan Korea, kita ketemu paling setahun sekali, sempet ga ketemu 1.5 tahun pas COVID. Tapi gue bener-bener memprioritaskan ketemu Yan, meski tiap ketemu gak kerasa kaya "udah lama ya??" karena kita selalu telponan tiap minggu. Yan penting banget buat gue, so destinasi pertama gue setelah syarat karantina dihapuskan tuh kampung halaman Yan. Segitu dibela-belain. Anything for Yan.

Termasuk kesempatan di bulan Juni ini. Yan sekarang kerja di Taiwan dan emang punya jadwal liburan ke Korea di bulan Juni. Dia pesen tiket duluan dan ga ngajak gue, karena dia ke Taiwan sama temen-temen kantornya. Gue suruh dia berdoa sejak April biar kita bisa ketemu di Korea. Gue gatau gimana caranya, karena tanggal gue mau ke Korea buat nonton konser pake tanggal merah tuh fix di 13-16 Juni. Ga bisa geser, karena tanggal merah di Indonesia kan 16 Juni. Sedangkan tanggal visit Yan tuh 19-23 Juni. Satu-satunya cara kita bisa ketemu adalah kalau gue harus dinas di Korea. Kenapa? Biar ga potong cuti gue.

Yan lah alasan gue 10 hari di Korea. Gue extend periode gue di Korea, meski udah ga ada agenda kerja, karena gue mau ketemu Yan. Beneran Yan doang alasannya. Gue jujur ke kantor dan ke bos, gue pengen 10 hari, karena mau ketemu Yan. Luckily, didukung dan diperbolehkan. Huhuhu dimana lagi cari kantor begini...

ube season in Korea

Cerita positif mulu, apakah gue selalu senang di Korea? Ngga. Ada dua kejadian besar yang membuat gue sedih banget. Yang pertama, gue janjian dengan CFO gue dari kantor sebelumnya. Beliau adalah sosok yang merubah hidup gue secara profesional. Beliau kasih gue kesempatan untuk kerja di Finance, tanpa pengalaman sebelumnya. Beliau bener-bener invest waktu dan resource, secara professional dan personal ke gue. Gue mau ketemu beliau buat catch up dan pastinya berterima kasih dong. Di hari janjian, beliau cancel last minute. Hal ini sangat gak sopan dan gak wajar di konteks professional Korea, tapi mungkin gue udah gak masuk bucket professional network beliau? Gue sedih banget. Gue udah di restoran dan mulai makan bersama mantan CEO. Bahkan mantan CEO gue sampe ga bawa mobil, karena mikirnya akan minum bareng. Tapi ternyata ga jadi dateng dan ga ada reschedule. Patah hati sih.

Kejadian berikutnya, kalau dipikir-pikir, sepele banget. Gue bertanya ke manager untuk urusan personal. "Mau bantuin gw solve kegalauan gue ga?"
Ditolak. Dibilang dia ga capable, dia ga bisa selesaiin masalah orang, sebelum dia mendengar pertanyaan gue. Gue sedih banget dan nangis karena merasa dia memilih untuk ga mendengar, ga cari tahu, dan langsung menolak. This feeling lingered for a long long time. Gue bilang gue gatau ini cultural gap, language barrier, atau as simple as generation gap, I felt so bad. Tapi dia ga paham gue lagi ngomong apa, karena via chat.

So all in all, dinas kali ini panas secara cuaca, tapi sangat hangat di hati. Berkali-kali gue diingatkan betapa beruntungnya gue. Ada berbagai banyak blessings, dari mulai tanggal yang memungkinkan gue ketemu Yan, kesempatan dinas yang langka dan membawa eksposur positif buat gue, bisa sekalian nonton konser dan ketemu temen-temen juga. Bantuan juga datang dari banyak sumber, dari mantan CEO yang ngajak makan, mantan kolega saat intern yang ngajak ke rumahnya, temen yang bukain pintu rumahnya biar gue ga perlu bayar hotel, dan masih banyak lagi. I feel so blessed. 

