Sunday, March 8, 2026

BTS Job Hunting #3: Akhir dari Penantian

So I wanted to resign.

Bukan dari rasa desperate atau tidak bersyukur, tapi dari asumsi bahwa track karir gue yang saat ini melenceng dari apa yang gue rencanakan. Gue punya pengalaman-pengalaman capek bekerja di K-corp, eh saat ini masih di K-corp, dan lalu ada kesempatan-kesempatan bagus untuk keluar ke non K-corp. Kesempatan-kesempatan ini semua datangnya dari Multinational Companies dan angkanya setara atau lebih baik dari yang gue terima saat ini.

Gue galau banget. Gue merasa berat meninggalkan tempat kerja dengan boss yang sangat baik dan suasana yang sangat hangat. Tapi gue tahu, gue harus mengambil keputusan sulit untuk sesuatu yang lebih besar. Ternyata meskipun sudah berorientasi pada masa depan, prosesnya tetap ga mudah. Gue berkonsultasi dengan banyak orang.


Berikut beberapa pilihan yang gue punya. 

A. Company global size kecil. Namanya ga terlalu kedengeran, tapi produknya dipake dimana-mana. Kerjanya finance operations. Lokasi di Malaysia, untuk posisi Korean speaker. Gue gatau apakah gue suka dengan repetitive work di finance untuk jangka panjang.

B. Fortune 100 tech company. Gue rasa mayoritas orang tau. Teknologinya dah bertransformasi berkali-kali, selama puluhan tahun terakhir. Kerjanya bantu financial transformation untuk klien chaebol. Butuh orang yang  bisa tegas, tapi juga bisa service klien ini, dalam Bahasa Korea. Gue ga tau apakah gue bisa bertahan dengan pressure yang sangat tinggi, dan apakah gaji gue mencakup efek samping dari stress yang akan dirasakan.

C. Fortune 500 insurance. Kerjanya strategy. Kata berbagai sumber cukup toxic. Tapi ini sesuai dengan mimpi dan plan gue. 


Gue dah sangat yakin gue mau ambil pilihan C. Tapi prosesnya sangat panjang dan sulit, banyak penghalang. Sangat berbeda dengan job-job yang pernah gue terima, dimana prosesnya sangat dimudahkan. Terlalu mudah, sampai bingung dan takjub sendiri. Sejak beberapa minggu lalu, gue jadi galau dan cemas, mungkin pilihan C yang tampak sesuai dengan segala rencana gue, bukanlah tempat terbaik saat ini.

Gue pun mulai melirik pilihan B. Tapi gue ga suka dengan industrinya, dan lagi-lagi prosesnya dirasa terlalu sulit. Gue apply diakhir November 2025, dan proses belum selesai sampai 3 bulan setelahnya. Gue pun sangat ragu, apa yang sebenarnya gue cari dari pilihan B? Sejak awal interview, gue yakin rolenya sangat tidak cocok untuk gue, meski bossnya sangat fun. Gue penasaran bertahan sampai akhir, karena lokasi dan nama perusahaan yang menggiurkan. 

Gue pun bertanya ke sunbae gue (the same guy I consulted about my current job with, as I mentioned on my last post). Beliau sangat tidak setuju dengan pilihan B dan menekankan beberapa argumen valid yang tidak terpikirkan selama ini. 

Akhirnya, gue yakin dengan pilihan untuk stay di tempat sekarang, dengan boss terbaik selama karir gue sejauh ini.


Konsultasi dengan Boss Besar

Dalam waktu kurang dari 2 bulan sejak gue pertama masuk kantor yang sekarang, gue sudah dua kali meminta 1:1 session dengan boss besar. Di sesi pertama, tujuan gue adalah untuk menyampaikan observasi awal atas pekerjaan gue dan mengetes bagaimana reaksi beliau terhadap concern karir gue. Sesi kedua, gue jujur tentang gimana gue mau resign dan KENAPA gue memilih untuk stay aja.

Nanti gue ceritakan dengan detail, kenapa gue memilih untuk jujur bilang sempat terpikir mau resign, padahal gue ga mencari counter offer ataupun simpati. Mungkin agak aneh, atau TMI, ngapain hal seperti ini diomongin? Tapi ternyata ini jadi salah satu best decision dalam bekerja.

Thursday, February 5, 2026

BTS Job Hunting #2: Pencarian Sengit

Ada banyak hal yang terjadi dalam 4 minggu di pekerjaan yang membuat hati gue nyaman. Udah lama ga ngerasain gimana tiap hari semangat bangun tidur buat kerja, meski cuaca hujan dan kadang gue ke kantor dengan mode 'perang' pake celana pendek, sandal jepit dan jas hujan. Lokasi kerjanya jauh, gak ideal buat gue. Tapi karena perasaannya senang, gue ga merasa terbebani sama sekali.

