Friday, August 30, 2019

Dibalik Perjalanan: HAJI DARI KOREA 101

Banyak yang kepo haji dari luar negeri, sini gue ceritain biar ga bingung gimana caranya dan ceritanya Haji dari Korea. Info ini hanya valid untuk keberangkatan 2019 ya! Tahun sebelumnya dan tahun setelahnya beda proses beda cerita.

Ngantrinya berapa lama?

Kaga pake antri pak bu boss. Tapi hukumnya sama sih, ada kuota dan kalo pendaftar melebihi kuota, ya ga bisa diterima. Harus 'waiting list' tahun berikutnya. Pake tanda kutip karena ga ada list atau pernyataan valid, berhubung semua dihandle travel agent.

Kuota Korea tahun ini lebih besar dari pendaftarnya jadi bahkan sampe H-Seminggu masih bisa daftar.

Daftar kemana?

Ke travel agent yang sudah dapet lisensi dan kuota haji dari Arab Saudi. Ini infonya mulut ke mulut aja. Travel tahun 2019 di Korea itu cenderung monopoli, alias dimiliki satu orang yang sama. Lu ga punya pilihan, ga punya perbandingan dan tentunya banyak kekurangannya. Sebagai anak bisnis, gue percaya kompetisi itu baik.
Nama travel induknya adalah Air1 Travel, punya kantor di Jepang dan Hong Kong juga. Tapi kalo di Jepang ada kompetitor, bukan pemain solo.


Syaratnya apa?

Siap berangkat dan siap bayar. Dokumennya sih standar ya, sama kaya daftar visa ke negara lain. Yang beda paling harus ada bukti vaksin meningitis dari rumah sakit di Korea, ID Korea, surat izin dari perusahaan atau sekolah sama harus pake kerudung fotonya.


Biayanya berapa?

5.5 juta won atau 6.3 juta won ditambah USD 450. Jadi kalo paket minimalis A, dirupiahkan kurs 12 kira-kira 66 juta + 6.4 juta alias 72.4 juta rupiah. Paket mendingan B dirupiahkan kira-kira 75.6 juta + 6.4 juta alias 82 juta rupiah. Belum termasuk biaya vaksinasi yang bisa ampe 1 juta + ya, tergantung rumah sakit mana. Gue ke Korea University Hospital ampe 200 ribu won alias 2.4 juta buat vaksin.
Gue namain paket minimalis sama paket mendingan karena emang fasilitasnya sih beneran "Alhamdulillah bisa berangkat" aja gitu.


Bawa uang jajan berapa?

Percaya atau ngga, ibu boss hajinya menyarankan bawa USD2000 alias 28juta lebih!!!!!
Gausah kaget dulu, kan banyak jamaah (orang Indonesia) yang mau belanja oleh-oleh buat sanak saudara di Indonesia. Terus belanja di Saudi juga kerasa jauh lebih murah daripada di Korea, jadi angka segitu ga terlalu mengagetkan.

Gue sih bawa ga sampe USD 1000 tapi gue cuma pake buat makan, makan dan makan kurang dari 1600 riyal (6 jutaan). Ini pun karena gue ga makan daging merah dan generally sangat picky dengan makanan ya, jadi hobinya ya beli makanan sendiri. Untuk belanja, gue bener-bener dikit banget. Paling belanja baju buat diri sendiri beberapa. Total abis 2000 riyal (7.5 juta) deh buat 3 minggu.


Fasilitasnya kenapa? Apa?

Mmmmm beneran minimalis. Hotel di Madinah beneran hotel, deket Masjid Nabawi tapi kotor. Bednya berdebu. Penginapan sementara di Mekahnya sih oke banget kamarnya, bersih juga, gue suka. Tapi toiletnya sharing 2 kamar aka 12 orang, digabung cewe-cowo. Jadi lu ke toilet kudu kerudungan. Tenda di Minanya... yaudah lah ya namanya tenda jadi lu ga ngarep banyak kan?

HEHEHEHEHE tapi berharap tidurnya di ((dalam)) tenda kan? Nah ada beberapa jamaah yang ga kebagian tempat terus tidurnya di ((luar)) tenda. Tolong ingat, Arab Saudi itu panas.

