Kalo mau dirangkum per region, trip Eropa gue rasanya santai dan penuh discovery. Maklum, pertama kali ke Eropa. Ekspetasi dan realita ga jauh berbeda, gue lebih banyak discover makan-makan dan melihat kehidupan orang sana yang beda banget phasenya sama orang Asia.
| spreading the ASEAN love dari Yangon, Myanmar |
Trip ASEAN gue... Wah. Dahsyat. Gue ga cuma ketemu dan reuni dengan temen-temen di ASEAN, gue juga lihat banyak warna-warni ASEAN yang terus mengejutkan gue. Gue suka banget ngebandingin kota satu dengan kota lainnya. Buat gue, Warsaw berasa Rio. Milan mirip suasananya sama Sao Paulo, semacam itu. Tapi Hanoi dan Yangon... Gak ada bandingannya. Punya warna dan karakteristik sendiri. Bahkan menurut gue, Hanoi bener-bener beda feelingnya sama Saigon atau Ho Chi Minh City.
| Taipei, cinta gue |
Terus Asia Timur, meski cuma Taipei, Taichung dan Seoul, penuh dengan makan dan apresiasi terhadap hal-hal kecil. Liat apa dikit, seneng. Foto cantik sekali, langsung ketawa-ketawa. Gatau kenapa, tiap gue ke Taiwan bawaannya seneng mulu, meski kadang gue ga ngapa-ngapain. Jalan-jalan di Asia Timur juga menuntut kecepatan waktu, saat di ASEAN santainya luar biasa. Untungnya partner jalan setia gue di Taiwan punya style dan stamina yang mirip (sebenernya jauh lebih kuat dari gue sih), jadi setiap visit ke Taiwan rasanya... Ah unforgettable!
Lebih dari foto, pamer dan airline miles, tentu aja ada banyak pelajaran yang gue ambil dari trip ini. Pertama dan yang paling penting adalah bersyukur. Boleh lah gue anggap trip ini sebagai balas dendam, disaat 2015-awal 2016 gue terkunci di Korea. Tapi bahkan kalo saat itu gue bebas traveling, gue rasa gue ga bisa eksplor sepuas dan sebanyak ini. Semua ada waktunya. Gue ga berhenti merasa ajaib, bisa dipertemukan dengan banyak orang yang menolong gue saat trip. Gue juga merasa amazing, gue dikasih kesempatan untuk lihat dunia disaat masih muda.
Kedua, gue diingatkan untuk lebih jadi manusia. Mungkin gue hampir ga pernah ungkit sisi ini, hidup di Korea itu sebenernya capek, kaya robot dan stress. Tiap saat gue dikelilingi oleh orang-orang yang hanya tau ukuran hidup dari duniawi. Kejar nilai, buru uang, saingan kaya ga kenal sosial. Dari traveling ini, gue diingetin lagi bahwa sumber kebahagiaan gue itu bukan materialistis. Gue ngumpulin uang bukan buat beli barang tapi untuk pengalaman.
Tiap orang itu beda-beda dan gue ga perlu takut disaat gaya hidup gue bener-bener ga nyambung dengan orang di sekeliling gue (Korea).
| dari yang sekedar kenal, bisa lanjut visit gue di Indonesia! |
Ketiga, ternyata gue gak seburuk itu dengan human. Gue selalu bilang kalo gue ga suka ketemu orang. Well, gue orangnya cenderung penyendiri dan ga suka basa-basi. Buat banyak orang, gue terlihat arogan dan gak sopan. Tapi ternyata gue bisa juga bergaul dan menjaga hubungan dengan teman-teman gue.
Keempat, temen gue baik banget padahal gue shit. Ini gue masih ga habis pikir. Setiap gue ditolong orang, gue suka mikir dan malu sendiri, "Bahkan gue gak mau nolongin kalo gue jadi dia"
Gue egois tapi dengan mendapatkan bantuan darimana-mana, gue disentil untuk jadi lebih peduli dan jahatnya dikurangi.Gue juga termotivasi untuk terus bantu orang, karena gue selama ini terus menerus dibantu.
Kelima, slow down. Nafas. Berkaitan dengan nomor dua, gue punya kebiasaan target tertentu. Kadang gue suka cepet-cepet dan kesel sendiri kalo timing gak berjalan sesuai keinginan. Tapi saat trip yang kadang gue harus nunggu orang, ikut apa rencana host gue dan akhirnya mengorbankan target-target pribadi gue, ternyata gue mampu sabar dan tetep bisa bahagia. Mungkin gue memang harus lebih fleksibel.
Keenam, gue belajar lebih banyak tentang diri sendiri. Gue super self-centered. Gue rasa gue mengenal diri gue dengan baik. Tapi ternyata gue suka underestimate diri gue sendiri. Gue ternyata bisa lebih sabar dari perkiraan gue, gue physically lebih kuat dari yang gue pikirkan dan gue punya self-control yang oke. Cuma hal-hal seperti ini baru sadar ketika gue menikmati waktu gue sendiri.
Oh, ternyata gue memang gak suka daging dan itu completely normal. Bahkan disaat gue bisa party chicken atau seafood, gue carinya vegan.
| mojok, duduk, ngafe. inget syukur dan terus jalan-jalan (Hanoi) |
Ketujuh, semua ada timingnya dan ini ga bisa dilawan. Gue ngunjungin Italia dimusim terbaik dan ke Hanoi disaat temen gue bisa nemenin 24 jam. Gue gatau kenapa kosongin minggu terakhir sebelum balik Korea, eh pas banget diundang nikahan temen deket dan bisa sekalian reuni. Gue juga ke Myanmar setelah guru gue ada di Myanmar, jadi bisa jalan-jalan bareng. Masih banyak lagi 'kebetulan' lainnya. Kalo mau lebih dalem sih, gue traveling mumpung pas single jadi bisa asik sendiri tanpa perlu sibuk kabarin si doi.
Kedelapan, keep traveling. Lesson yang gue ambil dari trip kali ini pada akhirnya membuat gue sadar bahwa traveling adalah sumber kebahagiaan gue dan gue harus berpetualang lebih jauh lagi. Baru sedikit hal-hal yang gue lihat dan masih dangkal pengetahuan gue tentang budaya di dunia ini.
Kedelapan, keep traveling. Lesson yang gue ambil dari trip kali ini pada akhirnya membuat gue sadar bahwa traveling adalah sumber kebahagiaan gue dan gue harus berpetualang lebih jauh lagi. Baru sedikit hal-hal yang gue lihat dan masih dangkal pengetahuan gue tentang budaya di dunia ini.
Sekarang kuliah dulu. Nanti jalan-jalan lagi.
No comments:
Post a Comment