Janganlah buat Indonesia yang penuh dengan berbagai suku bangsa dan agama menjadi negara anarkis.
Katanya 'Bhinneka Tunggal Ika', masa hanya puasa harus berapi-api dengan razia?
Ga ingat kah dengan 'Bagiku agamaku, bagimu agamamu'?
Berbicara dari pengalaman, mengapa jauh lebih sulit puasa dalam masyarakat yang mayoritas Muslim fanatik daripada non-Muslim? Selalu ada cara untuk menjatuhkan, menyulitkan dan menyudutkan. "Tata cara mu salah, gak sah, kurang sempurna, gak diterima...." dan sederet kritik lainnya.
Sedangkan yang non-Muslim malah suportif dan tak saling usik.
Insiden razia bulan puasa ini lagi-lagi membuat gue makin bersyukur pernah menjadi minoritas dikalangan yang super suportif dan juga yang super rasis. Gue jadi bisa melihat hidup dari berbagai sisi. Lebih baik menjadi minoritas daripada terus mendengar cacian dari kalangan fanatik.
Apakah ke klub membuat gue minum alkohol? Tidak. Apakah tinggal di German membuat lo menjadi pecinta sosis babi dan bir? Gak ada hubungannya. Apakah tinggal di sebelah Masjid membuat lo jadi Muslim? Gak. Apakah belajar agama Katolik 3 tahun membuat gue lupa Rukun Islam? Plis. Apakah dengan tinggal di Korea gue harus minum soju? Gue sih sukanya susu.
Tapi bukan manusia kalau gak penuh alasan. Bukan manusia kalo gak saling menyalahkan.
Teringat kata-kata dari guru SMA gue yang akan selalu gue ingat, "Sekolah ini memang sekolah Katolik tapi kami tidak akan mengkatolikkan yang bukan Katolik. Kamu masuk [sekolah] sebagai Buddha, ya keluar tetap Buddha. Kamu masuk [sekolah ini] gak punya agama, keluar ya tetep gak punya agama"
Semua tergantung kita.
Selamat Ramadhan! Perteguh iman, kalo puasa, ya puasa aja perdalam niat teguhkan hati. Masa liat makanan kemudian tergoda?
With love,
dari negara yang gak bisa hidup tanpa babi dan alkohol
No comments:
Post a Comment