Monday, January 27, 2020

Kenapa (Tetap di) Korea?

Happy (Lunar) New Year!

Tidak terasa sudah 2020, tahun yang kerasa jauh banget saat gue pertama kali dapet invitation letter dari NIIED dibulan Januari 2015. Kali ini gue mengawali tahun dengan perasaan cukup lega dan tanpa ngegas. Apa yang gue jalankan, kuliah, sudah selesai. Apa yang gue rencanakan, kerja full-time dibidang yang disuka, sedang dijalani. Uang allowance terakhir dari pemerintah pun sudah diterima. Untuk satu bulan kedepan, bisa santai-santai dulu sekalian penyegaran dan adaptasi.

Kali ini, gue yang secara sadar dan tanpa paksaan keadaan memilih untuk bertahan di Korea. Kenapa?  Bagaimana bisa sampai ke keputusan ini?

Sebenarnya mungkin buat orang-orang, keputusan ini terlihat very obvious. Gue seneng-seneng aja di Korea. Gue baik-baik aja. Gue ga pernah menunjukkan tanda-tanda gue membenci hidup gue di Korea. Gue bisa beradaptasi dengan baik, begitu kan? Tapi tidak semudah itu loh.

Tinggal di Korea ga sepenuhnya nyaman, karena ada kendala bahasa. Boleh jago bahasa sehari-hari, tapi kalau sudah berurusan dengan urusan legal, seperti imigrasi, kontrak kerja, kontrak rumah, asuransi seperti itu beda cerita. Belum lagi banyak fasilitas yang masih terbatas untuk orang asing, seperti layanan online ini dan itu. Lalu budaya juga jadi penghalang. Gue ga minum alkohol dan ga makan daging. Susah buat orang sini mengerti bahwa gue memang hidup tanpa daging. Gue juga gamau makan kaldu daging atau tulang entah apa, sapi atau babi. Masalahnya memastikan satu-satu tiap makanan yang gue makan itu ga mudah. Belum lagi kalau udah bicara settingan kantor, dimana harusnya gue ga menyusahkan orang lain dengan pilihan hidup gue. 

Pertimbangan lain adalah gaya hidup dan sosial. Menjalankan hidup yang sesuai perintah value dan agama ga mudah disini. Gaya hidup gue yang tergantung dengan berenang dan sukanya outdoor juga banyak halangan, apalagi kalau musim dingin. Untuk sosial, komunitas gue banyaknya pelajar asing. Artinya, ketika mereka beres kuliah, kemungkinan besar akan pulang. Melepas teman yang pulang dan cari lagi teman baru itu susah loh. Untuk bangun hubungan baik dengan orang lokal, gue punya kesulitan tersendiri. So, sebenarnya ada banyak pertimbangan sebelum gue memutuskan gue mau lanjut tinggal di Korea.



Yang pertama, kemandirian. Korea memberikan gue jalan menjadi orang yang mandiri, karena gue diberikan 'modal' untuk memulai hidup berupa dukungan finansial dan pendidikan. Dimulai dari sini, gue jadi bisa kemanapun yang gue mau kan. Gue merasa bersyukur dan nyaman. 

Seberapa nyaman? Well relatif. Tapi salah satu faktor gue betah sih karena gue suka lingkungan hidup dan makanan Korea. Pilihannya mungkin limited, tapi masuk dilidah. Beli makanan juga lebih murah atau beda sedikit dari masak sendiri, so cocok buat gue pemuja gaya hidup instan. Lingkungan hidup yang gue maksud disini adalah area tinggal dan area beraktivitas yang aman dan nyaman. Ga suka sama empat musimnya sih, kedinginan kalo winter, kepanasan kalo summer. Tapi gue punya cara-cara lain untuk membuat hidup gue nyaman ditengah keterbatasan budget. Misalnya dengan cari rumah di tengah kota dan punya kamar yang besar. (Again, karena murah ya ada downsidenya, seperti lokasi diatas bukit dan gedung puluhan tahun)

Faktor nyaman berikutntya adalah gue cinta transportasi umum. Ini preferensi yang tercipta sejak tinggal di Bogor dan hidup kemana-mana harus mengandalkan angkot. Lu bisa ke sudut manapun di Korea dengan transportasi umum yang aman dan reliable. Selain itu, jalan kaki juga hal yang biasa karena orang ga tergantung dengan transportasi umum.

Ada 1001 faktor pendukung nyaman, seperti letak geografis yang dekat dari US/Eropa, direct flights kemana-mana, hidup serba cepat dan online, hak dasar seperti upah minimum yang dijamin, konser mudah, musikal banyak dan endless list tapi gue ga perlu sebut. Saat gue memutuskan stay atau pergi, gue gak pakai ini sebagai pertimbangan utama sih. Ada priorita lain.

Kebebasan dan keamanan adalah faktor yang paling penting. Teror politik kadang ada, tapi gue ga merasa terancam. Kebebasan yang gue maksud disini adalah gue bisa menjadi orang seperti apapun yang gue mau. Gue punya tanggung jawab penuh atas hidup gue sendiri, dan orang lain ga terlalu banyak komentar - termasuk orang tua gue. Mungkin ini susah didapatkan kalau lokasi gue masih dekat dengan Bogor. (dekat disini artinya bisa dikunjungi sering-sering, terus mungkin ortu gue betah juga visitnya. Kalo Korea sih mereka urus visa aja males, belom lagi terbang 7 jam)

Tapi kalo cuma cari kebebasan kan ga harus di Korea? Negara lain masih banyak?

Bener. Korea bukan dream country gue, tapi gue dapet beasiswanya disini. Itu awal mulanya. 5 tahun menyelesaikan studi itu bukan masa yang singkat dan gue beradaptasi dengan baik. Gue usaha banget buat bisa menguasai bahasanya, dan gue merasa sayang kalo harus langsung pergi ke negara lain. Makanya saat cari alternatif negara lain pun, gue berusaha cari kerja yang pakai Bahasa Korea.

So all in all, ada banyak yang gue syukuri dan gue sukai dari Korea. Setelah lulus, gue memutuskan untuk tinggal disini selama beberapa tahun lagi. Belum kepikiran untuk jangka panjang, apalagi permanen. Tapi takdir siapa yang tahu...

No comments:

Post a Comment