Sudah tengah tahun, sudah 6 bulan di Bogor dengan pola pemasukan dan pengeluaran yang bener-bener berbeda. Gue bukan orang yang menghitung setiap pengeluaran dan pemasukan, karena ga terlalu teliti dan telaten. Selain itu, gue gak terlalu mendapat kepuasan dari melihat jumlah pemasukan dan pengeluaran gue secara detail. Effort terasa lebih besar dari result/satisfaction.
TAPI...
Gue sangat peduli dengan keuangan gue dan cukup rapi dalam melakukan rencana. Mungkin karena ini, gue beruntung bisa melakukan banyak hal yang memerlukan budget besar diusia muda. Selain faktor gue super lucky ga punya tanggungan dan tinggal lama di Korea, yang berkontribusi sangat positif ke pendapatan gue ya (re: cuan besar).
So how did I do it? How do I plan to do it?
Gue biasa menjelaskan ini 1:1 ke temen-temen gue (yes, temen-temen gue suka konsultasi ke gue soal keuangan dan produk keuangan). Semoga membantu tapi ini tidak diharapkan menjadi kitab/guide, karena gue bukan financial planner DAN keuangan tiap orang berbeda-beda.
Background singkat
Gue single, bukan sandwich generation - penghasilan murni hanya untuk diri sendiri dan masa depan. Gue mulai dapat penghasilan rutin sejak kuliah di Korea (18 tahun). Penghasilan ga rutin? Udah dagang barang dan jasa sejak SD, tapi lagi-lagi, murni untuk diri sendiri. Kebutuhan dasar gue dibiayai orang tua sampai gue sebelum gue berangkat ke Korea. Setelah di Korea, baru deh survival. (2015, nyatet pengeluaran pake notes kecil tulis tangan, bukan di HP....)
So you can tell, gue bisa leluasa untuk eksperimen. Kalo gagal saat budgeting, gue mungkin lapar beberapa saat, tapi ga ada damage ke orang lain. Terus gue kenalan dengan perencanaan keuangan sejak dini, karena ga dikasih uang jajan kaya anak sekolah lainnya. Mau jajan? Pake tabungan (angpau hari besar) atau dagang. Jadi ga terlalu kaget dengan konsep money management.
This does NOT work on my brother. Cuma gue yang begini.
Buat gue, prinsip dasarnya sih 4 poin diatas.
1. Gausah diitung tiap saat. Ini cut short aja, cara males.
Gue hitung expense gue secara ketat dalam 2-3 bulan pertama gue ganti lifestyle. Ganti lifestyle maksudnya tuh saat pertama jadi mahasiswa di Korea, saat pindah rumah yang jauh dari area sekolah (jadi ada faktor transportasi, pas barengan juga penghasilan naik karena freelancer), saat dapet full-time job pertama, dan yang paling kini, saat pindah ke Indonesia dengan gaji yang terjun bebas. Cukup 2-3 bulan, gue jadi bisa liat patternnya, sebenernya gue butuh berapa sih tiap bulan?
Beberapa orang terlahir teliti dan berbakat jadi akuntan, baik level profesional maupun level rumah tangga. Not me. Gue rajinnya invest banyak waktu diawal, riset produk dan style yang cocok buat gue, eksperimen hal baru. Nah setelah ketemu style terbaik, gue bisa santai-santai.
Kenapa 2 bulan, gak 1 bulan aja?
Biasanya bulan pertama ganti lifestyle ada transisi. Gue gamau terlalu menyiksa diri. Penghasilan naik, ada kebutuhan yang naik - misal beli baju kantoran. Pas pindah rumah, harus beli furniture, barang elektronik dan perkakas dibulan pertama. Kalau dijadikan acuan, ga pas aja. Misal 1 minggu pertama makan diluar terus, karena belum punya kulkas. Padahal lifestyle gue gak begini.
2. Jangan atur budget yang terlalu nyiksa diri, tar bosenan terus gagal. Sama kaya diet
Disiplin itu perlu. Udah set budget (misal) bulan ini pengeluaran 3 juta, karena 2-3 bulan pertama, kayanya kebanyakan jajan dan mau hemat. Tapi 3 bulan pertama expense wajibnya 6 juta... Lu mau cut 50% tuh kira-kira wajar ga? Yaaa kalo ada pos pengeluaran wajib yang hilang (dari WFO ke WFH, no more transport), mungkin bisa. Tapi kalo lifestylenya sama aja, kayanya 50% terlalu drastis.
Buat gue, kalo situasi ga berubah banyak (again, gue lakuin poin #1 tiap ganti lifestyle) plus minus 10% tuh bisa ditoleransi, toh porsi tabungan+investasi gue lebih besar dari 10% budget pengeluaran (masih sanggup).
3. Tabungan bukan sisa!
Ini pelajaran #1 dari keseluruhan masa kecil gue muahaha.
