Sunday, March 8, 2026

BTS Job Hunting #3: Akhir dari Penantian

So I wanted to resign.

Bukan dari rasa desperate atau tidak bersyukur, tapi dari asumsi bahwa track karir gue yang saat ini melenceng dari apa yang gue rencanakan. Gue punya pengalaman-pengalaman capek bekerja di K-corp, eh saat ini masih di K-corp, dan lalu ada kesempatan-kesempatan bagus untuk keluar ke non K-corp. Kesempatan-kesempatan ini semua datangnya dari Multinational Companies dan angkanya setara atau lebih baik dari yang gue terima saat ini.

Gue galau banget. Gue merasa berat meninggalkan tempat kerja dengan boss yang sangat baik dan suasana yang sangat hangat. Tapi gue tahu, gue harus mengambil keputusan sulit untuk sesuatu yang lebih besar. Ternyata meskipun sudah berorientasi pada masa depan, prosesnya tetap ga mudah. Gue berkonsultasi dengan banyak orang.


Berikut beberapa pilihan yang gue punya. 

A. Company global size kecil. Namanya ga terlalu kedengeran, tapi produknya dipake dimana-mana. Kerjanya finance operations. Lokasi di Malaysia, untuk posisi Korean speaker. Gue gatau apakah gue suka dengan repetitive work di finance untuk jangka panjang.

B. Fortune 100 tech company. Gue rasa mayoritas orang tau. Teknologinya dah bertransformasi berkali-kali, selama puluhan tahun terakhir. Kerjanya bantu financial transformation untuk klien chaebol. Butuh orang yang  bisa tegas, tapi juga bisa service klien ini, dalam Bahasa Korea. Gue ga tau apakah gue bisa bertahan dengan pressure yang sangat tinggi, dan apakah gaji gue mencakup efek samping dari stress yang akan dirasakan.

C. Fortune 500 insurance. Kerjanya strategy. Kata berbagai sumber cukup toxic. Tapi ini sesuai dengan mimpi dan plan gue. 


Gue dah sangat yakin gue mau ambil pilihan C. Tapi prosesnya sangat panjang dan sulit, banyak penghalang. Sangat berbeda dengan job-job yang pernah gue terima, dimana prosesnya sangat dimudahkan. Terlalu mudah, sampai bingung dan takjub sendiri. Sejak beberapa minggu lalu, gue jadi galau dan cemas, mungkin pilihan C yang tampak sesuai dengan segala rencana gue, bukanlah tempat terbaik saat ini.

Gue pun mulai melirik pilihan B. Tapi gue ga suka dengan industrinya, dan lagi-lagi prosesnya dirasa terlalu sulit. Gue apply diakhir November 2025, dan proses belum selesai sampai 3 bulan setelahnya. Gue pun sangat ragu, apa yang sebenarnya gue cari dari pilihan B? Sejak awal interview, gue yakin rolenya sangat tidak cocok untuk gue, meski bossnya sangat fun. Gue penasaran bertahan sampai akhir, karena lokasi dan nama perusahaan yang menggiurkan. 

Gue pun bertanya ke sunbae gue (the same guy I consulted about my current job with, as I mentioned on my last post). Beliau sangat tidak setuju dengan pilihan B dan menekankan beberapa argumen valid yang tidak terpikirkan selama ini. 

Akhirnya, gue yakin dengan pilihan untuk stay di tempat sekarang, dengan boss terbaik selama karir gue sejauh ini.


Konsultasi dengan Boss Besar

Dalam waktu kurang dari 2 bulan sejak gue pertama masuk kantor yang sekarang, gue sudah dua kali meminta 1:1 session dengan boss besar. Di sesi pertama, tujuan gue adalah untuk menyampaikan observasi awal atas pekerjaan gue dan mengetes bagaimana reaksi beliau terhadap concern karir gue. Sesi kedua, gue jujur tentang gimana gue mau resign dan KENAPA gue memilih untuk stay aja.

Nanti gue ceritakan dengan detail, kenapa gue memilih untuk jujur bilang sempat terpikir mau resign, padahal gue ga mencari counter offer ataupun simpati. Mungkin agak aneh, atau TMI, ngapain hal seperti ini diomongin? Tapi ternyata ini jadi salah satu best decision dalam bekerja.

No comments:

Post a Comment