My previous post was very vague that I did not even know what I was trying to say. Gue cuma ngerasa enlightened banget setelah ketemu si mbak yang gue bilang. Tapi sekarang gue sadar apa yang gue mau omongin, setelah beberapa hari mikir! HAHAHA.
Gue dapet beberapa email yang isinya tertarik dengan sesuatu (mainly the things I mentioned in blog, semacam KGSP, volunteering dsb) tapi takut ditolak. Beberapa malah bilang secara jelas bahwa mereka capek ditolak, hidup penuh penolakan. Let me just be very honest with you: gue gak punya simpati dengan cerita hidup orang yang bilang hidupnya penuh dengan penolakan.
Bolehlah dibilang hidup gue super nice, indah warna-warni kaya pelangi, smooth and wonderful. Gue udah dengar sejak gue SD betapa orang pengen jadi gue, pengen dapet ini itu dan pergi kesana sini. I am proud and I am happy. Perfect kan? Tapi itu adalah bagaimana gue mengatur kesan orang terhadap hidup gue. In reality? I still get rejection letters occasionally.
Mungkin yang membedakan gue adalah gue jarang banget bitter atau kesal soal rejection yang gue terima, kecuali kalo emang terasa ga adil. Gue selalu cari tahu kenapa gue ditolak, tapi gue cenderung menerima, gak menuntut tapi juga gak berputus asa. Mungkin perspektif agama gue sangat membantu, sekeras apapun kita berusaha kalau memang belum diridhoi dan bukan rejekinya ya gak akan dapet. Sebaliknya, seganiat apapun kalau memang dibukakan jalan disitu, ya dapet aja.
Dibanyak events dan kesempatan, gue cenderung menjadi orang termuda. Waktu gue SMA, ada beberapa events yang dibuka hanya untuk mahasiswa dan gue daftar, eh keterima. Bukannya sombong, itu malah sebenarnya menakutkan. Mengintimidasi. Iya gue bisa terlihat 'keren', bisa banyak belajar, tapi itu gak merubah fakta bahwa gue masih under-qualified. Gue yang mungkin top notch in my own circle, mendadak jadi the least qualified person yang gak bisa diandalkan dilingkaran diatas gue.
Tapi hidup bergerak secara misterius dengan jalannya sendiri hingga akhirnya gue sampai diposisi dimana gue menjadi seorang recruiter yang menentukan kriteria, merekrut, menerima dan menolak orang untuk membuat sebuah tim yang baik. Terdengar fabulous, sesuatu yang bisa dibanggakan dan dipamerkan tapi sebenernya it is a very painful journey.
Skip cerita standar dimana gue harus rekrut orang untuk lomba, panitia OSIS dsb. Pengalaman besar pertama gue adalah ketika gue harus melakukan seleksi untuk tim Projek Malaysia gue. Ada sekitar 60 aplikasi yang masuk, mungkin hanya 10% dari aplikasi yang masuk lebih muda dari gue. Gue masih anak kelas 12 SMA saat itu. Lo tau rasanya baca CV orang-orang yang pencapaian dan pengalamannya merasa lo bagai katak dalam tempurung? Lo tau gimana rasanya baca essay yang lo gak bisa ngerti dalam dua-tiga kali baca karena Bahasa Inggrisnya seperti level Shakespeare? Lo tau gimana lo cuma bisa terpukau baca cerita hidup mereka, seketika merasa ciut karena lo bukan siapa-siapa?
Kemudian gue lupa bahwa tugas gue harus menilai mereka. Menerima atau menolak mereka.
It was not a beautiful experience. Personally, gue terbeban moral bahwa "berani banget gue ngereject mereka, padahal gue bukan siapa-siapa". Tapi professionally, gue adalah Human Resources (HR) manager yang (harus) kejam dengan pemikiran "lo keren, lo amazing tapi bukan master lab dengan sederet riset dari sekolah nomor 1 didunia yang gue cari". Seleksi dokumen bener-bener susah tapi masih ada yang lebih challenging. Wawancara.
Wawancara orang-orang dengan kualifikasi tinggi artinya mereka tahu bagaimana membuat impression yang baik. Mendadak semua cerita terasa sama, diulang-ulang dan gue sempat jenuh dengernya. Lo dituntut harus jeli, cari celah dan bertanya balik bukan sekedar menerima. Lo harus mengontrol dan mengarahkan interviewnya bukan malah diarahkan.
Wawancara yang super menguras konsentrasi sudah, masih ada tantangan lain. Ketemu mereka. Disaat lo ketemu, lo gak boleh dong keliatan minder karena umur atau kualifikasi. Mau seberapa humblenya diri lo, you do HR for a reason. For you to direct them, not the other way around. Ini tantangan yang belom terjawab sampai saat ini. Gue masih bego banget soal ini, karena masih kurang pengalaman.