Di post sebelumnya, gue bercerita soal BTS mendapatkan pekerjaan ini. Di post kali ini, gue mau cerita soal cerita dibalik hiring gue, versi yang gue dapatkan dari boss-boss dan testimoni orang lain yang terlibat dalam prosesnya. Perspektif kali ini datangnya dari talent hunter, sisi berlawanan dari pencari kerja.

hujan pun semangat kerja


Komposisi Team

Gue bekerja untuk BUMK skala besar (menurut aset dan size bisnis di sana). Team yang dikirim ke Jakarta diberikan otoritas penuh untuk hire pegawai lokal. Ga perlu approval dari pusat, selain urusan budget. Tim di Indonesia sangat kecil, secara jabatan tentu dikepalai senior, yang levelnya mungkin equivalent ke Senior Manager. Beliau dah mentok sih, kalo promote lagi, langsung jadi level eksekutif (bukan pegawai).

Mari kita panggil bapak dengan jabatan tertinggi sebagai boss besar.

Boss besar ini adalah orang yang membuat dan mengupload lowongan pekerjaan panjang dan mendetail itu ke grup Kakao. Boss besar juga jadi PIC hiring gue, so semua kontak terkait perekrutan 100% dihandle bos besar. Awalnya agak aneh, kok boss besar terlibat pekerjaan remeh rekrutmen end-to-end, tapi ternyata ada alasannya. Setelah deal sama gue, baru dia menunjuk timnya untuk mengurus administrasi gue.


Decision Making

Sesuai feeling saat baca lowongan dan pengukuhan secara verbal pas interview, boss besar punya kuasa penuh. Dalam hirarki Korean company sih wajar ya, keputusan diambil satu orang. Tapi beliau ga terlihat otoriter.

Pas interview, beliau tanya tendensi gue untuk melakukan pekerjaan yang berbeda-beda sekaligus. Gue bilang, gue suka sekali multitasking dan selalu pengen belajar ini itu. Disitulah beliau langsung merespon, "Itu bukan hambatan disini. Kalau memang keinginannya belajar hal lain, itu termasuk kuasa (otoritas) saya kok. Saya ga banyak ketemu pegawai lokal yang bisa multitasking. Kalau kamu bisa, saya dengan senang hati mendukung kamu cobain kerja bidang lain, belajar ini itu."

Gue merasa lega, karena kegalauan gue emang rasa bosan di tempat kerja (setelah tahu scope pekerjaannya dengan lebih detail) saat fase projek belum di level peak. Kekhawatiran ini ternyata direspon baik dan gue merasa bisa percaya dengan boss besar ini.


Pencarian Sengit Kandidat

Di minggu ketiga gw bekerja, ada orang kantor pusat yang datang ke Jakarta. Dalam obrolan santai, boss besar bilang kalau beliau sangat kesulitan dalam mencari kandidat. Ini kali pertama gue tahu cerita dibalik rekrutmen gue. Beliau menghabiskan waktu 4 bulan berusaha cari pegawai yang punya kemampuan penerjemahan dan attitude sesuai keinginan. Beliau cerita, beliau terima banyak pelamar dari berbagai sumber. Awalnya dari tim HR lokal. Tapi ga memuaskan. Lalu pakai headhunter khusus Korean speaker di Jakarta, tetep ga memuaskan.

Beliau bilang pas interview dengan kandidat-kandidat lain, banyak yang level Koreanya belum memenuhi ekspetasi. Atau kandidat yang Bahasa Koreanya oke, tapi ga dirasa bakal terlalu membantu dalam meringankan pekerjaannya. Ada juga rasa frustasi, kenapa ga nemu-nemu ya?

Akhirnya beliau bilang ke headhunter, beliau mau coba cara sendiri. Beliau tulis lowongan sendiri, upload sendiri ke grup kakao dan terima langsung lamaran-lamaran tersebut. Disinilah ketemu aplikasi gue. Gue kaget, karena gue kira beliau baru cari pegawai di bulan Desember 2025 (seperti yang gue ceritakan di post sebelumnya). 

"Oh tidak, saya udah lama cari dan saya sampai di titik introspeksi, apakah standar saya ketinggian? Rasanya ngga ya? Saya ga minta kriteria yang terlalu rumit. Makanya saya coba sendiri deh kalau saya yang tulis dan upload, manatahu hasilnya beda"

Beda banget. Ternyata ini alasannya handle rekrutmen sendirian, karena sudah pernah coba cara lewat orang lain cuma ga berhasil. Gue bilang, gue ga akan apply kalo lowongannya ga sedetail itu dan gue sama sekali ga tertarik untuk jadi sekedar penerjemah doang. 

Malam itu, gue pulang ke rumah dengan perasaan sangat terharu. Wah... Bener-bener meant to be ya? Timingnya, feelingnya dari awal, dan caranya. Orang dari HQ juga merespon cerita tersebut dengan sangat baik, mereka banyak memuji gue dan berkata "Wah boss besar harus keep talent seperti Alira ya!"

Boss gue bilang, dia pasti akan do his best untuk retain gue. Wow.... beneran... nangis. Gue merasakan effort dia, dari awal sejak ketemu sampai setelah gue jadi pegawai. Hal-hal besar sampai kecil benar-benar diperhatikan. 

malam ngobrol bersama orang HQ

Keesokan harinya, gue ketemu boss headhunter Korean speaker yang boss gue sempat mau pakai. Om headhunter ini bilang, dia udah kasih best Korean speaker profiles ke boss besar, ga ada yang lolos. Tapi begitu selesai interview gue, boss besar langsung telpon si Om headhunter dan bilang "Saya udah ketemu pegawai yang saya mau!"

