Ada banyak sekali hal yang terjadi di kantor di bulan April. Mostly sifatnya challenge, alias masalah atau kesulitan. Tapi bulan yang roller-coaster ini diakhiri dengan sebuah plot twist yang bikin gue terpana, ga menyangka.
Bekerja di company dengan budaya asing udah jadi hal yang biasa buat gue. Tapi ga berarti gue udah fully immersed dan jadi seperti mereka. 'Warna' gue masih sangat strong dan kadang, masih suka clash juga dengan boss-boss asing. Ada boss yang ga peduli, mereka pemimpin di institusinya, mereka yang akan membentuk budaya institusi tersebut sepenuhnya. Pegawai cuma harus patuh dan ngikut. Ada boss yang hybrid, mau memahami budaya lokal, tapi akan tetap apply berbagai nilai yang mereka yakini, misalnya perkara sama sekali ga ada toleransi telat kerja (bukan cuma soal kehadiran, tapi juga deadline, meskipun masalahnya eksternal) dan susah cuti, kecuali dah ga bisa bangun dari tempat tidur. Ada juga boss yang akan cari tau dan berusaha adaptasi dengan budaya lokal, sambil mencari 'warna'nya sendiri, yang cocok.
Setelah melewati company tipe pertama dan kedua, akhirnya gue menemukan boss tipe terakhir. Beliau sangat penasaran, mau belajar, dan terbuka dengan budaya lokal. Tiap minggu, ada interaksi-interaksi yang menggambarkan keingintahuan ini.
Beberapa minggu terakhir, ada series of unexpected problems yang mengharuskan semua orang untuk stay alert. Perkembangannya terlalu cepat, terlalu banyak hal-hal baru yang datang. Gue jadi lebih banyak ngobrol dengan boss-boss di kantor. Ada beberapa pertanyaan yang bikin gue kaget, dalam hal yang sangat positif.
"Kami gak ngajak kamu buat ikut ke tempat minum, karena mikir kamu akan ngerasa ga nyaman. Gimana pendapat kamu? Kamu pengen ikut, apa gak pengen ikut?"
Oh... A higher up actually cares about how I feel for a trivial, social, non-work related matter?
Gue tersentuh karena ditanya. Gue ga peduli diajak atau ngga, tapi gue sangat merasa dihargai karena ditanya.
Lalu di minggu yang sama, ada momen dimana boss besar merasa gue ga perlu diajak makan bareng bersama tamu pejabat internal. Niatnya sangat baik, menjamu tamu ini suasananya cenderung kaku dan mungkin stressful. Tapi karena kesalahpahaman, somehow gue jadi ikut ke acara tersebut. Plot twistnya? Gue kenal tamunya...
Gue kenal tamu tersebut lebih dulu daripada boss-boss gue. Ga ada yang menyangka. Tiba-tiba, ada kesan baik dari kebetulan ini. Gue ga seharusnya ada di situ, tapi karena series of coincidences, gue ikut dan berakhir baik. Gue merasa Tuhan sedang menjawab salah satu keraguan dalam hati gue, bahwa sebenarnya gue sudah berada di tempat yang tepat untuk saat ini.
Yang terakhir, one of the most frequently asked question, "Ini pendapat kamu, atau pendapat orang sini pada umumnya? Ini normal untuk kamu, atau normal untuk orang pada umumnya?"
Buat gue, pertanyaan ini menggambarkan sensitivitas dan kepedulian untuk tidak menggeneralisasi. Sering kali, gue jadi berpikir mendalam. Ini gue aja, atau orang lain juga cenderung merasa atau berpendapat sama ya?
So bulan April memang bukan bulan yang mudah, tapi gue sangat bersyukur atas semua pelajaran, renungan, kebetulan, dan kesempatan yang datang. Rasanya, 5 tahun lagi pun gue masih ingin mengingat apa yang terjadi di bulan ini.
No comments:
Post a Comment