Monday, July 24, 2017

Dibalik Mimpi yang Terwujud: Explore Italia

Berakhir sudah 13 hari gue di area Schengen. Tiap hari, gue rasanya gak berhenti bersyukur karena apa yang gue idam-idamkan sejak dulu terwujud dalam 6 bulan. Dimulai dari kesempatan ke Vatikan, ambisi yang tumbuh dalam benak gue sejak SD. Lalu bisa travel ke lebih banyak negara dari yang gue inginkan dan sampai akhirnya summer ini gue bisa nonton konser yang selalu gue mimpikan.

I am more than blessed.

Ada banyak feeling yang gue rasakan saat ini, disaat gue mengingat lagi perjalanan gue dan perjuangannya. Gak mudah, tangisan dan malam-malam ga bisa tidurnya itu bikin gue stress banget. Belum lagi hari-hari dimana gue merasa bloated tiada henti dan ga bisa makan. Bukan karena excited, tapi karena pusing dengan schedulingnya.

Ngurus visa untuk dua kali perjalanan ke Italia ini juga penuh air mata. Gue berusaha untuk tidak terpengaruh saat gue tau bahwa visa gue hanya keluar untuk 11 hari sedangkan dihari ke 12 gue mau ke konser Il Volo. Tapi ternyata gak tahan dan akhirnya gue nangis juga. Shallow ya, tiap musim masa nangisnya karena visa. Mungkin ini salah satu tanda bahwa gue memang benar-benar pengen banget pergi ke Italia dan ke konser.

Konser apaan sih?
Tiziano Ferro sama Il Volo. Gatau gapapa, temen-temen gue juga ga ada yang tau kok.

Selfie bahagia dari hati
Gue gak suka selfie sebenernya tapi omg, bahkan gue terpana liat foto-foto gue dari konser... Selalu terlihat "kelewat senang" karena emang beneran seneng banget....

Mau tau totalitas ngefans? Gue ampe kaya viking pake atribut konser. Satu-satunya wajah Asia, gapapa pede aja.

Bajunya juga baju official

Anyway, kenapa Italia? Dan kenapa gue cuma ke Italia doang fokusnya saat udah di Eropa?

Karena ladang gandum?
Gue pecinta budaya dan nama Italia udah ada didalam list negara yang pengen gue kunjungi sejak SD. Makanan favorit gue juga makanan Italia. Gak ada makanan Italia yang gue ga suka, sedangkan buat keluarga gue, gue picky setengah mati dan merepotkan. Tapi tiap disodorin makanan Italia, apapun itu pasti gue makan. Gue belajar Bahasa Italia jauh lebih awal daripada Mandarin atau Bahasa Korea karena saat itu (2008), gue cuma mau belajar bahasa yang pelafalannya mudah dan pakai huruf latin. Pas belajar Bahasa Italia itulah cinta gue buat lagu-lagu Italia dimulai.

Quality over quantity. Seperti yang gue ceritakan sebelumnya, adek gue gak belajar dan lihat apa-apa setelah mengunjungi 34 provinsi di Indonesia karena dia mengutamakan jumlah provinsinya. Disisi lain, dengan fokus ke Italia, gak cuma gue bahagia, gue juga jadi paham banyak hal baru tentang orang-orang dan negaranya. Alasan lainnya memang gue kurang tertarik dengan negara lain. Gue ngalamin sehari di Budapest dan meski kotanya sangat murah dan menyenangkan, gue agak kesal ketika gue gak paham sedikitpun bahasa sana, not even 'thank you'.

Planningnya gimana kalo belum tau apa-apa?

Online dong. Effortnya emang dahsyat berminggu-minggu tapi gue spontan kok orangnya. Biasanya gue cuma memutuskan kota, terus disana mau kemana atau mau ngapain, liat nanti aja. Tanya hostel disana. Gue lebih suka liat atraksi lokal daripada tempat turis. Ekspetasi gue juga selalu rendah, so lebih mudah senang hahaha.

Gue juga suka tanya temen. Kebetulan gue punya temen atau ajak kenalan orang di daerah sana. Gue sempet ketemu temen SD gue dan dia berbaik hati ngehost gue dikamarnya. Begitu juga dengan temen kuliah gue yang lagi summer school di London. Ga cuma bisa hemat biaya hostel karena gue tidur di lantai bermodal sprei dan bantal traveling yang gue bawa buat dua malem di kamar mereka, gue juga lebih tau culture tempat tersebut.

Ada takutnya gak traveling sendiri ke tempat baru? Ada downnya gak?