Headhunter ini sampe heran, dia merasa dia kenal semua Korean speaker yang bagus di Jakarta, siapa yang kira-kira dia lewatkan? Lah ternyata gue. Gue memang sudah kenal Om ini sejak beberapa tahun lalu, tapi ga pernah ambil job dari dia, karena gue ga suka kerjaan full time interpreter. Gue mau pegang tanggung jawab lain selain interpreter. 

Setelah tau bahwa gue yang terpilih, terkuak lah cerita kalau sebenernya dia sudah menawarkan posisi ini ke mantan kolega gue di kantor sebelumnya. Tapi kolega gue minta angka terlalu tinggi yang ga masuk akal, jadi dia pikir gue akan minta budget yang sama. Dia berasumsi gaji gue di company lama sudah sangat tinggi, jadi ga nawarin gue karena 'tebakan' budget tersebut. Padahal mah kolega gue aja yang gila n ngadi-ngadi... (she even lied about her current benefits)

Headhunter ini juga spill banyak hal sangat positif soal boss-boss gue. Rupanya ga cuma gue aja yang merasa boss-boss gue ini anomali tingat kebaikannya. Semua orang yang kenal bisa langsung merasa bahwa team ini sangat sopan, nice to work with, dan educated. Om headhunter yang udah bekerjasama dengan ratusan PT dan boss Korea pun punya kesan yang sama. Beliau malah menambahkan dengan penuh optimisme, beliau yakin si boss besar akan jadi pemimpin di kantor pusat pada waktunya. Track record dan attitudenya sangat mendukung.

Lagi-lagi... Gue bener-bener takjub sama timingnya yang pas. Gue baru dapet job ini setelah gue di PHK, dapet pesangon, dan udah puas liburan 2 bulanan. Timingnya bagus banget. Gue juga malah happy, boss gue bisa cut fee dan menemukan gue langsung, dengan caranya sendiri.


Kesan Interview dari Boss

Seminggu setelah gue mendengar cerita dibalik perekrutan gue, gue minta 1:1 sama boss besar. Gue merasa ada beberapa concern besar untuk progres karir gue. Pembicaraan dibuka dengan "Kamu udah sebulan disini? Gimana so far, ga ada yang susah kan?'

Terus tanpa gue minta, beliau lanjut dengan berkata "Saya mungkin udah pernah cerita sedikit ya sebelumnya. Saat saya ketemu kamu pas interview, kesannya sangat mendalam. Saya bener-bener terkesan. Kamu punya keinginan untuk belajar yang sangat kuat. Kamu haus akan growth. Saya merasa lihat diri saya saat ketemu kamu. Saya suka orang-orang yang ingin belajar. Skill ga ada tuh gapapa. Kalo ada kemauan, cepet kok memoles dan membantu talent buat tumbuh."

Gue... ga nyangka banget. Boss besar ini orang yang cenderung pendiam. Gue ga nyangka beliau akan bilang dan cerita sendiri tentang apa yang membuat beliau terkesan dan mau rekrut gue. Beliau tipe pengamat. Semua komen dan permintaan gue, untuk hal besar maupun hal kecil, sangat diperhatikan.

Gue jadi teringat gimana saat nego, gue minta laptop yang bagus (gue bahkan sebut minimum spek). Beliau telpon dan tanya, ada alasan tertentu kah? Gue bilang, gue mau bekerja dengan nyaman tanpa masalah teknis. Gue tahu di Jakarta belum ada tim teknis, jadi kalau ada masalah nanti kerjanya ga maksimal. Permintan ini disambut dengan beliau mendatangkan laptop kerja baru, spek sangat bagus, langsung dari kantor pusat di Korea. Beneran diperhatikan banget.

Lalu komen gue saat interview, dimana gue bilang gue sangat gak suka dengan hirarki di perusahaan Korea juga ditanggapi serius. Beliau riset dan tanya perbedaan signifikan hirarki company lokal dan Korea, lalu bertanya pendapat gue. Beliau ingin bisa menyesuaikan. Attitude seperti ini beneran sangat jarang gue dapatkan dari leader yang levelnya sudah sangat tinggi.


Kesan 4 Minggu Pertama

TIAP HARI gue merasa tersentuh. Beneran TIAP HARI. Tempat ini ga ideal. I have seen and worked at better places, tapi gue baru sekarang ke kantor tanpa beban dan tiap hari bersyukur atas kebaikan individu di sekitar gue. 

Ada beberapa momen kecil yang mau gue inget terus. Pertama, perhatian dan kesadaran tim setiap gue terlihat ga bawa payung atau akan kesulitan karena hujan. Day 1, gue kerja kehujanan. Manager baik bawain payung dan terus nanya apakah gue baik-baik aja. Tiap hari kalo ujan, mereka concern gimana gue pulang. Small things memang, but it mattered. Kedua, tingkat usaha penyesuaian budaya yang sangat tinggi. Setiap hal kecil mengenai kebiasaan orang Indonesia yang mereka observasi, mereka akan tanya dan ingat terus.

tiap hari ditraktir lunch fancy

Ketiga, inisiatif kebaikan hati di berbagai saat. Ada hari dimana gue ditinggal sendiri untuk external event. Gue tetep ditinggalin kartu buat makan siang, meski itu bukan bagian dari benefit yang gue setujui diawal. Atau gesture boss besar yang kasih gue uang tunai untuk naik taksi, karena gue pulang  telat setelah dinner bersama perusahaan. Itu semua tambahan yang asalnya dari kebaikan hati. Ga semua boss bisa begini.

