I didn't know why until I read this feedback (and reflection) from my favorite project member, Kak Aqhiel:
not all people like to speak up. for people who have same personality like me, we are more comfortable in the small group first and need little bit more time to share our thought and mind. we got a lot of things to say and not only positive things but negative as well. and a lot. it just that when people say a lot of positive things that we already think and have in mind, when we want to speak about the negative things, we didn't speak because we feel that we don't want people think that we r the only who think it. we don't want all people know that maybe we shouldn't be here, we are not qualified and bla bla. and small group will really like a lot help these kind of people to express their thought. and more smile [...] for me and most Indonesian i suppose who have been through seniority like a lot. mentors and project leaders title already terrifying me. but back again i think its about the perspective and personal matter but smile is not gonna hurt anyone so i suggest more dose of it please . [...]Published with permission, btw.
I could not agree more with Kak Aqhiel. Gue adalah orang yang selalu berpikir dari sisi paling positif, paling negatif atau tidak peduli sama sekali. There's no in between.
Dalam banyak kegiatan yang gue ikuti, gue akan dengan cepat menemukan kekurangan-kekurangannya ketimbang kelebihan dan pelajaran yang bisa gue dapat. Hal ini terjadi karena gue memiliki ekspetasi yang tinggi atau no expectation at all. Pemikiran yang ekstrim ini ditambah dengan kepribadian gue yang mengutamakan logika dan rationalitas membuat gue menjadi orang yang sangat mudah mengkritik.
Untungnya gue menemukan kedamaian dan komunitas yang sangat terbuka serta tidak judgemental di SMA. Seperti yang sudah gue katakan ribuan kali, gue merasa sangat bersyukur atas seluruh hal yang gue alami di SMA karena semuanya dapat diterima nalar. Mungkin ada ketidakpuasan, tetapi bukan karena kekonyolan yang disebabkan oleh kebodohan atau kecacatan sistem.
Gue pun perlahan-lahan terbiasa untuk melihat hal dari sisi positif. Gue menjadi individu yang sangat gembira dan penuh syukur. Gue merasa jauh lebih nyaman dan positif dalam menyikapi hidup. Gue tetap menyikapi hal dengan kritis, tapi kini tanpa terbakar emosi. Ketika gue menemukan kekurangan, gue bisa dengan bebas memberikan masukan dan pihak lawan pun akan menerima dengan lapang dada. Kadang memang ada yang tidak bisa menerima, tetapi beliau tidak akan pernah mengambil hati atas argumen yang terjadi. Sungguh situasi yang sangat ideal.
Hanya saja, dunia gak selalu seperti itu. Di luar sekolah, ketika gue kehabisan hal positif yang bisa diteladani dari sebuah kejadian, gue akan berkomentar, meski tidak banyak, dan melihat respon yang didapat sebelum bertindak lebih jauh. Ketika responnya negatif dan gue merasa broken, gue pun memilih untuk diam dan berhenti peduli.gue cenderung memberikan kesan tidak peduli karena hanya terdiam dan gak mau makan hati. Hal ini juga berlaku ketika gue udah terlalu capek untuk menghadapi masalah dengan berani atau terlalu takut dengan respon orang lain. Buat gue, sama seperti apa yang Kak Aqhiel katakan, selalu ada kecemasan untuk menghadapi respon orang lain sehingga lebih baik diam daripada berbohong. Somehow, kita selalu merasa bahwa semua akan berjalan baik-baik saja tanpa suara kita asal kita sendiri mampu berkompromi karena kelancaran bersama lebih penting dari suara individual. Tapi gue gak bisa menutup mulut ketika gue punya ekspetasi tinggi namun tidak tercapai, atau ketika gue sangat peduli dengan suatu isu. Dalam situasi ini, seringkali emosi mengambil alih.
Itu adalah gambaran diri gue sebelum SEALNet dan projek.
