Beberapa minggu lalu, gue tulis post Budak Quote, dimana gue bercerita tentang perasaan gue terhadap seorang mas-mas yang gak ekspresif. Akhirnya gue memutuskan untuk pergi.
Kita bisa hidup tanpa satu sama lain and we are doing fine. Kita teman. Kita gak gitu sensi soal siapa yang kontak duluan, kalo butuh, saling kontak aja. Gue dan dia sama-sama merasa bebas untuk tiba-tiba ngechat, meski ngga sampe telpon. Akhir-akhir ini, dia yang selalu kontak gue duluan. Gue rasa sambutan gue selalu baik, gue gak pernah nyuekin dia, tapi gue merasa gue yang dicuekin.
Ingat, ini semua asumsi. Versi dia bisa beda dengan versi gue.
Percakapan sama masnya hampir sebulan yang lalu terasa sama menyenangkan. Percakapannya juga terkesan sehat, saling berbalas, sampe gue sadar akan sesuatu hal: semua selalu tentang dia. Dia mau didengarkan, tapi seringnya dia kurang mendengarkan. Dia baru sadar seberapa serius atau seberapa ga setujunya gue ketika gue meninggikan suara gue. Disini gue mulai ga sreg, iya dia peka, tapi selama ini mungkin dia bercerita ke gue hanya karena gue adalah pendengar terbaik buat dia. That's perfectly fine, gue suka jadi pendengar yang baik.
Tapi I feel that the way he makes me feel worthless at times is unhealthy.
We could've been more supportive toward each other, dimana menyayangi dia sama dengan menyayangi diri sendiri. Dimana mendukung dia sama dengan memberikan kekuatan untuk diri sendiri. Tapi ngga, gue bahagia ketika dia bahagia - hanya sampai situ. Gue gatau gimana dia, karena kehadiran gue dengan perasaan, keluhan dan sensian gue gak berharga dimata dia. Gue mendengarkan dia dengan penuh konsentrasi, begitu gue yang membuka cerita tentang hari gue, dia mulai beralih perhatiannya ke hp atau ke hal-hal sekelilingnya.
Ingat, dia ga salah. Tapi reaksinya unhealthy buat gue.
I think I've had enough. It's a good time to leave. Gue memang awalnya berpikir bisa hanya terus 'memberi' dengan tulus, tapi ternyata gue masih punya ekspetasi-ekspetasi mengenai reaksi yang gue inginkan. Ternyata gue sangat menghargai hubungan dua arah, bukan satu arah. Mungkin untuk alasan yang sama pula gue bertahan dibidang youth development, karena gue merasa gue selalu bisa belajar juga, tidak hanya memberi. Tentu banyak hikmahnya dari roller coaster hubungan gue sama mas ini. I don't want to harm myself further at the expense of making him feel better. As selfish as it sounds, I should always prioritize myself.
So, terima kasih untuk lessonnya. This tweet is also for you.

No comments:
Post a Comment