Friday, December 28, 2012

Live In 2012 : Persiapan

Live in itu apa sih?
Awalnya gue bener-bener blank dengan kegiatan 'live in'. Bahkan gue baru denger tentang live in itu pas udah masuk SMA. Gampangnya sih live in itu hidup dan berkegiatan di desa, kaya Jika Aku Menjadi gitu.

Tahun ini, live in dari sekolah gue berlangsung pada tanggal 14-20 Desember 2012. Awalnya gue mikir, itu lama banget. Belum lagi bayangan gue soal desa dan rumah yang bakal gue tempatin itu cukup parah. Lantai tanah, deket ternak, ga ada ruangan apalagi tembok, dapur yang kotor dan gapunya plafon. Gue bisa membayangkan hal seperti itu karena gue udah beberapa kali ke kampung mbak-mbak asisten rumah tangga yang ada di Sragen dan Ngawi. Ga hanya rumah, membayangkan harus ke sawah, berlumpur-lumpur dan ketemu ular juga bikin gue panik berat sebelum berangkat...

Saat dapet pembagian wilayah (1 angkatan dibagi ke 3 wilayah dan tiap wilayah dibagi lagi ke dalam beberapa lingkungan), gue makin bete. Gue ditempatkan di wilayah Kerug, yang katanya paling desa dibanding dua daerah lain, Nanggulan dan Kalirejo. Woops... Terbayang deh tidur harus pake masker, mandi bareng ikan atau bahkan ga mandi... Pake tissue basah aja.

Pada akhirnya, live in adalah kegiatan yang ga bisa ditolak meski gue sempet punya rencana hujan-hujanan sebelum live in biar sakit terus ga ikutan. Lagipula, gue punya teman serumah yang seperti malaikat, kasian banget kan kalo ditinggalin sendirian. Entar dia ga ada temen jadi kambing, ups maksudnya jadi vegetarian. Herbivora murni, muahaha. Mettaaaa~!

My roommate!

Sebenernya bagian paling seru pas live in itu... Persiapannya yang heboh. Muahaha. Diawali dengan drama soal tas. Gue ga punya tas jinjing aka travel bag sama sekali. Kalo koper sih banyak. Masalahnya, gue gamau jadi princess dadakan dengan dandanan heboh dan koper yang ga kalah menarik perhatian. Akhirnya, setelah dengan berani malu SMS temen-temen SMP untuk mencari pinjaman tas, Metta yang kasihan mendengar cerita gue pun memberikan sebuah tas jinjing. Tasnya keren (apalagi gratis) dan kembar sama Metta! Yippi!

Untuk pakaian, gue sih simple banget. Semua kaos-kaos alay dan celana-celana rumah gue bawa. Harapannya, pas pulang gue tinggal aja tuh baju, muehehe. Gue juga bawa 2 kain bali, selimut dan 2 sandal jepit. Satu untuk di rumah, satu untuk dipake jalan. Perbekalan yang cukup ribet. Karena takut banget ga bisa makan, gue bawa 6 sachet mashed potato instan dan nori tempura yang bisa dijadikan lauk. Gue males bawa roti dan berniat diet dengan jalan pintas, "kalo ga bisa makan yaa puasa aja~". Ga lupa, gue juga bawa cookies merba dan oreo, topping andalan buat makan roti tawar :9 Sebenarnya makanan yang gue bawa itu sedikit. Cuma yang bikin berat adalah 4 botol air mineral ukuran 660 ml. :D

Gue cukup puas dengan kemampuan untuk 'meminimalisir barang bawaan'. 1 tas jinjing, 1 tas ransel plus 1 tas tangan yang bisa dilipat. Tapi semalam sebelum keberangkatan, Ibu memulai drama yang ga perlu...
"Udah bawa masker kak? Ntar tidurnya sebelah ternak loh, hiii~!"
"Bawa tembakau sama garem! Pasti ntar temen-temennya butuh juga tuh! Kalo ada binatang, gimana? Bawa kain juga, ntar di kasurnya banyak tinggik loh, di jahitan-jahitannya itu, bikin gatel-gatel..."
"Ntar mandinya gimana? Pipisnya gimana? Tissue basahnya yang banyak, biar bersih tuh. Autan juga! Ntar gatel-gatel banyak nyamuk"
Mendengar semua nasihat ribet itu pun gue jadi cukup panik. Gue cerita ke Metta dan respon dari Metta serta Mamanya adalah... "Hih! Udah jangan aneh-aneh bawanya, gausah ribet-ribet!"
Yes, my mom is living her life in her princess standard.

Akhirnya, saat-saat keberangkatan pun tiba. Tanggal 14/12, semua anak kelas XI dikumpulkan untuk briefing jam 12. Sekolah juga membagikan buku panduan yang didalamnya terdapat lembar refleksi yang harus diisi, juga kamus bahasa jawa, 2 kartu barang dan sebuah ID peserta untuk tiap anak.



Jam 13.30 rombongan sekolah yang terdiri dari 6 bus pun berangkaaat!
Meski jalannya bikin mual dan ga nyaman (via jalur selatan), Metta and I got the best seats. It lessened the pain quite much. Well, at least we could straightened our feet when the others could not. We had the most spacious seats in the bus, hehe.

Keesokan harinya, setelah melalui perjalanan panjang, akhirnya bus 5 tiba di sebuah pertigaan. Bukan di rumah, di kapel atau di perkampungan. Yep, selanjutnya kami masih harus menaiki TRUK untuk dapat mencapai wilayah Kerug di Magelang, Jawa Tengah itu.

Bersambung~

2 comments: