Wednesday, September 24, 2014
Follow Your Passion?
Tadinya gue yakin. Gak pake ragu. Bahkan gue diminta share tentang betapa gue yakinnya sama passion gue.
Sampai akhirnya gue terjebak disini, UGM. Di HI. Belajar politik, bukan uang. Analisis kejahatan orang, bukan kelakuan pedagang. Nantinya bakal ketemu banyak pemimpin dan diplomat sama pemimpin, bukan banker, investor atau om-om eksmud ganteng.
Dan puncaknya kemarin, setelah gue baca buku 'Sinden-Penari Di Atas & Di Luar Panggung: Kehidupan Sosial Budaya Para Sinden-Penari Kliningan Jaipongan di Wilayah Subang, Jawa Barat'
Secara mengejutkan, gue merasa tersentuh dan terpanggil ketika nama-nama yang biasanya hanya gue tuliskan di buku Karawitan semasa SD dan gue dengar dari Teh Rini waktu belajar Tari Minang diulas dengan lengkap di buku itu. Pelajaran Karawitan itu gak signifikan tapi lihat bagaimana gue masih hapal lagu-lagunya... Bahkan ragam dan penggubahnya.
Kemudian gue jadi gila, literally, karena terlalu bahagia.
Gue meneruskan baca buku tersebut dengan penuh semangat sambil diiringi lagu-lagu jaipong saking kangennya pengen jaipongan aja, gak mau belajar politik lagi. Dan entah bagaimana takdirnya, materi Career Preparation Course hari ini pun Follow Your Passion.
Jadi, apa passion gue di jaipong? Gue bukan penari yang bagus, bahkan baik pun engga. Gue hanya sekedar make a move tanpa mendengarkan feedback dari coach meski sudah diperingati ratusan kali. Gue cenderung menghancurkan tarian daripada membuatnya jadi lebih cantik. Gue sadar betul tapi gue gak peduli karena gue selalu merasa senang.
Kapan coba latian tari gak pake ketawa-ketawa? Ironisnya, gue banyaknya mentertawakan diri sendiri atau gak bisa menahan keterkejutan melihat gerakan yang harus dipelajari selanjutnya.
Saat gue mau melupakan dan berusaha realistis, gue menemukan quote diatas.
Gue gak mengejar gaji besar kok. Yes, gue realistis bahwa gue adalah manusia yang hidup selalu di kota dan bergelimpang fasilitas. Gak pernah sekalipun request gue untuk beli makanan ditolak Ibu dan gue pun jarang request untuk beli barang lain. Sebegitu enaknya hidup gue dan standar itu gak akan bisa dicapai kalo gue ngide jadi penari...
Belum lagi fakta bahwa gue memang gak akan bisa jadi penari atau dance for life karena gue gak memiliki kemampuan yang cukup. Lalu, apa masih harus mengejar passion yang gak ngotak itu?
Gue masih belum menemukan jawaban memuaskan tapi hipotesis gue adalah perasaan dan kegilaan ini semata-mata muncul karena gue gak punya pelarian atas segala ilmu politik yang lebih baik selain mengkhayal dan tidur. Gue masih akan berusaha untuk mengejar mimpi gue, berkutat dengan uang, baik sebagai wealth management pada awalnya, kemudian menjadi manajer dibalik para socio-entrepreneur yang ingin give back ke masyarakat dan kemudian mengurus uang suami - Presiden kita di masa depan B-)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment