Showing posts with label CeritaKerja2026. Show all posts
Showing posts with label CeritaKerja2026. Show all posts

Tuesday, May 19, 2026

Series of Plot Twists in April

Ada banyak sekali hal yang terjadi di kantor di bulan April. Mostly sifatnya challenge, alias masalah atau kesulitan. Tapi bulan yang roller-coaster ini diakhiri dengan sebuah plot twist yang bikin gue terpana, ga menyangka.

Bekerja di company dengan budaya asing udah jadi hal yang biasa buat gue. Tapi ga berarti gue udah fully immersed dan jadi seperti mereka. 'Warna' gue masih sangat strong dan kadang, masih suka clash juga dengan boss-boss asing. Ada boss yang ga peduli, mereka pemimpin di institusinya, mereka yang akan membentuk budaya institusi tersebut sepenuhnya. Pegawai cuma harus patuh dan ngikut. Ada boss yang hybrid, mau memahami budaya lokal, tapi akan tetap apply berbagai nilai yang mereka yakini, misalnya perkara sama sekali ga ada toleransi telat kerja (bukan cuma soal kehadiran, tapi juga deadline, meskipun masalahnya eksternal) dan susah cuti, kecuali dah ga bisa bangun dari tempat tidur. Ada juga boss yang akan cari tau dan berusaha adaptasi dengan budaya lokal, sambil mencari 'warna'nya sendiri, yang cocok.

Setelah melewati company tipe pertama dan kedua, akhirnya gue menemukan boss tipe terakhir. Beliau sangat penasaran, mau belajar, dan terbuka dengan budaya lokal. Tiap minggu, ada interaksi-interaksi yang menggambarkan keingintahuan ini. 

Beberapa minggu terakhir, ada series of unexpected problems yang mengharuskan semua orang untuk stay alert. Perkembangannya terlalu cepat, terlalu banyak hal-hal baru yang datang. Gue jadi lebih banyak ngobrol dengan boss-boss di kantor. Ada beberapa pertanyaan yang bikin gue kaget, dalam hal yang sangat positif.

"Kami gak ngajak kamu buat ikut ke tempat minum, karena mikir kamu akan ngerasa ga nyaman. Gimana pendapat kamu? Kamu pengen ikut, apa gak pengen ikut?"

Oh... A higher up actually cares about how I feel for a trivial, social, non-work related matter? 
Gue tersentuh karena ditanya. Gue ga peduli diajak atau ngga, tapi gue sangat merasa dihargai karena ditanya.

Lalu di minggu yang sama, ada momen dimana boss besar merasa gue ga perlu diajak makan bareng bersama tamu pejabat internal. Niatnya sangat baik, menjamu tamu ini suasananya cenderung kaku dan mungkin stressful. Tapi karena kesalahpahaman, somehow gue jadi ikut ke acara tersebut. Plot twistnya? Gue kenal tamunya...

Gue kenal tamu tersebut lebih dulu daripada boss-boss gue. Ga ada yang menyangka. Tiba-tiba, ada kesan baik dari kebetulan ini. Gue ga seharusnya ada di situ, tapi karena series of coincidences, gue ikut dan berakhir baik. Gue merasa Tuhan sedang menjawab salah satu keraguan dalam hati gue, bahwa sebenarnya gue sudah berada di tempat yang tepat untuk saat ini.

Yang terakhir, one of the most frequently asked question, "Ini pendapat kamu, atau pendapat orang sini pada umumnya? Ini normal untuk kamu, atau normal untuk orang pada umumnya?"

Buat gue, pertanyaan ini menggambarkan sensitivitas dan kepedulian untuk tidak menggeneralisasi. Sering kali, gue jadi berpikir mendalam. Ini gue aja, atau orang lain juga cenderung merasa atau berpendapat sama ya?

So bulan April memang bukan bulan yang mudah, tapi gue sangat bersyukur atas semua pelajaran, renungan, kebetulan, dan kesempatan yang datang. Rasanya, 5 tahun lagi pun gue masih ingin mengingat apa yang terjadi di bulan ini.

Wednesday, April 1, 2026

Leading with Wisdom

Udah hampir 3 bulan kerja, gue baru mengalami hari dimana gue kesel dan setengah teriak ke manager di kantor. Dia ga salah apa-apa, gue yang terlalu emosi. Tapi dari pengalaman hari yang capek (biasanya santai banget) ini, gue belajar banyak dan diingetin betapa langkanya punya boss besar yang bijak di kantor.

Manager gue lagi ngolah data keuangan bulanan. Ada satu temuan yang mengganjal. Satu akun (akun dalam akunting) menunjukkan trend penurunan, disaat harusnya mengalami kenaikan. Dia butuh tahu apa alasan akun ini malah turun, secara logika, harusnya naik. Untuk tahu alasan ini, gue harus koordinasi dengan team Indonesia dan cari tahu. FYI, boss gue semua orang asing yang minim Bahasa Indonesia, dan ga bisa technical English.

Permasalahannya dimulai dari fakta bahwa gue gatau ini akun apa, darimana dapetnya, harusnya trendnya seperti apa. Gue ga paham arah. Manager ini punya kebiasaan sangat keren buat menjelaskan background dengan sangat jelas dan runtut. Misal, pertanyaannya "Apa alasan susah dapet taksi disaat hujan?"

Dia akan mulai dari penjelasan kalau di Jakarta itu orang pake aplikasi untuk cari taksi. Ada aplikasi untuk taksi biasa, ada aplikasi untuk ride-sharing lokal. Terus taksi di Jakarta itu ada sekian perusahaan. Secara harga, taksi beroperasi pakai argo, kalau ride-sharing pake dynamic pricing. Terus cara booking in advance kalau pake app X, minimal sejam sebelum, sedangkan di app Y bisa 20 menit sebelumnya, cuma ga diprioritaskan buat dapet duluan. Kalo ujan, udah pake semua app pun tetep susah. Padahal jumlah taksinya banyak, supir aplikasi juga dapet insentif karna dynamic pricing. Jadi kenapa susah banget dapet taksi pas hujan? Hipotesanya bisa penggunanya yang lebih banyak, atau supirnya yang berkurang karena macet, yang mana yang lebih tepat?

