Monday, November 17, 2014

Surat Bunuh Diri Tiziano Ferro

Beberapa hari yang lalu, gue mengalami magical night setelah menemukan blog tzn-international.tumblr.com, blog yang dibuat seorang fans Tiziano Ferro dari Belanda buat Tiziano dan fans internasionalnya. Gue gak bisa berhenti kepoin blog itu dari page 1 sampai entry pertama - page 20. 

It was very magical and emotional. Gak cuma fakta bahwa gue selama ini cuma tahu sedikit lagu-lagunya meski punya semua CDnya, cuma tahu 10% MVnya dan gak tahu apa-apa soal kehidupannya selain fakta kalau Tiziano gay; gue jadi tahu serumit apa hidup Tiziano Ferro ini.

Tiziano itu asalnya dari Latina. Fakta sedasar ini aja gue gak tahu. Tapi gue belajar banyak dan catch up dalam semalam karena di blog itu dimuat banyak terjemahan dari jurnal yang ditulis Tiziano sejak dia umur 15 tahun hingga tahun 2010 - dia udah umur 30. Jurnal tersebut dipublikasikan dalam bentuk buku yang terbit beberapa tahun yang lalu tapi gue baru taunya dari blog ini.

Anyway, yang gue mau highlight adalah masa-masa dimana Tiziano sempet depresi berat dan mau bunuh diri. Subhanallah, untungnya gak jadi. Tuhan sayang sama Tiziano dan fansnya dan keluarga dan semua orang yang hidupnya pernah dia sentuh.

Disini surat bunuh dirinya.

Gue mau copy bagian yang menurut gue menarik dari surat yang sempat menjadi 'surat terakhir' dalam pikiran Tiziano.
 
Bravo, I want to tell you bravo because I see you walking towards the future with the pace of a man who is increasingly aware. I don’t know if and when you will read this letter, because I won’t be there anymore.
I hope you’re not sick, I wish that the eyes who are reading these lines are those of a happy person, satisfied and already full of memories, of safety, balance, and especially love.
It’s not easy, at twenty-nine years, to find the drive or the desire to write what will become his own will, but I feel that it’s one of those things “to do”.
...
Soon, after a lot of time spent trying and laboring, I will disappear.
I smile because I believe that, when you read this letter, all of what I’m talking about has already happened, and maybe you’ll be scrolling through these messy and senseless lines, forcing you to raise a smile as well, because what I present to you as shocking news may have already become just a memory, filed away for years.
...
I feel that you know how much love, passion, self-sacrifice and loyalty I’ve put in everything I’ve done in life. How I struggled to try and feel better and really be at peace with myself. You know it.
Unfortunately, I feel that I’ve failed and, at a step from turning thirty, I consider myself defeated. Sadly, I prepare to surrender.
...
I worked really hard on me and my limitations, my inner self and my need to change, to get angry, to talk, to count on someone, to love, to hate… all of those instincts that for years have had a voice only in my songs.
I wonder if all those coded messages were deciphered by the recipients?
It’s like this: my songs have always contained an unequivocal message, that others had to either understand or not understand at all. Strange, huh?
I’ve never been able to use the words and have camouflaged any sentiment among the verses of a song, suffocating it in a jungle of lines, in a melody.
But now it’s no longer enough.
I write to you because I ask you to keep my memory alive. Because that what remains is yours and yours alone, because there’s little, but that little is good, sweet, it’s like only you can understand.
I leave you a collection of notebooks, it’s the most precious thing I have in life because it’s my life itself: recorded from when I was fifteen.
...
The world can be cruel to those who can’t defend themselves and I’ve never really learned how to do it.
And do me a favor, just one: be proud of whatever person you’ve become. I am sure that whoever is reading these words is a man worthy of being called that because you know love and respect. I see it already.
Don’t do like me, wanting to be perfect, I’ve spent my life observing only that which I thought would not go well, ending up having nothing in my hands, except my desire to die.
Now I bid you farewell, but one last thing I want to write you.
I want to say in this letter, even if it will be the last thing that will unite us, at least here on Earth: you are the person I have loved most in my life.
Don’t forget it, don’t ever forget.
Tiziano
PS: Just to downplay know that now I too am crying, supposing that you too are doing that. Indeed, here is a tear.
Tiziano terkenal dengan liriknya yang sangat dalam dan puitis sehingga menerjemahkan bahasa Tiziano itu gak gampang. 

Bintang yang kemungkinan bersinar paling terang di dunia musik Italia itu runtuh pertahanannya. Dia selalu genuine dan totalitas untuk berkarya, menyenangkan hati penggemarnya, tapi dia gak tahu arti hidup dan kebahagiaan bagi dirinya sendiri. 

Gue salut dengan effort dan attitude Tiziano untuk selalu stay true dan gak membohongi penggemarnya atau dunia; bahkan ketika seluruh Italia dan Mexico mengecamnya. Dan surat ini membuka sisi lain dari dia: dia struggle dalam menghadapi dirinya sendiri. That's exactly how I felt.

Kalau gue jadi Tiziano, gue akan mengambil jalan yang sama. Lari secepatnya karena bertahan tampak gak ada prospek. Gue bahagiain orang lain tapi diri gue sendiri gak bahagia. Gue mau bahagia, nanti dikecam orang karena dianggap mengkhianati cinta yang udah diterima. Akhirnya malah terlalu banyak memendam dan cuma bisa berekspresi dengan jadi keyboard warrior (atau elitnya kalo Tiziano sih ciptain lagu) tapi makan hati sendiri.


Tapi kemudian gue ingat, seperti layaknya Om Tiziano, kalo hidup ini gak cuma tentang  gue aja. Kebayang gak sih berapa juta hati yang hancur berkeping-keping kalo Tiziano beneran bunuh diri hari itu? Bayanginnya aja nangis, gimana kalo beneran. Tiziano chose to fight, sampe akhirnya dia memutuskan untuk *setelah ratusan tahun* come out. Gak cuma come out sebagai gay tapi sebagai human yang penuh dengan flaws dan keputusasaan. Tiziano yang gila privacy akhirnya memilih untuk menyebarkan jurnalnya dan membiarkan orang-orang belajar dari cerita hidupnya. Kalo dipikir-pikir, lagi-lagi dia berkorban untuk orang-orang yang udah ngedukung dia ya...

There is too much to say. Gue belajar banyak dari surat dan keputusasaan yang tergambar dalam surat ini dan gue makin kagum sama Tiziano yang sama sekali gak rakus, selalu jujur dan gak haus popularitas. 

On the other side, gue cinta banget sama Kworb yang sangat tulus mendedikasikan waktu, tenaga dan kemampuan Bahasa Italianya untuk fans-fans Tiziano yang gak bisa Bahasa Italia.

No comments:

Post a Comment