Ada beberapa kali gue nangis, nangis karena kesal dan sedih karena hal pribadi. Tapi ga mengurangi rasa syukur gue sedikit pun. Semoga ini jadi awal yang baik untuk adventure gue berikutnya di tahun 2026 ini.

Friday, June 26, 2026

May 2026: A Chaotic Yet Fulfilling Month

Started the month in Medan, terus tiba-tiba buaaanyakk banget surprise yang gue ga akan pernah lupa dan mau gue ingat terus.

Gue ga tenang, gatau kenapa, pengen buru-buru balik. Padahal gue sangat bersyukur untuk kesempatan liburan bareng sama Cici dan teman-teman Cici. Gue ke Samosir untuk pertama kalinya, gue juga enjoy mendengar percakapan dokter. Tapi tetep mau pulang.

Selain karena Ilen yang lagi ga sehat karena jadi korban kebakaran di akhir April, gue juga gatau kenapa pengen ke kantor. Gue cut short liburan gue dari 5 hari jadi 4 hari. Gue ke Kualanamu tanpa tiket, berhubung gue cuma mau balik dengan pesawat pertama.

Sesampainya di Jakarta, gue disambut hujan deras dan langsung ke rumah Ilen. Gue capek juga harus pulang ke rumah di sisi lain Jakarta, so gue memutuskan buat nginep di hotel deket situ dan paginya ngantor bareng sama Ilen. Di hari pertama gue ngantor di bulan Mei 2026, gue disuruh pulang cepet karena boss-boss gue sangat perhatian dan tau gue pasti capek.

Gue pun pulang.

Tapi ternyata, setelah gue pulang, ada kejadian yang sangat tidak diharapkan. Apa yang kita usahakan beberapa bulan terakhir gagal. Gue yang ga ikut kontribusi banyak pun langsung hilang semangat dan cemas, khawatir sama boss besar yang harus menanggung impactnya. Gue sangat concern, tapi harus menunggu sampai hari kerja berikutnya.

6 Mei was the beginning of something unexpected.

Suasana kerja di 6 Mei tentu penuh ketegangan, semua orang gak baik-baik aja karena deal drop di hari sebelumnya. 6 Mei juga jadi hari yang sangat panjang, karena boss besar punya agenda dinner penting. Ternyata dinner itu jadi awal dari adventure yang gue ga pernah duga.

7 Mei, we already started something new to recover from the deal drop. Semua berjalan sangat cepat, dari pagi sampe malem (hwesik). Gue dan boss besar keliling ke beberapa meeting berdua. 2 manager standby di kantor, tentu dengan hati yang ga tenang karena gatau apa yang terjadi kan.

Waktu kita buat chill cuma dari jam 2-3 sore. Kita duduk di coffee shop dan ngobrol hal-hal yang ga berkaitan sama 'bom' di kantor. Boss besar menanyakan pertanyaan yang bikin gue mikir mendalam: "Lu belajar kerja dimana?"


Gue bingung harus jawab apa, gue juga ga terpikir. Kenapa keluar pertanyaan ini ya?

Gue ga bisa menjawab dengan jelas, tapi gue terus memikirkan pertanyaan tersebut selama beberapa minggu setelahnya.

Setelah meeting terakhir, gue diajak ikut makan malam (hwesik) sama tim. Ini salah satu hari yang monumental, hari dimana gue mendapatkan banyak banget confession. Boss besar berkali-kali bilang, sambil mabok, beliau happy karena rekrut gue. Manager satu bilang dia nganggep gue sebagai teammate, bukan sebagai karyawan lokal. Maknae manager diem aja sih.

Ini adalah titik pertama dimana gue mulai selalu diajak hwesik. Ternyata selama ini, mereka takut gue ga bisa enjoy. Jadi gue gak pernah diundang hwesik untuk alasan yang baik: takut bosan karena gue gak minum alkohol.

