Selain kerja kantoran (bedanya lokasi kerja 50cm disamping kasur), gue juga banyak mencoba hal-hal baru - mostly masih dari kamar tidur.
1. Trading Saham
Ini unexpected. Risk appetite gue itu moderate, bukan agresif. Tapi gue punya terlalu banyak waktu jadi gue memutuskan untuk coba-coba trading. Sebenernya udah sejak 2018 style gue gabungan antara swing dan invest, tapi sejak tahun lalu, gue jadi lebih berani lagi.
Selalu untung? Ga juga. Tentu ada ruginya, tapi ga masalah. Gue cukup sabar dan merasa kerugian-kerugian itu perlu sebagai ongkos belajar. Banyak temen terdekat gue minta kelas stockpick. Mohon maaf ni, gue aja masih bego, masa gue mau bawa orang-orang terdekat gue jatoh ke dalam jurang.
2. Nyobain berbagai inovasi fintech
Reksadana, crypto, ETF - you name it. No more gold, itu kaya keong. No more forex arbitrage, ga termotivasi karena ga traveling. Level gue agak kelewatan sih. Gue sekarang punya banyak banget rekening RDI/saham, karena pengen nyoba mana yang enak dan misah antara swing, trading sama invest.
Belom dihitung rekening brokerage Amerika via GoTrade dan rekening saham Korea yang udah jarang ditengok karena saham Indo dan US jauh lebih seru. Menariknya, gue sampe dapet invitation code GoTrade yang reuseable karena gue invite banyak temen dimasa-masa pembukaan. Gue ulas lengkap di Instagram dan Twitter. Rekomen kalo mau nyoba 'invest', bukan trading. Cuma $10-50 aja cukup sebenernya. Pake invitation gue buat skip the queue, kalo gak lu nunggu lama.... HAHAHA kode gue 290851.
3. Hearty breakfast
Selama di Korea, gue struggle cari temen brunch. Gue morning person, temen-temen gue semuanya night owl. Cari tempat brunch juga sebenernya ga semudah itu sih. Banyak orang bangun diatas jam 9, jadi ga banyak pilihan tempat yang buka. Of course, gue bisa selalu ke hotel tapi trust me, breakfast di hotel Korea tuh... ga enak. Mau sampe level resort pun tempat dan pilihannya sangat membosankan. Soalnya kafe dan restoran non hotel jauh lebih diverse, dalam artian pilihan seperti cafe gameboard, cafe binatang, cafe ini dan itu juga ga ada abisnya..
Di Indo style gue kembali jadi sebagai pecinta hotel breakfast karena masih worth harganya, ga cuma dari sisi makanan tapi juga soal ambience, hygiene dan privacy. Kalo di Korea ga gitu peduli, karena merasa lebih aman - atau gue merasa ga kenal siapapun muehehe. Daily sibuk kerja juga deng. Sebelom mulai kerja? Fast food chain adalah jalan ninjaku.
4. Staycation
Gue cukup patuh dengan himbauan #DiRumahAja dan tahan untuk ga pergi kemana-mana. Level agak ekstrim, gue bahkan tahan untuk gak keluar kamar kecuali ke toilet. Hiburan gue adalah staycation. Kepo hotel tertentu? Ya cobain kalo murah.
Kalo mahal?
Breakfast disana. Tunggu diskonan. Muahaha.
Semua occassion dirayakan dengan staycation aja, seperti ultah temen deket gue. Ini juga jadi alasan untuk ga perlu swab berkali-kali. Gue cuma swab pas balik dari Korea deng.
5. Buat Konten
Terima kasih untuk support dan cinta yang diberikan, gue jadi lebih sering purposely buat konten. Gue belum merasa bisa hidup sebagai influencer atau content creator, gue gak merasa konten gue aestetik seperti yang seharusnya. Tapi gue jadi lebih semangat berbagi dan lebih rapi dalam membuat konten. Oh, ga banyak yang tahu, sebenarnya gue sudah dibayar untuk buat konten sejak tahun 2017. Selama gue di Korea, klien gue 70:30 la, 70% Korean institutions dan cuma 30% yang dari Indonesia.
Gue ga mulai dari media sosial seperti Twitter yang banyak didengar seperti sekarang. Platform utama gue adalah blog dan kekuatan gue adalah tulisan.
