Saturday, December 29, 2012

Live In 2012 : Liburan di Desa

Naik truk sebenernya asyik. Tapi gue ga kebayang kalo kita harus selalu waspada setiap ngelewatin pohon, siap-siap nunduk biar ga kena kepala. Biasa berdiri tanpa pegangan di transjakarta dan kereta jadi suatu advantages lho. Kita jadi lebih mudah mengatur keseimbangan dan bisa berdiri dengan nyaman, bahkan sambil mengetik memo di iPod muahaha.

Jalan yang kami lalui itu naik turun, ga semuanya mulus, banyak juga yang berbatu. Akses masuknya memang masih cukup sulit, tapi keadaan penduduknya sudah cukup baik kok. Memang masih tradisional pada umumnya, tapi TV, HP bahkan Blackberry sudah akrab dengan warga. Kalau untuk memasak, warga lebih banyak yang memilih menggunakan tungku kayu bakar, meski beberapa rumah sudah punya kompor gas. Mungkin karena lebih murah.

Suasana di truk - @ Sendangsono
Setelah naik truk dari daerah Jagalan selama kurang lebih 30 menit, rombongan wilayah Kerug tiba di sebuah kapel. Para orang tua asuh yang akan menampung anak-anak sudah menunggu di kapel. Agenda pagi itu adalah selamat datang dan penyerahan siswa serta bibit cengkeh kepada orang tua asuh. Di kapel juga telah disediakan boks nasi sebagai sarapan. Tapi gue dan Metta ga makan, as expected. Kita malah makan biskuit karena Metta ga boleh makan sembarangan due to her veganism. Disini gue mulai numpang jadi 'vegan'. Bukan karena solidaritas doang sih, tapi juga karena gue ga doyan banyaaaaaak banget jenis makanan muahaha. Selera makanan gue emang di cap paling aneh di keluarga.

Setelah penyerahan, masing-masing anak 'pulang' ke rumah orang tua asuhnya. 1 rumah ditempati 2 orang anak. Gue dan Metta ditempatkan di lingkungan Kapuhan dengan orang tua asuh bernama Ibu Partini. Saat jalan ke rumah, gue bareng dengan salah satu guru beserta hostnya. Orangtua asuh gue, guru gue dan hostnya saling bercakap-cakap dalam Bahasa Jawa halus. Bahasa yang ga gue kuasai, hmmm. Dari percakapan itu, gue tau bahwa yang menjemput gue bukanlah Ibu Partini sendiri karena Ibu Partini sedang ada keperluan. I was so damn proud yet confused. Proud karena gue masih nangkep omongannya jadi ga salah orang (Metta bener-bener blank), confused karena gue sendiri ga yakin dengan pemahaman gue -_-

Setelah berjalan jauh dengan medan yang naik turun serta berbatu-batu, ditambah lagi dengan barang bawaan yang beratnya bukan main, juga kebodohan karena tidak melepas jaket sebelum mulai jalan, akhirnya gue mulai melihat rumah. Sebelumnya gue cuma melihat kebun dan bukit yang keren. Di pertigaan jalan, gue ngeliat rumah yang keren, dan 2 orang teman yang sedang beristirahat di bangku bawah pohon karena capek. Ibu yang mengantar gue ternyata masuk ke rumah yang besar tersebut dan akhirnya mengatakan... "Sudah sampaaai di rumah Ibu Partini."

Woah. Finally.

'our' house @ Kapuhan - Kerug
Rumahnya sangat jauh dari bayangan gue. Rumah gue itu sangat modern dan nyaman. Ga perlu masker, tembakau, garam atau tissue basah buat mandi karena kamar mandinya juga sangat nyaman. Selimut gue pun akhirnya gue pinjamkan ke teman karena Ibu sudah menyediakan bedcover yang hangat dan harum~ Bahkan gue bilang ke Princess (ibu gue) kalo rumahnya jauh lebih enak daripada rumah oma gue di Siantar hahahaha. Mau deh live in sebulan disini :D

Halaman dan Teras
Setelah menaruh barang di kamar, Metta pun mandi sedangkan gue mengobrol dengan Ibu yang menjemput kami. Mbah Minah namanya. Mbah Minah sangat baik dan ramah. Setelah mandi dan makan, kami dipersilakan untuk istirahat~

Ga ada kegiatan penting sih di hari pertama (15/12). Setelah istirahat, gue dan Metta ikut si Mbah ke kebun untuk mengambil salak dan jalan-jalan ke Gua Maria Watu Tumpeng yang jaraknya deket banget dari rumah. Rumah kami emang strategis banget. Ga cuma deket Gua Maria dan pertigaan, katanya rumah kami juga berada di tengah-tengah lingkungan Kapuhan. Cuma dilingkungan kami ini jarak antar rumah memang cukup jauh, ga berdempetan seperti di Kota. Jalannya juga naik turun dan berbatu.

Saat sore hari, gue dan Metta 'pdkt' dengan anjing-anjing yang berkeliaran di depan rumah. Gue sebenernya takut banget sama anjing, tapi anjing-anjing di daerah sana tuh baik-baik dan ga gigit, hehehe.

