Hari ini gue deep talk dengan Ry-Ann dan Tran, teman SEALNet yang sangat bijak dan penuh insight. Gue kenal mereka sejak tahun 2013, they literally raised me. Mereka ada dan lihat gue tumbuh dari masih bego, polos, ga punya pikiran apapun, sampai sekarang - mayan punya pertimbangan meski tetep ceroboh dan (mungkin) ga bertambah bijak. Nah, malam ini kita video call dan pakai salah satu tool creative writing, dimana kita diberi waktu 10 menit untuk menulis respon terhadap pertanyaan tentang diri sendiri. Tujuan utamanya mengenal diri lebih dalam, lalu bisa connect dengan teman-teman in a deeper level (kan pertanyaannya sangat personal). Pertanyaan yang diajukan Tran & Ry dalam sesi ini adalah:
What did you lose this year?
What did you discover about yourself this year?
Kalau bukan karena percakapan dengan mereka, mungkin gue ga akan sesemangat ini untuk menulis hal-hal yang ingin gue ingat dari sesi tadi. Gue merasa bahagia, ga sepenuhnya lega, tapi optimis.
Highlight gue ditahun 2020 ini banyak dan 80% positif - or I chose to take it positively.
Gue kehilangan kebebasan untuk traveling ditahun 2020 tapi gue merasa gue juga diberkahi untuk traveling di dalam negeri, disaat miliaran orang di dunia ga punya kesempatan itu karena lockdown. Sedangkan untuk hal yang gue discover (lagi) tentang diri gue adalah... Alira is, and will still be, Alira. Ga perlu embel-embel kerja di perusahaan X, mahasiswa Korea Univ atau mbak KGSP. Alira ya Alira aja, orang liat personal brandingnya, valuenya, bukan afiliasinya duluan. Alira 2020 ga jalan-jalan, tetep bisa jadi Alira. Alira udah lulus dari KUBS dan ga jadi anak KGSP pun ga terus kehilangan jati diri. Tetep ada value yang orang cari dari Alira, bukan sekedar jalan-jalannya aja, atau beasiswanya doang.
Value itu lah yang terus menerus gue tanya ke diri gue sepanjang tahun. Apa sih yang gue kejar? Apa sih yang membuat gue bahagia? Apa sih ketakutan gue? Gimana gue pengen dikenal orang? Gimana gue mau menghabiskan waktu dan energi gue?
Ga sempet galau, gue tau-tau langsung stress dan lelah fisik.
Ada beberapa bulan dimana gue ga punya waktu untuk menjalani hobi gue. Gue ga sanggup atau kepikiran update blog. Gue jadi ga bergairah buat update insta, baca buku, atau sekedar... liat harga saham. Hal-hal ini biasanya jadi daily things, tapi gue pelan-pelan kehilangan semangat aja. Gue ga memaksa diri gue untuk produktif 24/7, ga perlu. Tapi gue juga gatau hal apa yang bisa buat gue bahagia selain tidur dan tidur.
Sampai akhirnya ada kejadian yang membuat gue merasa it's really the right time to move on, yaitu saat gue harus mempertanyakan value dan boundaries gue sendiri. Gue pernah bertanya apa sih arti boundary dikonteks kerjaan? Gue mempertanyakan diri gue, apakah salah untuk bertahan dan memperjuangkan values dan boundaries - yang telah berhasil membawa gue ke titik saat ini?
Haruskah gue merelakan values, boundaries dan objectives gue buat memenuhi tuntutan? Kalau sudah terpenuhi dan bisa fit in, lalu dapat apa? Reward dalam bentuk tambahan uang sudah dipastikan 0, opsi lain mungkin pujian plus pengakuan?
Gue akhirnya mendapatkan jawaban bahwa pujian dan pengakuan bukanlah hal yang gue cari saat ini. Pujian dan pengakuan belum tentu bisa membuat gue kembali punya semangat untuk menjalani hobi sederhana seperti menulis, dengerin lagu-lagu terbaru penyanyi kesukaan gue, atau jalan-jalan. Sedangkan kebahagian sederhana gue datangnya darisitu. Kebahagian besar atau signifikan gue datangnya dari live my passion. Apa jadi 'teladan' di kantor merupakan passion gue? Big no. I dream to lead and make impact, bukannya to be praised. Gue malah curiga, kalau gue mengikuti demand, mengorbankan value hanya untuk pujian dan pengakuan, nanti gue kalah diakhir karena ga bisa berkembang dan ga dapet pelajaran selain gelar "teladan" dari kantor.
