Tuesday, September 4, 2018

Kuliah Dua Hari

Semester ini, gue membuat jadwal gue kembali dua hari seminggu, hanya Senin dan Rabu. Gue udah pernah cerita sedikit gue semester lalu ngapain aja disini soal olahraga dan kerja. Semester ini mau ngapain? Belum tahu.

Belum tahu, terkesan seperti pengangguran, tapi kenapa gue sangat defensif ketika ada teman yang bilang "Free banget lah lu kan kuliah cuma dua hari seminggu"

Kuliah dua hari seminggu itu fakta tapi 'free banget' itu relatif. In fact, I am not very proud to say bahwa kerjaan gue banyak yang keteteran sekarang.

Gue baru bisa full on kerja terhitung 3 September dan itu pun gue seakan bingung mau mulai darimana. Tau-tau gue ada di kelas, kembali dengan familiar vibes dari beberapa dosen, kembali instastory papan tulis kelas dan komplain soal hari-hari sekolah. Gue lupa bahwa hidup gue ternyata stretch out jauh daripada sekolah dan gue ngeri sendiri ngebayangin sejuta responsibility yang belum gue kelarin. Semua ini terjadi saat gue kuliah CUMA dua hari seminggu.

Berkaca dari semester lalu, sikap gue terhadap kelas-kelas gue ga begitu banyak berubah. Iya, gue punya banyak waktu untuk konsen ke pelajaran karena ga terbuang waktu commute dari rumah ke kampus. Tapi namanya Alira, tetep males belajar kalo ga kepepet. Malah sibuk kerja. Gue masih rutin ngeluh ke temen-temen gue soal ujian dan tugas, meski gue dikasih lebih banyak waktu buat belajar. Semua ini terjadi saat gue kuliah CUMA dua hari seminggu.

Rumah gue juga ga makin rapi meski gue sering di rumah. Gue malah terganggu kalo meja gue terlihat kosong dan tidak tersentuh. Gue pikir ini karena gue sibuk, tapi itu hanya alasan. Gue sibuk kerja kantoran dimasa liburan, tapi kasur gue bisa bersih dari buku dan baju karena ada temen gue yang bersih-bersih. Ini soal personality dan kebiasaan. Lagi, rumah yang berantakan ini terjadi saat gue kuliah CUMA dua hari seminggu.

Terus bagusnya kuliah dua hari seminggu dimana?

Life and work balance. Ga keliatan, susah dijelaskan, tapi bukti paling nyatanya adalah gue ga masuk rumah sakit sepanjang Spring. Performance dan hal-hal yang gue capai dalam satu semester, seperti olahraga, ngajar Bahasa Indonesia, jadi penerjemah... The list goes on.

Yang terpenting: GPA gue mulai kembali ke titik awal, alias naik.

Kalo gue kuliah lebih dari dua hari seminggu, sudah pasti gue punya sedikit waktu untuk kerja, bersih-bersih dan tidur karena akan ada waktu lebih yang terbuang di jalan. Inget, rumah gue jauh dari sekolah. Juga ga punya cukup waktu buat urus visa. Atau buat bersih-bersih secara tenang. Yak, gue punya 1001 alasan untuk membela keputusan gue, dalam hal ini, gue bukan bijak tapi beneran defensif.

So kesimpulannya adalah gue rasa gue mengambil keputusan yang tepat dengan kuliah dua hari seminggu. Kerja, kuliah, jalan-jalan semua bisa beriringan. Ketika ada hal-hal yang keteteran dan ga bisa memenuhi target, itu kesalahan dan kesempatan gue untuk bisa memperbaiki kedisiplinan gue. Manajemen waktu gue belum maksimal. Gue sekarang masih struggle mencari titik keseimbangan antara kerja dan hidup, tapi gue ga menganggap itu masalah besar. I can always take my time, karena yang tau hal terbaik untuk diri gue sendiri ya gue.

No comments:

Post a Comment