Saturday, August 8, 2020

Produk Finansial dan Belajar Investasi

Gue sejak lama terang-terangan menyuarakan minat yang sangat tinggi terhadap personal finance. Gue suka banget nyobain berbagai produk finansial terbaru, mikirin pendapatan gue harus dialokasikan kemana, dipake buat apa dan sebagainya. Gue bisa ga tidur cuma untuk memikirkan target-target hidup dan budgeting. Apakah artinya budget gue rapi?

Muahahaha tidak. Meski pendapatan dan biaya hidup gue sudah independent dari ortu sejak gue ke Korea, gue ga pernah memikirkan dengan bijak target umur sekian mau punya tabungan berapa, asset berupa apa. Gue punya targetnya ya soal destinasi yang mau dikunjungi sebelum lulus mana aja, keliling dunia kapan, dsb terus gimana bisa mampu bayar itu. Tapi begitu pergi liburan, jarang banget pake budget harian/mingguan. Liburan tuh makan sesuka hati, belanja bocor dikit santai, tidur pun sejak 2018 dah mulai pilih nyaman dibanding murah (yha, udah cukup tidur di hostel sama mas-mas telanjang, gapake AC ditengah musim panas)

Selama ini, rahasia gue hanyalah kebiasaan menabung yang tercipta sejak gue kenal uang dan kreativitas (plus waktu yang melimpah) untuk menekan cost dan menahan diri untuk tidak membeli hal-hal diluar kemampuan gue. Gue masih belajar soal investasi, sering kali salah dan merah, meski gue lulusan Business School yang selalu ngaku suka finance. Suka sama bisa itu beda, ok!

Kalau bukti 'suka', ini aplikasi yang menghiasi hari-hari gue.

Aplikasi bank Korea lengkap, karena... Emang gue punya rekening di 4 bank dengan total 7 rekening. Gausah kaget, ini hasil iseng dan kepo pengen bandingin kualitas produk dan service kok. Ga semuanya aktif. Gue punya terlalu banyak aplikasi KEB Hana Bank karena 1 buat rekening, 1 buat cek tagihan kartu kredit, 1 buat pembayaran online, 1 buat cek benefit -_- 1 aplikasi bisa 200 mega, emang PR banget bank lokal maniak app, mentang-mentang internet dan kapasitas HP selalu tanpa masalah.

Paypal, Payco adalah solusi pembayaran gue. Kitabisa nyempil karena yes, banyak transaksi disitu.

Page dua ada Money Mgr. karena sok-sok mau ngitung pengeluaran bulanan. Tapi gue malah takut sendiri liat dosa gue, dan cuma update seminggu sekali. Sisanya? Aplikasi pembayaran Shinhan. Secara resmi, bank utama gue itu Shinhan tapi gue lagi 'ngambek', jadi rekening Shinhan gue pun gue biarkan dormant. RTI Business, esmart dan Shinhan Sekuritas adalah bekal dunia saham. Gue baru aja nyoba transaksi saham Korea, so yay sekarang gue bisa tu beli saham SM Entertainment, JYP atau siap-siap invest di Big Hit lol. ISP just because... Ga penah dipake. BRImo, karena kalo lewat website harus pake OTP ke nomor Indonesia, repot. tanamduit dan Jenius adalah sobat utama gue soal transaksi keuangan di Indonesia, meski bank utama gue tetap BCA. Terimakasih BCA karena websitenya sangat mudah digunakan, ga perlu app.

Akhir-akhir ini karena banyak waktu dan merasa uang gue kok berkembangnya 'lambat', gue pun mulai melihat dan menghitung asset gue dengan seksama. Minat doang ternyata tidak cukup. Topik ini juga lagi ngetrend karena skandal di Indonesia kan. Jadi gimana sih gue 'atur' asset gue?

