Cerita minggu lalu adalah Selasa gue kurang tidur dan Rabu gue ga kerja. Kamis gue dessert hunting dilanjut begadang di pinggir Sungai Han sampe jam 3 pagi, tapi baru tidur sekitar jam 5. Jumat gue practically dead pulang kerja, dan merasa pressured juga karena ada perubahan ritme di kantor. Sabtu gue mentally and physically overworked, gue tidur jam 12 tapi ga nyenyak... Puncaknya di Minggu pagi gue kebangun beberapa kali sampe kira-kira ga bisa tidur lagi jam setengah enam karena gue kesakitan.
Gue gak pernah begini, penyakit gue biasanya berkutat dengan pernafasan. Paling dekat ya tahun lalu saat sakit punggung berminggu-minggu. Gue nunggu lebih dari satu jam sambil cluelessly (and helplessly) nanya temen apa yang harus gue lakukan, sebelum memutuskan untuk beranjak dari kasur dan ke rumah sakit. Sayangnya, saat itu belum jam 7 pagi jadi temen gue ga ada yang jawab. Untungnya, gue punya temen yang lagi di rumah dan berbaik hati mau menolong gue dengan ikut ke RS.
![]() |
| IGD di Minggu pagi |
Ada banyak hal yang gue pelajari dari ER rush kali ini (the last time I was rushed to ER alone was in 2010). Gue bersyukur bahwa:
-Timingnya bukan saat gue kerja atau di jalan
-Gue masih bisa bergerak ke RS sendiri tanpa tangisan atau keringat dingin seperti dulu-dulu dan gue tinggal dekat RS favorit gue
-Ada teman yang berbaik hati dan sabar menemani, meski gue rasa dia capek banget pagi-pagi
-Banyak teman yang suportif dan menasehati (re:scolding)
-Staff dan dokter hari itu semua super lancar Bahasa Inggrisnya
-Nothing too serious
Selain itu, gue juga belajar dan diingatkan, particularly oleh seorang teman, bahwa gue:
-Terlalu forsir diri sendiri dan akhirnya sakit yang ga perlu
-Terlalu obsesi isi jadwal dan ga kenal physical pain
-Harus dipaksa 'jatuh' dulu baru bisa tau batas diri sendiri
-Boleh pinter skill external (karir, jalan-jalan etc) tapi bego buat jaga diri dan common sense (internal)
Buat gue, biggest lesson adalah batas antara "sendiri" dan tidak. Sejak SD, Princess suka dengan bangga bercerita bahwa gue sanggup ke dokter sendiri. Iya, karena kalo nunggu doi kan yang ada sembuh duluan. Padahal, ke dokter sendiri bukanlah hal yang membahagiakan, meski mungkin membanggakan karena menggambarkan kemandirian.
Bahkan ngingetnya aja masih sedih. Sedih karena semerana itu. Gue inget perjalanan gue ke dokter, sengsaranya nunggu sendirian di BMC, anehnya perasaan di'teriaki' dokter karena gue dateng sendiri dan dia ga berani ambil tindakan sebelum orang tua gue dateng (tapi ya mereka ga akan dateng, gue tinggal switch dokter aja) atau betapa kecewanya saat gue udah helpless di rumah sakit tapi gue masih tetap bukan prioritas, kecuali untuk Eyang gue.
(Gue baru buka tulisan gue tahun 2011 soal dokter, semuanya isinya nangis dan marah-marah, kemudian gue ikutan nangis ngingetnya)
Mungkin karena selalu terngiang masa-masa itu, gue ga akan lupa saat gue melihat ada nenek yang dibawa ke IGD rumah sakit oleh tim rescuer Korea dan ditanya mana walinya. Beliau menjawab tidak ada karena beliau tinggal sendiri. Realita ini biasa di Korea, tapi gue yang saat itu juga lagi menunggu giliran dipanggil, malah kepikiran dan sedih sendiri. Saat lo helpless, perhatian dan bantuan dari siapapun akan terasa sangat berharga.
Kali ini gue udah lebih dewasa dan paham bahwa hidup menjadi orang dewasa itu memang harus realistis. Tapi tentu, perhatian lebih yang tidak diharapkan tetep menyentuh hati. Seperti Princess yang akhirnya responsif dengan pesan gue, setelah gue kirim foto gue dengan infusan IGD.
Gue merasa sangat bersyukur bahwa gue gak sendiri kemaren. Mungkin temen gue juga sebenernya cuma terseret ga sengaja berhubung dia lagi di rumah gue, tapi it meant a lot. Konteksnya bukan hanya soal rumah sakit, tapi soal temen-temen gue yang selalu ready bantuin gue bawa barang keluar asrama, kakak kelas yang mau menyempatkan waktu mendengarkan keluh kesah hidup gue, sampai pasukan super yang setia bantu gue saat pindahan. Honorable mention buat Tugce yang selalu berhasil jadi hero dalam hidup gue, ready kapan saja meski pertemanan kita low maintenance.
Surprisingly, lebih mudah menemukan 'keluarga' di Korea daripada di Indonesia. Lebih banyak teman yang bisa say yes right away tanpa pikir dua kali dibanding di Indonesia. Mungkin pelajarannya adalah rumah dan keluarga itu adanya dimana lo merasa disambut, bukan terkait status formal diatas kertas.
Mari jaga kesehatan dan kebahagiaan!

No comments:
Post a Comment