Setelah dua kali hwesik, mereka bisa lihat ternyata gue selalu high dan baik-baik aja meski ga minum alkohol. Gue tetep bisa ikut meramaikan dan sama sekali gak keliatan out of place, meski gue satu-satunya yang ga minum alkohol.

Minggu-minggu setelahnya, kita fokus dengan projek baru. Hari-hari terasa lambat, karena bulan Mei banyak libur nasional. Gue sibuk liburan juga. Di tengah bulan yang penuh libur ini, gue menjalin hubungan yang lebih erat dengan maknae manager di kantor. Kita jalan lebih sering dan gue merasa lebih dekat.

DIa selalu bilang, dia ga punya teman atau orang yang dekat.

one of those nights

So yes, I will never be counted as more than pegawai. Cuma gue merasa ga perlu terpaku pada itu, I genuinely like spending time with him. He is someone who has been helping me a lot. Sebenernya, everyone in the office beneran banyak bantu gue. Caranya beda-beda. Gue merasa cara dia caretaking gue, sebagai yang paling muda, paling clueless dan paling bodoh di kantor sangat ngena.

Gue banyak terbantu. But gue gayakin apakah gue jadi beban (responsibility) atau malah bisa membantu hidup dia juga.

All I knew, di hari Idul Adha, ni Manager dateng ke Bogor naik kereta. Tadinya kita mau jalan di Bogor, but tiba-tiba ada update kerjaan mendadak. Jadi gak konsen, dia bete, dan gue nawarin dia buat kerja dari rumah gue di Bogor. So we spent the Lebaran day... working.

Buat dia, dia merasa bersalah karena menghancurkan hari libur dan plan yang dibuat. Buat gue, gue merasa dia dateng ke rumah gue dan somehow menyelesaikan suatu pekerjaan udah jadi memori yang unik. Gue ga akan pernah terpikir bisa begini di BUMK?

Gue menutup bulan Mei di Beijing, lagi-lagi dengan penuh rasa syukur. Meski untuk pertama kalinya gue harus kerja saat cuti, gue tetep beneran merasa sangat senang gue bisa diberikan kesempatan untuk kerja disini, bersama orang-orang baik. Beijing kali ini membawa memori baru, karena gue pergi sama temen, yang merupakan mantan boss gue di perusahaan terdahulu. Umurnya hampir kaya nyokap gue, tapi kita akrab banget.

Bulan Mei ini gue rasanya menerima sangat banyak cinta. Gue banyak bersyukur karena ada babak baru di kerjaan, seketika challengenya jadi banyak tapi fun. Gue juga bersyukur doa-doa kecil yang diucapkan di hari Arafah ternyata tercapai semua. Yang doa-doa besar belom sih. Tapi it's a good start. All in all, May ini bener-bener banyak kejutannya.  

Tuesday, May 19, 2026

Series of Plot Twists in April

Ada banyak sekali hal yang terjadi di kantor di bulan April. Mostly sifatnya challenge, alias masalah atau kesulitan. Tapi bulan yang roller-coaster ini diakhiri dengan sebuah plot twist yang bikin gue terpana, ga menyangka.

Bekerja di company dengan budaya asing udah jadi hal yang biasa buat gue. Tapi ga berarti gue udah fully immersed dan jadi seperti mereka. 'Warna' gue masih sangat strong dan kadang, masih suka clash juga dengan boss-boss asing. Ada boss yang ga peduli, mereka pemimpin di institusinya, mereka yang akan membentuk budaya institusi tersebut sepenuhnya. Pegawai cuma harus patuh dan ngikut. Ada boss yang hybrid, mau memahami budaya lokal, tapi akan tetap apply berbagai nilai yang mereka yakini, misalnya perkara sama sekali ga ada toleransi telat kerja (bukan cuma soal kehadiran, tapi juga deadline, meskipun masalahnya eksternal) dan susah cuti, kecuali dah ga bisa bangun dari tempat tidur. Ada juga boss yang akan cari tau dan berusaha adaptasi dengan budaya lokal, sambil mencari 'warna'nya sendiri, yang cocok.