1. Tabungan dan Deposito

Sampai pertengahan tahun 2018 atau tahun ke 3 kuliah, gue taruh uang gue 70% dalam bentuk tabungan (Rupiah, Won, Dollar) dan deposito. 30% bentuknya cash dalam mata uang asing kaya Euro dan Poundsterling. Tahun 2018, Fintech belum sebaik saat ini. Gue pengen banget punya obligasi, reksadana, tapi ga bisa beli online dan banyak halangan lainnya. Gue udah punya rekening saham, tapi sama sekali ga gue pake karena gue ragu dan ga sempet belajar.

Tapi sejak 2019, gue ga pake deposito lagi dan lebih suka mengalihkan dananya ke saham, valuta asing, obligasi, dan sedikit ke reksadana. Tabungan? Masih aman dan makin naik, karena fokusnya ke USD dan KRW. Rupiah udah beneran cuma buat transit dana investasi aja.

2. Saham

Portofolio gue merah alias merugi belasan persen itu biasa. Gue pernah coba semua cara saham, dari asal beli, cuma liat grafik, percaya rekomendasi analis, sampe pake riset sendiri. Gue anggap ini proses belajar, gue ga pake dana darurat untuk belajar saham so gue paham resiko bahwa portfolio bisa menyusut drastis. Gue sempet tiap hari kontrol, lalu gue lupain selama 3 bulan, kemudian pas liat portofolio gue udah menyusut 30%???

Kesel tapi memang salah gue sendiri yang salah beli, terlalu percaya sama yang fluktuatif karena 'murah', dibanding yang steady tapi mahal harga perlembarnya. Atau fanatisme dengan brand dan merk tertentu, tanpa riset soal performa companynya.

Sekarang? Jauh lebih bijak, tapi masih newbie. Masih ga berani buat memperbesar porsi saham secara drastis.

3. Valuta Asing

Ini personal favorite gue, karena kayanya gue punya trauma tersendiri asset gue menyusut karena nilai Rupiah yang melemah. Gue bahkan punya rekening dollar dengan pake nama orang lain sejak gue masih SMP gitu. Tapi ini musuh terbesar nyokap gue juga, karena dianggap ga nasionalis... Ya maklumin tante-tante birokrat.

Buat gue, nabung dalam bentuk valuta asing 'tampak' ga akan rugi, karena toh masih liquid dan masih uang. Very poor logic, gue juga menganggap simpan uang dalam dollar atau mata uang lain lebih dari lindung nilai, tapi praktis juga karena toh one day gue bakal pakai currency tersebut. Currency yang gue suka si pasti USD, terus SGD, lalu Euro tergantung season, dan Poundsterling yang ga pernah kemana-mana. Ingat, gue bukan trading valuta asing ya! Tapi beneran nabung dalam mata uang lain.

Salah satu hal pertama yang gue lakukan begitu sampai di Korea adalah buka rekening dollar! Happy banget rekening dollar disini ga ada biaya apapun dan sangat mudah dijangkau. Bisa tarik tunai di ATM juga. Kalau di Indonesia, sejak adanya bank online kaya Jenius atau DigiBank dan saudara-saudaranya, baru deh kerap tergoda "Spekulasi aja apa? Beli murah, tar jual kalo Rupiah melemah"

Not wise teman-teman, apalagi kalo males mantau. 

4. Reksadana

Milih reksadana is so fun! Lu cuma butuh minimal 100ribu dan kemudian lu bisa punya ratusan produk pilihan. Gue mulai sedikit-sedikit. Lalu tentu diawal-awal hijau semua, kemudian karena COVID-19, mayoritas langsung merah. Muahaha ya gapapa sih, emang mau longterm dan ga gue pake trading juga. Sekarang gue udah nyaman dengan reksadana dan mulai rutin top-up sedikit-sedikit tiap bulan.

