Hari ini, gue diingatkan lagi dan lagi kenapa dia bukan orang yang baik buat gue. He is a people pleaser, sampe ga bisa bikin keputusan (yang menurut gue) sederhana, karena terlalu banyak orang yang dia pikirkan. Main stakeholders dia ada dua, dan untuk keputusan sederhana ini, dua-duanya punya pendapat yang berbeda. Menurut gue, tinggal dia buat aja keputusannya, sesuai keinginan dia. Toh he would have one stakeholder supporting anyway. Tapi buat dia ga semudah itu.
Maju kena, mundur kena.
Dalam proses ini, gue melihat bagaimana dia meletakkan dirinya sendiri sama dengan urutan prioritas yang dia punya buat gue: so freakin' low.
Gue ternyata kesal dan frustasi melihat proses tersebut. Gue cuma melihat, gak komen dan gak dimintai pendapat juga. Tapi saking keselnya, gue nangis. Bukan karena gue merasa dia harus memfaktorkan gue dalam keputusannya, tapi karena "wow you really do not know how to prioritize yourself."
Selain itu, waktu kita bareng akan berakhir sebentar lagi. This is a fate that was informed early to me. Dengan niat yang baik, gue mau dia bahagia di minggu-minggu terakhirnya. Gue disadarkan cara dia menghabiskan waktu yang menyenangkan itu berbeda dengan gue. Dia ga suka ketemu orang yang bukan dari negaranya, karena faktor bahasa. Dia merasa diundang ke berbagai kesempatan informal dan casual buat ketemu temen-temen gue itu sangat stress dan membebani dia. Buat gue, it is a way to include him to my world. Tapi dia ga mau dan ga happy.
Minggu ini, gue mengundang semua orang projek buat international dinner bersama temen-temen gue yang dateng dari luar negeri buat event. Tapi diantara orang projek, dia doang yang bisa hadir. Saat dia nanya rundown, dia plan untuk datang sesuai jadwal dan pulang seawal mungkin. Disitu gue sedih. Bukan karena dia mau pulang cepet, tapi karena gue jadi inget. Agenda ini bukan agenda yang sparks joy atau menyenangkan buat dia.
So I decided to say it to him. Kalo ga happy, ga usah dateng gapapa kok. Waktu lu ga banyak. Please prioritize only things that make you happy.
Dia bilang dengan firm bakal dateng, ini rare opportunity. Dia ga merasa terpaksa.
It feels like a forced formality to me.
Meski sudah terus terang, gue masih merasa sangat sedih. Kalo dia jawab ga mau dateng, mungkin it feels like a confirmation. Emang dia ga bisa bahagia, saat gue jadi diri gue sendiri dan melakukan hal-hal yang gue sukai (termasuk hosting teman kaya plan minggu ini). We are different. Mungkin akan tetap sedih, tapi ga ada plot twist yang harus gue antisipasi.
Dia jawab bakal dateng pun bukan jawaban yang bikin gue bahagia. Gue sedih, karena I have to steal his time for something that he does not like dan buat gue, waktu adalah sesuatu yang sangat berharga karna ga bisa balik lagi. I feel like forcing him to give something so precious, yang mana gue juga ga bahagia menerimanya, buat dia pun ga akan jadi kenangan yang baik.
So this is how it ends. Ga ada penyesalan sih, meski yes tetep sedih.
No comments:
Post a Comment