Happy New Year! 1 minggu pertama 2023 terlalui dengan sangat cepat. Gue kehilangan sense of time sejak Christmas, mungkin karena sibuk juggling kerjaan dan jalan-jalan. Ada banyak banget hal yang gue syukuri dari tahun 2022. Gue ingin mengenang hal-hal baik dan challenging selama 2022, dari 3 area hidup yang jadi prioritas gue.
Kerjaan (Utama)
Jujur, not great. 5 bulan pertama di tahun 2022, gue merasa lost. Gue konsultasi sama berbagai teman, experts, mentor tentang kegalauan gue buat pindah kerjaan. Gue cinta banget sama company gue, gue berada di industri yang tepat, tapi role (job position)nya di 6 bulan pertama gak match. Kalo lu lagi melihat loophole atau kekurangan, it is very easy to forget all the good things. Gue gak mau lupa bahwa kerjaan ini adalah kerjaan idaman. Kerjaan ini membawa banyaaaak sekali kebahagiaan dan perubahan positif dalam hidup gue.
Yang terpenting, tahun 2022 adalah tahun dimana gue melihat bahwa keputusan 'gila' yang gue ambil di tahun 2020 untuk balik ke Indonesia dan kerja disini itu keputusan yang baik dan bijak. Gue ga akan menukar keputusan tersebut. Gue puas dengan lingkungannya, gue tercukupi dengan remunerasinya, gue bahagia karena gue dapet kesempatan untuk belajar banyak.
But still, kegalauan itu ada dan ada beberapa momen memorable dari masa-masa saat galau karir/kerjaan.
- Konsultasi sama mentor
Mentor gue merasa gue masih butuh banyak pengalaman, tapi beliau acknowledge kalo bertahan di tempat yang tidak memberikan sense of growth itu tidak baik. Beliau menyarankan gue buat take a leap, aim very high. Gue masih belum bisa ambil jalan ini, singkatnya menurut gue masih belum realistis.
Tapi gue bersyukur banget beliau percaya sama gue. Mentor gue sangat realistis. Gue gak mempertanyakan validitas nasihat beliau, I've questioned and doubted him a lot in the past. Ternyata beliau punya alasan yang selalu bisa gue terima. Berkat encouragement beliau untuk aim high, gue merasa mimpi yang tinggi itu akan tetap masuk akal, gak gila. - Konsultasi sama boss
Ada beberapa boss yang gue respek secara personal dan profesional di tempat kerja gue yang dulu, maupun yang sekarang. Biasanya gue akan reach out beberapa bulan (atau tahun) sekali, untuk sekedar catch up dan maintain hubungan. Tapi kebalikannya, salah satu boss reach out ke gue, untuk mendengarkan cerita gue dan aspirasi gue.
Gue beneran tersentuh dengan gesture yang beliau lakukan. Kepeduliannya datang dari hati, bukan karena gue adalah tanggung jawab atau KPI beliau. Mendengarkan rencana masa depan gue dan memberikan input bukan bagian dari job desc beliau. Beliau melihat bahwa gue butuh turning point baru, sepertinya dengan S2. Beliau mendukung penuh mimpi-mimpi gue, meski mimpi tersebut mungkin artinya harus ganti haluan.
People like him are the reason I feel content at work. - Konsultasi sama bestie
Tahun 2022 adalah tahun dimana gue berkomunikasi secara intense sama Ry. Kita dulu mulai kenal sebagai co-leader, dalam kapasitas kerja. Lalu perlahan-lahan makin dekat dan jadi teman baik. Ry punya kapasitas assess orang dalam konteks profesional dan personal yang sangat baik. She asks the right questions, bukan asal tough questions. Dari Ry, gue belajar untuk menavigasi apa yang sedang gue lalui. Gue melihat strengths dan opportunities di posisi saat ini, sebelum fokus ke solusi.
