It's been a few years since I read kalau consent dan boundary itu bisa berubah-ubah. Hari ini boleh, besok ga boleh, lusa beda lagi. Seperti bertamu, kemarin diizinkan untuk masuk ke kamar atau area personal, hari ini hanya sampai ruang tamu, besok bahkan ga diterima masuk sama sekali. Gue paham teorinya. Pemilik rumah punya hak untuk menentukan level of consent dan boundary dia, tidak mengikat dan dapat berubah sewaktu-waktu. Kan rumah dia.
Tapi ternyata, saat praktek, gue sering lupa.
Di awal Oktober, gue chatting sama manager yang gue anggap dekat di pagi hari. Chatting personal, ke nomor pribadi. Ditengah percakapan, dia bilang "Maaf ya gue kontak lu sebelum jam kerja"
Reaksi langsung gue, "oh chatting tuh ikut jam kerja kah?"
Dia bilang dia merasa ga enak (sorry) dari pagi buta sudah ada notif masuk.
Gue tersulut. Logic gue, kalau memang sorry, kenapa ga disampaikan di awal percakapan? Kenapa setelah kita 'ngobrol' tiba-tiba sorry? Merujuk pada grammar yang dipakai, dia baru kepikiran ditengah-tengah.
Gue bilang gue happy membalas pesan dia, tapi kalau dia mau pakai boundary jam kerja, I would respect that.
Si linglung ini bilang, bukan itu maksudnya. Dia merasa bagus dong kalau kita bisa kontak-kontakan dengan lancar.
Gue nangis saat itu juga. Gue gatau kenapa. Susah untuk membahasakan apa yang gue rasakan. Kata pertama yang terpikir adalah insult. I feel insulted.
Dramatis banget ya, cuma karena diingatkan secara halus untuk ga kontak diluar jam kerja, gue merasa tersinggung. Butuh waktu beberapa hari buat gue berpikir sambil terus menangis. Di proses itu juga, gue sadar dia punya hak penuh untuk merubah boundary dan consentnya kapanpun. Kalau gue tau dan terima fakta itu, seharusnya gue bisa lebih tenang. Tapi gue malah makin sedih dan nangis. Sebenernya kenapa ya?
I think I felt stupid. I felt stupid for thinking of him as a friend. Jadi ga ada boundary dan merasa bisa ngomong apa aja, kapan aja. Disaat dia adalah senior dan technically part of jajaran bos gw.
Gue merasa offended atas effort untuk selalu hadir dan reachable. Tapi terus kepikiran, itu kan boundary dan consent dia, yang bisa berubah kapan aja? Jadi kayanya ga fair kalo gue merasa offended? Then back to the point above, mungkin merasa bodoh lebih tepat daripada merasa tersinggung.
Kejadian ini juga bikin gue merasa unfair. I gave him easy access to my life, my world, tapi ternyata ga timbal balik. Sah-sah aja. Dia ga salah. Gue yang salah karena punya ekspetasi. Apakah gue menyesal gue memberikan akses? Ngga. Gue menyesal karena berpikir dari sudut pandang gue doang. Tapi gue ga menyesal for giving him everything that I could. Ada kekecewaan juga, karena sempat ada ekspetasi.
I don't think he is actually worth my tears. Tapi gue mau jadi manusia yang tulus dan transparan. I did cry a LOT. Gue merasa sedih banget karena pintu (buat berkomunikasi diluar konteks kerja) yang gue suka ditutup. That was a privilege, bukan hak. Privilege tersebut sudah tidak ada lagi. Sekarang gue udah ga boleh berharap untuk bisa berkomunikasi di luar kebutuhan kantor. Membatasi diri atas sesuatu yang bener-bener gue hargai dan sukai (just the whole interaction with him) rasanya sulit, tapi pasti bisa.
No comments:
Post a Comment