Detail dan lengkap banget, kan? Manager ini emang bagus banget dalam menjelaskan sesuatu. Ga pernah sekalipun gue dapet perintah, tanpa penjelasan background yang lengkap. 

So gue kira, oke gue dah dapet gambarannya. Gue bisa bertanya ke team Indonesia, bermodal penjelasan yang jelas. Tapi isunya sangat teknikal akunting dan hitungan khas industri. Gue dapet penjelasan dari team Indonesia yang gue paham dan bisa terjemahkan, tapi gue ga punya kemampuan untuk menilai apakah penjelasannya logis, rasional, runtut dan lengkap. Simply karena pemahaman yang dangkal.

Gue kembali ke Manager buat menerjemahkan info yang gue dapet. Manager ini merangkum info yang gue sampaikan di papan tulis, sambil berpikir verbal (nulis sambil ngomong). Dia minta gue konfirmasi, pemahaman dia bener atau ngga. Ditengah-tengah, dia bilang dengan sangat santai dan santun "Alira, iya ini bener. Tapi yang gue butuh tuh WHY sama data yang support WHY ini. Gue mau angka dan alasan spesifik kenapa ini turun. Cara ngitungnya gimana, kok bisa turun gini?"

Gue setengah teriak karna gue merasa gue sudah menjawab hal tersebut berkali-kali. Gue merasa gue jawabannya sudah dicover sebelumnya dan ga ada yang bisa kasih tau gue info yang lebih detail lagi. Dia ga marah atau kaget sama suara gue yang naik, dia cuma bilang "Tetep harus kita cari cara ngitungnya, kalo gak, ini ga selesai. Pusat minta. Di pusat, dapet hitungannya tuh bukan hal yang sulit. Disini ternyata tantangannya banyak ya. Komunikasinya susah, terus kita gatau PICnya siapa dan apa dia paham maunya kita."

Gue yang lagi capek mental pun cuma berjanji buat tanya sekali lagi. Gue yakin jawabanya akan sama: ga ada yang tau dasar hitungannya, karena semua otomatis dari sistem. Gue juga susah terima, tapi itu kenyataannya.

Hal ini terjadi di pagi hari, disaat boss besar lagi ga ada. Saat jam makan siang bersama boss besar, Manager ini report ke boss besar soal hambatan yang terjadi. Dia bilang "Dah dicari tahu, tapi belom dikasih data jelas yang bisa membuktikan hitungannya. Mau dicari cara hitungnya seperti apa, katanya ga ada yang tahu. Alira dah coba ke tim yang kita rasa tahu, katanya bukan mereka yang handle."

Manager sama sekali ga menaruh beban atau menyalahkan gue, dan boss pun ga komen banyak. Tapi setelah makan siang, saat semua orang udah santai dan better mood, boss besar nanya gue.

"Alira, kamu paham bedanya akun A dan akun B?"
"Baru tadi pagi bisa paham"
"Sebelumnya gimana?"
"Tau, tapi ga paham konsep. Saya susah buat komunikasi sama team Indonesia, karena akun A dan akun B itu diterjemahkan sebagai satu kata yang sama di Bahasa Indonesia"
"Oh? Apa namanya?"
"Namanya panjang, mereka pake singkatan XXXX. Saya dah bilang, saya mau tau kenapa akun A turun, disaat akun A harusnya naik. Terus saya disuruh refer ke akun B. Saya pusing menjelaskan saya ga sedang mencari info soal akun B, tapi saya butuhnya akun A. Tapi karena kosakatanya sama, mungkin komunikasinya salah ditengah."
"Kamu tau ga akun A dan akun B itu cara ngitungnya gimana?"
"Ngga tau."



Beliau berdiri dan langsung menuju papan tulis buat menjelaskan soal cara menghitung akun A. Di momen itu gue bener-bener kagum dan tersentuh. BUKAN karena beliau mau menjelaskan kaya dosen, itu sih my prev boss would've done it sooo much better. Tapi karena gue paham objective tersirat dari beliau yang tiba-tiba buka kelas privat pemahaman level sangat dasar ini.

Beliau tau bottle neck yang bisa dia kontrol itu gue, meski beliau ga liat apa yang terjadi di pagi hari dan ga ada yang ngadu soal gue. Beliau tau, gue ga bisa jadi messenger yang baik, karena gue ga paham betul. Beliau ga bisa rubah sistem, tapi beliau bisa mengusahakan penyampaian dengan cara lain yang mungkin akan kasih hasil yang berbeda. Tujuan utama dari penjelasan beliau juga bukan buat bikin gue paham cara menghitung akun, tapi buat memastikan gue paham WHY is this information IMPORTANT to us. Beliau ga perlu emphasize berkali-kali soal level of importancenya, tapi gue dapet messagenya kenapa gue harus kontak lagi team dan PIC, meski mungkin mereka dan gue udah sama-sama capek.

Disitu gue terkagum-kagum sama leadership dan wisdom level beliau. Penjelasan Manager jauh lebih lengkap, tapi Manager ga melihat keharusan untuk membuat gue tahu kenapa kontribusi gue diperlukan, dan ga pernah bilang kenapa memahami akun ini penting selain "karena ditanya kantor pusat" - gue nangkepnya ya sekedar buat laporan.