Setelah melewati company tipe pertama dan kedua, akhirnya gue menemukan boss tipe terakhir. Beliau sangat penasaran, mau belajar, dan terbuka dengan budaya lokal. Tiap minggu, ada interaksi-interaksi yang menggambarkan keingintahuan ini. 

Beberapa minggu terakhir, ada series of unexpected problems yang mengharuskan semua orang untuk stay alert. Perkembangannya terlalu cepat, terlalu banyak hal-hal baru yang datang. Gue jadi lebih banyak ngobrol dengan boss-boss di kantor. Ada beberapa pertanyaan yang bikin gue kaget, dalam hal yang sangat positif.

"Kami gak ngajak kamu buat ikut ke tempat minum, karena mikir kamu akan ngerasa ga nyaman. Gimana pendapat kamu? Kamu pengen ikut, apa gak pengen ikut?"

Oh... A higher up actually cares about how I feel for a trivial, social, non-work related matter? 
Gue tersentuh karena ditanya. Gue ga peduli diajak atau ngga, tapi gue sangat merasa dihargai karena ditanya.

Lalu di minggu yang sama, ada momen dimana boss besar merasa gue ga perlu diajak makan bareng bersama tamu pejabat internal. Niatnya sangat baik, menjamu tamu ini suasananya cenderung kaku dan mungkin stressful. Tapi karena kesalahpahaman, somehow gue jadi ikut ke acara tersebut. Plot twistnya? Gue kenal tamunya...

Gue kenal tamu tersebut lebih dulu daripada boss-boss gue. Ga ada yang menyangka. Tiba-tiba, ada kesan baik dari kebetulan ini. Gue ga seharusnya ada di situ, tapi karena series of coincidences, gue ikut dan berakhir baik. Gue merasa Tuhan sedang menjawab salah satu keraguan dalam hati gue, bahwa sebenarnya gue sudah berada di tempat yang tepat untuk saat ini.

Yang terakhir, one of the most frequently asked question, "Ini pendapat kamu, atau pendapat orang sini pada umumnya? Ini normal untuk kamu, atau normal untuk orang pada umumnya?"

Buat gue, pertanyaan ini menggambarkan sensitivitas dan kepedulian untuk tidak menggeneralisasi. Sering kali, gue jadi berpikir mendalam. Ini gue aja, atau orang lain juga cenderung merasa atau berpendapat sama ya?

So bulan April memang bukan bulan yang mudah, tapi gue sangat bersyukur atas semua pelajaran, renungan, kebetulan, dan kesempatan yang datang. Rasanya, 5 tahun lagi pun gue masih ingin mengingat apa yang terjadi di bulan ini.

Wednesday, April 1, 2026

Leading with Wisdom

Udah hampir 3 bulan kerja, gue baru mengalami hari dimana gue kesel dan setengah teriak ke manager di kantor. Dia ga salah apa-apa, gue yang terlalu emosi. Tapi dari pengalaman hari yang capek (biasanya santai banget) ini, gue belajar banyak dan diingetin betapa langkanya punya boss besar yang bijak di kantor.

Manager gue lagi ngolah data keuangan bulanan. Ada satu temuan yang mengganjal. Satu akun (akun dalam akunting) menunjukkan trend penurunan, disaat harusnya mengalami kenaikan. Dia butuh tahu apa alasan akun ini malah turun, secara logika, harusnya naik. Untuk tahu alasan ini, gue harus koordinasi dengan team Indonesia dan cari tahu. FYI, boss gue semua orang asing yang minim Bahasa Indonesia, dan ga bisa technical English.