Yang terakhir sih semangat belajar Bahasa Indonesia dan paham budaya Indonesia yang sangat tinggi. Ini bener-bener gue acungi jempol.

Kesan positif datang dari mana saja, ga cuma dari keseharian bersama boss dan team, tapi juga dari cara orang-orang kantor pusat mengomentari soal boss besar, dan dari sesama expat di Jakarta yang gue tahu. Seakan-akan satu jagat emang lagi meyakinkan gue, I am in the right place loh.


Concern

Seperti yang gue sampaikan, pekerjaan ini bukanlah pilihan pertama gue. Gue yakin Tuhan taro gue disini untuk alasan yang sangat kuat, saat ini gue belum tahu apa alasan tersebut. Gue bersyukur sekali sama sunbae (ex CFO gue) yang mengarahkan dan meyakinkan gue untuk kesini, karena ternyata jauh lebih baik dari ekspetasi gue.

Tapi tetep, gue masih punya concern yang berhubungan dengan karir jangka panjang gue. Gue sudah menyampaikan hal ini sejujur-jujurnya ke boss besar. Boss besar memahami dan memberikan tanggapan yang sangat menenangkan hati. Beliau acknowledge concern gue, kemudian menawarkan perspektif lain yang realistis, tanpa janji palsu. Lalu beliau pun menutup wejangannya dengan saran untuk mengejar growth yang terbaik buat gue. Ga perlu sungkan, segan, atau takut.

Hal ini terasa sangat sejuk di hati. Kalau kejujuran diterima dengan baik, ga ada alasan kan untuk ga jujur dan ga transparan ke boss sendiri dalam lingkup pekerjaan.

Berada di sini benar-benar jadi pengalaman kerja yang ga pernah ada di rencana atau pikiran gue, tapi perjalanannya sangat lancar dan kerasa "it's meant to be."

Semoga kita semua bisa dipertemukan dan bisa jadi boss yang sebaik boss besar ini huhuhu.

Tuesday, January 27, 2026

2016 to 2026: Dreams vs Reality

Sebelum gue baca ulang berbagai post gue dari 10 tahun lalu, gue berusaha mengingat 'siapa' gue di tahun 2016.

Mahasiswa tahun pertama di KUBS. Pecinta kelas periode pertama, suka padetin jadwal. Struggle sama kelas-kelas accounting dan finance, masih beginner Bahasa Korea tapi udah berani ke Brazil buat jadi penerjemah di Rio Olympic 2016. Punya mimpi besar di ranah social entrepreneur, pengen kerja di bank setelah lulus. Suka volunteering dan berusaha menyisihkan banyak waktu untuk volunteering.

Seberapa banyak dari identitas itu masih sama?

10 tahun setelahnya...

Gue udah bukan mahasiswa. Gue masih suka padetin jadwal. Ternyata, masih struggle sama accounting dan finance. Sudah berusaha, kayanya emang bukan my strongest point aja. Udah ga pengen kerja di bank, tapi ternyata tetep sama industrinya, tetep konsisten WHYnya. Masih suka volunteering, tapi ga banyak punya waktu untuk volunteering.


Apa yang terjadi setelah 10 tahun?

Banyak dari mimpi sudah jadi kenyataan. Mimpi keliling dunia bener-bener dah terwujud. Saat gue menulis ini, gue gak punya wishlist negara lagi. Semua tempat yang gue pikirkan di tahun 2016 sudah tercapai, apalagi bolak balik ke Italia, yang saat itu rasanya masih sangat sulit atau hampir ga mungkin.

Mimpi fangirling di 2016 cukup sederhana. Ternyata, 10 tahun terakhir gue bisa menonton semua artis favorit gue, bahkan lebih dari yang gue rencanakan. Di 2016 mau ticketing pake berbagai amalan sunnah dulu, 2026 lebih legawa. Dapet ok, ga dapet yaudah, toh udah pernah.

Mimpi bekerja di perusahaan internasional punya banyak plot twist. Ternyata gue lama bekerja untuk perusahaan Italia, negara idaman. Ternyata gue bisa hidup super mobile, bolak-balik dinas. Dulu kepikirannya hanya sesekali aja pasti udah happy. Dulu juga terpikir mau kerja jadi nomad. Ternyata gue dapet kesempatan untuk mencoba, gue ga terlalu happy. 


Realita apa yang berbeda dari mimpi?

Mimpi pengen jadi agent of change sih ga tercapai. Idup gue biasa-biasa aja. Ga ada aspek menonjol yang bisa jadi contoh atau panutan.

Mimpi lari dari Jakarta juga akhirnya hilang. Gue saat ini tinggal dan bekerja dari tempat yang dulu terasa jauh dan ga menarik.