Boss besar pake approach lain. Akun ini penting karena ini adalah informasi inti bisnis dan gue paham kenapa kita harus tau. Boss besar juga berhasil refocus perhatian gue, dari "mencari jawaban karena diminta" ke "cari tahu, karena ini untuk kelangsungan kita".  Gue jadi tahu kenapa penting, gimana cara carinya, lalu apa hasil yang diharapkan kalau kita berhasil solve hal ini. Beda banget kan.

Wah... bener-bener moment of enlightenment. Dengan approach yang tepat, gue bisa senang hati berkontribusi, dengan cara yang tepat, meski tasknya susah.

Hari yang berat di kantor ini sukses bikin gue berefleksi bagaimana leader yang baik ga harus loud dan karismatik. Gue juga merasa sangat dihargai, karena ga ada satu kalipun gue disalahkan karena belum maksimal. Gue dibimbing biar bisa memberikan hasil yang diinginkan. Tetep capek, tapi kerasa worth it karena banyak pelajaran yang bisa diambil. Hopefully one day, gue bisa membuat team gue merasakan hal yang sama. 



Sunday, March 8, 2026

BTS Job Hunting #3: Akhir dari Penantian

So I wanted to resign.

Bukan dari rasa desperate atau tidak bersyukur, tapi dari asumsi bahwa track karir gue yang saat ini melenceng dari apa yang gue rencanakan. Gue punya pengalaman-pengalaman capek bekerja di K-corp, eh saat ini masih di K-corp, dan lalu ada kesempatan-kesempatan bagus untuk keluar ke non K-corp. Kesempatan-kesempatan ini semua datangnya dari Multinational Companies dan angkanya setara atau lebih baik dari yang gue terima saat ini.

Gue galau banget. Gue merasa berat meninggalkan tempat kerja dengan boss yang sangat baik dan suasana yang sangat hangat. Tapi gue tahu, gue harus mengambil keputusan sulit untuk sesuatu yang lebih besar. Ternyata meskipun sudah berorientasi pada masa depan, prosesnya tetap ga mudah. Gue berkonsultasi dengan banyak orang.


Berikut beberapa pilihan yang gue punya. 

A. Company global size kecil. Namanya ga terlalu kedengeran, tapi produknya dipake dimana-mana. Kerjanya finance operations. Lokasi di Malaysia, untuk posisi Korean speaker. Gue gatau apakah gue suka dengan repetitive work di finance untuk jangka panjang.

B. Fortune 100 tech company. Gue rasa mayoritas orang tau. Teknologinya dah bertransformasi berkali-kali, selama puluhan tahun terakhir. Kerjanya bantu financial transformation untuk klien chaebol. Butuh orang yang  bisa tegas, tapi juga bisa service klien ini, dalam Bahasa Korea. Gue ga tau apakah gue bisa bertahan dengan pressure yang sangat tinggi, dan apakah gaji gue mencakup efek samping dari stress yang akan dirasakan.

C. Fortune 500 insurance. Kerjanya strategy. Kata berbagai sumber cukup toxic. Tapi ini sesuai dengan mimpi dan plan gue. 


Gue dah sangat yakin gue mau ambil pilihan C. Tapi prosesnya sangat panjang dan sulit, banyak penghalang. Sangat berbeda dengan job-job yang pernah gue terima, dimana prosesnya sangat dimudahkan. Terlalu mudah, sampai bingung dan takjub sendiri. Sejak beberapa minggu lalu, gue jadi galau dan cemas, mungkin pilihan C yang tampak sesuai dengan segala rencana gue, bukanlah tempat terbaik saat ini.

Gue pun mulai melirik pilihan B. Tapi gue ga suka dengan industrinya, dan lagi-lagi prosesnya dirasa terlalu sulit. Gue apply diakhir November 2025, dan proses belum selesai sampai 3 bulan setelahnya. Gue pun sangat ragu, apa yang sebenarnya gue cari dari pilihan B? Sejak awal interview, gue yakin rolenya sangat tidak cocok untuk gue, meski bossnya sangat fun. Gue penasaran bertahan sampai akhir, karena lokasi dan nama perusahaan yang menggiurkan. 

Gue pun bertanya ke sunbae gue (the same guy I consulted about my current job with, as I mentioned on my last post). Beliau sangat tidak setuju dengan pilihan B dan menekankan beberapa argumen valid yang tidak terpikirkan selama ini. 

Akhirnya, gue yakin dengan pilihan untuk stay di tempat sekarang, dengan boss terbaik selama karir gue sejauh ini.


Konsultasi dengan Boss Besar

Dalam waktu kurang dari 2 bulan sejak gue pertama masuk kantor yang sekarang, gue sudah dua kali meminta 1:1 session dengan boss besar. Di sesi pertama, tujuan gue adalah untuk menyampaikan observasi awal atas pekerjaan gue dan mengetes bagaimana reaksi beliau terhadap concern karir gue. Sesi kedua, gue jujur tentang gimana gue mau resign dan KENAPA gue memilih untuk stay aja.

Nanti gue ceritakan dengan detail, kenapa gue memilih untuk jujur bilang sempat terpikir mau resign, padahal gue ga mencari counter offer ataupun simpati. Mungkin agak aneh, atau TMI, ngapain hal seperti ini diomongin? Tapi ternyata ini jadi salah satu best decision dalam bekerja.

Thursday, February 5, 2026

BTS Job Hunting #2: Pencarian Sengit

Ada banyak hal yang terjadi dalam 4 minggu di pekerjaan yang membuat hati gue nyaman. Udah lama ga ngerasain gimana tiap hari semangat bangun tidur buat kerja, meski cuaca hujan dan kadang gue ke kantor dengan mode 'perang' pake celana pendek, sandal jepit dan jas hujan. Lokasi kerjanya jauh, gak ideal buat gue. Tapi karena perasaannya senang, gue ga merasa terbebani sama sekali.

