Thursday, June 27, 2024

Big Life Update: My Latest Failures

Gue tiba-tiba settle di Korea.
Banyak yang nanya, kenapa? Ngapain? Gue happy banget jawabnya, ga merasa harus menutupi atau bikin narasi singkat. Sayang, jawaban yang detail gak bisa simple dan straightforward. Sebenernya ga tiba-tiba. Semua direncanakan dari jauh-jauh hari, tapi rencananya gagal semua. Jadilah life brought me to Korea.

Banyak banget postingan emo dan stress sejak akhir 2023 itu ada sebabnya.
Personally, gue lagi stress fokus sama persiapan mau S2 dan sulit banget bagi pikiran dengan kebutuhan teman-teman yang level tinggi (misal yang butuh curhat, butuh didampingi karena lagi ada dititik terendah). Gue yang highly available diawal tahun 2023, mendadak down and less motivated di akhir 2023. Mau S2 ini triggernya kebutuhan profesional.
Professionally, gue jenuh dengan role pekerjaan yang gue lakukan. Gue bahagia di kantor ketemu kolega yang beneran suportif dan peduli sesama tanpa motif tersembunyi. Gue bangga dan bersyukur kantor gue punya standar sangat tinggi soal work life balance dan learning & development. Pekerjaan gue memberikan fleksibilitas tinggi dengan kompensasi yang baik. Tapi gue fokus sama hal yang terasa mengganjal: gue gamau melanjutkan karir sebagai project manager.

Project manager itu bisa menyenangkan, in fact gue merasa skill project manager gue untuk bidang nonprofit oke-oke aja. Tapi begitu technical, berhubungan dengan sistem, gue ga punya ketertarikan atau rasa penasaran. Gue gatau orang ngomongin apa (sistem), dan gue ga berusaha cari tahu. Beda banget saat gue ada di bidang nonprofit, HR atau bisnis jasa keuangan. Hal-hal SEKECIL APAPUN akan gue cari tahu mendalam. Saat market research pun begitu. Gue bisa memahami hal-hal bisnis dan segala jenis perspektifnya, karena gue memang ingin tahu.

bye PM

So gue plan untuk S2 tahun 2024, tujuannya untuk karir yang lebih sesuai dan dekat dengan keinginan. Gue masih pengen ada di bidang strategic yang bisa liat overview perusahaan +  industrinya, dan ngerjain finance, bermain dengan uang. Selama beberapa bulan di akhir tahun 2023, gue sibuk balance projek di kantor dengan belajar GMAT. Gak maksimal belajarnya, yang maksimal malah level stressnya. Gue nervous dan uneasy banget. Gue ambil exam di tanggal 19 Desember 2023. Begitu examnya selesai, gue langsung tumbang dan sakit sampe harus melewati Christmas sama keluarga. Ternyata gue sestress itu. 

Hasil GMATnya jelek (gausah diperhalus, emang jelek). Gue retake January dan makin jelek. Tapi gue untungnya tetep keterima di banyak universitas di Belanda, Swedia, Denmark China, Italia atau bahkan full MBA scholarship di Filipina. Cuma karena profil yang mungkin biasa-biasa aja, gue belum dapet funding yang gue mau, yang seperti saat S1. Gue ga punya uang buat bayar sendiri dan full scholarship di Filipina timingnya ga pas. Bulan April, gue harus merelakan rencana gue gagal.

Sebenernya gak berangkat S2 tuh gapapa. Gue memang ga suka belajar dalam setting kelas formal gitu. Belum tahap sangat butuh gelar S2 juga, baru tahap mau dan good to have. Yang berat adalah membayangkan gue harus stuck jadi project manager lagi, sampe gue (maybe) bisa berangkat S2 di tahun berikutnya.

Gue udah 5 taun kerja full. Gue merasa gak puas dengan kualitas pekerjaan gue sendiri di main job. Kalo sebagai interpreter atau role di nonprofit sih gue happy banget dan selalu berusaha lebih baik lagi. Boss gue bilang beliau puas sama hasil kerja gue, gue yang (sambil nangis-nangis bilang) gak puas sama diri sendiri. Gue ngobrol sama Ilen, Ilen pun mengingatkan gimana gue bisa sangat ambis dan outperform disaat gue ngerjain projek di bidang yang gue suka dulu pas kuliah. 

