Friday, January 8, 2021

Refleksi 2020 #digdeeper

Beda sama kilas balik yang nulisnya sesuka hati dan ingatan gue, kali ini gue mau coba saran yang gue temukan di medium. I subscribed to it, I might as well gain a wisdom or two kan. Linknya ada disini, so gue akan jawab pertanyaan secara berurutan - meski sebenernya ga harus berurutan.


Situasi saat menulis: hampir jam 12 malam tapi fresh karena baru bangun tidur, diiringi lagu-lagu Shin Yongjae.


What Are The General Impressions About The Year?

Penuh perubahan dan ketidak pastian. Berkali-kali gue merasa ga tenang, karena gue lima tahun hidup dalam kepastian, dalam perlindungan selimut sebagai penerima beasiswa yang ada timelinenya. Tapi tahun ini, ketidakpastian ga hanya datang dari gue (internally), juga overall di dunia (COVID-19).

Gue beruntung gue ada di negara yang sangat handal soal COVID-19, tapi ternyata fakta itu ga bikin diri gue lebih tenang juga. Yang gue cari sih sepertinya proteksi soal... masa depan? Sebagai planner, it hurts me disaat gue ga bisa planning setaun ke depan, karena gue ga tau akan berada dimana. Ga bisa terlalu random juga, karena gue realistis: belum tentu 2021 bisa liburan ke luar kota.


What Important Events Happened?

Kerjaan pertama, endless job hunting yang publik gatau, kerja jadi EO dan sosmed specialist. Semua sosmed, dari yang Korean-centric kaya Kakao, sampe Youtube yang gue ga suka karena gue ga nyaman nonton video. Privately, ga ada cerita cinta baru atau apa. Temen ga drastically nambah banyak, meski tetep nambah dari kenalan online, temennya temen dan berbagai sumber lainnya.

Dari sekian banyak kejadian di kantor, yang tersisa mendalam diingatan gue adalah setiap proses bikin event dan konten, yang mana gue harus menjelaskan maksud dan strategi dalam formalitas. Selain itu, perasaan ga nyaman tiap harus telepon mentor-mentor team, karena masalah Bahasa Korea. Gue lebih takut ga bisa dimengerti terus buang-buang waktu mereka daripada takut salah. Lalu yang ga boleh lupa adalah sentilan-sentilan yang selalu bikin mikir "Rela nih gue melepas semua hal yang gue pelajari, growth process selama bertahun-tahun, untuk kemudian merubah diri jadi lebih Korea?"

Seperti... Ask less question, tidak menjawab saat ditanya dan langsung blindly bilang "Ya siap" atau "Maaf".

Semua ini berujung pada sleepless nights, soulless weekends, desire yang memuncak untuk ambil berbagai ujian sebagai pelampiasan stress. HSK, TOEFL, TOPIK, GMAT, you name it. Gue butuh target yang bisa dicapai secara objektif, target yang bisa gue lihat langsung sebagai hasil dari persiapan gue. Bukan target yang hari ini A, tapi minggu depan jadi B karena yang ngasih perintah ikut berubah.

Dalam 5 tahun ke depan, gue masih akan mengingat proses cari kerja yang sebenernya super fun. Yes, bukan sarkasme. Cari kerja beneran fun karena gue masih kerja di tempat lain, COVID-19 bikin semuanya online, dan gue (seharusnya) bisa pelan-pelan, cari mana yang paling cocok. Fun karena gue masih bisa dianggap freshgrad, tapi juga bisa dipertimbangkan karena dah punya pengalaman kerja. Terus liat berbagai proses dan judge dari first impression tentang suatu perusahaan tuh asik. Gue juga masih akan mengingat fakta bahwa ditahun 2020 gue ganti visa 3x, di dua negara, dan declare gue back for good 2x.

Oh tahunnya kejayaan saham juga. Both Korea dan Indonesia. Mungkin karena gue ga bisa ke Italia, jadi bebas pake alokasi dana buat masuk ke berbagai instrumen investasi. Terakhir, gue buka DPLK di tahun 2020 karena gue merasa bertanggung jawab menyiapkan masa depan sendiri. Ga membebani anak yang belum tentu ada.


What Wins Did You Have This Year?

Banyak. Terutama yang berhubungan dengan finansial. Gue punya target sejak 2015, ketika lulus kuliah gue mau punya aset sekian ratus juta. Pas bikin rencana sih pemikirannya simple: kalo ga keterima kerja, ada cadangan untuk hidup setaun. Tapi ternyata timingnya pas dan gue bisa melampaui target.

Great newsnya mungkin tetap bisa berbagi dan punya platform untuk bersuara, meski lagi pandemi. Gue punya 30 ribu followers di Twitter. Untuk orang Indonesia mungkin ini ga ada artinya, tapi di Korea, ini udah jadi modal tersendiri untuk banyak marketing jobs. Terus gue bisa praktek mengembangkan akun sosmed kantor - artinya gue bisa menerapkan ilmu yang gue pake ke personal branding gue buat akun lain. Selain itu, gue merasa bersyukur dikasih kesempatan untuk eksplorasi tiada henti di kerjaan gue. Rasanya kaya keisengan jadi kerjaan, modal unlimited pula.

Kalau single achievement yang paling gue banggakan adalah meyakinkan diri sendiri bahwa gue punya komunitas di Korea dan di Indonesia. Gue ga pernah merasa Korea adalah rumah sampai tahun 2020. Jadi ada kebanggaan tersendiri saat harus terkunci karena COVID, I could make myself feel home karena teman-teman lama dan teman-teman baru. Tapi tetep ga ada yang ngalahin rasa bersyukur dan terharu saat temen-temen SMP, SMA gue datang jauh-jauh ke Korea, dengan uang sendiri, dengan jatah cuti yang terbatas, untuk merayakan kelulusan gue. I feel loved. Very loved. (dedicated post here)


What Challenges Did You Face This Year?

Weight gain alias berat badan yang ga terkontrol karena obat asma. Gue pikir gue kenal badan gue, gue ga pernah merasa kesulitan untuk jaga berat badan dibatas aman. Tapi ditahun 2020, berat badan gue melambung tinggi karena efek samping obat dan gue hilang kontrol, karena gue sibuk menjaga pikiran biar tetep tenang. Gue udah stress dengan drama kehidupan lain, berat badan awalnya bukan prioritas utama.

Di kantor, kalau level permukaan tentu ada challenge bahasa. Gue ga pernah loh pake Bahasa Korea di kampus, terus tiba-tiba harus 100% Bahasa Korea, bukan keseharian pula tapi level profesional. Ini challenge berat, dan ternyata behave sesuai Korean standard jauh lebih berat. Memang ini bukan kali pertama gue berada di Korean company setting, level stressnya juga sebenernya ga sehebat ditempat kerja chaebol gue dulu (ya maklum, yang itu juga skala perusahaannya lebih besar). Tapi karena periodenya jauh lebih lama dan scope kerjanya juga lebih luas, rasanya lebih berat juga.

Kata tante boss dibulan September "Kalau diajak bicara itu jawabannya hanya ya atau maaf. Ga perlu menjelaskan diri sendiri, ga usah jadi offensive. Gue personally paham lu itu orang asing, tapi didunia kerja ga ada yang mau memahami circumstances pribadi lu. Kalo belom paham budaya sini ya nonton tuh pendidikan budaya perusahaan di Youtube."

Ga ada yang salah dari perkataan beliau, gue cuma kurang effort buat adaptasi lebih, terutama biar bisa mengikuti budaya Korea. Gue ga peka, dan yes, ga ada yang peduli gue lulus dari wonderland alias kampus yang ga pernah menuntut gue untuk jadi mirip orang Korea. Kan gampang, behave or leave. 


What Lessons Did You Learn This Year?

Gapapa ragu. Gapapa stress. Reach out ke orang lain, talk your problems out. Gue telpon dan chat banyak banget temen, dari temen SD sampe mantan boss. Ini beneran berharga banget sih, gue disadakan bahwa ga semua orang punya kepribadian kaya gue yang bisa dengan nyaman chat orang dan minta bantuan. 

Selalu tanya diri sendiri apa yang dicari, dimau, apa yang dirasa. Gapapa mengakui lagi butuh bantuan, lagi gatau mau apa, lagi hilang arah dan tujuan. Atau mengakui lu lagi down dan ga merasa bahagia. Gue sempet hilang hobi, males ngapa-ngapain. Yaudah itu salah satu fase yang harus dihadapi. 

