Monday, August 18, 2014

PPSMB Palapa 2014: Pesan dari Drama Teatrikal

Gue nulis ini bukan karena gue punya banyak waktu dan bisa leha-leha, tapi karena Orasi Tokoh dari Anies Baswedan dan pertunjukkan drama teatrikal di pembukaan PPSMB Palapa 2014 ini resonated my thoughts.

Pak Anies suggest seluruh Gamada untuk menulis pengalamannya di blog. Untuk apa? Untuk berbagi dengan orang-orang, agar semua bisa belajar dari cerita gue. Exactly. Seandainya semua orang menulis, gue ga akan susah cari sample essay atau masalah administratif penggunaan common app dengan standard Indonesia :")

But anyway, Pak Anies juga berkata bahwa good GPA will only give you job interview. Planning terhadap kehidupan mahasiswa lebih penting agar memiliki masa depan yang terukur. Bagian ini bener-bener resonated dengan langkah gue. Seperti biasa, langkah dan pilihan yang telah gue lakukan tapi gue ga pernah bisa menemukan cara yang tepat untuk menjelaskannya. Poin ini menjelaskan pilihan gue untuk out dan menarik diri dari semua lomba, menjadi sekedar siswa 'diatas rata-rata' dan terjun ke dalam organisasi yang ideal menurut gue.

Setelah orasi tokoh, acara dilanjutkan dengan drama teatrikal yang benar-benar ciamik. Pertunjukkannya sangat menyentuh gue, betapa gue saat ini bisa melihat penampilan itu dengan perspektif berbeda. Gak cuma bilang keren, tapi juga melihat sisi humans (translationnya bukan humanis loh ya) dari para seniman yang tampil. Sekedar menari aja udah susah dan panas, sedangkan kakak-kakak tadi harus perform dibawah terik matahari!!!

Karena jarak yang jauh, mungkin orang-orang gak akan pernah tau ribetnya dandan dan make kostum. Atau seberapa banjirnya badan setelah usai tampil dan make up yang udah luntur meski pake Kryolan. :')

Lalu apresiasi yang datang sekedar karena background music yang keren dan visual warna warni yang menarik... NO. Nari bukan cuma soal kostum yang eye catching seperti kostum AYE/Konvenda gue ditambah musik yang hip ala Bu Ina dan kemudian goyang sana sini. GAK. Orang gak pernah tau seberapa rendah kaki harus menekuk dan seberapa sulit meluruskan badan ditengah berbagai gerakan tubuh yang dilakukan.

I was really touched when thinking about the sacrifices to put everything together on that stage. Gue salut banget dengan para performers dan penampilan tadi bikin gue fix banget mau ngelanjutin nari di kuliah dan belajar tarian daerah lain. 

Berikutnya soal moving yang penuh debu dan lari-lari. Meski terkesan kejam karena cuaca yang panas, movingnya sangat efektif dan manusiawi. Gue suka karena teriakannya dapat diterima, bukan nonsense yang cuma ngasi kesan 'kedisiplinan tingkat xxx'. Efektif dan efisien, meski gue bukan bagian dari tim yang harus lari berhubung gue punya alergi panas seperti biasanya. 

Soal acara di kelas... I don't know where to start hmm.
My co-facilitator, Kak Wida dan Kak Isa, reminded me of our project leaders pairing. Both with their own unique characteristics that really complemented each other. I have no thorn but bunch of roses for them *love*

Kak Wida sangat pengertian dan pintar merangkul para peserta sedangkan Kak Isa mahir didalam mengontrol mood tanpa one-word check in atau energy level model projek. Kelas hari ini gak pernah kehilangan sparknya. 

PERFECT.

I could not ask for a better day to start what-I-used-to-believe-as scary orientation. I learned a lot, mainly from the people rather than the materials. I am truly grateful for today.

Look forward to end everything soon and hang out with Maro!

No comments:

Post a Comment