Pemikiran gue belasan tahun yang lalu, jauh sebelum gue kenal fancy investment products, hidup itu sesimple pemasukan, tabungan, jajan. Kalo mau jajan, harus punya uang dulu. Uang datangnya gatau kapan (sebagai anak kecil yang ga dikasih uang jajan), jadi harus buat pemasukan. Tapi kalau mau jajan 50 ribu, pemasukannya harus lebih dari 50 ribu. Kenapa? Biar ada yang ditabung. Karena kalau selalu jajan sebesar pemasukan yang datang, nanti gue ga bisa beli mainan baru atau HP baru. Mahal banget. Harus dicicil dalam bentuk tabungan, baru kebeli.
Nah jadi saat udah punya pemasukan yang tetap, gue selalu memisahkan tabungan dulu. Besarannya? Tergantung poin nomor satu alias income dan expense ratio gue sih. Secara umum, minimal 20% dan bisa sampai 70%. Kok rangenya jauh banget 20-70%?
Sejak tahun 2015 gue dapat penghasilan tetap (berbentuk allowance dari pemerintah Korea), gue terbiasa menyisihkan minimum 20% dari penghasilan tetap untuk ditabung. Tapi kemudian gue udah mulai banyak penghasilan tambahan sejak bulan ke empat gue di Korea. Nah, dari penghasilan tambahan ini lah gue ambil 50% untuk tabungan. 50% lagi masuk ke budget untuk beli wishlist (tabungan juga...) atau buat senang-senang. Kebiasaan ini bertahan sampai sekarang.
Summary: alokasi tabungan dari penghasilan tetap minimal 20%, dari penghasilan tambahan bisa 30~70%.
Misal case gue tahun 2016-2017
Penghasilan tetap gue 900 ribu won perbulan. Gue tabung 200 ribu won perbulan.
Penghasilan tambahan gue bulan pertama 500 ribu won. Gue tabung 300 ribu won. Sisanya dipake buat jajan kebutuhan sehari-hari, versi lebih fancy (Upgrade shampoo misalnya. Happened before.)
Penghasilan tambahan gue bulan kedua 1 juta won. Gue bisa tabung sampai 700 ribu won. Sisanya dipake buat jajan makanan fancy atau sama seperti bulan pertama.
Penghasilan tambahan gue bulan kedua 300 ribu won. Gue tabung 100ribu. Sisanya jajan.
Jadi dalam case diatas, tabungan gue minimal 200 ribu won (wajib), tapi total bisa sampe 950 ribu won per bulan karena penghasilan tambahan yang sangat fluktuatif.
Kesimpulan? Lifestyle gue ga berubah banyak saat penghasilannya naik turun. Kalau penghasilan tetap yang naik, baru lifestyle bisa berubah drastis. (Again, casenya single tanpa tanggungan. Pemasukan pengeluaran tergantung gue dan gue bisa atur sendiri)
4. Urutan prioritas jangan diganti!
Please ini sebuah himbauan. Cara eksekusinya terserah masing-masing, tapi lebih baik jangan loncat.
Cash disini maksudnya tabungan dalam bentuk sangat liquid (bisa diakses kapan aja). Ga perlu terlalu besar, tapi ready buat bayar taksi pas butuh, beli obat darurat pas sakit dan sustain lu 2 minggu lah ketika gaji telat dibayar misalnya. Allowance telat turun tuh cukup biasa diawal semester, dan banyak bangetttttt mahasiswa nyebelin yang sama sekali ga punya tabungan. Mereka bisa teriak-teriak karena 3 hari telat. Please, don't.
Dana darurat buat gue artinya dana liquid (bisa dalam deposito berjangka yang boleh dicairkan sewaktu-waktu, foreign exchanges) yang jumlahnya beberapa bulan pengeluaran lu. Gue ga punya rule khusus sih berapa minimal. Gue yakin tiap orang beda-beda. Buat orang-orang yang cash rich alias ga terlalu banyak produk investasi, punya dana darurat 1-2 tahun penghasilan rasanya biasa. I was one of them, saat tahun terakhir kuliah. Gue takut ga dapet kerjaan, jadi gue beneran nyiapin dana darurat extra besar, biar bisa tetep hidup dengan tidak sengsara, misalnya gue gak langsung dapat kerjaan.
Ternyata dapat kerja sebelum lulus, akhirnya dananya sebagian kecil bisa dipakai untuk investasi muahaha.
Asuransi adalah hal wajib yang gak boleh dilupakan. Gue percaya semua orang harus punya asuransi kesehatan. Terserah lu mau pake dari pemerintah, dari swasta, atau gabungan keduanya. Lu bisa consider dari budget dan kebutuhan lu. Kalau konteksnya di Indonesia, lu merasa cukup dengan BPJS, good. JANGAN SKIP KONTRIBUSI BULANAN/IURAN meskipun bisa. Sakit kan gatau kapan, ga direncanakan. Budayakan disiplin!!!
Gue serius banget soal asuransi kesehatan karena gue (sepertinya) punya asuransi kesehatan sejak lahir dari kantor nyokap. Gue gatau coveragenya apa aja sih, tapi as a kid, gue sering batuk pilek. Pas SMP, masa-masa paling stress dalam hidup, kulit gue jadi sangat sensitif dan sempat mendadak alergi panas. Gue bisa akses dokter dengan mudah karena ada asuransi kesehatan. Asuransi ini akan hidup sampai gue umur 25 tahun. Sebelom 25, gue udah gencar cari pengganti asuransi swasta, yang bisa kasih benefit (minimal) sama dengan apa yang sudah gue dapatkan selama 25 tahun hidup.