Oh gue juga bersyukur I know what I want, I know my priorities. Sesederhana prioritas cari rumah adalah yang seperti ini dan itu. Ga mau asal karena pengen betah. Terbukti berguna karena COVID-19 buat gue lebih sering di rumah, kan. Bagian terpenting dari proses ini sih mengenal diri sendiri ya. Gue mau X karena Y, dan memastikan alasannya real. Bukan karena orang lain, tuntutan masyarakat atau hal lain yang kurang fundamental.


Who Are The People That Mattered To You?

I will name them. My housemates. My SEALNet friends yang tetep selalu reachable. Temen-temen lama dari SD sampe SMA yang dengan senang hati menerima kontak gue saat gue galau. Senior-senior di Korea atau alumni Korea. Dua tante boss yang beneran suportif, terutama yang tetep nelpon seminggu 3x, terus sekali nelpon lebih dari 1 jam meski udah beda negara. Tapi juga tante boss yang sering banget ngirimin tools kehidupan, saking prihatinnya liat cara hidup gue.

My number one person, gue rasa ga ada. Beda situasi beda orang, tapi yang menyentuh hati sih Hengyan dan Luluk. Hengyan karena selalu meluangkan waktu dan energi meski sibuk, buat ngedengerin gue, video call gue begitu gue text hal-hal ga menyenangkan, dan ikut nangis buat gue. Bersyukur banget bisa staycation tiap bulan dari Juli-Desember, quality time dan menikmati the real #bahagiaitusederhana. Plus Luluk karena meski ada timezone difference, beda bidang, beda segala hal, selalu bisa diandalkan. Ga terhitung berapa hari gue bangun tidur tepat waktu karena dibangunin Luluk.


What Was The Most Common Mental State This Year?

Lost. Kosong. Tapi kalau harus positif, gue mostly merasa bersyukur. Bersyukur ada di Korea, tinggal ditempat yang ideal dengan harga murah, punya teman yang mengerti meski kelakuan gue kadang susah diampuni, ga kena COVID-19. Semua layak disyukuri dan diperingati.


What’s The Difference Between You on January 1st of 2020 vs You Right Now?

Diawal tahun, gue bener-bener takut dengan ketidak pastian. Punya job menyenangkan dan gaji baik bukan jawaban akhir yang gue cari. Gue pengen taunya bulan depan gue ngapain, tahun depan gue dimana, dua tahun lagi target hidup gue apa - tapi bukan sekedar imajinasi. Melainkan target dan mimpi yang SMART. Diawal tahun, gue ga bisa liat itu.

Diakhir tahun, gue lebih bisa live in the moment. Ga terlalu takut dengan ketidakpastian, karena ternyata gue lumayan resilient. Gue punya plan A, B, C sampe Z. Jalani aja. Kalau gagal, udah ada backupnya kok. Ini privilege yang sangat besar sih.

Perbedaan lainnya adalah persepsi soal rumah. Rumah bukan tempat, rumah bukan orang. Rumah ya persepsi aja, gimana gue mau meyakinkan diri sendiri aja. Terakhir, persepsi soal kesehatan. Gue pribadi yang aktif karena gue renang dan jalan kaki berkilo-kilo rutin lebih dari 4x seminggu. Ini semua bukan lagi rutinitas, tapi luxury dimasa pandemi. So gue harus mempertimbangkan cara lain menjaga kesehatan. 

I drink probiotics now.


What Are You Grateful For? 

Tuhan sayang sama gue dan orang-orang yang gue sayangi. Gue juga bersyukur gue punya tujuan hidup. Meski 2020 ada masa dark dan depressed, gue ga pernah kehilangan alasan untuk terus bergerak. Gue terus mencari hal yang lebih baik, mencari kepastian, dalam kapasitas gue. Gue menyukai pekerjaan yang gue jalani. Gue bener-bener dikaruniai banyak rejeki juga.

Kalau bicara orang, teman yang gue kenal maupun teman-teman online yang senantiasa menyemangati dan kasih apresiasi online adalah anugerah tahun 2020. Terima kasih untuk endless supportnya!

No comments:

Post a Comment