Akhirnya, keputusan itu pun diambil. Gue keluar dari kerjaan gue di Korean company. Gue bukan lagi mbak-mbak HR atau mbak-mbak yang cari Korean speaker. Rasanya? SUPER HAPPY!
Alira sudah free dari tuntutan yang buat gue berpikir tiap hari sampe ga bisa tidur dengan nyenyak. Setelah hari efektif terakhir diputuskan, gue mulai kembali jalan-jalan tanpa beban, mulai baca buku lagi dan catch up dengan Junsu + JJ Lin.
| #alirajalanjalan is back! Jeju, Des 2020 |
Keluar dari kerjaan full-time pertama gue itu ga mudah. Apalagi kalo mikirin betapa 'wah'nya kerjaan itu. Gue bilang sama Ry dan Tran, gue butuh meyakinkan diri terus menerus bahwa gue adalah Alira dengan segala kelebihan dan kekurangan gue, dengan personal branding yang tidak terikat dengan institusi tertentu. Gue merasa rejeki beasiswa, kuliah, kerja dimana itu bonus - tapi bukan faktor penentu identitas gue. Branding 'Alira' ga tiba-tiba hilang saat Alira keluar dari kantor. Hal yang gue lakukan diluar dan didalam kantor harus sejalan, so gue bisa pertahanin kredibilitas gue.
Ry dan Tran sangat tertarik dengan statement gue. Tran bilang dia juga terbebani dengan status dia sebagai lulusan universitas Amerika yang sangat prestijius. Hal yang dia lakukan sekarang (creative writing) ada karena passion dia, bukan karena dia alumni universitas tersebut. Dia juga ingin diperlakukan sebagai Tran dan dikenal dengan effortnya, bukan karena embel-embel almamaternya. Lain halnya dengan Ry yang selalu ingin berlindung dibalik nama besar dan almamater. Ry merasa pendapat gue dan Tran membuka pandangan dia. Ry bilang, dia tau dirinya kompeten, tapi dia merasa pengakuan datang ketika dia mengaku dari institusi tertentu dan branding dia selalu erat dengan afiliasinya. Ibarat profil Insta, Tran sama gue adalah tipe yang bakal masukin random sentences describing ourselves, sedangkan Ry tipe yang tulis UGM '14 | KUBS '16 | 000 Consultant.
Well, no right or wrong answer. Ini beda perspektif aja.
Gue suka konsistensi, jadi buat gue, apapun yang gue lakukan maunya harus linear. Saling nyambung. Gue suka networking, terus jadi pekerjaan professional (headhunting diorganisasi dan kantor). Ketika gue ga lagi jadi bagian dari institusi, ya gue akan tetap networking. Gue juga punya passion untuk mewujudkan equal access to information. Cara sederhananya ya saat gue punya informasi, gue harus berbagi. Gue terus menerus berbagi hal informatif dan useful untuk pembaca gue. Dibayar atau ngga, konsep blog gue, Twitter, Instagram masih sama. Ga ada hubungannya sama sponsor yang mungkin ganti-ganti, karena Alira punya values yang sama meski sponsornya berbeda.
So to wrap it up, Tran kasih saran untuk bahan refleksi: Kalau semua gelar kita dicabut dan kamu harus memperkenalkan diri tanpa embel-embel institusi apapun, who are you? How would you sell yourself? How would you add value to your community?
I am no longer Mbak HR Korea, but tentu gue tetap bisa memperkenalkan diri gue dengan percaya diri karena trust me, I feel that none of Mbak HR Korea, SelebTwit, kakak KGSP Ngegas can fully describe me. Gue masih paling happy kalau dikenal sebagai blogger, mungkin karena udah 10 taun lebih jujur, unfiltered diplatform ini ya. Let me know persepsi teman-teman terhadap branding atau identitas gue =)

sometimes bbrp dr kita clueless and insecure tiap mau memperluas network diluar institusi atau organisasi. kita pasti nunggu saat yg tepat, yg mana maksudnya gabisa dengan fleksibel networking ke semua orang tanpa ada reasons yg kuat. nextnya boleh sharing2 ttg overcome itu ya kakk heheheheeheh
ReplyDeleteYess <3 Thank you sharing dan sarannya.
Delete