Friday, July 26, 2019

Dibalik Perjalanan: Planning & Mimpi-mimpi Random

I contemplated a lot before writing this. Should I post it? What language should I use? What am I trying to say? Will it be better to keep it to myself or to let other people see this?

Is this just another pointless diary entry?

Meski suka terkesan seenak jidat atau ngasal kalo bikin pilihan, sebenernya gue hidup penuh planning jangka panjang. Gue punya list of priorities dan hal-hal yang ingin gue capai, dari yang sesepele "pengen nonton konser Tiziano Ferro sebelum lulus kuliah" sampe yang kelewat detail dan serius: jadwal liburan setiap semester, sejak 2011. Ga semua tercapai, ga selalu bertahan sama juga. Tapi semua keinginan itu datang dengan alasan yang kuat. Makanya ketika harus berbelok atau mengalah pun, gue harus meninjau kembali alasan-alasan kenapa ga 'setia', biar hati bisa leluasa menerima.

Ketika gue kelas 10 semester 2, gue udah merencanakan liburan kenaikan kelas 12. Gue merasa saat itu adalah pintu dimana gue ga bisa diganggu gugat sama sekali karena harus belajar dan sebagainya. Gue inget, saat itu gue pengen ke luar negeri yang lebih jauh dari negara tetangga. Gue pengen ke Korea, karena gue dah les Bahasa Korea. Tapi keluarga gue kan bukan tipe yang suka jalan-jalan ke luar negeri, dan bukan penuh luxury juga. Kalo gue beneran mau pergi, ya cari cara gimana biar mampu liburan itu.

Gue sangat persistent, ini salah satu trait yang gue syukuri. Ketika satu jalan gagal, gue akan coba cara lain - dalam diam. Ketika kurang jelas, gue akan selalu memaksa dan mencari kejelasan - dalam hal apapun.

Singkat cerita, summer itu gue bisa liburan ke Korea karena dapet tiket super murah. Begitu juga ke Philippines dan beberapa negara lainnya. Semua didasari satu tekad: udah mau kelas 12, nantinya ga bisa diganggu. Setelah lulus pun ga tau jadwal kuliah kaya apa.

Keinginan jalan-jalan tapi ga punya uang yang begitu kuat pula yang mengantarkan gue masuk SEALNet Youth Leadership Summit (YLS). Di summer tahun 2013, gue memulai karir organisasi gue berdasarkan nafsu jalan-jalan. Kalau cara biar bisa jalan-jalan itu harus tulis aplikasi super niat, I will do it. Disaat harus bertahan ditengah program dimana semua orang jauh lebih jenius dan lu salah satu yang paling bego pun, gue tanya lagi sama diri sendiri: Kenapa gue sampe sini?

Tekad yang mendalam itu membuat gue menyanggupi semua tantangan, asalkan gue bisa lihat end resultnya dan gue merasa itu layak diperjuangkan. Siapa sangka, kelas 12 bukannya malah belajar, gue malah makin dahsyat jalan-jalannya? Siapa sangka 1 bulan lebih setelah Singapore, gue malah menjejakan kaki ke Amerika, dan kembali kurang dari 6 bulan setelahnya - semua bermula dari mau jalan-jalan gratis? Satu jalan-jalan gratis ke Singapore membukakan jalan gue ke berbagai negara dan belahan dunia lainnya. Perlu diingat, kesempatan ini terbuka bagi siapapun yang ikut (YLS), tapi nyatanya yang konsisten itu ga banyak.

Seiring perjalanan, pikiran gue makin terbuka. Tujuan utama gue awalnya mau kuliah di Singapore. Tapi saat gue ke Boston dan ditanya apa future plan gue, gue dengan pede bisa bilang ke orang-orang gue mau kuliah ke Korea kalau ga keterima di Singapore. Plan cadangan ini ga datang tiba-tiba, tentu ini udah jadi pertimbangan beberapa tahun, terutama sejak les Bahasa Korea.

Oh iya, gue les Bahasa Korea juga alasannya simpel: mau belajar bahasa asing baru yang berguna, tapi diantara yang menjanjikan, yang murah itu les Bahasa Korea. PP 4 jam Jakarta-Bogor no problemo. Bayar sendiri karena ortu gamau bayarin?  No problemo. If I want it, I will find a way.

Before leaving for Korea: my mom still did not like the idea

Ucapan random di Boston soal kuliah ke Korea ini gue sampaikan ke orang-orang yang belum gue kenal. Anak-anak MIT yang super brilliant itu normalnya bertanya balik, "Eh? Korea? Kenapa?"
Perlahan-lahan makin pede dan makin yakin, meski belum diketahui ortu. Kenapa harus pusing sama izin ortu juga, disaat keterima atau ga keterimanya gue di KGSP bukan pengaruh ortu? Setuju atau ga setuju - secara hukum gue udah boleh ambil keputusan sendiri dan saat berangkat pun gue ga minta uang atau tiket juga?

Kenapa pusing dengan orang lain, saat yang menjalani hidup itu gue?
Kenapa harus iri dengan hidup orang lain, saat lu berkuasa penuh atas hidup lu sendiri?
Kenapa harus melihat susahnya dulu, disaat belum memulai?

Sekarang gue udah semakin dekat untuk menutup chapter 1 perjalanan gue di Korea. Ketika gue SMA, gue cuma bisa bayangin dan plan hidup sampai lulus kuliah. Setelah itu loncat langsung bayangin jadi Ibu Negara. Lalu apakah bayangan dan plan hidup gue di Korea sama jika dibandingkan saat pertama datang dan sekarang?

....... bersambung

No comments:

Post a Comment