Friday, June 26, 2026

May 2026: A Chaotic Yet Fulfilling Month

Started the month in Medan, terus tiba-tiba buaaanyakk banget surprise yang gue ga akan pernah lupa dan mau gue ingat terus.

Gue ga tenang, gatau kenapa, pengen buru-buru balik. Padahal gue sangat bersyukur untuk kesempatan liburan bareng sama Cici dan teman-teman Cici. Gue ke Samosir untuk pertama kalinya, gue juga enjoy mendengar percakapan dokter. Tapi tetep mau pulang.

Selain karena Ilen yang lagi ga sehat karena jadi korban kebakaran di akhir April, gue juga gatau kenapa pengen ke kantor. Gue cut short liburan gue dari 5 hari jadi 4 hari. Gue ke Kualanamu tanpa tiket, berhubung gue cuma mau balik dengan pesawat pertama.

Sesampainya di Jakarta, gue disambut hujan deras dan langsung ke rumah Ilen. Gue capek juga harus pulang ke rumah di sisi lain Jakarta, so gue memutuskan buat nginep di hotel deket situ dan paginya ngantor bareng sama Ilen. Di hari pertama gue ngantor di bulan Mei 2026, gue disuruh pulang cepet karena boss-boss gue sangat perhatian dan tau gue pasti capek.

Gue pun pulang.

Tapi ternyata, setelah gue pulang, ada kejadian yang sangat tidak diharapkan. Apa yang kita usahakan beberapa bulan terakhir gagal. Gue yang ga ikut kontribusi banyak pun langsung hilang semangat dan cemas, khawatir sama boss besar yang harus menanggung impactnya. Gue sangat concern, tapi harus menunggu sampai hari kerja berikutnya.

6 Mei was the beginning of something unexpected.

Suasana kerja di 6 Mei tentu penuh ketegangan, semua orang gak baik-baik aja karena deal drop di hari sebelumnya. 6 Mei juga jadi hari yang sangat panjang, karena boss besar punya agenda dinner penting. Ternyata dinner itu jadi awal dari adventure yang gue ga pernah duga.

7 Mei, we already started something new to recover from the deal drop. Semua berjalan sangat cepat, dari pagi sampe malem (hwesik). Gue dan boss besar keliling ke beberapa meeting berdua. 2 manager standby di kantor, tentu dengan hati yang ga tenang karena gatau apa yang terjadi kan.

Waktu kita buat chill cuma dari jam 2-3 sore. Kita duduk di coffee shop dan ngobrol hal-hal yang ga berkaitan sama 'bom' di kantor. Boss besar menanyakan pertanyaan yang bikin gue mikir mendalam: "Lu belajar kerja dimana?"


Gue bingung harus jawab apa, gue juga ga terpikir. Kenapa keluar pertanyaan ini ya?

Gue ga bisa menjawab dengan jelas, tapi gue terus memikirkan pertanyaan tersebut selama beberapa minggu setelahnya.

Setelah meeting terakhir, gue diajak ikut makan malam (hwesik) sama tim. Ini salah satu hari yang monumental, hari dimana gue mendapatkan banyak banget confession. Boss besar berkali-kali bilang, sambil mabok, beliau happy karena rekrut gue. Manager satu bilang dia nganggep gue sebagai teammate, bukan sebagai karyawan lokal. Maknae manager diem aja sih.

Ini adalah titik pertama dimana gue mulai selalu diajak hwesik. Ternyata selama ini, mereka takut gue ga bisa enjoy. Jadi gue gak pernah diundang hwesik untuk alasan yang baik: takut bosan karena gue gak minum alkohol.

Setelah dua kali hwesik, mereka bisa lihat ternyata gue selalu high dan baik-baik aja meski ga minum alkohol. Gue tetep bisa ikut meramaikan dan sama sekali gak keliatan out of place, meski gue satu-satunya yang ga minum alkohol.

Minggu-minggu setelahnya, kita fokus dengan projek baru. Hari-hari terasa lambat, karena bulan Mei banyak libur nasional. Gue sibuk liburan juga. Di tengah bulan yang penuh libur ini, gue menjalin hubungan yang lebih erat dengan maknae manager di kantor. Kita jalan lebih sering dan gue merasa lebih dekat.

DIa selalu bilang, dia ga punya teman atau orang yang dekat.

one of those nights

So yes, I will never be counted as more than pegawai. Cuma gue merasa ga perlu terpaku pada itu, I genuinely like spending time with him. He is someone who has been helping me a lot. Sebenernya, everyone in the office beneran banyak bantu gue. Caranya beda-beda. Gue merasa cara dia caretaking gue, sebagai yang paling muda, paling clueless dan paling bodoh di kantor sangat ngena.

Gue banyak terbantu. But gue gayakin apakah gue jadi beban (responsibility) atau malah bisa membantu hidup dia juga.

All I knew, di hari Idul Adha, ni Manager dateng ke Bogor naik kereta. Tadinya kita mau jalan di Bogor, but tiba-tiba ada update kerjaan mendadak. Jadi gak konsen, dia bete, dan gue nawarin dia buat kerja dari rumah gue di Bogor. So we spent the Lebaran day... working.

Buat dia, dia merasa bersalah karena menghancurkan hari libur dan plan yang dibuat. Buat gue, gue merasa dia dateng ke rumah gue dan somehow menyelesaikan suatu pekerjaan udah jadi memori yang unik. Gue ga akan pernah terpikir bisa begini di BUMK?

Gue menutup bulan Mei di Beijing, lagi-lagi dengan penuh rasa syukur. Meski untuk pertama kalinya gue harus kerja saat cuti, gue tetep beneran merasa sangat senang gue bisa diberikan kesempatan untuk kerja disini, bersama orang-orang baik. Beijing kali ini membawa memori baru, karena gue pergi sama temen, yang merupakan mantan boss gue di perusahaan terdahulu. Umurnya hampir kaya nyokap gue, tapi kita akrab banget.

Bulan Mei ini gue rasanya menerima sangat banyak cinta. Gue banyak bersyukur karena ada babak baru di kerjaan, seketika challengenya jadi banyak tapi fun. Gue juga bersyukur doa-doa kecil yang diucapkan di hari Arafah ternyata tercapai semua. Yang doa-doa besar belom sih. Tapi it's a good start. All in all, May ini bener-bener banyak kejutannya.  

No comments:

Post a Comment