Jam 1 pagi dan gue punya kelas dalam beberapa jam. Tapi gue tergerak untuk menulis sesuatu, karena gue tersentuh dengan teknologi dan perkembangan hidup masa kini.
Crowdfunding, atau versi gue adalah website galang dana, udah jadi mainan gue sejak gue mulai SEALNet. Gue tertarik dengan segala sesuatu yang berbau uang, sistem pembayaran dan bisnis so gue cukup mendalami bagaimana cara kerja crowdfunding. Tapi kala itu, 2013, crowdfunding mainan gue hanyalah yang berbasis diluar negeri, dengan cerita-cerita yang kadang terlalu jauh buat merasa simpati dan gue pun ga bisa ikut partisipasi karna sistem pembayaran. Sebagai anak SMA umur 16 mau 17 tahun, gue ga punya kartu kredit atau Paypal (terima kasih perbankan Indonesia, ini sarkasme).
Lalu gue berkenalan dengan Kitabisa.com, crowdfunding Indonesia. Masih sepi banget ditahun 2014 awal. Belum banyak orang pakai dan setiap campaign harus diapprove dan ditinjau manual. Fast forward, gue pindah ke Korea. Udah dewasa juga, akses pembayaran pun jauh lebih terbuka. Kemudian Kitabisa juga berkembang pesat dan gue jadi pengguna setia dengan motivasi ingin tahu keadaan lebih luas di Indonesia.
Campaign makin kreatif dan well-packaged. Ada banyak campaign yang menyentuh hati dan gue ga punya ukuran khusus sih. Tergantung mood. Gue gatau gue concern ke tema apa. Nah tengah malam ini, campaign yang menyentuh hati gue adalah potret pendidikan diluar jawa.
https://kitabisa.com/rumahbacapinogu
Kecamatan Pinogu di Kabupaten Bone Bolango. Pernah denger? Gue sih ngga pernah. Ternyata adanya di Gorontalo. Tau gak Gorontalo itu Indonesia sebelah mana?
Membaca tulisan campaign dan ulasan disini, katanya ada tiga cara menuju Pinogu, yakni lewat udara dengan helikopter, berjalan kaki menembus hutan dan melewati lereng gunung, atau naik ojek dengan ongkos sekali jalan Rp 500.000. Bagi kebanyakan warga Pinogu, keluar dan kembali ke desa mereka hanya mungkin dilakukan dengan berjalan kaki. Perlu fisik prima dan mental baja untuk berjalan kaki menuju Pinogu. Bagi yang belum terbiasa, perlu waktu 9-10 jam berjalan kaki ke Pinogu. Menembus hutan, menyeberangi anak sungai dan Sungai Bone, mendaki dan menyusuri lereng bukit, serta siap-siap digigit lintah di sepanjang perjalanan.
Coba lu bayangin jalan kaki 10 jam... Gue terbang 7 jam ke Korea aja capek ga nyampe-nyampe. Segitu terbang. Tinggal duduk. Tapi ada manusia yang tinggal disana, hidup disana, mungkin menghabiskan umur disana. Gausah terbayang hidup fancy Jakarta atau sinyal 4G, mau sinyal biasa aja ga ada...
atau ini https://kitabisa.com/bantusdnnggoang
Manggarai Barat, sekarang mulai terkenal sejak popularitas Sumba naik. Tapi kita kebanyakan hanya kesana untuk foto cantik dan menikmati alam kan, sedang warga lokal hidup dalam keterbatasan.
Teknologi memberikan kemudahan buat gue melihat semua kenyataan ini tapi realitanya, gue tetap duduk nyaman di Seoul, merasa dunia masih banyak yang bisa diperbaiki namun tanpa aksi. Gue pikir pasti Tuhan gak pernah salah berbagi rejeki dan ada alasan dibalik semua keberkahan ini. Apa terus gue diberikan hidup lebih dari cukup di Seoul karena Tuhan mau menebus keterbatasan gue dimasa kecil? Atau Tuhan mau gue ngafe lebih sering? Beli kosmetik lebih mahal? Mungkin gue diminta menjadi perpanjangan tangan rejeki orang lain? Mungkin gue diuji apa gue bijak?
Itu semua pilihan. Gue bisa terus berkata kurang, tidak cukup dengan apa yang gue miliki sekarang karena terus melihat keatas. Atau gue bisa melihat ke bawah dan meyakini betapa baiknya Tuhan. Tentu gue memilih yang kedua, karena yang gue tau, hidup terbaik adalah ketika lu bisa memanfaatkan waktu dengan maksimal dan berguna bagi khalayak ramai. Kebahagiaan yang paling memuaskan buat gue adalah ketika orang lain bahagia dengan kehadiran gue.
Gue meyakini ketika lo berkata "Gue juga miskin. Gue ga punya... Hidup gue susah..." itu akan membuat lo makin ga punya dan susah.
Tujuan gue menulis ini adalah coba bantu ketika lo diberikan priviledge lebih dan banyak bersyukur. Sekarang sistem donasi dipermudah, lo tinggal klik. Doa dan dukungan pun dapat disampaikan dengan caranya masing-masing. Tolong. Mari lebih peduli sesama.
Tidak ada manusia yang jatuh miskin karena berbagi dengan sesama.
No comments:
Post a Comment