Mimpi atau gambaran di 2026 udah settle bersama keluarga juga ga terealisasi. Ternyata gue sibuk sekali dengan karir dan jalan-jalan. Peruntungan ketemu prospek pasangan baik dalam 10 tahun terakhir ga secerah peruntungan pekerjaan yang bisa dibilang penuh blessings.


Pada akhirnya, refleksi 10 tahun ini mengingatkan gue bahwa gue sedang menghidupi hari-hari penuh hal yang gue idam-idamkan. Hari-hari yang gue jalani sekarang pernah gue doakan dan perjuangkan. I am more than blessed.

Monday, January 19, 2026

BTS Job Hunting #1: Takdir & Timing

Udah seminggu kerja di tempat baru. Isinya kelewat bahagia tiap hari, karena atmosfir kerja lebih baik dari ekspetasi dan menenangkan hati. Gue disini project-based dan baru akan review ulang status kepegawaian saat project udah kelar, jadi ga ada probation atau resiko dipecat tengah jalan tanpa kompensasi. So gue merasa lebih tenang untuk bercerita.

Gue udah cerita sedikit di post sebelumnya soal proses dapat pekerjaan ini. Sekarang gue punya fuller picture.

Berburu Lowongan

Gue tiap hari buka linkedin dan jobstreet, kecuali pas masuk rumah sakit. Gue merasa harus selalu update sama lowongan yang dipost dalam 24 jam terakhir. Gue juga agresif buat chat recruiter atau talent acquisition untuk lowongan yang gue beneran minat atau jadiin top priorities. Gak sampe disitu, gue sangat proaktif minta referral ke perusahaan dimana gue punya LinkedIn Connection (baik hubungannya dekat maupun ga dekat) dan perusahaan tempat teman-teman gue bekerja.

Konsepnya bukan "eh titip CV ya kalo ada yang kosong" gitu ya. Tapi gue lihat dulu lowongan yang sedang buka di perusahaan tersebut, lalu tanya ke koneksi disitu "Ada jalur internal referral ga ya?"

Kalo memang ada dan mereka berkenan, gue akan kasih link lowongan yang gue inginkan dan CV gue atau data lain yang diinginkan. Gue belom pernah mengalami penolakan dengan jalur ini kalo kenal langsung. Yang susah kalo gue via koneksi orang lain ya, ga semua orang familiar dengan internal referral dan kadang enggan memanfaatkan hal tersebut. Gapapa juga sih.

Plot twistnya adalah... Lowongan pekerjaan gue sekarang malah gue dapatkan dari... Group Kakaotalk untuk Korean<>Indonesian speaker. Pekerjaan ini emang menuntut skill Bahasa Korea. Gue sebenernya ga pengen lagi berkarir di K-corp, tapi ternyata rejekinya masih dari situ.


Apply

Gue tipe orang yang mengutamakan speed. So, gue ga pikir panjang kalo liat lowongan. Gue akan siapkan dokumen sesegera mungkin dan kemudian apply. Siapin dokumen maksudnya apa? Tulis resume yang tailored khusus untuk lowongan tersebut. Gue punya berbagai versi resume, tergantung posisi yang gue apply.

Plot twist lainnya adalah... Gue ga bisa siapin tailored resume untuk pekerjaan gue sekarang, karena posisinya gue melihat lowongan tersebut saat gue lagi ada di Ambon tanpa laptop. Gue bahkan ga bisa memenuhi salah satu dokumen yang diminta, tapi tetep, coba dulu.


Timing & Fate

Ini sih gue rasa ditangan dan kuasa Tuhan. Pekerjaan gue yang sekarang lowongannya datang disaat gue lagi sibuk dan ga siap. Tapi prosesnya kelewat lancar. Gimana maksudnya?

Lowongan pekerjaan gue saat ini di post tanggal 10 Desember jam 17.02 sore WIB atau 19.02 WIT sesuai lokasi gue. Deskripsi pekerjaannya sangat panjang, lebih dari 3 screen iPhone dan Hangeul semua (yha, kata chatgpt total 2,501 characters). Perusahaannya cukup dikenal di Korea, tapi ntah apa lah reputasinya di Indonesia. Gue stop dan fokus baca keseluruhan penjelasan secara detail. Tau apa impression gue?

WOW yang nulis detail banget, pasti user atau leadernya langsung. Ga mungkin bawahan bisa tulis sedetail ini DAN dapat approval leader buat upload panjang lebar begini. 

Kesan berikutnya: this is just like what I am looking for? Mereka cari Korean speaking talent level Advanced dengan background Financial Services dan PMO. I sincerely hated my PMO experience, but I admit it is handy. 

Tentu dengan jiwa ppali ppali alias cepet-cepet gue, gue langsung mau apply. Tapi gue ga bisa memenuhi persyaratan dokumen yang diminta. Mereka minta 3 set dokumen, yang pertama Korean-English CV atau Korean-Indonesian CV, free format dan tidak wajib dengan foto. Kedua, self introduction khas Korea, dalam Bahasa Korea, panjang 1 halaman A4. Terakhir, sertifikasi kemampuan bahasa, jika ada.