Kenapa gue merasa butuh asuransi swasta? Benefit BPJS tampaknya belom bisa cover kebutuhan gue, meskipun gue tetep bayar dan pastiin BPJS gue aktif. Gue ga berharap gue bakal pernah pake asuransi yang gue punya sih, kan maunya sehat terus. So far so good, ga pernah ke dokter di Indonesia, selain dokter gigi sejak 2020.
Mindset asuransi sebagai kebutuhan ini tertanam dari berbagai sisi sih. Saat gue aktif diorganisasi internasional, gue lihat bahwa kita gak boleh mengadakan event tanpa mengasuransikan seluruh peserta. Gue belajar langsung soal risk management dan jadi supporter berbagai produk asuransi BUKAN sebagai medium pencari untung, tapi untuk manage resiko. So travel insurance setiap mau keluar negeri, activity insurance setiap sebelum aktivitas diluar kebiasaan dan tentu, askes yang selalu aktif.
Saat pindah ke Korea pun asuransi kesehatan jadi hal pertama yang gue pastikan setelah rekening bank dan kartu internasional. Gue bener-bener baca setiap poin polisnya. Gue paham ga semua orang punya passion baca berhalaman polis asuransi, tapi gue menyarankan semua orang untuk selalu invest waktu baca baik-baik polis mereka. Bulan ke 6 gue di Korea, gue udah langsung pake askes gue buat operasi plastik (mereka sendiri yang bilang itu 'oplas'). Ditanggung, setelah deductible. Deductibles itu konsep yang biasa di Amerika dan Korea, so it helps to know these terms.
Apa gue tetep perlu asuransi di Indonesia saat gue tinggal di Korea? Sebelom pandemi, mobilitas gue super tinggi. Gue bisa pulang 5x dalam setahun, so saat mobilitas itu kembali nanti setelah pandemi, gue pilih tetep punya askes aktif. Pilihan lainnya ya gue harus beli travel insurance (subscribe tahunan, jadi ga pusing beli setiap sebelum trip).
Investasi akan jadi step setelah hidup lu terproteksi. PILIH INSTRUMEN INVESTASI YANG NYAMAN BUAT LU. Pilih instrumen akan jadi kegalauan hidup yang paaanjaaaang, terutama buat temen-temen yang masih belajar produk keuangan dan investasi. Buat gue, gue punya dua pilihan saat awal belajar. Mau invest waktu buat belajar teori sebelom praktek, atau mau invest uang buat learning by doing?
Gue pilih yang kedua. Gue ready untuk menanggung loss, kalau gue salah langkah. Soalnya gue merasa ga terlalu paham saat belajar teori, baik independen maupun di kampus. Jadi gue langsung aja eksekusi, punya akun saham sejak 2018, lalu beli reksadana dan SBN sejak 2019. Gak selalu profit, apalagi diawal-awal. Tapi gue anggap ongkos belajar. Lama kelamaan, jadi paham juga. Tahun 2020 pas pandemi, jadi berani dan berakhir manis karena bisa profit lebih dari 20%.
Tapi ga semua orang kaya gue kan...
Kalo lu ga nyaman kehilangan uang, lebih suka yang aman-aman aja, gue rasa bisa mulai dari beli Surat Berharga Negara. Kuponnya tetap. Kalo lu ga terlalu peduli dengan performa dan nilai SBN yang lu beli against market rate, inflasi dan NPV, it's a greaaaat and safe. Hampir sama kaya deposito, bedanya ga usah khawatir bunga dipotong. Lu juga bisa beli reksadana pasar uang, yang nilainya hampir selalu naik. Tapi yaa performanya bisa mirip-mirip sama deposito. Do your own research.
Keep in mind, apapun yang lu pilih, prinsip dasar investasi selalu HIGH RISK, HIGH RETURN. Lu ga bisa mengharapkan high return dari produk yang relatif aman. Kalo lu masuk ke instrumen yang super risky (seperti crypto), lu harus punya strategi ATAU ready kehilangan uang. As easy as that.
One tips, kalo lu gatau mau pilih apa dan butuh saran personalized dari ahlinya, kontak financial planner. Tentu ilmu dan jasa konsultasi financial planner umumnya berbayar. Tapi dibanding lu kehilangan uang lebih banyak karena salah arah, lebih baik invest untuk pengetahuan didepan kan?
OK ternyata postnya jadi panjang. Gue bakal lanjut ke part 2 dengan contoh budgeting yang gue lakukan dan bagaimana gue mereview 6 bulan pertama gue dengan penghasilan dan lifestyle baru. Post ini baru cerita logic dari keputusan atau steps yang gue ambil. Prakteknya tentu sangaaaat memakan waktu. I spent hours dan hopefully bisa bertahan on track sampai akhir tahun. =)


Thanks, Mba Lir! Waiting for the second part ofc :)
ReplyDeleteGreat to look over. Thanks in advance
ReplyDelete