Dream trip to Seoul and Tokyo finally over! I kinda feel sad remembering how I miss Seoul already. Such a nice and dynamic city.
So everything started with a cheap ticket that costed only $175/pax for CGK-ICN. Pake LCC? Duh, engga dong. $175 to fly in comfort with Garuda Indonesia, dear. How can? Hahaha, rajin-rajinlah search tiket murah.
Mau kemana sih di Seoul? Mau ngapain?
To be honest, sampe hari keberangkatan pun gue gatau tuh mau kemana aja. Yang ada dipikiran gue cuma praktek bahasa Korea dan beli album hahaha. Tapi ternyata Seoul is beyond my expectation. Seoulites sangat memukau dengan fashion dan dinamikanya.
Transportasi di Seoul benar-benar awesome. Subway menjangkau semua wilayah, benar-benar semua. Sebenarnya gue ngomong gini karena masih sebel aja mau ke Ikea yang di Singapore itu tapi ga ada subway yang konek langsung ke stasiun subway. Lagipula Singapore hanya punya 5 lines, sedangkan Seoul punya 9 lines + lines ke daerah-daerah. Busnya juga oke banget, lebih mudah dimengerti daripada Singapore. Tapi sampe saat ini, gue masih belum nyaman naik bus dimana-mana karena menurut gue lebih ribet rutenya daripada naik subway.
Kalo tinggal duduk nanti dikasih tau turun dimana sih, beda cerita...
Lagian subway di Seoul kan berasa Runway, mau fashion macem apa juga ada dan semuanya pantes. Duuuh...
Makanan di Seoul gimana? Enak. Meski babi ada dimana-mana, tapi yasudahlah. Masih banyak yang enak-enak. Next post!
TOKYO!
First impression gue, "kenapa bandaranya gelap amat?" karena design arrival hallnya yang terkesan tertutup sedangkan gue terbiasa dengan sesuatu seperti Suvarnabhumi atau Incheon. Begitu naik mobil ke arah kota komen langsung jadi, "Kok malah kaya Riyadh sih arsitekturnya?" karena gedung-gedung yang jarang menggunakan kaca, jadi kotak-kotak macem benteng gitu.
Mungkin efek 'jetlag' abis dari Seoul, Tokyo jadi terkesan old. No wonder sih, pembangunan di Jepang itu sudah dilakukan dari bertahun-tahun yang lalu, saking hebatnya Jepang. Sedangkan Seoul, Kuala Lumpur dan kota-kota lain kan baru sekarang aja majunya.
![]() |
| Di Jepang apa di Cina hayooo |
Selama di Jepang, gue merasa kesulitan menemukan spot foto yang 'Jepang banget'. Terlalu banyak kanji. Seharusnya sih kalo gue di Jepang gue bakal banyak inget Luluk yang lagi belajar bahasa Jepang dengan serius, atau si Sashi, temen gue yang Jepang banget luar dalam. Tapi ternyata salah, gue malah kebanyakan nginget Metta, temen gue yang lebih bagus struktur Bahasa Mandarinnya daripada Indonesia atau Inggris, setiap liat huruf kanji yang bertebaran dimana-mana.
Enaknya sih karena bahasa turunan, gue bisa aja insist pake bahasa Korea atau Cina. Pasti banyak yang ngerti. Just like before our arrival. Gue sekeluarga dikirimi buku panduan yang berisi jadwal, tempat-tempat wisata, driver dan mobil yang akan menjemput. Nah, drivernya tertera "Arbaito". Dengan semangat Ero memberitahu semua orang "Ini yang jemput orang Jepang nih!". Spontan gue bilang ke Ero, "Duh kasian banget kalo namanya Arbaito, kan di Korea artinya part-time". Ero cuma ketawa-ketawa ngakak.
Ternyata, om yang menjemput itu orang Bandung dan yeah, dia memang arbaito alias part-timer. Tuh kan, sama aja.
![]() |
| tolong fokus sama backgroudnya |
Apa coba backgroundnya, ngga banget kan? Hahaha, gue pose kaya gini tujuannya cuma mau kasih caption "@ Kuil, somewhere in Kanji-land". Terserah deh mau di Jepang atau Cina, sama-sama merah kan icon-nya, sama-sama negara penuh kanji juga hahaha.
Betapa enaknya kalo lu bisa bahasa Korea, Jepang dan Cina sekaligus. Berasa punya seluruh daratan Asia Timur aja, abis tiga-tiganya saling berkaitan dan bahkan banyak banget kosakata yang sama.
The unique fact is I could help Ibu read the floor directory in the dept store just because I know basic Hanzi. Jadi ceritanya Ibu mau beli teh titipan temen tapi gatau di lantai berapa sedangkan itu ada 8 lantai. Begitu liat floor directory-nya, eh pake aksara Jepang dong! Duh, gue baca dan gue melihat 酒 di lantai 2. Meski ga nyambung, 茶 pasti adanya deket-deket sama 酒. Hahaha dan itu benar!
![]() |
| No filter loh |
Julukan negeri matahari terbit ga bohong ternyata. Sunlight in Japan emang dahsyat. Ga seperti di Korea, dimana gue sama sekali ga peduli dengan matahari karena kata Seonsaengnim gue sih matahari di Seoul ga akan pernah bikin item (terbukti kan orang Korea putih semua), gue bener-bener ngerasa panas di Jepang. Jadi berasa di Singapore aja, hahaha.
Tapi kerennya, di Tokyo masih banyak banget kebun yang tampak seperti hutan buat gue saking lebatnya. Dan kebersihannya pun dahsyat, melampaui Singapore yang sudah ternoda di trotoar Serangoon Rd (The Hive - City Square banyak sampah tuh) atau Seoul (Itaewon ga nyaman banget).
Masih banyak yang harus diceritakan, termasuk berbagai asumsi yang salah.
Next post!




No comments:
Post a Comment