Di post sebelumnya, gue bercerita soal BTS mendapatkan pekerjaan ini. Di post kali ini, gue mau cerita soal cerita dibalik hiring gue, versi yang gue dapatkan dari boss-boss dan testimoni orang lain yang terlibat dalam prosesnya. Perspektif kali ini datangnya dari talent hunter, sisi berlawanan dari pencari kerja.

hujan pun semangat kerja


Komposisi Team

Gue bekerja untuk BUMK skala besar (menurut aset dan size bisnis di sana). Team yang dikirim ke Jakarta diberikan otoritas penuh untuk hire pegawai lokal. Ga perlu approval dari pusat, selain urusan budget. Tim di Indonesia sangat kecil, secara jabatan tentu dikepalai senior, yang levelnya mungkin equivalent ke Senior Manager. Beliau dah mentok sih, kalo promote lagi, langsung jadi level eksekutif (bukan pegawai).

Mari kita panggil bapak dengan jabatan tertinggi sebagai boss besar.

Boss besar ini adalah orang yang membuat dan mengupload lowongan pekerjaan panjang dan mendetail itu ke grup Kakao. Boss besar juga jadi PIC hiring gue, so semua kontak terkait perekrutan 100% dihandle bos besar. Awalnya agak aneh, kok boss besar terlibat pekerjaan remeh rekrutmen end-to-end, tapi ternyata ada alasannya. Setelah deal sama gue, baru dia menunjuk timnya untuk mengurus administrasi gue.


Decision Making

Sesuai feeling saat baca lowongan dan pengukuhan secara verbal pas interview, boss besar punya kuasa penuh. Dalam hirarki Korean company sih wajar ya, keputusan diambil satu orang. Tapi beliau ga terlihat otoriter.

Pas interview, beliau tanya tendensi gue untuk melakukan pekerjaan yang berbeda-beda sekaligus. Gue bilang, gue suka sekali multitasking dan selalu pengen belajar ini itu. Disitulah beliau langsung merespon, "Itu bukan hambatan disini. Kalau memang keinginannya belajar hal lain, itu termasuk kuasa (otoritas) saya kok. Saya ga banyak ketemu pegawai lokal yang bisa multitasking. Kalau kamu bisa, saya dengan senang hati mendukung kamu cobain kerja bidang lain, belajar ini itu."

Gue merasa lega, karena kegalauan gue emang rasa bosan di tempat kerja (setelah tahu scope pekerjaannya dengan lebih detail) saat fase projek belum di level peak. Kekhawatiran ini ternyata direspon baik dan gue merasa bisa percaya dengan boss besar ini.


Pencarian Sengit Kandidat

Di minggu ketiga gw bekerja, ada orang kantor pusat yang datang ke Jakarta. Dalam obrolan santai, boss besar bilang kalau beliau sangat kesulitan dalam mencari kandidat. Ini kali pertama gue tahu cerita dibalik rekrutmen gue. Beliau menghabiskan waktu 4 bulan berusaha cari pegawai yang punya kemampuan penerjemahan dan attitude sesuai keinginan. Beliau cerita, beliau terima banyak pelamar dari berbagai sumber. Awalnya dari tim HR lokal. Tapi ga memuaskan. Lalu pakai headhunter khusus Korean speaker di Jakarta, tetep ga memuaskan.

Beliau bilang pas interview dengan kandidat-kandidat lain, banyak yang level Koreanya belum memenuhi ekspetasi. Atau kandidat yang Bahasa Koreanya oke, tapi ga dirasa bakal terlalu membantu dalam meringankan pekerjaannya. Ada juga rasa frustasi, kenapa ga nemu-nemu ya?

Akhirnya beliau bilang ke headhunter, beliau mau coba cara sendiri. Beliau tulis lowongan sendiri, upload sendiri ke grup kakao dan terima langsung lamaran-lamaran tersebut. Disinilah ketemu aplikasi gue. Gue kaget, karena gue kira beliau baru cari pegawai di bulan Desember 2025 (seperti yang gue ceritakan di post sebelumnya). 

"Oh tidak, saya udah lama cari dan saya sampai di titik introspeksi, apakah standar saya ketinggian? Rasanya ngga ya? Saya ga minta kriteria yang terlalu rumit. Makanya saya coba sendiri deh kalau saya yang tulis dan upload, manatahu hasilnya beda"

Beda banget. Ternyata ini alasannya handle rekrutmen sendirian, karena sudah pernah coba cara lewat orang lain cuma ga berhasil. Gue bilang, gue ga akan apply kalo lowongannya ga sedetail itu dan gue sama sekali ga tertarik untuk jadi sekedar penerjemah doang. 

Malam itu, gue pulang ke rumah dengan perasaan sangat terharu. Wah... Bener-bener meant to be ya? Timingnya, feelingnya dari awal, dan caranya. Orang dari HQ juga merespon cerita tersebut dengan sangat baik, mereka banyak memuji gue dan berkata "Wah boss besar harus keep talent seperti Alira ya!"

Boss gue bilang, dia pasti akan do his best untuk retain gue. Wow.... beneran... nangis. Gue merasakan effort dia, dari awal sejak ketemu sampai setelah gue jadi pegawai. Hal-hal besar sampai kecil benar-benar diperhatikan. 

malam ngobrol bersama orang HQ

Keesokan harinya, gue ketemu boss headhunter Korean speaker yang boss gue sempat mau pakai. Om headhunter ini bilang, dia udah kasih best Korean speaker profiles ke boss besar, ga ada yang lolos. Tapi begitu selesai interview gue, boss besar langsung telpon si Om headhunter dan bilang "Saya udah ketemu pegawai yang saya mau!"