Metta dan anak anjing yang paling lucu
Di hari kedua, anak-anak dari wilayah Kerug pergi ke Sendangsono untuk misa, yang kebetulan bertepatan dengan 108 tahun Sendangsono. Awalnya gue dan Metta nonton pertunjukan sendratarinya gitu, tapi karena gue kepanasan, kami pun pindah. Berhubung alergi panas gue kumat, kami malah mencari es di warung makan yang ada. Setelah itu, sembari menunggu waktu, kami duduk di tangga-tangga yang menurut gue unik banget, muahaha.

di Sendangsono

I spotted MCK!
Metta di truk
Rombongan live in pulang dari Sendangsono jam 3 sore, dengan truk tentunya. Beruntungnya, truk lingkungan Kapuhan sudah tiba sebelum hujan turun. Beberapa lingkungan yang ga beruntung harus kehujanan deh, hehe~


di dapur rumah
Hari ketiga atau tanggal 17/12 dihabiskan dengan memasak! Gue dan Metta membuat mendoan, makanan kesukaan gue di bulan Desember ini. Sebelumnya gue ga gila mendoan, tapi entah kenapa ketagihan sejak beli mendoan di Jl. Pengadilan hahaha.

Selain bikin mendoan, gue juga mencabuti rumput di depan rumah untuk makan ternak dan menanam cengkeh di kebun Ibu yang terletak di samping rumah Ibu yang satu lagi. Bagian paling susah adalah mencangkul dan tanah yang terlalu basah bikin sandal jepit gue menjadi tebal dengan tanah. Gue baru tau ternyata membersihkan tanah yang menempel itu yang cepet pake arit, muahaha. Sayangnya gue dan Metta ga bisa lama-lama mencabuti rumput karena hujan terus turun. Akhirnya kami lebih sering di dapur, mengusili 2 anjing dan seekor kucing milik Ibu~

we named it kim and cil HAHAHAHA
Hari ketiga (18/12) diisi dengan pergi ke Suroloyo bersama dengan teman-teman sewilayah Kerug. Perginya lagi-lagi dengan truk. Sebenarnya Suroloyo ga terlalu jauh sih, toh teman-teman dari lingkungan Wonokriyo bisa jalan kaki. Di Suroloyo sendiri sebenarnya ga ada apa-apa. Pemandangannya memang keren banget dari atas, tapi naiknya itu curam dan capek huahaha. Entah kenapa gue lebih suka Ketep Pass atau bukit yang di Malang sama Manado, entah apa namanya itu - gue lupa.

Pulangnya cukup basah, kena gerimis doang sih, hahaha. Saat turun truk, karena penuh keraguan daan salah perhitungan, gue jatoh. Ga jatoh sih, cuma salah mendarat aja pas loncat wkwk. I nearly crashed my teacher -_-

Di sore harinya, Ibu mengajak gue dan Metta untuk ikut doa keluarga. Ternyata doanya diselenggarakan di rumah teman kami. Alhasil, bukannya ikut doa, kami malah mengobrol berempat sembari makan camilan, muahaha. Sepulang dari doa, gue ga langsung pulang tapi bantu-bantu di rumah ketua lingkungan yang sedang sibuk masak untuk malam perpisahan.

Di malam perpisahan, setiap anak dan orangtua asuh diminta untuk membagikan pengalamannya. Buat gue, sebenernya ada rasa bersalah karena bangunnya masih kurang pagi (jam 4.50an sih), ga bisa bantu-bantu banyak (lebih sering ngeliatin) dan juga sepertinya kurang bisa menempatkan diri. Tapi keseluruhan pengalaman live in-nya sangat menyenangkan sih, malah kaya liburan atau homestay aja, hohoho.

sebelum berangkat pulang!
Tanggal 19/12, kami sudah harus meninggalkan Kerug~ ada rasa sedih sih mengingat betapa homy-nya Kerug. Juga Ibu Partini dan keluarga yang bisa membuat gue dan Metta nyaman selama tinggal di rumahnya pasti bikin kangen. Kapan lagi gue bisa mengulang 5 hari menjadi vegan, huahaha.

with Angel, cucu tetangga
our kerug family - Ibu partini on the right
Akhirnya live in pun telah usai dan gue dapet banyak pengalaman plus kenangan keren dari Kerug~!

Live in bisa mengajarkan banyak hal tentang kehidupan sih, tapi 5 hari ga akan bisa mengubah seseorang. Tapi tentu saja bukan berarti setelah live in beres ga ada efeknya sama sekali. At least live in bisa membuka mata dan hati kita untuk jadi lebih peka terhadap sesama dan menyadari bahwa ada banyak jenis kehidupan di dunia ini dalam arti yang lebih luas lagi. 

4 comments:

  1. Hahahahahaha... lucu q baca cerita qm mulai dari persiapan live in it, it kbtulan pas q ga d rumah, klo q pas d rumah paling ktmu sama yg live in, tempat q ga jauh dr situ naik sdikit klo mau ke suroloyo pasti melewati... tp bagus cerita qm... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. oy it foto yg terakhir, pas ada d depan rumahnya nenek q... wkwkwkwkwk

      so like your story..

      Delete
    2. waaah ya ampun tetangga toh?
      sayang ya gak sempet ketemu malah ketemu di dunia maya :)
      pengen balik lagi aku ke kerug hehe

      Delete
    3. iy ya, suasananya gimana masih lumayan sejuk khan.. :) kapan2 mampir lg kesana biar ga lupa.. :) nie klo mau mampir do blogq jg http://masgregori.us/ add jg d fb hariyanto.joegreg@gmail.com

      Delete