Traveling provides the opportunity to reconnect with myself
Gue masih suka traveling gila, ke tempat-tempat aneh tanpa alasan yang pasti. Cuma pengen aja. Traveling masih jadi sumber kebahagiaan gue. Kali ini alasannya beda.
Dulu, gue traveling for the thrill. Buat pengalaman baru. Buat lihat dunia, sekaligus buat pelarian. Buat nambah wawasan, dan cari kebahagiaan dari hal-hal baru yang gue temui selama diperjalanan. Sekarang, gue traveling untuk bisa mundur sejenak dari realita dan merenung sendiri, sambil mencari kebahagiaan dari tempat yang gue kunjungi.
Dulu, titik beratnya ada di 'destinasi'. Sekarang, lebih ke my own attitude. Tempatnya bisa jelek dan aneh, tapi gue merasa bahagia karena ada hasil atau outcomenya. Penyusunan agendanya pun berubah. Dulu, masih ambis pengen liat ini itu, coba semua yang ditawarkan di destinasi tersebut. Sekarang, gue bisa terbang belasan jam untuk doing nothing. Ada kalanya, gue mau punya waktu untuk refleksi disaat gue lagi berada di belahan bumi yang lain. Ga perlu pause, merasa sayang "KAN UDAH SAMPE SINI, masa di hotel atau kafe doang?"
Well, fleksibilitas yang gue miliki membuat gue yakin selalu bisa kembali ke sana, if I want to. Gak perlu ngoyo. Dulu, I would take any traveling opportunity, sambil kerja, sambil volunteer. Sekarang, gue bisa menolak travel plan yang dirasa akan menyiksa diri sendiri. I have learned so much about myself.
Time > Money
Dulu gue melakukan apapun untuk hemat uang. Pokoknya semua hal pilih yang paling hemat. Nginep di hostel, ambil penerbangan jam paling pagi atau paling malam, strategize cara buat traveling gratis dan berbagai hal gila lain. Sekarang, gue belum bisa memilih semua sesuai keinginan, tapi gue gak perlu menjadikan nominal uang sebagai prioritas utama. Gue udah rela bayar untuk tidur di hotel yang lebih nyaman dan lebih mahal, gue picky sama maskapai yang gue naiki, gue rela bayar lebih mahal untuk jam terbang yang lebih baik.
Prioritas idup gue berubah. Gue mau bayar lebih untuk menghemat waktu, atau mendatangkan kenyamanan. Ini hal yang gue pelajari selagi gue menjadi dewasa. Dulu gue ga paham kenapa nyokap gue harus naik hanya maskapai tertentu dan nginep di hotel dengan standar tertentu. She works really hard, she wants to enjoy her own hard work. This is why she works hard.
Time > Money juga jadi alasan kenapa gue terus menerus traveling. Gue gatau gue dikasih umur sampai kapan, gue gatau gue punya kemampuan fisik sampai umur berapa. Selagi gue bisa, gue pilih jalan-jalan. Uang tetap sangat penting, tapi bukan lagi yang utama. Uang selalu bisa dicari. Gue sering berpikir, kalo gue sekarat atau terkunci karna situasi (kaya pandemi), uang jadi gak berarti. Penyesalan soal "If only I did..." akan menghantui.
Tapi perlu diingat, gue bisa bilang gini karna privilege gue yang udah selesaikan semua kewajiban dasar keuangan gue.
#bepresent for my loved ones
Gue gak punya masalah dengan low self-esteem atau trust issue, tapi gue pernah punya kecenderungan egois dan merasa bisa semuanya sendiri. Gue pernah merasa gak butuh maintain teman. Saat ini, gue justru sangat memprioritaskan hubungan gue dengan orang-orang yang gue sayang. I want to be there for them. I want to be reachable. I want to love, as much as I want to be loved.
Dulu, cara gue show up mungkin dengan gifts. Gue copy cara ini dari nyokap gue. Tapi ternyata, menghujani teman dengan hadiah hanyalah sebuah bentuk basic courtesy. Lu gak bisa buat temen stay dengan terus-terusan kasih hadiah atau harta benda. Gue merasa harus jadi orang yang worth to keep, dengan menjadi pribadi yang baik. Gue pilih quality time sebagai medium untuk menunjukkan cinta gue. I will always be available buat orang yang reach out gue, jam 4 pagi, jam kerja, hampir setiap saat. Gue akan kasih effort terbaik, fokus, dan gak perhitungan waktu untuk bantu teman yang meminta bantuan.
Response rate gue masih sangat tinggi. Konsisten, sejak dulu.
Gue gatau apakah bentuk hadir ini akan sampai dan diterima, as not everyone could see and receive love. Tapi gue gak ambil pusing. Interaksi gue dengan teman-teman yang beragam dan lebih dewasa membuat gue meyakini bahwa I have to focus on things within my control. I need to work on myself. Fokus aja memperbaiki diri sendiri, menjadi pribadi yang gue inginkan. Gue ga perlu pusing apakah gue akan disukai, dibenci, atau dicaci. Gak harus overthinking cintanya bakal sampe atau ngga. I will attract people yang memang satu visi.