Tahun ketahun, gue makin banyak ngerjain HR. Skalanya bukannya makin kecil malah makin besar. Gue pernah harus merekrut orang (senior-senior gue lebih tepatnya) untuk sebuah perusahaan besar di Korea. Dudums. Kebayang gak perasaannya macem apa, dikontak mbak-mbak dan mas-mas yang lagi cari kerjaan untuk sedikit konsultasi ngelamar kerjaan, sedangkan orang yang mereka ajak bicara kuliah aja belom... "Mbak, saya pengen nih ngelamar, tapi nanti interviewnya gimana ya? Terus lingkup kerjanya sama orang yang dicari yang kaya apa sih mbak?"
Lah saya juga belum pernah kerja disitu mas. Tapi ga mungkin kan gue jawab gitu, karena gue yang rekrut, masa gue clueless gitu. Kemampuan bahasa diplomasi pun harus dipelajari disini, dimana lo memberikan kesan kepastian tanpa menjanjikan apapun.
Gue masih belom berkembang banyak di HR but experience speaks. Temen gue bilang kalo gue bikin essay penuh dengan descriptive words dan gue lebih suka 'dig deeper' satu topik daripada membuat report yang penuh pengetahuan dari berbagai sisi berbeda. Kalo gue nanya orang, suka dianggap kaya scanner. Temen sekelas gue bilang, "Lo inget gak pertama kali masuk, lo nanyainnya kualifikasi SMA orang-orang? I felt like you were scanning and mapping your future opponents"
Ketika bicara dengan orang pun gue cenderung 'kepo' kelewatan. Ini percakapan gue dengan dosen muda yang lagi S3.
"Kenapa minat ngajar?"
"S1nya jurusan apa?"
"Wah jurusannya jauh dari bisnis, kenapa ngambil bisnis?" *dia bilang karna kalo dari jurusan itu, banyak juga yang berkaitan sebenernya, jadi ga terlalu asing*
"Kalo emang akhirnya ke bisnis, kenapa dulu tertarik jurusan itu?" *dia bilang karena cita-cita awalnya X, cuma ditengah gagal ambil path X, malah jadi Z*
"Pas gagal, gagal karena ganti mimpi atau emang karena gak qualified?"
"Jadi setelah ambil path Z, nyesel gak? Kalo dikasi balik dari awal, tetep mau ambil jalur yang sama atau?"
Atau percakapan dengan owner hostel.
"Udah berapa lama buka ini? Kenapa kepikiran?"
"Gimana caranya lo mulai pemasaran dari nol?"
"Gimana lo bisa manage one-man business? Kalo lo liburan, siapa yang urus?"
"Limitationnya apa? Persaingannya ketat gak?"
Gue pikir awalnya itu biasa aja. Tapi setelah dipikir ulang dan diingetin orang-orang, emang terlampau dalam. HAHAHA. Susah juga bisa nemu orang yang sekepo itu sampe akhirnya gue ketemu mbak yang gue bicarakan di Pencerahan Senin. Setelah beberapa tahun, akhirnya gue ketemu orang yang sama-sama suka scanning dan penuh keingintahuan tentang cerita hidup orang lain.
Say I gain a lot dari HR life ini, apa downsidenya? Gue jadi susah untuk sincerely terkagum dengan pencapaian orang. Karena gue rasa "Ah I have seen that before"
Ini super NEGATIF. Gue masih harus berlatih jadi orang yang lebih appreciative dan melihat orang sebagai satu individual dan berhenti membanding-bandingkan. Cuma kalo gue beneran terpukau, wow I would say it directly. Gue punya prinsip, kalo lo pikir seseorang awesome, dia (orang tersebut) harus tau dan gak bisa sekedar bilang gue suka banget sama lo. Harus ada alasannya. (This is why I have been sending many love letters ke... dosen-dosen gue. Shamelessly.)
Inti ceritanya adalah ketika lo terbiasa jadi orang HR, lo bakal punya mindset yang tepat dan paham mana orang yang biasa ditolak dan yang terlalu banyak menerima acceptance. No pity nor amusement. Ketika lo ngobrol dengan orang, lo tau bahwa ada lebih dari sekedar gelar dan pengalaman sederet di CV dari lawan bicara lo. Lo bakal punya standar yang super tinggi dan kepo dimana saja kapan saja.
Sebagai applicants, lo juga harus tau bahwa HR yang nyeleksi lo belom tentu lebih hebat dari lo. Mereka mungkin hanya dipercaya dalam hal penilaian alias judgement. Terus lo juga harus sadar, kadang lo ditolak bukan karena lo kurang hebat tapi malah karena terlalu hebat. Kenapa? Orang hebat cenderung dominan dan dalam beberapa lingkup, bukan orang seperti itu yang dicari. Diskenario ini, orang biasa-biasa saja dengan potensi besar yang mau belajar dan mau kerja jauh lebih seksi. HR juga liat personality dan value lo. Lo mungkin punya semua-muanya tapi personality lo ancur. Atau lo oke banget, tapi lo gak bisa add value apa-apa ke grup, lo cuma 'standar'. Dua kategori ini: OUT.
Pesan moral: jangan lelah dengan penolakan, sebelom lo tau kenapa lo ditolak terus!


No comments:
Post a Comment