Hotel terakhir di Makkah, berhubung gue ikut Paket Mendingan B, enak. Bagus. Deket dari Masjidil Haram. Sekamar berempat (difoto sih berdua, tapi tambahin pepetin extra bed jadi 4 gitu).

Terus soal makanan, beda tempat beda cerita. Makannya asdfghjkl sejujurnya kimbap cheonguk aka kimbap heaven lebih baik. Di Madinah, rasio nasi:lauk bisa 5:1 gitu. Di Mekkah awal-awal juga biasa banget. Di tenda malah banyak yang merasa ga dikasih makan karena cuma makan siang yang proper. Pagi malem makan indomie (suruh masak sendiri), atau makan roti. Gue sih fine-fine aja. Begitu minggu terakhir pindah ke hotel, baru nice karena buffet 3x sehari. Sebelumnya selama 2mingguan gue bertahan dengan roti tawar+nutella atau jajan sendiri.

Flightnya oke lah, maskapai Etihad, transit di Abu Dhabi. Ga fun karena dari 2014 itu bandara makanannya ga berubah. Transportasi lokal busnya berAC jadi ga sedih-sedih amat. Meski itu bus nunggunya bisa 2-3 jam. Fasilitas lain standar aja, kaya manasik, ustadz, koper, buku doa, etc. Yang ga standar sih ID cardnya. Infonya nama, nomor passpor sama nomor telpon maktab. Masalahnya, dari ID gue, yang bener cuma nama dan foto. Paspor salah, masa gue dibilang Syrian dengan nomor paspor yang gue ga kenal. Maktab juga ga akurat.


Siapa yang bisa berangkat?

Asal punya residence permit yang valid di Korea sih masih bisa ya. Maksudnya lu harus punya ARC dan dokumen lain yang dibutuhkan. Untuk tahun ini, single woman alias cewe yang belum nikah juga bisa berangkat. Asal diatas 20 tahun ya.
Mau pelajar, pekerja, ibu rumah tangga... semua boleh.


Banyak orang Korea yang berangkat haji ga?

Kaga. Total paling 4 orang aja dari 400 orang plus. Mayoritas adalah mas-mas pekerja dari Uzbekistan dan Indonesia. Pelajar sendiri kira-kira cuma 6 orang. S1 setau gue cuma gue, sisanya Master atau PhD.

Berapa lama? Gimana?

21 hari. Detailnya kira2 5 hari di Madinah, terus berangkat 1 malam ke Mekah. Beberapa hari di Mina dan Arafah. Balik ke Mekah dan pindah ke hotel fancy selama 6 malam. Berat, karena panas dan banyak penyakit. Gue pribadi kena alergi debu dari Madinah (hari-hari pertama). Udah 3 minggu lebih belum sembuh batuk pileknya.

Gimana yang lebih detail, next post aja ya.

Bisa ga sih haji mandiri alias berangkat sendiri?

Gue gatau bisa atau ngga. Tapi setelah merasakan perjalanannya sih gue rasa mending gausah. Banyak transportasi dan akomodasi yang harus lu pikirkan dan pastinya ga bisa booking diinternet.

Masih muda udah haji, kok segan sama ortu sendiri? Apa mending umrah dulu ya?

Ortu gue juga belom haji. Panduan gue sih sederhana. Haji katanya diwajibkan bagi yang sudah mampu. Gue udah mampu, kenapa gue harus nunda?
Ortu gue punya kewajiban yang sama juga. Kalo ternyata gue yang 'dipanggil' duluan buat haji, yaaa kenapa engga? Kita juga gatau umur siapa yang lebih panjang. Gue merasa lebih baik ga menunda-nunda kewajiban.

Sampai saat ini, ga ada orang yang komen gue buang-buang uang aja untuk jalan-jalan tapi gue tersindir sendiri juga. Masa gue udah bangga keliling 5 benua, financially bisa sendiri, tapi gue nunda-nunda kewajiban haji?

My business mind is telling me umrah itu di Indonesia laku karena haji susah, antri panjang. Jadi ya dimulai dari umrah dulu. Tapi kalo bisa langsung haji, kenapa ngga?


No comments:

Post a Comment