Sunday, April 30, 2017

Refleksi April

Ada banyak kejadian yang menampar gue dibulan ini, terutama yang berkaitan dengan realisasi diri. Gue memulai banyak hubungan intrapersonal yang lebih dalam dengan beberapa teman, dan gue disadarkan pada beberapa hal.

"Lo suka muji secara profesional, tapi gak personal."

Ini bener banget. Sangat mudah buat gue memuji hasil kerja seseorang dan memberikan feedback dalam manner yang baik. Tapi personally, sangat susah buat gue bilang "Lo punya kepribadian yang menyenangkan" atau sekedar "Lo kenapa cute banget!"

Sedangkan gue bisa berapi-api email dosen betapa gue suka kelas dia, atau bilang ke senior betapa dia sudah memberikan impact diorganisasi yang dia mulai. Gue juga dengan mudah memberikan feedback positif terhadap semua yang berbau kerjaan. Tapi bukan yang menyangkut kepribadian. 

Gue gak terbiasa atau dibiasakan mendapatkan pujian yang personal. Itu terbawa, tapi pengalaman gue berorganisasi membuat gue berubah. Cuma masih berat dan gak natural rasanya untuk muji orang. Gue merasa terdengar fake, meski sebenernya itu tulus. Gue punya prinsip kalo gue pikir orang itu awesome, dia harus tau saat itu juga. Semua orang suka dan layak untuk dipuji. Tapi entah kenapa, gue sangat pelit dan selektif dengan kriteria gue sendiri saat itu menyangkut dengan sesuatu yang personal.Ini adalah sesuatu yang harus gue tingkatkan secara personal. 

"Kata-kata lu itu punya power, orang dengerin lu, makanya harus ati-ati"

Temen gue keluar dari tempat internshipnya sebulan setelah gue bilang dia diperbudak disana. Temen gue yang lain putus sama pacarnya karena gue menyarankan dia untuk cari orang yang lebih worth waktunya. Disisi lain, temen gue juga ada yang mau cerita sama gue, tapi takut setengah mati karena dia udah ngebayangin gue bakal teriak, "Stupid!"

Gue ga sadar bahwa kejujuran yang tanpa batas atau filter ini ga selalu baik endingnya. Gue merasa bersalah dengan tiga kejadian diatas. Mereka harusnya bisa approach gue dan walk out dengan pencerahan, bukan dengan beban.

"Lo orangnya tertutup"

Gue berhari-hari mikirin ini. Gue gapaham gue tertutupnya sebelah mana, ketika gue udah buka semua hidup gue online???

Masih belajar untuk memahami poin ini. Beneran. Bahkan ada saat-saat dimana gue merasa gue oversharing, sampe gue harus bikin survey #2016, untuk double check apakah yang gue pikirkan itu sama dengan yang orang lain pikirkan. 

Pada akhirnya, poin-poin ini membuat gue cukup ragu untuk menulis atau mengungkapkan sesuatu secara frontal. Gue merasa gue harus saring apa yang gue mau sampaikan, karena gue gak bisa kontrol siapa audiens gue dan bagaimana impact yang gue tinggalkan buat mereka. Bisa positif, bisa super negatif.

Seketika gue pengen berhenti bersosial media. Kayanya lebih tenang dan produktif.
*hening*

Tapi mikir lagi...

Through all the good and bad, gue bernafas dengan sosial media. Bahkan setelah berbagai hal yang tidak menyenangkan, gue tetep hidup dengan sosial media. Kenapa tiba-tiba harus merubah diri? Kenapa tiba-tiba mau jadi orang lain?

Disaat yang tepat, gue mendapatkan beberapa email manis. Gue juga mendapatkan banyak message yang cukup encouraging. Kadang, mendengarkan atau membaca 'terima kasih' itu cukup untuk menyenangkan hati gue, bahwa apa yang gue lakukan itu gak sia-sia. Bahwa gue masih berbuat sesuatu yang berguna. Gak perlu dipuji-puji, toh gue sendiri sadar gue pelit pujian.

Hari ini, gue juga mendapatkan sebuah message dari pembaca gue yang bilang bahwa dia merasa terbantu dengan post tentang kehidupan di Korea gue. Timing yang sempurna, gue pun merasa cukup untuk membuat keputusan untuk tetap berjalan dengan apa yang gue telah mulai. Selama masih bisa membantu dan ada yang merasa terbantu. Hidup gue pendek dan cuma sekali, kenapa fokus pada hal-hal yang negatif?

Terima kasih untuk pelajarannya, April 2017!

No comments:

Post a Comment