Setelah menyelesaikan projek, gue belajar betapa pentingnya menyuarakan pendapat meski kadang lo sendiri gak tahu apa yang lo omongin. Just keep talking sampe akhirnya lo menyadari apa maksud lo dan apa yang lo rasakan. I learned about the true meaning of open communication. Gue belajar cara mengungkapkan cara pandang dan pemikiran dalam diri gue yang bahkan gue sendiri gak sadar dan gak tau apa itu dan bagaimana mengekspresikannya.
Pembelajaran yang sangat berharga ini akan tercapai dengan mudah dikomunitas yang ideal - komunitas yang menyediakan safe space. Ini berkaitan dengan bagian selanjutnya, identity and seniority.
Bagaimana jika kita berhadapan dengan komunitas yang sangat judgemental?
Bagaimana jika lawan bicara tidak bisa menerima kenyataan?
Bagaimana jika lawan bicara adalah sosok yang sangat disegani namun dengan pemikiran kolot dan menyuarakan kritik dianggap sebagai ketidakhormatan, ketidaksopanan atau penghinaan?
Bagaimana jika lawan bicara tidak paham pentingnya kejujuran dan menghargainya untuk perbaikan dimasa depan atau mungkin tambahan pengetahuan?
Situasi yang paling tepat untuk gambaran ini adalah senioritas yang sering dijumpai di sekolah. Again, seperti Kak Aqhiel bilang, ini merupakan perspektif yang sangat bias berdasarkan pengalaman pribadi dan situasi yang ada di Indonesia. Gue sangat setuju dengan apa yang Kak Aqhiel katakan karena gue mengalaminya di SMP.
Di Indonesia, gelar dan jabatan sangatlah penting dan menentukan derajat penghormatan orang terhadap individu tersebut. Gue punya trauma atas senioritas di SMP dan gue gak pernah bisa menyuarakan pendapat gue kepada kakak-kakak yang bersangkutan karena takut akan label dan bully. Ketimbang dendam, hal itu membuat gue berusaha setengah mati menyematkan identitas 'jangan anggap gue senior, gue sama dengan kalian' atau 'gue bukan kaya mereka' kepada adik kelas sepanjang SMP. Usaha itu berhasil tetapi gue tidak merubah sistem. Senioritas di SMP gue masih ada, begitu juga adik-adik kelas yang trauma tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Ketidaksetujuan gue, lagi-lagi, sangatlah personal. Dari 285 siswa yang mengikuti MOS kala itu, mungkin jumlah siswa yang keberatan atau memiliki ketidakpuasan kurang dari 20%. Semua tergantung perspektif dan cara pandang.
Ini adalah jawaban atas perasaan gue sekarang. Gue masih mencari cara untuk mengaktualisasikan pemikiran dan pendapat gue kedalam keputusan dan tindakan yang gue ambil dengan mempertimbangkan komunitas dimana gue berada, setelah belajar dan bertransformasi dengan sukses. Gue takut gagal beradaptasi. Gue takut kehilangan nilai-nilai yang telah gue pelajari dengan susah payah dari projek ketika gue harus berhadapan dengan situasi yang kurang ideal. Disisi lain, gue sadar bahwa idealisme yang gue miliki selalu ada batasnya dan gak mungkin gue selalu menemukan komunitas seperti SEALNet. Gue takut gue akan kehilangan identitas ditengah pencarian atas dilema yang dirasakan, apalagi setelah gue belajar bahwa gue sangat buruk dalam membaca situasi.
Gue takut semua hal yang gue pelajari hanya berguna untuk my personal growth and development bukannya untuk membantu komunitas.
Lalu apa yang bisa gue lakukan? Diam atau berbuat sesuatu? Bergulat dengan kecemasan pribadi atau berusaha mengubah keadaan? Memilih aman atau memilih dibenci dan dimusuhi? Bertahan dengan logika atau berusaha menerima apa adanya?
Gue masih mencari jawaban yang tepat. Tapi satu hal yang pasti: proses pembelajaran dan refleksi ini akan terus berlanjut.
No comments:
Post a Comment