Gue udah menghasilkan puluhan hingga ratusan tweets tentang penanganan COVID19 di Korea. Tapi gue baru sadar sesuatu: Korea sigap karena overreacting, lebay dengan persiapan penuh - bahkan jauh sebelum mereka menyadari bahaya super spreader seperti nenek #31.
Mungkin tulisan ini akan terasa dry kalau dibaca 3-5 tahun lagi, ketika masa gentir COVID19 sudah lewat. Saat ini, kita belum tahu berapa ribu, juta orang yang harus menjadi bagian statistik kematian. Yang gue liat di depan mata adalah kehancuran industri yang tidak terbayangkan sebelumnya, not even dengan aksi terorisme. Siapa sangka resesi akan datang karena virus?
Himbauan publik di Korea sudah ada sejak Wuhan mulai lockdown. Mungkin ini masuk ekspetasi, berhubung hubungan Korea-China sangat erat. Gue ngetweet tanggal 31 Januari, dimana bus menyediakan masker dan handsanitizer. Tapi sebenarnya, foto diambil sejak 26 Januari.
Gue sendiri sudah mulai waspada, makanya gue langsung beli masker online. 28 Januari, harganya harganya hanya 530 won atau seperlima harga normal sekarang (Maret). Disaat peak COVID19 diakhir Februari-awal Maret, stok masker bahkan sempat habis total dan kalau ada pun, harganya minimal 8x alias 4 ribu won per lembar.
Tanggal 31 Januari, gue ke bank dan ada himbauan ini.
Artinya adalah untuk mencegah "Pneumonia Wuhan" pegawai bank kami pakai masker. Dimohon pengertiannya.
Banyak kantor, terutama yang melayani pelanggan secara langsung, langsung menyerukan penggunaan masker. Sangat agresif dan early. Pengumuman di tempat-tempat umum juga langsung dibuat dalam 4 bahasa, Mandarin, Inggris, Jepang dan tentunya Korea.
Fast forward, hidup tenang selama sebulan pertama. Lalu teror dimulai 19 Februari, dimana kasus mulai meningkat drastis di Daegu, karena super spreader nomor #31. Teman gue ke Korea tanggal 20. Kepanikan lebih dirasakan sama cici yang dari Taiwan, karena di Taiwan semua manusia tanpa terkecuali harus pakai masker. Sedangkan gue, sampai tanggal 20 Februari belum pakai masker.
Akhirnya, untuk menjaga teman gue (ga lucu kalo dia ketularan gue), gue pun pakai masker. Tanggal 22, orang tua dan teman-teman gue dari Indonesia datang dengan membawa masker sendiri. Masker di Korea mulai ludes, pembelian online gue pun dipending. Gue masih beruntung bisa dapet harga 1200/masker, tapi baru bisa diterima 3 minggu kemudian. Di Indonesia harga sudah melunjak, tapi stok masih ada (at least masih bisa dapat).
Selama di Seoul, orang tua dan teman-teman gue bisa lihat bahwa kehidupan berjalan normal. Akan tetapi, mereka tidak paham dengan kemampuan Korea. Temen gue masih panik, mau pulang lebih cepat. Meski mereka mungkin akhirnya tahu dan teryakinkan bahwa we would be fine, orang-orang di Indonesia terus memanas-manasi bahwa Korea tidak aman lagi. Gue ga bisa menyalahkan kepanikan mereka, itu wajar. Apalagi temen gue yang dari Taiwan harus langsung masuk karantina pribadi dari pemerintah 14 hari, dari kantor + 10 hari.
Akhir Februari, teman-teman gue pulang dan gue pun mulai kehidupan seperti biasa. Transportasi umum terasa jauh lebih sepi, tapi ga ada perubahan di kantor gue. Semua orang masih bekerja normal dan tanpa masker. Disisi lain, kasus mulai meningkat dan menyentuh 5000 orang dengan cepat. Kala itu diawal Maret, Korea adalah negara dengan kasus COVID19 tertinggi kedua di dunia. Orang tua gue panik, nyokap gue suruh gue pulang.
Berhubung gue juga belum ganti visa kerja, gue setuju untuk pulang ditanggal 5 Maret. Harusnya gue naik penerbangan Korean Air terakhir ke Jakarta jam 3 sore, tapi nyokap gue beranggapan lebih aman naik Garuda jam 10 pagi - dengan alasan 'lebih sedikit orang Koreanya', karena pasien COVID19 mayoritas adalah orang lokal. Gue nurut aja.
Begitu landing, gue baca berita bahwa pendatang dari Daegu dan Gyeongsangbuk-do tidak diperbolehkan masuk. Akses Korea-Indonesia berkurang drastis dalam waktu singkat... Gue berpikiran positif, karena merasa Indonesia masih aman. Rumah gue pun berlaku 'hampir normal' dimana bokap gue masih traveling dengan intens antara 5 Maret sampai minggu berikutnya. Bahkan bokap gue nyuruh gue memanfaatkan waktu 'nganggur' di Indonesia dengan traveling ke kota lain. Tapi nyokap gue kena karantina rumah dari kantornya dan kita semua wajib pakai masker saat keluar rumah, tanpa terkecuali, tidak boleh dilepas sama sekali.
Minggu pertama, gue masih ke Jakarta untuk daftar visa. Dihari berikutnya, gue nongkrong dengan teman-teman di kafenya Kya. Masih normal, Jakarta lebih sepi sih. Tanggal 10, gue masih ke bank di Bogor, ke toko bangunan, semua santai dan bahkan masih ramai. Emang Bogor beda banget level santainya. Hal terakhir dipublik yang gue lakukan di Bogor adalah ke salon ditanggal 12 Maret. Penuh rasa deg-degan sebenarnya.