Gue cuma punya English resume, itu pun gak tailored seperti yang biasanya gue submit. Gue bisa pilih dari beberapa versi yang gue punya, tapi jujur belom ada yang untuk "Korean speaking financial service talent" saat itu. Gue gak sanggup tulis Korean style CV dan gamau juga. Selain itu, gue juga ga bawa laptop untuk tulis self-introduction in Korean.

Gue belom pernah diterima apply kerja dengan Korean style CV dan self-introduction...

TAPI tetep tembak aja. Gue merasa profil gue cukup unik untuk bisa memenuhi demand dari lowongan ini. Kok bisa pede? Deskripsinya kan ditulis dengan sangat detail. Gue bisa lihat langsung bagaimana gue berkontribusi dari penjelasan tersebut.

Self Appeal

Gue kirimkan lah email untuk apply. Agak aneh, domainnya gmail. Tapi namanya udah jatuh hati, gue gas aja. Email gue terkirim jam 17.31 alias 29 menit sejak post lowongan di upload. Ini loh bukti speed ppali ppali gue jir.

Gue menulis cover letter di email dengan jujur. 

I am Alira and I came across the vacancy on the Kakao group. I am writing to apply for the position for [xxx]. First of all, I appreciate the detailed job description. I am very happy to discover a position which is aligned with what I am looking for in a financial service company.


Ditutup dengan confession.

I have recently quitted my last job at a Korean startup due to the Company’s financial situation and operational strategy, thus my notice period is relatively short. My last drawn salary is beyond IDR [xxx] per month, and I am currently looking for opportunity exclusively in financial service industry or financial planning role with minimum matching my last annual salary. I am aware that you are expecting self introduction in Korean or 자기소개서 but I am currently traveling in East Indonesia with no access to laptop until Monday, December 15. Should I pass the document screening, I would be sure to attach it.

 

Gue berani langsung sebut gaji, karena di deskripsinya sudah ditulis spesifik: "gaji MINIMUM xxx, bisa nego upward atau lebih". Ga akan dinego lebih rendah. Lowongan yang sangat Korea ini ditulis deadlinenya tanggal 13 Desember. Gue follow up tanggal 11 Desember dengan hasil TOPIK baru gue. Gue gatau seberapa ppali ppali kecepatan screening mereka, but saat itu gue yakin pelamarnya ga akan banyak yang memenuhi syarat atau kriteria dasar yang diminta. 

K-Speed 

Tanggal 15 siang, gue dapat whatsapp undangan interview. Pesannya dalam Bahasa Inggris. Good feeling langsung, oh ini bossnya bisa Bahasa Inggris muahaha. Gue gak diminta dokumen yang gue belom sertakan. Beliau langsung bertanya availability terdekat gue. Berhubung gue baru reschedule pesawat pulang gue karena interview lain dan cuaca buruk, gue bilang gue baru balik dari Ambon tanggal 17 (Rabu), dan available setelahnya. Langsung deh dijadwalkan untuk interview offline tanggal 18 (Kamis).

As expected, K-speed itu super fast.

Persiapan Interview

Boss gue mengirimkan arahan interview. PANJAAAAAANG banget kaya job desc diawal, tapi bener-bener beda dan ga mengulang apa yang udah ditulis di jobdesc. Beliau menjabarkan maksud dan tujuan interview, bagaimana penyelenggaraanya (apa yang akan ditanya, kemana arahnya), apa yang diharapkan dan dijanjikan, apa yang harus gue lakukan. Section favorit gue adalah "Corporate Culture & Atmosphere", dimana disitu dijelaskan mereka mencari bukan sekedar Korean speaker, tapi partner untuk bekerjasama. Bisa aja terkesan cliche, tapi melihat bagaimana mereka berkomunikasi secara keseluruhan, gue sangat tersentuh. Gue juga dikirimin materi investor relations perusahaan edisi terakhir. Gue... baru pertama kali dapet guideline interview sedetail ini.

Ga terlalu kaget sih, gue pernah menyiapkan hal serupa saat gue masih di rekrutmen. Ini K-style. Tapi ga sedalem ini juga jir.

Jujur gue bener-bener punya kesan positif dan berusaha menyiapkan semua. Tapi karena waktu traveling dan jadwal interview-interview lain yang ga berhenti (total ada 4 interview diantara waktu kontak pertama sampai hari H), persiapan gue ga semaksimal yang gue mau. 

Di hari H gue mendapat whatsapp konfirmasi lagi dari bossnya, ga ada perubahan. Gue berencana berangkat awal, apa daya, ada interview dulu sebelumnya dan hujan juga. Jadilah gue datang super mepet.

Interview dan Hasil

Interviewnya berbentuk... Panel. 1 orang kandidat, diwawancara di ruang meeting bersama 3 user expat dan 2 team lokal (HR & Bisnis). Jadi bayangin, gue sendirian dihadapkan 5 orang. Bahasa yang digunakan harusnya Indonesia dan Korea. Tapi gue mau meminimalisir waktu bengong di kedua belah pihak, jadi gue arahkan untuk Korea dan Inggris (yes, pas gue ngomong Bahasa Korea, team Indonesia ga paham sih. Tapi ga berlaku sebaliknya). Dengan cara ini, gue ga perlu mengulang pertanyaan seperti self-introduction atau basic work attitude gue.