Permasalahannya dimulai dari fakta bahwa gue gatau ini akun apa, darimana dapetnya, harusnya trendnya seperti apa. Gue ga paham arah. Manager ini punya kebiasaan sangat keren buat menjelaskan background dengan sangat jelas dan runtut. Misal, pertanyaannya "Apa alasan susah dapet taksi disaat hujan?"

Dia akan mulai dari penjelasan kalau di Jakarta itu orang pake aplikasi untuk cari taksi. Ada aplikasi untuk taksi biasa, ada aplikasi untuk ride-sharing lokal. Terus taksi di Jakarta itu ada sekian perusahaan. Secara harga, taksi beroperasi pakai argo, kalau ride-sharing pake dynamic pricing. Terus cara booking in advance kalau pake app X, minimal sejam sebelum, sedangkan di app Y bisa 20 menit sebelumnya, cuma ga diprioritaskan buat dapet duluan. Kalo ujan, udah pake semua app pun tetep susah. Padahal jumlah taksinya banyak, supir aplikasi juga dapet insentif karna dynamic pricing. Jadi kenapa susah banget dapet taksi pas hujan? Hipotesanya bisa penggunanya yang lebih banyak, atau supirnya yang berkurang karena macet, yang mana yang lebih tepat?

Detail dan lengkap banget, kan? Manager ini emang bagus banget dalam menjelaskan sesuatu. Ga pernah sekalipun gue dapet perintah, tanpa penjelasan background yang lengkap. 

So gue kira, oke gue dah dapet gambarannya. Gue bisa bertanya ke team Indonesia, bermodal penjelasan yang jelas. Tapi isunya sangat teknikal akunting dan hitungan khas industri. Gue dapet penjelasan dari team Indonesia yang gue paham dan bisa terjemahkan, tapi gue ga punya kemampuan untuk menilai apakah penjelasannya logis, rasional, runtut dan lengkap. Simply karena pemahaman yang dangkal.

Gue kembali ke Manager buat menerjemahkan info yang gue dapet. Manager ini merangkum info yang gue sampaikan di papan tulis, sambil berpikir verbal (nulis sambil ngomong). Dia minta gue konfirmasi, pemahaman dia bener atau ngga. Ditengah-tengah, dia bilang dengan sangat santai dan santun "Alira, iya ini bener. Tapi yang gue butuh tuh WHY sama data yang support WHY ini. Gue mau angka dan alasan spesifik kenapa ini turun. Cara ngitungnya gimana, kok bisa turun gini?"

Gue setengah teriak karna gue merasa gue sudah menjawab hal tersebut berkali-kali. Gue merasa gue jawabannya sudah dicover sebelumnya dan ga ada yang bisa kasih tau gue info yang lebih detail lagi. Dia ga marah atau kaget sama suara gue yang naik, dia cuma bilang "Tetep harus kita cari cara ngitungnya, kalo gak, ini ga selesai. Pusat minta. Di pusat, dapet hitungannya tuh bukan hal yang sulit. Disini ternyata tantangannya banyak ya. Komunikasinya susah, terus kita gatau PICnya siapa dan apa dia paham maunya kita."

Gue yang lagi capek mental pun cuma berjanji buat tanya sekali lagi. Gue yakin jawabanya akan sama: ga ada yang tau dasar hitungannya, karena semua otomatis dari sistem. Gue juga susah terima, tapi itu kenyataannya.

Hal ini terjadi di pagi hari, disaat boss besar lagi ga ada. Saat jam makan siang bersama boss besar, Manager ini report ke boss besar soal hambatan yang terjadi. Dia bilang "Dah dicari tahu, tapi belom dikasih data jelas yang bisa membuktikan hitungannya. Mau dicari cara hitungnya seperti apa, katanya ga ada yang tahu. Alira dah coba ke tim yang kita rasa tahu, katanya bukan mereka yang handle."

Manager sama sekali ga menaruh beban atau menyalahkan gue, dan boss pun ga komen banyak. Tapi setelah makan siang, saat semua orang udah santai dan better mood, boss besar nanya gue.

