Sunday, February 19, 2023

Cerita Penuh Cinta 2023

Gue memulai tahun dengan tekad ingin jadi pribadi yang lebih sabar, tidak meledak-ledak, gue pengen belajar untuk lebih bijak sebelum bertindak, dan lebih bisa mengontrol emosi. Amazingly, jalan gue dipermudah. Gue bisa dengan mudah berkata kalau gue sedang dalam keadaan sangat bahagia dan relaxed diawal tahun 2023 ini. 

Sebenarnya cukup mengejutkan, mengingat gue ga punya pencapaian atau rutinitas baru. Hidup seperti biasa, dan biasa-biasa aja. Tapi ternyata gue merasa damai, content, dan hopeful. So apa yang berubah, selain punya tujuan dan target baru untuk jadi orang yang lebih sabar? My outlook in life? My circle? My wealth? My… what?

Jawabannya gak straightforward. Prosesnya gak simple. Mungkin titik awalnya adalah disaat gue consciously put effort untuk jadi lebih sabar, untuk sebuah hubungan personal. Biasanya sabar cuma untuk hubungan professional, karena gue butuh atau lihat value langsung. Kalo hubungan personal, gw merasa bisa lebih candid dan gak perlu terlalu banyak kompromi. Take it or leave it, ga cocok sama gue ya gapapa. Logicnya mungkin aneh, tapi rasanya menggambarkan attitude atau pilihan gue yang cenderung lebih memprioritaskan hubungan kerja (dalam konteks tertentu).

Gimana kok tiba-tiba berubah?

Gue rasa ada dua faktor utama. Satu, keinginan (internal) untuk jadi orang yang lebih sabar dan pengertian – area yang benar-benar bukan comfort zone gue. Gue ga pernah punya rencana konkrit dan detail bagaimana ini akan terealisasi. Selain menunda marah saat ada hal tidak menyenangkan. Dua, new character masuk ke dalam hidup gue (external) yang ternyata menjawab keinginan nomor satu terjawab. Kehadiran new character ini membuat gue belajar banyak hal baru. This new character happened to be a straight male, with high level of sensitivity and amazing sense - something that I do not have.

Temen baru ini punya energy level yang sama. Gue pertama kali ketemu dia diakhir Oktober, pas lagi hiking. Nothing surprising, kalo hiking emang banyak ketemu orang baru. Nyambung, tapi ga nyangka kalo di penghujung tahun 2022, intensitas chatting kita bisa sangat tinggi. Bisa sampe level dari bangun tidur sampai tidur lagi. Progress saling kenal berjalan sangat cepat, sampe-sampe kita bisa ketemu lebih dari 2x dalam seminggu.

Topik yang dibicarakan ga abis-abis. Hal sepele sampe prinsip idup, meme sampe politik. Gak pernah perlu tanya hal-hal basa-basi kaya udah makan atau belum, karena emang selalu ada hal yang lebih penting. Mudah untuk bilang ini PDKT, atau kalo versi temen foreigner gue yang gak punya fase PDKT, gue dibilang udah level pacaran. Yes, I do feel loved, but no, we are not dating.

Confusing much?

Well.

Gue memulai hubungan ini dengan terbuka, dan sampai saat ini masih terbuka. Ga ada objective khusus selain gain wisdom dan bisa lebih mature. Secara sadar, gue bertekad untuk lebih sabar, lebih logis. Gue sangat bersyukur dipertemukan dengan teman yang nyambung, I respect his effort, his energy and his time. Gue mau membuat kita saling nyaman, tanpa paksaan.

Hari in bestie, lusa jadi enemy. Bisa. Tau-tau nikah juga bisa. Gue fokus sama 'today' aja. Gue menuliskan perasaan yang gue rasakan hari ini. No regret. Bisa tiba-tiba berubah. One thing for sure, today I feel very grateful for his existence yang udah ngajarin gue banyak hal, termasuk objektif awal: gaining wisdom and maturity.

Salah satu hal yang paling gue syukuri adalah kemudahan berkomunikasi, gak perlu pake kode, dan gimana gue bisa nanya apapun ke dia. Gue ga perlu melimpahkan tulisan ke blog atau twitter, selain ucapan syukur dan luapan perasaan yang ingin gue kenang 5 tahun lagi. I talk about everything to him. He does not always give me the response I wanted, he does not always listen. But here comes the learning process. I am happy to feel unhappy and disappointed, soalnya gue bisa proses secara sehat. Yang biasanya marah-marah, sekarang bisa tahan dulu. Gue bisa nyaman untuk membicarakan hal tersebut, meski gue sedang berada diluar comfort zone.

I welcome all the negative feelings. I embrace the positive feelings. I am being genuine, while he is using me as pelarian. I stay. I choose to. Why? Kok bego? Well, I feel happy. I learn so much. So there is no reason to be mad?

My closest friends kaget gue bisa sesabar ini, dan tentunya suspect kalo gue menaruh harapan lebih untuk bisa jadi pasangan teman baru ini. Sad to announce that currently, it is not in the cards. Tuhan yang maha membolak-balikkan hati, I really do not see us going anywhere. Tuhan bakal selalu kasih yang terbaik dan yang gue butuh, bukan yang gue mau. Saat ini, gue rasa pertemuan dan setiap interaksi dengan dia pun bagian dari rencana Tuhan. Gue udah belajar banyaaaaak banget dari teman ini, gue yakin masih banyak rencana Tuhan dalam hubungan ini. Entah itu rencana yang bakal terjal berliku-liku, atau rencana yang mudah dan indah.

So yes, I am very grateful and happy that I met someone that I really cherish. His presence might not last forever, but it has been very inspiring and heartwarming for me to navigate the beginning of 2023 with him. No regrets, really. 

No comments:

Post a Comment