Headhunter ini sampe heran, dia merasa dia kenal semua Korean speaker yang bagus di Jakarta, siapa yang kira-kira dia lewatkan? Lah ternyata gue. Gue memang sudah kenal Om ini sejak beberapa tahun lalu, tapi ga pernah ambil job dari dia, karena gue ga suka kerjaan full time interpreter. Gue mau pegang tanggung jawab lain selain interpreter. 

Setelah tau bahwa gue yang terpilih, terkuak lah cerita kalau sebenernya dia sudah menawarkan posisi ini ke mantan kolega gue di kantor sebelumnya. Tapi kolega gue minta angka terlalu tinggi yang ga masuk akal, jadi dia pikir gue akan minta budget yang sama. Dia berasumsi gaji gue di company lama sudah sangat tinggi, jadi ga nawarin gue karena 'tebakan' budget tersebut. Padahal mah kolega gue aja yang gila n ngadi-ngadi... (she even lied about her current benefits)

Headhunter ini juga spill banyak hal sangat positif soal boss-boss gue. Rupanya ga cuma gue aja yang merasa boss-boss gue ini anomali tingat kebaikannya. Semua orang yang kenal bisa langsung merasa bahwa team ini sangat sopan, nice to work with, dan educated. Om headhunter yang udah bekerjasama dengan ratusan PT dan boss Korea pun punya kesan yang sama. Beliau malah menambahkan dengan penuh optimisme, beliau yakin si boss besar akan jadi pemimpin di kantor pusat pada waktunya. Track record dan attitudenya sangat mendukung.

Lagi-lagi... Gue bener-bener takjub sama timingnya yang pas. Gue baru dapet job ini setelah gue di PHK, dapet pesangon, dan udah puas liburan 2 bulanan. Timingnya bagus banget. Gue juga malah happy, boss gue bisa cut fee dan menemukan gue langsung, dengan caranya sendiri.


Kesan Interview dari Boss

Seminggu setelah gue mendengar cerita dibalik perekrutan gue, gue minta 1:1 sama boss besar. Gue merasa ada beberapa concern besar untuk progres karir gue. Pembicaraan dibuka dengan "Kamu udah sebulan disini? Gimana so far, ga ada yang susah kan?'

Terus tanpa gue minta, beliau lanjut dengan berkata "Saya mungkin udah pernah cerita sedikit ya sebelumnya. Saat saya ketemu kamu pas interview, kesannya sangat mendalam. Saya bener-bener terkesan. Kamu punya keinginan untuk belajar yang sangat kuat. Kamu haus akan growth. Saya merasa lihat diri saya saat ketemu kamu. Saya suka orang-orang yang ingin belajar. Skill ga ada tuh gapapa. Kalo ada kemauan, cepet kok memoles dan membantu talent buat tumbuh."

Gue... ga nyangka banget. Boss besar ini orang yang cenderung pendiam. Gue ga nyangka beliau akan bilang dan cerita sendiri tentang apa yang membuat beliau terkesan dan mau rekrut gue. Beliau tipe pengamat. Semua komen dan permintaan gue, untuk hal besar maupun hal kecil, sangat diperhatikan.

Gue jadi teringat gimana saat nego, gue minta laptop yang bagus (gue bahkan sebut minimum spek). Beliau telpon dan tanya, ada alasan tertentu kah? Gue bilang, gue mau bekerja dengan nyaman tanpa masalah teknis. Gue tahu di Jakarta belum ada tim teknis, jadi kalau ada masalah nanti kerjanya ga maksimal. Permintan ini disambut dengan beliau mendatangkan laptop kerja baru, spek sangat bagus, langsung dari kantor pusat di Korea. Beneran diperhatikan banget.

Lalu komen gue saat interview, dimana gue bilang gue sangat gak suka dengan hirarki di perusahaan Korea juga ditanggapi serius. Beliau riset dan tanya perbedaan signifikan hirarki company lokal dan Korea, lalu bertanya pendapat gue. Beliau ingin bisa menyesuaikan. Attitude seperti ini beneran sangat jarang gue dapatkan dari leader yang levelnya sudah sangat tinggi.


Kesan 4 Minggu Pertama

TIAP HARI gue merasa tersentuh. Beneran TIAP HARI. Tempat ini ga ideal. I have seen and worked at better places, tapi gue baru sekarang ke kantor tanpa beban dan tiap hari bersyukur atas kebaikan individu di sekitar gue. 

Ada beberapa momen kecil yang mau gue inget terus. Pertama, perhatian dan kesadaran tim setiap gue terlihat ga bawa payung atau akan kesulitan karena hujan. Day 1, gue kerja kehujanan. Manager baik bawain payung dan terus nanya apakah gue baik-baik aja. Tiap hari kalo ujan, mereka concern gimana gue pulang. Small things memang, but it mattered. Kedua, tingkat usaha penyesuaian budaya yang sangat tinggi. Setiap hal kecil mengenai kebiasaan orang Indonesia yang mereka observasi, mereka akan tanya dan ingat terus.

tiap hari ditraktir lunch fancy

Ketiga, inisiatif kebaikan hati di berbagai saat. Ada hari dimana gue ditinggal sendiri untuk external event. Gue tetep ditinggalin kartu buat makan siang, meski itu bukan bagian dari benefit yang gue setujui diawal. Atau gesture boss besar yang kasih gue uang tunai untuk naik taksi, karena gue pulang  telat setelah dinner bersama perusahaan. Itu semua tambahan yang asalnya dari kebaikan hati. Ga semua boss bisa begini.

Yang terakhir sih semangat belajar Bahasa Indonesia dan paham budaya Indonesia yang sangat tinggi. Ini bener-bener gue acungi jempol.