"Alira, kamu paham bedanya akun A dan akun B?"
"Baru tadi pagi bisa paham"
"Sebelumnya gimana?"
"Tau, tapi ga paham konsep. Saya susah buat komunikasi sama team Indonesia, karena akun A dan akun B itu diterjemahkan sebagai satu kata yang sama di Bahasa Indonesia"
"Oh? Apa namanya?"
"Namanya panjang, mereka pake singkatan XXXX. Saya dah bilang, saya mau tau kenapa akun A turun, disaat akun A harusnya naik. Terus saya disuruh refer ke akun B. Saya pusing menjelaskan saya ga sedang mencari info soal akun B, tapi saya butuhnya akun A. Tapi karena kosakatanya sama, mungkin komunikasinya salah ditengah."
"Kamu tau ga akun A dan akun B itu cara ngitungnya gimana?"
"Ngga tau."



Beliau berdiri dan langsung menuju papan tulis buat menjelaskan soal cara menghitung akun A. Di momen itu gue bener-bener kagum dan tersentuh. BUKAN karena beliau mau menjelaskan kaya dosen, itu sih my prev boss would've done it sooo much better. Tapi karena gue paham objective tersirat dari beliau yang tiba-tiba buka kelas privat pemahaman level sangat dasar ini.

Beliau tau bottle neck yang bisa dia kontrol itu gue, meski beliau ga liat apa yang terjadi di pagi hari dan ga ada yang ngadu soal gue. Beliau tau, gue ga bisa jadi messenger yang baik, karena gue ga paham betul. Beliau ga bisa rubah sistem, tapi beliau bisa mengusahakan penyampaian dengan cara lain yang mungkin akan kasih hasil yang berbeda. Tujuan utama dari penjelasan beliau juga bukan buat bikin gue paham cara menghitung akun, tapi buat memastikan gue paham WHY is this information IMPORTANT to us. Beliau ga perlu emphasize berkali-kali soal level of importancenya, tapi gue dapet messagenya kenapa gue harus kontak lagi team dan PIC, meski mungkin mereka dan gue udah sama-sama capek.

Disitu gue terkagum-kagum sama leadership dan wisdom level beliau. Penjelasan Manager jauh lebih lengkap, tapi Manager ga melihat keharusan untuk membuat gue tahu kenapa kontribusi gue diperlukan, dan ga pernah bilang kenapa memahami akun ini penting selain "karena ditanya kantor pusat" - gue nangkepnya ya sekedar buat laporan.

Boss besar pake approach lain. Akun ini penting karena ini adalah informasi inti bisnis dan gue paham kenapa kita harus tau. Boss besar juga berhasil refocus perhatian gue, dari "mencari jawaban karena diminta" ke "cari tahu, karena ini untuk kelangsungan kita".  Gue jadi tahu kenapa penting, gimana cara carinya, lalu apa hasil yang diharapkan kalau kita berhasil solve hal ini. Beda banget kan.

Wah... bener-bener moment of enlightenment. Dengan approach yang tepat, gue bisa senang hati berkontribusi, dengan cara yang tepat, meski tasknya susah.

Hari yang berat di kantor ini sukses bikin gue berefleksi bagaimana leader yang baik ga harus loud dan karismatik. Gue juga merasa sangat dihargai, karena ga ada satu kalipun gue disalahkan karena belum maksimal. Gue dibimbing biar bisa memberikan hasil yang diinginkan. Tetep capek, tapi kerasa worth it karena banyak pelajaran yang bisa diambil. Hopefully one day, gue bisa membuat team gue merasakan hal yang sama. 



Sunday, March 8, 2026

BTS Job Hunting #3: Akhir dari Penantian

So I wanted to resign.