Pay it forward
Gue generally dalam keadaan yang sangat baik dan penuh syukur saat ini. Gue sering berpikir, "how did I get here?"
I got here karena gue menerima banyak bantuan dan cinta dari orang-orang baik, kenal ataupun gak kenal. I got here karena ada orang-orang yang merangkul gue, disaat-saat terendah gue. I got here karena kepercayaan buta dari orang asing, bahwa investing on me was going to be worth it.
Ada banyak sosok yang menyelamatkan gue dari masa-masa sangat gelap. Kalo ada hal yang bisa gue lakukan untuk balas budi langsung, I would. Tapi sayangnya, keadaan ga selalu memungkinkan. Gue selalu berdoa kebaikan mereka dibalas berlipat ganda sama Tuhan dan semesta, sambil janji bahwa I would do my parts in helping others too.
Komitmen ini tampaknya menjawab pertanyaan yang akhir-akhir ini menghantui gue, why do I attract people who need healing? Atau why do I attract emotionally unstable people?
Mungkin salah satu alasannya karena gue pernah berada di posisi itu dan gue bisa bangkit. Gue pernah dibantu, dengan penuh ketulusan, tanpa pertanyaan. Sekarang, gue jauh lebih stabil dan secure, makanya gue dikasih kesempatan untuk membantu - dengan cara gue sendiri.
Salah satu contoh yang paling berkesan dalam hidup gue, dan gue masih selalu nangis saat mengingat masa-masa ini (I am crying really hard as I type this). Gue gak bisa (atau gak mampu) jadi orang sesabar Bu Tri Murti, wali kelas gue saat kelas 7 dan 8. Bu Tri lihat dan sadar gue sangat-sangat stressed, emotionally unstable, dan meledak-ledak. Gue jadi benalu. Sepertinya saat itu, gue juga ga punya teman dekat. Bu Tri ga banyak memberikan pertanyaan. Bu Tri kasih ruang buat gue mengekspresikan kemarahan, kesedihan, kekecewaan gue dan mendengarkan. Bu Tri lalu kasih solusi yang masih masuk dalam kapasitas beliau, sebuah gesture yang benar-benar berarti dalam hidup gue. Gue bilang kalau gue gak pernah merasa nyaman di rumah. Gue bilang gue gak bisa kerjain tugas dan PR di rumah, gue gak bisa konsen di kelas, gue melakukan banyak kenakalan yang berasal dari ketidakpuasan di rumah. Tanpa judgment, beliau bilang "Kerjain tugasnya di meja ibu aja. Kalau ada yang harus di print, print di tempat ibu."
Gue gak dimarahin karna ngerjain PR di sekolah.
Gue gak dapet predikat buruk karna gue gak melakukan kewajiban gue sebagai siswa.
Gue ditawarkan solusi, yang gak pernah ada di manual manapun.
Gak cuma itu, beliau memperhatikan gue on a personal level. SMS gw disaat-saat penting, kasih semangat dan pesan positif. Hal ini menjadi memori hangat dan meninggalkan kesan yang mendalam. I can be loved. I can love someone who does not know how to love, without expecting anything in return. One day, he or she will understand the value of that love.
Memori akan kebaikan ini gue bawa terus, dan gue pun tanpa sadar 'mengikuti' apa yang beliau ajarkan. Saat ada teman yang datang ke gue dengan segala emotional baggagenya, I would listen attentively. I would try to understand them. Gue gak peduli kenapa orang ini datang totally wrecked, all I know kalo dah cari gue, ya I would do my best to be present - selama gak clash dengan value dan prinsip gue. Gue gak pernah menawarkan solusi untuk masalahnya, tapi gue bisa menawarkan bantuan lain dalam kapasitas gue.
Perlu diingat, feedbacknya TIDAK SELALU positif. Gue bisa mencurahkan waktu dan energi, only to be ignored atau worse, dibantah. Vibenya bisa negatif banget, terutama sama orang-orang yang stubborn. As I grew up, I learned that some people just do not know how to receive love. Gak pernah dicintai atau terlalu fokus sama sakit hati, jadi gak tahu harus apa ketika menerima cinta. But again, this was me 15 years ago. Gue menolak kasih sayang, just because it did not come in a form that I expected.
Masih banyak kejadian-kejadian lain dari masa lalu yang akhirnya membuat gue berkomitmen untuk pay it forward. Semoga bisa konsisten dan bisa banyak yang terbantu.
Conclusion
Dipikir-pikir, di tahun 2023 tidak ada tema besar baru. Gue masih terus ingin jadi pribadi yang bersyukur dan punya umur yang berarti. I want to bring positive impact to my community. Kalau wish pribadi, rasanya gue pengen diberikan lebih banyak cinta, wisdom dan maturity. I hope to attract more love and positive vibes la kalau gue bisa jadi pribadi yang lebih baik.
No comments:
Post a Comment