So gue menghabiskan waktu untuk ngobrol sama Ilen dan merenung. What do I really want? How much can I pay/sacrifice to get there?

Jawabannya ga instan, ga cepet dapet. Gue butuh setaun lebih, ditrigger dari berbagai point untuk bisa yakin sama langkah ke depannya. Gue yakin gue gamau ada di role project manager dan gue udah rutin 1 tahun terakhir sejak awal 2023 untuk 1:1 minta mentoring sama boss gue setiap 2 bulan sekali. Tujuannya sangat jelas: mau minta arahan untuk promosi dan menyampaikan aspirasi karir gue ke depannya.

Setelah mentoring dan berprogress, gue sampai di kesimpulan gue ga bisa promosi tahun 2024, karena memang belum layak. So Plan A failed.
Plan B, usaha untuk promote 2025. Hati gue ga bisa. Gue gatau apalagi yang harus gue improve, karena emang gue gak minat ada disitu. Kalo udah all in taunya tetep ga layak buat promote 2025 gimana?
Plan C, kejar passion dengan koleksi berbagai sertifikat. HSK 4, Diving, Bahasa Italia. Pokoknya fokus sama apa yang bisa gue improve. Tapi ga terarah. Duitnya juga kaga instan.
Plan D pergi S2. Udah dicoba dan diusahakan, kan. Belum waktunya.
Plan E, gausah mikirin passion atau career path. Udah fokus ama duit aja. Selama kerjaannya masih kasih duit banyak, selama kerjaan part time gue masih gacorrr, gue kerja ini itu aja. Tapi ga sustainable. Sedangkan learning & development sangat penting buat gue.

Itulah sepintas list kegagalan gue. Gue udah melewati banyak hari nangis-nangis karena berbagai hal, tapi gak pernah nangis karena plan ABCDE gue gagal. Gue udah coba dan plan semuanya, gagal adalah kemungkinan dan resiko yang gue sangat bisa terima. Dalam prosesnya, gue malah nangis karena kecewa gak 'dibantu' sama orang yang gue percaya, gue sedih karena bokap gue ga bisa paham apa yang gue mau. He did not even bother to ask what I want in life, he just gave an unwanted advice in a forceful, indisputable manner while accusing me as an arrogant bitch for not listening to elderly. Lah, he doesn't even know me? How come you think you know better? Where were you all these years? I also shed tears and spent many nights crying as I realized that some of my friends (anggep aja oknum) chose to not support me, when I was being very open that I needed help. Some of them did not make me feel seen. It's a sad fact that I have to accept. Itu semua proses yang harus gue lalui.

cried at work and sent this to my boss

Fase nangisnya heboh banget, ada nangis di Botani (mall) 2 jam. Ada juga episode nangis di XXI Taman Anggrek lah, di Taman Mini lah sambil liat show air mancur. Atau yang paling gue gapaham, gue nangis seharian dari jam 9.40 pagi sampe jam 11 malem. Sambil beraktivitas normal, tapi ntar tiba-tiba air mata mengalir aja. Gue harus melewati banyak perasaan-perasaan ga nyaman.

Sekarang gue di fase memulai chapter baru. Gue gak tau apakah akan mudah atau sulit. Tapi gue yakin gak menyesal, karena gue melibatkan Tuhan dan pemikiran panjang sebelum ambil keputusan. Tuhan pasti menyiapkan lessons dan hikmah yang terbaik buat gue. Ini baru awal. Terima kasih banyak buat semua yang sudah mendukung emo phase baik cuma dengan nanya, menyemangati di sosmed, sampe beneran hadir di sisi gue. Semuanya sangat berarti buat gue dan semoga kebaikannya bisa dibalas berlipat-lipat :)

So kenapa tiba-tiba di Korea? Next post =)

No comments:

Post a Comment