Thursday, September 10, 2026

Wedding Weekend to Wedding Week

Sudah hampir seminggu setelah wedding week adek gue berakhir. Gue mendapat kehormatan bisa dikunjungi teman-teman dari berbagai negara. Ada banyak plot twist, terutama karena bandara ditutup sampai 2 hari setelah wedding berakhir (6 dan 7 September). So temen-temen gue jadi ga bisa pulang ke negaranya sesuai rencana.

Acara ini bukan wedding gue. Pemeran utamanya ya bukan gue.
Gue ga terlibat dalam perencanaan. Gue awalnya cuma mau mengundang 2 teman Bogor gue, Luluk dan Vanda. Gue ga berharap teman-teman yang lain datang, karena lokasi yang jauh dari Bogor atau Jakarta.

Nyokap gue yang gak konsisten itu tiba-tiba berubah konsep. Dari kecil dan sederhana jadi lebih proper dan bisa undang siapa aja. Nyokap gue pun mengundang boss dan teman-teman Jakarta gue. Lalu gue mulai expand list undangan ke... teman-teman dekat gue dari luar negeri.

Gue ga punya banyak waktu, gue sendiri baru tau rundown acara h-1 bulan. Undangan baru ada h-10 hari? 14 hari?

Ditengah waktu yang sempit itu, gue mengontak temen-temen gue TANPA undangan. Gue pake essay, bilang perspektif gue. Gue paham lu jauh, ga perlu dateng. But I love you, so I am inviting you.

Tapi temen-temen gue ternyata langsung say yes. Tanpa mikir. Langsung komit. Gue yang ngundang, gue yang kaget.

segampang itu...

Endingnya berkumpul lah teman yang terbang dari Korea, Taiwan, Kamboja, Vietnam, dan Malaysia. Plus 3 Filipino yang emang tinggal di Jakarta. Masing-masing dengan strugglenya sendiri. Yan, bestie gue yang tinggal di Taiwan, harus pulang ke Malaysia dulu buat bikin paspor. Ci Anita, yang tinggal di Korea, beneran padat jadwalnya. Pulang kerja hari Jumat terbang ke Jakarta terus Minggu langsung balik lagi, buat kerja di hari Senin. Ry, dari Malaysia, merelakan weekend terakhir dia di Malaysia sebelum pindah negara buat visit gue.

Semua bener-bener totalitas dan menyentuh. Akhirnya gue pun plan 3 days weekend. Welcome dinner hari Jumat, serangkaian wedding day + jalan-jalan di hari Sabtu, chill dan thank you dinner di hari Minggu. Asumsi gue rata-rata pulang hari Senin, so 3 hari bersama cukup.

Manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang menentukan.
Bandara tutup di hari Minggu dan Senin so temen-temen gue punya extra day di hari Senin. Yan malah decide pulang hari Kamis, so dia di Indonesia selama 1 minggu penuh. Ga ada agenda khusus, istirahat dan leha-leha aja.

Gue... bersyukur sekaligus khawatir. Khawatir gue ga bisa full hosting mereka karena kerjaan, tapi bersyukur karena gue punya banyaaaak extra time buat catch up. Gue memang sudah mempersiapkan logistik secara cukup matang, tapi gue cuma 1 orang yang harus berbagi perhatian ke banyak tamu. Pasti ga bisa totalitas dengan semua orang di hari H.


Ada banyak highlight di wedding week kali ini. Semua temen gue dateng. Temen yang gue kira ga bisa dateng, ternyata bisa dateng. Boss yang gue kira akan bosan, ternyata bisa stay sampe lebih dari 2 jam di venue. Thank You Dinner yang gue kira akan sepi, ternyata sangat berkesan karena ada lebih banyak teman yang dateng. Gue happy dan bersyukur banget.

Krisis gak bisa pulang buat temen-temen gue juga jadi highlight.
Maybe I needed that. Maybe Tuhan tau gue masih butuh temen-temen gue stay lebih lama. 

with my current boss(es)

Ada banyak self realization juga. Seperti how lucky I am punya temen-temen yang selalu ready. How blessed I am punya dunia yang terintegrasi, keluarga, pertemanan dan kerjaan. Jujur, gue tersentuh banget pas boss gue pergi untuk sebuah urusan ditemani dua temen gue yang mereka baru ketemu untuk pertama kali, terus gimana gue boleh mengurangi intensitas kerja saat temen-temen gue disini, dan terkejut pas cowo linglung bayarin dinner sama teman-teman gue yang buanyaaak itu, dan terakhir, saat bos besar secara random ngajak Yan makan dengan antusiasme yang tinggi. 

Integrasi. Ini mungkin kata kuncinya. Gue ga perlu jadi orang yang berbeda dengan status sosial yang berbeda, sebagai anak, sebagai teman, atau sebagai pekerja.
Gue ga perlu mikirin gimana berbagi waktu dan tenaga, karena gue boleh anggap mereka semua sebagai circle gue.

I am spending my last days of being 20s being fully loved and supported, memories from this week will surely stay with me for a long long time.

No comments:

Post a Comment