Friday, January 26, 2024

Finding Myself

Udah sebulan sejak gue merasa stress. Beberapa minggu terakhir sampe tanggal 22 Januari malah ditambah merasa sedih(?), gue nangis tiap hari. Gue rasa gue stress karena gue kurang sabar dalam menjalankan usaha untuk rencana hidup besar di tahun 2024. Gue mungkin stress karena gue merasa hopeless, dan gue menuntut untuk dicintai sama orang-orang terdekat gue. Sayangnya, ga semua available, jadi their absence turned into another trigger.

Kesedihan dan stress yang gue alami ga selalu berarti buruk. Signs of deep stressnya tetep sama. Salah jalan, linglung, capek, nangis terus dan lain-lain. Tapi bedanya avenue atau penyalurannya bisa lebih positif. Gue balik kantor langsung ke rumah, atau gym. Ga nongkrong, karena selain capek fisik dan mental, ternyata gue lagi ga bisa afford nongkrong juga muahaha. Gue udah 'stuck', jadi gue lebih dekat dengan Tuhan. Level nangis sendiri kini upgrade jadi nangis ke Tuhan.

Gue menghargai fakta timing down kali ini gak bentrok dengan beban kerjaan. Gue punya waktu buat berefleksi dan memproses apa yang gue rasakan atau alami. Gue rasanya bisa point out beberapa hal.

Honesty & Authenticity
Ini dua value utama gue. Gue pikir selama teman-teman terdekat gue jujur dan gak menampilkan persona palsu, gue puas. Ternyata ngga. Gue punya satu case dimana gue merasa gak bisa connect on a deeper level sama seorang teman karena dia punya guard atau wall yang gak bisa ditembus. Dia gak palsu dan dia jujur. Tapi karena dia protect himself with this guard, not letting anyone to come near, gue yang jadi less authentic. Gue jadi penuh kehati-hatian. Gue gak berani mengungkapkan my needs, my feelings to him. I don't like this.


Sincerity at Work
My colleagues are human dan gue punya desire tinggi untuk menolong sesama. But I met them at work and it changes the whole trajectory. Gue takut sekali melanggar boundary yang gue bikin sendiri di tempat kerja. Gue lagi latihan buat lebih loose dan lebih ikhlas, lagi-lagi untuk menjadi orang yang lebih authentic. Gak mudah. Values gue sama orang-orang ini beda. Seringkali gue merasa kecewa, karena mereka gak bisa memenuhi my normal standard of being a decent human being. Tapi karena bonded by work, gak bisa cut ties juga.


Being Objective
I prefer my mom to my dad at all times. Tapi on my dad's birthday, my mom was being sulky and upset after our dinner together. I am not happy with her attitude. Her reason of being upset itu beneran acceptable, I understand. Tapi it was his event, his night, his birthday. I wish my mom bisa lebih understanding, buat 1 malam aja.
Another incident happened, where I was comfortable calling out my mom's not very noice (in Jette's voice) attitude. Milestones ini buat gue penting, karena gue diingatkan untuk menjaga value yang gue mau keep: honesty and authenticity. I do not want to be easily swayed, cuma karena a certain bias (yang sebenernya very normal juga).


Loving Someone Unconditionally
Pada beberapa saat, ini memungkinkan. To love someone tanpa menuntut balik.
Tapi pada akhirnya, gue punya kebutuhan to feel loved. 2023 gue banyak show up dan pour my love to others. Nah di titik rendah hidup gue, gue berharap ada orang-orang yang bisa bantu gue to fill my love tank back. 
Gue lagi ada di titik dimana gue jadi needy, dan I have to express that comfortably to people who love me. Not easy. Not everyone punya komunikasi yang terbuka dan baik. Makanya gue extra thankful sama teman-teman tercinta yang bisa menerima permintaan bantuan gue, to be on my side when I am feeling low, dengan terbuka dan hangat.


I think I should regain back my spirit, my physical strengths and my mental stability very soon. Gue 'menghargai' proses ini. Gue happy this time I am going through it dalam bimbingan dan pendampingan Tuhan.

No comments:

Post a Comment