Kesan positif datang dari mana saja, ga cuma dari keseharian bersama boss dan team, tapi juga dari cara orang-orang kantor pusat mengomentari soal boss besar, dan dari sesama expat di Jakarta yang gue tahu. Seakan-akan satu jagat emang lagi meyakinkan gue, I am in the right place loh.


Concern

Seperti yang gue sampaikan, pekerjaan ini bukanlah pilihan pertama gue. Gue yakin Tuhan taro gue disini untuk alasan yang sangat kuat, saat ini gue belum tahu apa alasan tersebut. Gue bersyukur sekali sama sunbae (ex CFO gue) yang mengarahkan dan meyakinkan gue untuk kesini, karena ternyata jauh lebih baik dari ekspetasi gue.

Tapi tetep, gue masih punya concern yang berhubungan dengan karir jangka panjang gue. Gue sudah menyampaikan hal ini sejujur-jujurnya ke boss besar. Boss besar memahami dan memberikan tanggapan yang sangat menenangkan hati. Beliau acknowledge concern gue, kemudian menawarkan perspektif lain yang realistis, tanpa janji palsu. Lalu beliau pun menutup wejangannya dengan saran untuk mengejar growth yang terbaik buat gue. Ga perlu sungkan, segan, atau takut.

Hal ini terasa sangat sejuk di hati. Kalau kejujuran diterima dengan baik, ga ada alasan kan untuk ga jujur dan ga transparan ke boss sendiri dalam lingkup pekerjaan.

Berada di sini benar-benar jadi pengalaman kerja yang ga pernah ada di rencana atau pikiran gue, tapi perjalanannya sangat lancar dan kerasa "it's meant to be."

Semoga kita semua bisa dipertemukan dan bisa jadi boss yang sebaik boss besar ini huhuhu.

Monday, January 19, 2026

BTS Job Hunting #1: Takdir & Timing

Udah seminggu kerja di tempat baru. Isinya kelewat bahagia tiap hari, karena atmosfir kerja lebih baik dari ekspetasi dan menenangkan hati. Gue disini project-based dan baru akan review ulang status kepegawaian saat project udah kelar, jadi ga ada probation atau resiko dipecat tengah jalan tanpa kompensasi. So gue merasa lebih tenang untuk bercerita.

Gue udah cerita sedikit di post sebelumnya soal proses dapat pekerjaan ini. Sekarang gue punya fuller picture.

Berburu Lowongan

Gue tiap hari buka linkedin dan jobstreet, kecuali pas masuk rumah sakit. Gue merasa harus selalu update sama lowongan yang dipost dalam 24 jam terakhir. Gue juga agresif buat chat recruiter atau talent acquisition untuk lowongan yang gue beneran minat atau jadiin top priorities. Gak sampe disitu, gue sangat proaktif minta referral ke perusahaan dimana gue punya LinkedIn Connection (baik hubungannya dekat maupun ga dekat) dan perusahaan tempat teman-teman gue bekerja.

Konsepnya bukan "eh titip CV ya kalo ada yang kosong" gitu ya. Tapi gue lihat dulu lowongan yang sedang buka di perusahaan tersebut, lalu tanya ke koneksi disitu "Ada jalur internal referral ga ya?"

Kalo memang ada dan mereka berkenan, gue akan kasih link lowongan yang gue inginkan dan CV gue atau data lain yang diinginkan. Gue belom pernah mengalami penolakan dengan jalur ini kalo kenal langsung. Yang susah kalo gue via koneksi orang lain ya, ga semua orang familiar dengan internal referral dan kadang enggan memanfaatkan hal tersebut. Gapapa juga sih.

Plot twistnya adalah... Lowongan pekerjaan gue sekarang malah gue dapatkan dari... Group Kakaotalk untuk Korean<>Indonesian speaker. Pekerjaan ini emang menuntut skill Bahasa Korea. Gue sebenernya ga pengen lagi berkarir di K-corp, tapi ternyata rejekinya masih dari situ.


Apply

Gue tipe orang yang mengutamakan speed. So, gue ga pikir panjang kalo liat lowongan. Gue akan siapkan dokumen sesegera mungkin dan kemudian apply. Siapin dokumen maksudnya apa? Tulis resume yang tailored khusus untuk lowongan tersebut. Gue punya berbagai versi resume, tergantung posisi yang gue apply.

Plot twist lainnya adalah... Gue ga bisa siapin tailored resume untuk pekerjaan gue sekarang, karena posisinya gue melihat lowongan tersebut saat gue lagi ada di Ambon tanpa laptop. Gue bahkan ga bisa memenuhi salah satu dokumen yang diminta, tapi tetep, coba dulu.


Timing & Fate

Ini sih gue rasa ditangan dan kuasa Tuhan. Pekerjaan gue yang sekarang lowongannya datang disaat gue lagi sibuk dan ga siap. Tapi prosesnya kelewat lancar. Gimana maksudnya?

Lowongan pekerjaan gue saat ini di post tanggal 10 Desember jam 17.02 sore WIB atau 19.02 WIT sesuai lokasi gue. Deskripsi pekerjaannya sangat panjang, lebih dari 3 screen iPhone dan Hangeul semua (yha, kata chatgpt total 2,501 characters). Perusahaannya cukup dikenal di Korea, tapi ntah apa lah reputasinya di Indonesia. Gue stop dan fokus baca keseluruhan penjelasan secara detail. Tau apa impression gue?

WOW yang nulis detail banget, pasti user atau leadernya langsung. Ga mungkin bawahan bisa tulis sedetail ini DAN dapat approval leader buat upload panjang lebar begini. 

Kesan berikutnya: this is just like what I am looking for? Mereka cari Korean speaking talent level Advanced dengan background Financial Services dan PMO. I sincerely hated my PMO experience, but I admit it is handy. 