Gue juga sempet ketemu temen gue yang ke Seoul. Semua menyatakan hal yang sama: mereka merasa lebih aman di Seoul, merasa lebih bersih dan resiko lebih kecil. Well, tentu bisa dipahami. Mereka lihat orang-orang patuh ga keluar rumah. Semua orang pakai masker. Selain itu, mereka juga menerima emergency alert yang sama dari pemerintah. Mereka tahu data pemerintah bisa dipercaya, meski kabar yang diberikan tidak selalu indah. Lalu satu perbedaan mendasar, mereka ga harus naik kereta dijam sibuk, seperti mereka harus naik commuter line di Indonesia.
Sampai kemudian suasana berubah jadi mencekam.
Sejak tanggal 13 Maret, gue ga lagi merasa aman untuk keluar rumah. Gue menghabiskan waktu hanya di rumah 80%, 10% ke rumah sakit untuk minta obat asma dan 10% ke bank, ambil visa dan urusan administrasi lainnya. Bokap stop traveling total. Nyokap juga makin kenceng bilang ke mbak dan pekerja di rumah untuk jaga kebersihan.
Sejujurnya gue lebih takut dengan demam berdarah, karena gue dirawat 2x akibat DBD. Tapi gue merasakan ketakutan bahwa kalau gue sakit, apapun sakitnya, akan sulit mencari pertolongan medis di Bogor atau Jakarta. Gue merasa curiga dengan semua orang, karena gue gatau seberapa giat mereka menjaga dirinya dari paparan virus. Lalu rumah sakit juga mulai menunjukkan tanda penuh. Gue datang ke 3 rumah sakit di Jakarta dan Bogor, dan gue merasa ketiganya belum terlihat siap.
Maka minggu berikutnya, gue berdoa terus-terusan gue mau balik ke Korea. Selain karena merasa lebih aman, gue mulai takut warga asing akan sulit masuk Korea. Gue mau menjalani karantina, tapi belum tentu perusahaan gue bisa paham. Ada 1001 kecemasan seperti itu.
Akhirnya visa gue keluar tanggal 18 Maret dan gue bilang sama nyokap, gue mau balik ke Korea sesegera mungkin. Gue memberikan alternatif tanggal 21 atau 23 Maret. Gue ga minta dibeliin tiket, tapi yes gue minta izin cabut dong. Dengan segala pertimbangan, gue ambil flight tanggal 21 Maret. Sejujurnya, gue ga menyangka akan balik secepat ini. Kan gue awalnya 'lari' ke Indonesia. Tapi ternyata, gue malah kabur lagi ke Seoul.
Gue merasa bersyukur banget setelah melewati pemeriksaan di Incheon dan cleared untuk pulang ke rumah gue di Seoul. Gue jaga diri banget, masker ga lepas, bahkan ketika di kantor. Frekuensi cuci tangan gue mungkin udah melewati jumlah rakaat sholat gue dalam sehari. Gue merasa takut menulari orang di sekitar gue, kalau memang gue membawa virus tanpa sadar.
Now pertanyaan yang gue dapet, "Gimana Seoul? Lockdown?"
Engga. Normal. Orang-orang di jalan mungkin lebih sedikit dari sebelum pre-COVID19 tapi itu karena jumlah turis jadi nol. Toko-toko buka, makanan mudah didapat. Tapi kalau lu karantina mandiri pun selalu ada toko online buat beli bahan makanan segar dan aplikasi untuk delivery. Transportasi umum masih sepi, tapi bukan level yang 1 bus 5 orang juga.
Gue kena karatina ngga?
Gue ngga. Jadi peraturan pemerintah saat gue tiba di Korea (22 Maret), karantina itu hanya untuk yang punya gejala dan SELURUH pendatang dari Eropa. Beberapa hari kemudian direvisi jadi pendatang dari Eropa juga. Tapi temen-temen gue banyak yang karantina mandiri, meski terbang dari Indonesia dan ga ada gejala. Peraturan sekolah yang memerintahkan mereka begitu. Perintah dari sekolah ga bisa ditrack pake GPS sih, tapi temen-temen gue taat 100%, bahkan sampe sekarang belum keluar rumah sama sekali, selain untuk buang sampah.
Meski gue bukan subjek karantina, rute gue selama 3 hari pertama cuma rumah-kantor-rumah. Saat di kantor, makan siang di resto sih. Tapi that's it. Hari ketiga, kantor gue mengeluarkan peraturan kerja dari rumah untuk pegawai yang baru datang dari luar negeri. Alhasil gue di rumah aja sejak kamis, dan baru keluar 4 hari kemudian untuk beli makan dan jual buku. Ga ada kepikiran nongkrong dulu, karena lagi-lagi, jaga diri dan jaga orang lain.
Gue merasa sangat beruntung masih bisa tinggal dan kerja di Korea diwaktu tersulit saat ini. Saat semua sudah berakhir, hal pertama yang gue pengen lakukan adalah (selain traveling) ke dokter gigi. Meski dokter gigi disini beroperasi normal, gue merasa ada baiknya aja menjaga dari resiko. Toh masih banyak cluster-cluster kecil bermunculan di Seoul, dan gue kan gatau dokter gigi dan perawatnya ke gereja yang kena cluster COVID19 atau engga.
Stay safe and healthy, semuanya! Keep educating yourself tentang COVID19! Ini rekomendasi gue
Pahami bedanya respon Korea dan pendapat expert
I love penjelasan Dokter Tirta! Terutama kenapa kita harus tidur, istirahat untuk lawan COVID19




Kak share lamar kerja di korea sebagai org indo lulusan univ korea
ReplyDelete