Thursday, September 14, 2017

Obrolan Toko Buku

"This is my life, I would do as I wish."

Mungkin kedengarannya sombong sekali, tapi keyakinan ini membuat seseorang bisa maju lebih jauh dari sekedar keamanan dan stabilitas yang diidamkan orangtuanya. Sesaat setelah dipenuhi rasa kagum, gue kembali dikejutkan dengan statement lain.

"Jangan terlalu dibawa stress. Coba keluar dan cari lebih banyak orang, gue rasa di business school cuma kita bertiga yang mikir kaya gini"
*terdiam*

Oh. No. Too good to be true. Ini realita.
Ini adalah sepintas percakapan gue dengan dua orang senior dan satu junior tentang hidup dan masa depan. Mereka semua orang Korea yang belum pernah tinggal diluar negeri. Stereotipe akan ke-Koreaan mereka pun tidak dapat dihindarkan sampai akhirnya kita duduk 2 jam di toko buku. Kita tergabung dalam satu grup mentoring bersama alumni yang lebih tua dari bokap gue, yang bertemakan Social Entrepreneur.

Gak gitu banyak hal tematik yang gue dapat dari mentor kita. Tapi gue malah bisa belajar banget dari dua mas ini. Mereka ada di grup mentoring ini bukan karena tercampakkan dari grup lain, tetapi karena pilihan. Karena mereka ingin membantu orang. Karena mereka ingin menjadikan passionnya sebagai karir.

Senior ini dua-duanya anak pertama dikeluarganya dan punya orang tua yang sangat supportive dan cenderung bebas. Dalam dua jam itu, ada banyak sekali hal tentang sekolah dan hidup yang gue pelajari. Terutama bahwa menjadi beda itu tidak salah. Mereka berbeda dari teman-temannya. Mereka tetap mau dan mampu memperjuangkan masa depan pilihannya.

"Ada banyak temen yang tadinya udah memutuskan mau jadi akuntan, tiba-tiba ganti haluan cuma karena ada lowongan yang gajinya lebih besar. Ada juga yang cuma cari status sosial tinggi. Mereka bisa menjalani apapun untuk hal-hal superficial. Ini gambaran masyarakat kita, dan itu preferensi mayoritas."

Gue tersentuh bukan main. Ternyata ada orang-orang yang berpikiran sama dengan gue. Lebih dahsyat lagi rasanya ketika mereka juga mengakui bahwa susah mencari orang yang berpikir seperti... kita.

Gue sudah separo jalan kuliah. Gue sudah harus memutuskan dengan jelas apa yang gue inginkan, tanpa kehilangan identitas gue. Dari obrolan toko buku ini gue belajar, pilihan lo terhadap apapun bisa berpotensi membuka jalan yang lebih lebar atau malah menjauhkan lo dari tujuan asli lo. Sesimpel pilihan gue untuk ikut mentoring alumni dengan hanya memilih Social Entrepreneur ini. Orang-orang yang menaruh pilihan yang sama ternyata memiliki pandangan hidup yang cukup sejalan dan bisa membantu satu sama lain.

Pelajarannya? Pilihlah teman yang baik untukmu.

2 comments:

  1. Social Entrepreneur itu bagian dari Bussines administration kak?

    ReplyDelete
  2. Widih.. mbaknya,keren!!
    Feel like something happen to me after read it. Like I know what I supposed to do to face my problem..
    Thanks for inspiring me mbak😇

    ReplyDelete