Tentu dengan jiwa ppali ppali alias cepet-cepet gue, gue langsung mau apply. Tapi gue ga bisa memenuhi persyaratan dokumen yang diminta. Mereka minta 3 set dokumen, yang pertama Korean-English CV atau Korean-Indonesian CV, free format dan tidak wajib dengan foto. Kedua, self introduction khas Korea, dalam Bahasa Korea, panjang 1 halaman A4. Terakhir, sertifikasi kemampuan bahasa, jika ada.

Gue cuma punya English resume, itu pun gak tailored seperti yang biasanya gue submit. Gue bisa pilih dari beberapa versi yang gue punya, tapi jujur belom ada yang untuk "Korean speaking financial service talent" saat itu. Gue gak sanggup tulis Korean style CV dan gamau juga. Selain itu, gue juga ga bawa laptop untuk tulis self-introduction in Korean.

Gue belom pernah diterima apply kerja dengan Korean style CV dan self-introduction...

TAPI tetep tembak aja. Gue merasa profil gue cukup unik untuk bisa memenuhi demand dari lowongan ini. Kok bisa pede? Deskripsinya kan ditulis dengan sangat detail. Gue bisa lihat langsung bagaimana gue berkontribusi dari penjelasan tersebut.

Self Appeal

Gue kirimkan lah email untuk apply. Agak aneh, domainnya gmail. Tapi namanya udah jatuh hati, gue gas aja. Email gue terkirim jam 17.31 alias 29 menit sejak post lowongan di upload. Ini loh bukti speed ppali ppali gue jir.

Gue menulis cover letter di email dengan jujur. 

I am Alira and I came across the vacancy on the Kakao group. I am writing to apply for the position for [xxx]. First of all, I appreciate the detailed job description. I am very happy to discover a position which is aligned with what I am looking for in a financial service company.


Ditutup dengan confession.

I have recently quitted my last job at a Korean startup due to the Company’s financial situation and operational strategy, thus my notice period is relatively short. My last drawn salary is beyond IDR [xxx] per month, and I am currently looking for opportunity exclusively in financial service industry or financial planning role with minimum matching my last annual salary. I am aware that you are expecting self introduction in Korean or 자기소개서 but I am currently traveling in East Indonesia with no access to laptop until Monday, December 15. Should I pass the document screening, I would be sure to attach it.

 

Gue berani langsung sebut gaji, karena di deskripsinya sudah ditulis spesifik: "gaji MINIMUM xxx, bisa nego upward atau lebih". Ga akan dinego lebih rendah. Lowongan yang sangat Korea ini ditulis deadlinenya tanggal 13 Desember. Gue follow up tanggal 11 Desember dengan hasil TOPIK baru gue. Gue gatau seberapa ppali ppali kecepatan screening mereka, but saat itu gue yakin pelamarnya ga akan banyak yang memenuhi syarat atau kriteria dasar yang diminta. 

K-Speed 

Tanggal 15 siang, gue dapat whatsapp undangan interview. Pesannya dalam Bahasa Inggris. Good feeling langsung, oh ini bossnya bisa Bahasa Inggris muahaha. Gue gak diminta dokumen yang gue belom sertakan. Beliau langsung bertanya availability terdekat gue. Berhubung gue baru reschedule pesawat pulang gue karena interview lain dan cuaca buruk, gue bilang gue baru balik dari Ambon tanggal 17 (Rabu), dan available setelahnya. Langsung deh dijadwalkan untuk interview offline tanggal 18 (Kamis).

As expected, K-speed itu super fast.

Persiapan Interview

Boss gue mengirimkan arahan interview. PANJAAAAAANG banget kaya job desc diawal, tapi bener-bener beda dan ga mengulang apa yang udah ditulis di jobdesc. Beliau menjabarkan maksud dan tujuan interview, bagaimana penyelenggaraanya (apa yang akan ditanya, kemana arahnya), apa yang diharapkan dan dijanjikan, apa yang harus gue lakukan. Section favorit gue adalah "Corporate Culture & Atmosphere", dimana disitu dijelaskan mereka mencari bukan sekedar Korean speaker, tapi partner untuk bekerjasama. Bisa aja terkesan cliche, tapi melihat bagaimana mereka berkomunikasi secara keseluruhan, gue sangat tersentuh. Gue juga dikirimin materi investor relations perusahaan edisi terakhir. Gue... baru pertama kali dapet guideline interview sedetail ini.

Ga terlalu kaget sih, gue pernah menyiapkan hal serupa saat gue masih di rekrutmen. Ini K-style. Tapi ga sedalem ini juga jir.

Jujur gue bener-bener punya kesan positif dan berusaha menyiapkan semua. Tapi karena waktu traveling dan jadwal interview-interview lain yang ga berhenti (total ada 4 interview diantara waktu kontak pertama sampai hari H), persiapan gue ga semaksimal yang gue mau. 

Di hari H gue mendapat whatsapp konfirmasi lagi dari bossnya, ga ada perubahan. Gue berencana berangkat awal, apa daya, ada interview dulu sebelumnya dan hujan juga. Jadilah gue datang super mepet.

Interview dan Hasil

Interviewnya berbentuk... Panel. 1 orang kandidat, diwawancara di ruang meeting bersama 3 user expat dan 2 team lokal (HR & Bisnis). Jadi bayangin, gue sendirian dihadapkan 5 orang. Bahasa yang digunakan harusnya Indonesia dan Korea. Tapi gue mau meminimalisir waktu bengong di kedua belah pihak, jadi gue arahkan untuk Korea dan Inggris (yes, pas gue ngomong Bahasa Korea, team Indonesia ga paham sih. Tapi ga berlaku sebaliknya). Dengan cara ini, gue ga perlu mengulang pertanyaan seperti self-introduction atau basic work attitude gue.