Ry beneran jadi 'career guru' gue. Ini development besar, karena sebelumnya gue banyak segan dan ga enak ma Ry. Kekaguman malah bikin jarak. - Konsultasi sama expert
First semester 2022, gue beneran gila jadi gue juga cari professional help dari professional coach. Coach ini membantu gue menguraikan pikiran-pikiran gue, membantu gue mencari akar masalahnya. Ini galau soal pindah kerja, galau bagian apanya sih? Takutnya apa? Takut salah ambil keputusan, memang resikonya apa?
Cukup membantu dan gue rasa gue bisa praktekin framework yang diajarkan saat gue harus dealing dengan dilema besar dimasa depan. - Konsultasi sama teman-teman
You know who you are. Setiap pertemuan casual dengan teman lama maupun teman baru, rasanya gue menyelipkan request desperate untuk mendengar pendapat mereka. "Kalo lu jadi gue, lu bakal apa?"
Ada teman yang mengajarkan bravery, ada yang mengajarkan syukur. Inputnya sangat berarti, dan lebih menyenangkannya lagi, I got to know my friends better by hearing more of their opinion and thought process la.
Keuangan
Pengeluarannya besar sekali, meski masih bisa dikontrol. Stock market atau saham lagi ga bagus, tapi gue diversifikasi ke instrumen lain, seperti polis endowment, reksadana dan obligasi. Masih terkontrol, meski gue merasa rapornya merah sih. Beberapa momen terasa overbudget, untung aja dibarengi sama kenaikan pemasukan. Kalo ngga, I would be on minus - meski definisi minus gue bukannya sampe ga punya tabungan.
Pengeluaran terbesar gue 2022 adalah traveling dan asuransi. 2021 gue sama sekali ga terbang, ga ada perjalanan. 2022 berasa bales dendam. Ke Malaysia beberapa kali, ke Italy, Vietnam, Singapur, belum lagi perjalanan domestiknya. Gak lupa menutup tahun dengan visit Korea buat musikal dan ketemu temen-temen. Traveling emang selalu jadi area kelemahan gue.
Meski damagenya besar, gue ga ada penyesalan. Gue merasa tiap trip itu meaningful dan membantu gue untuk bisa lebih produktif lagi. Traveling itu cuma media, bukan tujuan.
Relationships
Ini bagian paling memuaskan dari 2022. Gue berusaha untuk reconnect dengan teman-teman lama. Gue bikin meet up temen SD, randomly ngobrol ma banyak temen SMP dan beberapa temen SMA. Gue juga lebih sering dan lebih intense ketemu beberapa temen semasa kuliah di UGM, dan eventually bringing back my Seoul lifestyle dengan tinggal bareng temen kuliah. Gak lupa, gue juga ketemu dan ngobrol intense sama beberapa temen organisasi.
Pertemuan (kembali) sama temen-temen lama ini jadi highlight 2022 gue.
Ada beberapa karakter baru, terutama temen-temen yang somehow randomly ketemu di tongkrongan, hiking, atau orang kantor yang jadi 'partner' kerja. Gue cukup strict sama boundary dengan kolega, tapi dengan didukung suasana kerja yang baik, sinergi bisa tetep terciptakan diluar jam kerja TANPA mengganggu privasi atau ranah pribadi. Biggest appreciation to my dear colleagues yang support hubungan sehat dan gak kerasa intrusif.
Berikutnya, gue seneng banget karena bisa jalin hubungan baik dengan beberapa senior dan klien. Dimulai dari urusan kerjaan, bisa lanjut upgrade jadi partner yang baik. Hal-hal seperti ini jadi motivasi buat terus give back dan berbuat baik, karena gue mau #PayItForward.
Ada cerita romantic interests, and it was wrapped nicely. I can't say I like the ending but definitely no regret.
Masih banyak hal lain yang gue syukuri dari 2022, but maybe ini adalah 3 aspek yang menyita paling banyak perhatian di 2022. Here's to a fabulous 2023!
No comments:
Post a Comment