Menariknya, gue beli reksadana sebelum tau apa itu tipe-tipe produk reksadana. Gue masukin aja 100 ribu di resiko rendah (pasar uang), resiko menengah (campuran), resiko tinggi (saham), terus gue liat pergerakannya. Sambil baca-baca profil produknya sih. Gue lebih paham kalo praktek langsung. Apalagi setelah merah, gue jadi tau faktor-faktor apa yang harus gue pertimbangkan. Yha, emang anaknya suka say yes before knowing how. Nyebur dulu, mikir nanti

5. Emas

Yang ribut-ribut emas naik ga ada rem, akhirnya gue paham sejak gue cobain tabung emas di Tokopedia tahun lalu. Gue iseng aja diversifikasi dan ngumpulin recehan dari pembulatan transaksi, lama-lama jadi bukit. Menurut gue emas beneran buat long term dan lindung nilai aja sih, bukan buat investasi atau tabungan yang bisa diandalkan.

Gue lebih terpesona sama fakta beli emas bisa di e-commerce, daripada produk emasnya sendiri. Ini terobosan yang jauh lebih maju daripada Korea, cyin.

6. Dana Pensiun

Ini pencapaian pribadi 2020, buka rekening dana pensiun mandiri (DPLK). Gue beneran baru tau soal produk ini diawal tahun, saat sibuk galau karir. Tante birokrat selalu menekankan buat cari perusahaan yang menjamin dana pensiun. La tapi gue kan merasa itu outdated, kalo gue mau terjamin pensiunnya, gue harus masuk ke jalur birokrat atau konglomerat, meniti karir disana 20-30 tahun.

Lalu gue pun berpikir untuk nyiapin plan sendiri yang sesuai dengan preferensi gue, didasari pemikiran gue gatau sampe kapan ada di Korea. Ga ada yang menjamin penghasilan gue, mau longterm ataupun 1-2 tahun kedepan. Sekarang iya lagi nikmatin gaji Won, tapi kan ini ga steady. Terus hati gue juga ga merasa gue bakal long term disini?

Akhirnya pas balik ke Indo ditengah COVID-19, gue pun berhasil buka rekening DPLK setelah penuh perjuangan karena infonya limited dan seringkali mbaknya ga terlalu proficient dalam jualan produk DPLK mandiri ini. Start small, saat ini gue butuh perasaan aman dulu bahwa gue punya 'safety nett' nanti. Nominal kecil karena didasari alasan "Kan gue gatau gaji gue berapa 1-2 tahun lagi," kemudian usia pensiun pilih yang paling dini karena masih pengen tau produknya. Yes, lagi-lagi komitmen belasan tahun pun pake prinsip "mulai dulu, mikir nanti".

7. Obligasi
Dulu sempet terbakar kobaran nasionalisme, thanks to konten Kemenkeu yang menggugah hati. Kan kalau beli obligasi punya negara alias SBN tuh membantu negeri dan beneran minimum risk. Tapi setelah gue coba, kayanya kuponnya ga bisa beat inflasi. Jadi gue pun ga tertarik buat memperbesar porsi SBN gue.

Fakta menarik: gue ambil kelas Fixed Income Securities dan gue selalu terkenang dengan segala ilmu, teman dan perjuangan gue dikelas itu. Tapi lebih cocok buat obligasi corporate isi kelasnya. Soalnya orang lokal ga ada yang beli SBN Korea...


Nah loh, uangnya cuma recehan tapi diversifikasinya banyak banget. Buat gue, seru dan rewarding sih buat bisa coba produk ini itu dengan terjangkau (emas beli seribu pun bisa kan). Gue 100% yakin gue masih bermimpi meniti karir dibidang finance, meski bukan bagian investasi, jadi gue anggap ini sebagian dari proses belajar gue. Gue selalu excited kalau ada terobosan baru didunia wealthtech dan fintech. 

Next, mungkin ambisi terbesar adalah memasukkan diri kedalam kategori High Net Worth Individual alias orang kaya banget berdasarkan jumlah asset. Mimpi jadi kaya sebelum umur 30?  Ooh bukan, bukan karena pengen kayanya, tapi karena sincerely kepo sama produk-produk wealthtech yang bisa diakses orang-orang dalam kategori tersebut. Muahaha, emang keponya ga ada obat.

No comments:

Post a Comment