Ada beberapa kesan mendalam. Pertama, tidak ada yang keluar dari guideline interview. Semua berjalan sesuai instruksi yang gue terima. Kedua, expat atau calon boss-boss gue ini sangat jujur terhadap kesan mereka. Boss tertinggi menyampaikan concernnya secara terbuka, kegalauan untuk rekrut gue bukan karena kemampuan gue, tapi karena galau personality dan arah karir gue yang mungkin akan merasa pekerjaan ini membosankan.

Gue sangat jujur saat interview, jadi beliau pun langsung bisa membaca gue secara tepat. Observasi ini akurat, gue juga merasa pekerjaannya akan membosankan diawal. Tapi, seperti yang disampaikan salah satu anak buahnya kala itu, "Saya merasa periode awal yang membosankan bisa dipakai sebagai waktu belajar untuk Alira."

I wholeheartedly agree. Gue ga berencana buang-buang waktu, gue pengen mendalami bidang baru ini. Gue pengen belajar ini itu. Kemudian boss tertinggi pun menanggapi, "Kalau memang keinginannya belajar hal lain, itu masih termasuk dalam kuasa saya kok. Saya lihat orang disini ga banyak yang bisa multitasking, tapi kalau kamu bisa, saya dengan senang hati mendukung kamu cobain kerja di bidang-bidang lain juga selama disini."

Gue sangat happy dengernya. Kita saling paham apa yang kita mau. Tujuan untuk saling mengevaluasi kecocokan satu sama lain dalam bekerjasama benar-benar tercapai. Selain itu, arah pertanyaannya juga di desain untuk mengenal gue lebih dalam. Gue sering dapat feedback personality gue sangat strong (I do not deny), dan ada titik dimana gue ditanya MBTI gue apa, setelah gue menjawab pertanyaan situasional.

Durasi interviewnya pas sejam. Gak kerasa karena pertanyaannya banyak ye. Menjelang akhir, gue ditanya gaji terakhir dan harapan gaji, langsung di depan semua orang (in Korean sih). Terus boss tertinggi bilang beliau akan kabari hasilnya dalam minggu itu juga. Gue ragu dan bilang "Sekarang Kamis loh, jadi besok?"

Beliau mengiyakan. Beliau bilang mau ambil keputusan cepat. Tapi melihat kekagetan gue, diralat dan bilang "Yaudah saya pikirin sampe Minggu"
"Bapak weekend kerja????" tanya gue dengan polosnya.
"Ngga sih, maksudnya saya bisa finalisasi weekend."
Disini anak buahnya memotong dan bilang "udah lah Senin aja, tar Alira nungguin weekend, malah dia ga tenang."

Gue percaya lebih cepat lebih baik, tapi... gue ga nyangka aja bisa secepat itu. Disitu gue beranggapan gue adalah kandidat pilihan pertama mereka secara dokumen. Jika gue bukanlah orang yang mereka cari setelah interview, baru mereka akan interview kandidat urutan kedua. Gue inget gue mengabari teman-teman gue begitu selesai interview "Gue jadi pengen masuk sini loh. Orang-orangnya terlihat professional, feelingnya bagus dan chemistrynya ada. Kayanya seru deh, padahal gue ga pengen K-corp"

Overall, kesannya sangat positif. Setelah itu, secara tidak mengejutkan dan sesuai janji awal, hasil keluar secara tidak formal 1 hari setelahnya. Gue dikontak sama boss besar yang mengurus kepegawaian, bukan user. Gaji ga di nego. Diiyakan begitu saja. Harapan gue angka yang gue minta itu gross, malah dikasih nett, jadi naik hampir 20% dari perkiraan gue.

Kegalauan

Gue gak sepenuhnya happy. Gue galau. Pekerjaan ini bukan pilihan utama gue, meski gue sangat tersihir dengan attitude orang-orang yang gue temui dalam proses rekrutmen. Sangat professional, good vibe dan tipe pekerjaannya adalah pekerjaan yang bisa kasih gue kesempatan belajar banyak. Masih sangat K-corp style, tapi kesan "educated" dari team expatnya jadi sangat berarti setelah banyak ketemu boss-boss gila sepanjang perjalanan cari kerja.

Jadilah gue menggunakan weekend untuk bertanya ke semua orang, terutama sunbae (mentioned on my last post) gue, apakah bagus ya kalo gue join perusahaan ini?

Sunbae gue langsung telpon gue setelah gue whatsapp pros n cons pilihan yang gue punya. Beliau sangat memahami kepribadian gue dan berkata pilihan masuk ke perusahaan ini bawa extreme pros and cons. Beliau support gue untuk kesini, karena merasa gue bisa belajar banyak hal dalam waktu singkat dan gak akan bosenan (beliau percaya gue orang yang cocoknya kerja dinamis). Tapi disisi lain, beliau inget gue sebagai SJW work life balance. Beliau kasih warning: kerja sama K-corp dan dibidang ini, gue harus rela kehilangan work life balance.

Gue gak terlalu khawatir dengan work life balance. Gue lebih khawatir karir ini agak melenceng dari rencana awal gue dan gue masih takut balik ke K-corp. Takut kesel dengan hirarkinya lagi. Gue juga sadar attitude gue kan jauh dari K-style, gue kurang pandai bersosialisasi formal dalam lingkungan kerja, ga minum, ga makan banyak hal. Jadi banyak barriernya. 

Setelah galau berkepanjangan dan konsultasi dengan banyak orang, akhirnya gue memutuskan untuk memilih perusahaan ini.

First Week Impression

Sangat positif dan penuh syukur. Beneran jauh lebih baik dari ekspetasi. Ini perusahaan ketiga gue dalam 2 tahun terakhir, dan kali ini gue merasa sangat tenang dan tidak ada elemen surprise sama sekali.

More on this later.