Ada beberapa kesan mendalam. Pertama, tidak ada yang keluar dari guideline interview. Semua berjalan sesuai instruksi yang gue terima. Kedua, expat atau calon boss-boss gue ini sangat jujur terhadap kesan mereka. Boss tertinggi menyampaikan concernnya secara terbuka, kegalauan untuk rekrut gue bukan karena kemampuan gue, tapi karena galau personality dan arah karir gue yang mungkin akan merasa pekerjaan ini membosankan.

Gue sangat jujur saat interview, jadi beliau pun langsung bisa membaca gue secara tepat. Observasi ini akurat, gue juga merasa pekerjaannya akan membosankan diawal. Tapi, seperti yang disampaikan salah satu anak buahnya kala itu, "Saya merasa periode awal yang membosankan bisa dipakai sebagai waktu belajar untuk Alira."

I wholeheartedly agree. Gue ga berencana buang-buang waktu, gue pengen mendalami bidang baru ini. Gue pengen belajar ini itu. Kemudian boss tertinggi pun menanggapi, "Kalau memang keinginannya belajar hal lain, itu masih termasuk dalam kuasa saya kok. Saya lihat orang disini ga banyak yang bisa multitasking, tapi kalau kamu bisa, saya dengan senang hati mendukung kamu cobain kerja di bidang-bidang lain juga selama disini."

Gue sangat happy dengernya. Kita saling paham apa yang kita mau. Tujuan untuk saling mengevaluasi kecocokan satu sama lain dalam bekerjasama benar-benar tercapai. Selain itu, arah pertanyaannya juga di desain untuk mengenal gue lebih dalam. Gue sering dapat feedback personality gue sangat strong (I do not deny), dan ada titik dimana gue ditanya MBTI gue apa, setelah gue menjawab pertanyaan situasional.

Durasi interviewnya pas sejam. Gak kerasa karena pertanyaannya banyak ye. Menjelang akhir, gue ditanya gaji terakhir dan harapan gaji, langsung di depan semua orang (in Korean sih). Terus boss tertinggi bilang beliau akan kabari hasilnya dalam minggu itu juga. Gue ragu dan bilang "Sekarang Kamis loh, jadi besok?"

Beliau mengiyakan. Beliau bilang mau ambil keputusan cepat. Tapi melihat kekagetan gue, diralat dan bilang "Yaudah saya pikirin sampe Minggu"
"Bapak weekend kerja????" tanya gue dengan polosnya.
"Ngga sih, maksudnya saya bisa finalisasi weekend."
Disini anak buahnya memotong dan bilang "udah lah Senin aja, tar Alira nungguin weekend, malah dia ga tenang."

Gue percaya lebih cepat lebih baik, tapi... gue ga nyangka aja bisa secepat itu. Disitu gue beranggapan gue adalah kandidat pilihan pertama mereka secara dokumen. Jika gue bukanlah orang yang mereka cari setelah interview, baru mereka akan interview kandidat urutan kedua. Gue inget gue mengabari teman-teman gue begitu selesai interview "Gue jadi pengen masuk sini loh. Orang-orangnya terlihat professional, feelingnya bagus dan chemistrynya ada. Kayanya seru deh, padahal gue ga pengen K-corp"

Overall, kesannya sangat positif. Setelah itu, secara tidak mengejutkan dan sesuai janji awal, hasil keluar secara tidak formal 1 hari setelahnya. Gue dikontak sama boss besar yang mengurus kepegawaian, bukan user. Gaji ga di nego. Diiyakan begitu saja. Harapan gue angka yang gue minta itu gross, malah dikasih nett, jadi naik hampir 20% dari perkiraan gue.

Kegalauan

Gue gak sepenuhnya happy. Gue galau. Pekerjaan ini bukan pilihan utama gue, meski gue sangat tersihir dengan attitude orang-orang yang gue temui dalam proses rekrutmen. Sangat professional, good vibe dan tipe pekerjaannya adalah pekerjaan yang bisa kasih gue kesempatan belajar banyak. Masih sangat K-corp style, tapi kesan "educated" dari team expatnya jadi sangat berarti setelah banyak ketemu boss-boss gila sepanjang perjalanan cari kerja.

Jadilah gue menggunakan weekend untuk bertanya ke semua orang, terutama sunbae (mentioned on my last post) gue, apakah bagus ya kalo gue join perusahaan ini?

Sunbae gue langsung telpon gue setelah gue whatsapp pros n cons pilihan yang gue punya. Beliau sangat memahami kepribadian gue dan berkata pilihan masuk ke perusahaan ini bawa extreme pros and cons. Beliau support gue untuk kesini, karena merasa gue bisa belajar banyak hal dalam waktu singkat dan gak akan bosenan (beliau percaya gue orang yang cocoknya kerja dinamis). Tapi disisi lain, beliau inget gue sebagai SJW work life balance. Beliau kasih warning: kerja sama K-corp dan dibidang ini, gue harus rela kehilangan work life balance.

Gue gak terlalu khawatir dengan work life balance. Gue lebih khawatir karir ini agak melenceng dari rencana awal gue dan gue masih takut balik ke K-corp. Takut kesel dengan hirarkinya lagi. Gue juga sadar attitude gue kan jauh dari K-style, gue kurang pandai bersosialisasi formal dalam lingkungan kerja, ga minum, ga makan banyak hal. Jadi banyak barriernya. 