Blog ini dulunya BERANTAKAN banget. Isinya kemarahan. Curhatan, minta didengerin karena di rumah ga ada yang bisa memahami gue. Lama kelamaan, blog jadi lebih terarah: gue pengen membantu orang-orang yang cari informasi via google. SEO gue jalan untuk konten-konten seperti KGSP/GKS, Volunteer dan sebagainya. Ini prosesnya bertahun-tahun karena memang belajarnya ga fokus. Gue punya mindset platform gue ya yang harus nyaman itu... Gue.
Tapi sekarang sedikit demi sedikit berubah. Konten gue di Twitter (main platform) dan Instagram (secondary platform) juga masih all over the place, sih. Messy. Cuma gue belajar sedikit demi sedikit untuk memperbaiki biar setidaknya lebih enak buat dibaca. Gue sering dapet masukan dari teman-teman terdekat, mereka ga paham gue ngomong apa?
Hal ini yang jadi pertimbangan utama. Memperbaiki tata bahasa. Kalo verbal sih bisa dicampur Bahasa Indonesia, Jawa dan Mandarin (real story kalo lagi ngobrol ma klien). Kalo tertulis kan harus bisa lebih rapi ya!
Yang belum sanggup sih memisahkan antara konten yang purposeful sama konten fangirling pribadi. Ribuan orang follow gue karena Korean business insight, sebagian kecil karena recruitment. Nah tiba-tiba pada musimnya, twit gue Koko JJ Lin semua atau Eurovision because I just want to.... Ini yang belum bisa direlakan. Ga pengen punya second account soalnya.
6. Mengajar Bahasa Korea
Gue memulai gabung di Sang Sang Univ untuk mengajar Bahasa Korea. Ini tantangan baru karena gue lebih terbiasa mengajar Bahasa Indonesia. Perlu diakui juga, pelafalan Bahasa Korea gue jauh dari kata bagus. Temen-temen terdekat gue sering banget menghina pelafalan gue dalam bahasa asing apapun...
Tapi kali ini konteksnya berbagi ilmu dan gue lebih pengen temen-temen yang join kelas singkat ini bisa tau hal-hal practical buat maju ke level berikutnya. Pasti gue masih banyak kekurangan. Semoga dimasa depan lebih baik lagi, mana tau bisa gue seriusin jadi guru? Muahahaha.
Mengajar bahasa berbeda dengan buka sesi live talk sih. Kalo jadi pembicara live talk, gue ngegas. Tujuan gue sederhana: cerita gue didengar, pendengar dapat manfaat dan pelajaran dari materi yang gue sampaikan. Kalau mengajar bahasa, tujuannya adalah membuat teman-teman yang mendengarkan bisa mempraktekkan bahasa yang sedang gue ajarkan dan paham konteks. Ga bisa ngegas. Karena membuat orang mau praktek dengan akurat ga semudah membuat pendengar relate sama cerita gue, lalu bikin poin dan kesimpulan sendiri sesuai dengan kebutuhannya.
Grammar dan vocab dari sebuah bahasa kan ga bisa dirubah seenaknya.
Penutup
Gue masih adjusting tiap hari, tapi secara garis besar, gue merasa 5 bulan di rumah cukup produktif, kecuali masalah ga gerak dan ga keluar kamar sama sekali. Tetap bisa olahraga sih, cuma bedanya harus memaksakan diri dengan cara-cara baru yang gue gak terlalu suka aja. Dulu kalau marah-marah bisa jalan kaki ke pelosok kota, kali ini bisanya nari-nari sendiri di kamar. Dulu hidup sangat teratur, sampai kantor harus 8.30, sekarang jadwal bisa atur sendiri.
Gue sering banget posting throwback, tapi sejujurnya gue ga kangen-kangen amat sama traveling. Kangen jalan kaki sih iya. Dying harus ke Italia? Ngga juga. Gue mensyukuri gaya hidup yang gue jalani sekarang. Gue jadi lebih kreatif cari cara-cara biar bisa tetap involved dengan komunitas diluar sana (ASEAN, Indonesian youths... macem-macem) tanpa keluar rumah. Misalnya dengan bantu proofread essay siapapun yang butuh input, bantuin teman persiapan interview atau buat sesi #AliraBerbagi. Sederhana, tapi semoga bisa meninggalkan sedikit impact bagi pendengarnya.
Siapa yang punya insight gimana cara gue bisa lebih banyak terlibat dalam community service, let me know!


No comments:
Post a Comment