Gue sih down liat jalanan sepanjang+sepanas ini pake koper+ransel

Italia itu pamornya bukan negara aman. Waktu Januari gue kesana, gue berdoa tiap hari biar balik utuh gak kurang suatu apapun. Jangan ngomongin foto, ngeluarin HP dan kemana-mana juga was-was. Tapi setelah gue tau lebih dalam tentang karakteristik kotanya, orangnya dan bisa sedikit bahasanya, kekhawatirannya hilang. Terlebih lagi gue ke desa-desa, yang emang relatif lebih aman. Saat trip summer ini, gue ngalamin tidur bersama 3 cowok telanjang di dorm yang mixed gender, jalan malem-malem geret koper di Roma, baru balik konser jam 1 pagi di Salerno, Firenze dan Lucca sampe naik mobil stranger di Perugia karena panas banget dan bawa koper berat.

Downnya juga banyak. Gue gampang capek setelah kebanyakan jalan dan Italia itu panasnya bukan main. Serius. Tapi gue kan jalan kaki kemana-mana dan itu menguras energi. Kadang mau explore lebih banyak tapi kepala udah pusing banget. Selain itu, gue juga masih kerja ngurus beberapa event yang waktunya bener-bener setelah Italy trip gue. So gue harus bawa laptop yang beratnya bukan main, modal begadang atau rapat online beberapa jam siang hari karena perbedaan waktu.

Oh, gue juga down tiap ga bisa buka pintu. Ini ceritanya panjang, tapi kejadian berkali-kali. Gue kaayanya gak jodoh sama pintu kayu manual. Masalah sering timbul dengan pesawat dan transportasi lainnya. Biasanya gue cari murah, tapi schedulenya jadi berantakan. Misalnya saat di Salerno, gue harus naik kereta jam 5.28 pagi dan ternyata keretanya telat sehingga gue ketinggalan bus ke Perugia. Terus pas mau ke Turin, gue pilih kereta cepat dengan niat nyaman. Eh ternyata ga ada tempat bagasi di dekat pintu gerbong, so gue harus angkat koper 18kg gue ke kompartemen diatas kursi. Gak kuat. Desperate pasang muka 'anak hilang' biar ada yang nolongin.

Biayanya gimana?

Pas winter sih gue bangga banget, kelewat murah soalnya. Tapi yang barusan...

MAHAL. Gue gak mau ngitung berapa banyak uang yang gue keluarkan untuk trip summer ini tapi MAHAL. Tetep sih Allah baik banget sama gue, semester lalu gue dianugrahi banyak job dan yes, itu buat modal gue liburan. Sebagai ilustrasi, gue menghabiskan 180 euro buat 3x apply visa Schengen (!), tiket pesawat ganti 1x dan cancel 1x, tiket bus hangus 1, b&b di Lucca harganya 80 euro semalem karena ga ada yang lain plus tiket 3 konser harganya total hampir 400 euro. Belum lagi satu godaan setan yang gak akan gue sesali: beli CD ampe 110 euro.

Gak pernah merasa sayang atau sedih sih dengan biaya, karena ini mimpi gue. Gue kerja keras juga endingnya untuk ini dan gue beneran bahagia.

Kesimpulannya, yang lo liat di Instagram atau social media gue yang lainnya memang benar. Gue bahagia dan itu bukan sekedar image. Gue juga menjalani hidup yang sangat blessed dan nyaman karena penuh jalan-jalan, itu authentic. Gue bersyukur dan meski kebahagiannya bisa terlihat 'shallow' buat orang lain, ini hidup yang gue pilih. Asumsi yang mungkin kurang tepat adalah bahwa gue bergelimang uang untuk punya kenyamanan yang dahsyat. Ya kalo uangnya sampe tumpah-tumpah sih gue gak perlu bangun pagi buat cari pesawat paling murah, atau sampe ngalamin culture shock tidur sama mas-mas telanjang itu.

Happy beneran kok!
Orang bisa punya pengalaman yang sama tapi pelajaran dan feeling yang berbeda. Buat gue, traveling tentu saja menjadi kesempatan emas buat memperkaya diri sendiri dengan lebih banyak tahu budaya lain. Not so much about foto-foto pajangan instagram, itu bonus. Kali ini, gue belajar bahwa gue harus lebih fleksibel dalam hidup dan gue juga bisa lebih santai. Yes, gue masih kebangun tiap jam 6 pagi karena gue morning person. Tapi bukan berarti gue harus terburu-buru ninggalin kamar sepagi mungkin biar bisa mengunjungi lebih banyak tempat. Saat visit suatu tempat pun, satu dua foto cukup, lebih baik belajar cerita dari tempat tersebut. Yes, gue masih merasa 'jir udah sampe sini masa gak total?'
Tapi tanya lagi, totalnya ini apa? Jumlah? Hasil foto? Atau bahagia dan pemahaman yang lebih dalam? Gue belajar untuk lebih sayang dengan diri sendiri dan mengurangi gaya barbie. Maksudnya? Berpakaian lah yang nyaman, ga perlu cantik atau representable. Gue jalan-jalan buat diri sendiri kok, bukan untuk photoshoot.

Yak siapa yang tertarik jalan-jalan bareng sehari jalan kaki minimal 6km dan siap tidur di lantai atau camping di pinggir ladang gandum?

No comments:

Post a Comment