Bukan dari rasa desperate atau tidak bersyukur, tapi dari asumsi bahwa track karir gue yang saat ini melenceng dari apa yang gue rencanakan. Gue punya pengalaman-pengalaman capek bekerja di K-corp, eh saat ini masih di K-corp, dan lalu ada kesempatan-kesempatan bagus untuk keluar ke non K-corp. Kesempatan-kesempatan ini semua datangnya dari Multinational Companies dan angkanya setara atau lebih baik dari yang gue terima saat ini.

Gue galau banget. Gue merasa berat meninggalkan tempat kerja dengan boss yang sangat baik dan suasana yang sangat hangat. Tapi gue tahu, gue harus mengambil keputusan sulit untuk sesuatu yang lebih besar. Ternyata meskipun sudah berorientasi pada masa depan, prosesnya tetap ga mudah. Gue berkonsultasi dengan banyak orang.


Berikut beberapa pilihan yang gue punya. 

A. Company global size kecil. Namanya ga terlalu kedengeran, tapi produknya dipake dimana-mana. Kerjanya finance operations. Lokasi di Malaysia, untuk posisi Korean speaker. Gue gatau apakah gue suka dengan repetitive work di finance untuk jangka panjang.

B. Fortune 100 tech company. Gue rasa mayoritas orang tau. Teknologinya dah bertransformasi berkali-kali, selama puluhan tahun terakhir. Kerjanya bantu financial transformation untuk klien chaebol. Butuh orang yang  bisa tegas, tapi juga bisa service klien ini, dalam Bahasa Korea. Gue ga tau apakah gue bisa bertahan dengan pressure yang sangat tinggi, dan apakah gaji gue mencakup efek samping dari stress yang akan dirasakan.

C. Fortune 500 insurance. Kerjanya strategy. Kata berbagai sumber cukup toxic. Tapi ini sesuai dengan mimpi dan plan gue. 


Gue dah sangat yakin gue mau ambil pilihan C. Tapi prosesnya sangat panjang dan sulit, banyak penghalang. Sangat berbeda dengan job-job yang pernah gue terima, dimana prosesnya sangat dimudahkan. Terlalu mudah, sampai bingung dan takjub sendiri. Sejak beberapa minggu lalu, gue jadi galau dan cemas, mungkin pilihan C yang tampak sesuai dengan segala rencana gue, bukanlah tempat terbaik saat ini.

Gue pun mulai melirik pilihan B. Tapi gue ga suka dengan industrinya, dan lagi-lagi prosesnya dirasa terlalu sulit. Gue apply diakhir November 2025, dan proses belum selesai sampai 3 bulan setelahnya. Gue pun sangat ragu, apa yang sebenarnya gue cari dari pilihan B? Sejak awal interview, gue yakin rolenya sangat tidak cocok untuk gue, meski bossnya sangat fun. Gue penasaran bertahan sampai akhir, karena lokasi dan nama perusahaan yang menggiurkan. 

Gue pun bertanya ke sunbae gue (the same guy I consulted about my current job with, as I mentioned on my last post). Beliau sangat tidak setuju dengan pilihan B dan menekankan beberapa argumen valid yang tidak terpikirkan selama ini. 

Akhirnya, gue yakin dengan pilihan untuk stay di tempat sekarang, dengan boss terbaik selama karir gue sejauh ini.


Konsultasi dengan Boss Besar

Dalam waktu kurang dari 2 bulan sejak gue pertama masuk kantor yang sekarang, gue sudah dua kali meminta 1:1 session dengan boss besar. Di sesi pertama, tujuan gue adalah untuk menyampaikan observasi awal atas pekerjaan gue dan mengetes bagaimana reaksi beliau terhadap concern karir gue. Sesi kedua, gue jujur tentang gimana gue mau resign dan KENAPA gue memilih untuk stay aja.

Nanti gue ceritakan dengan detail, kenapa gue memilih untuk jujur bilang sempat terpikir mau resign, padahal gue ga mencari counter offer ataupun simpati. Mungkin agak aneh, atau TMI, ngapain hal seperti ini diomongin? Tapi ternyata ini jadi salah satu best decision dalam bekerja.