Setelah galau berkepanjangan dan konsultasi dengan banyak orang, akhirnya gue memutuskan untuk memilih perusahaan ini.

First Week Impression

Sangat positif dan penuh syukur. Beneran jauh lebih baik dari ekspetasi. Ini perusahaan ketiga gue dalam 2 tahun terakhir, dan kali ini gue merasa sangat tenang dan tidak ada elemen surprise sama sekali.

More on this later.

Friday, January 9, 2026

Gunjang-Ganjing Karir 2025 dan Refleksinya

First post after so many life changes.

2025 gue kehilangan hasrat untuk menulis. Agenda gue ga banyak berubah, tapi waktu senggang kini lebih banyak dihabiskan merenung, belajar Bahasa Mandarin, atau nonton video Kim Jungwoo dari Superman Return. Ga berasa, ternyata post terakhir gue sudah terlalu lama. Last post gue di Agustus 2025 ditulis dengan kemarahan dan ketidakpuasan. I sensed uncertainty. I sensed wasted effort.

Bener aja, kantor tempat gue bekerja menutup operasional di Jakarta per akhir November. Some people were asked to do the last step organizing sampe Desember, then that's it. Tutup. Bye. 23 orang impacted. 

We were compensated according to the Labor Law, so gue cukup bersyukur.

So kali ini, gue mau menulis thought process gue bekerja di perusahaan tersebut selama beberapa bulan terakhir, sekaligus memproses dan berefleksi: where am I now? What am I thinking? What do I want?


Agustus 2025

I sensed a messy mess. I relied on a certain leader figure (my CFO) and this time, he did not take any action nor give any reaction. Di pertengahan Agustus, gue sudah memulai job hunting. Saat itu yang ada dipikiran gue cukup sederhana, "Kalau dapat offer, gimana ya bilang ke CFO gue? Gue berhutang budi besar sekali ke beliau, gue sayang dan bersyukur sekali bisa bekerja dengan beliau. How do I even break the news and explain my logic to him?"

Let's just address him as my sunbae (senior) onward. 

Interview pertama gue dengan perusahaan yang benar-benar gue inginkan terjadi di 18 Agustus. So things were moving. Gue subscribe premium service di portal cari kerja, gue jadikan kebiasaan untuk buka portal cari kerja sekali setiap pagi. Gue bener-bener butuh plan B. 

Di akhir Agustus, I saw hints that my sunbae was going to leave.

September 2025

I finally learned that my sunbae was officially resigning on September 1st. His last working day would be on mid October. Berita ini belum diketahui banyak orang.

Perasaan gue kalut banget. Gue percaya masa depan gue akan baik-baik saja karena beliau. Lah kalo beliau keluar, selesai dong? Ga ada anchor, ga ada sandaran atau setidaknya, source of reassurance? 1 September, gue jalan ke mall dekat rumah cuma karena merasa ga tenang sambil telpon bestie gue. Gue menceritakan perasaan gue, betapa gue desperate untuk 'menyelamatkan diri' dari sinking ship ini. 

Tapi kan hidup ga berjalan sesuai keinginan ya. Gue belom dapet pengganti, yang bisa gue lakukan ya berdoa dan berusaha. Gue sholat jadi 7x sehari untuk menenangkan diri. Cukup efektif. Disinilah doa gue jadi spesifik, gue pengen dapet kerjaan pengganti SEBELUM last day sunbae gue. Gue masih pengen pamit. Hari-hari gue job hugging pun dimulai juga. Gue kencengin belajar Mandarin di jam istirahat kantor. Gue berusaha cari pengalih perhatian yang menambah skill.

Gue sudah menyuruh team gue buat mulai cari kerja, but then mereka belum tahu kenapa, sampai akhirnya 15 September, kepergian sunbae gue resmi diumumkan. Semua kaget dan goyah. Sosok sunbae ini sangat berpengaruh kepada kesejahteraan pegawai di Jakarta. Beliau orang yang care dan bener-bener logis, realistis, dan penuh empati dalam menetapkan kebijakan. Easy to say, semua sayang beliau.

Gue masih baik-baik saja sampai... Beliau chat gue pribadi beberapa hari setelah pengumuman. Beliau bilang, beliau sudah merekomendasikan gue ke leader di Holding company, dan menjabarkan apa potensi gue dan bagaimana gue bisa menyiapkan diri untuk posisi tersebut. Gue nangis tiap hari sejak chat itu. Beliau masih memikirkan keberlangsungan karir gue, secara individu, ditengah berbagai hal yang terjadi dalam hidupnya.

Gue awalnya bingung kenapa gue nangis tiap hari? Apa yang gue tangisin? Kenapa sedihnya heboh banget, melebihi rekor nangis karena resign dari dream company dan sedih ditinggal cowok?

Setelah gue berpikir mendalam, ada 2 big factors. Satu, gue merasa gue belum cukup menyampaikan rasa syukur dan terima kasih gue ke beliau. Beliau merubah hidup gue dan membantu gue mewujudkan banyak mimpi-mimpi, dari yang besar hingga yang kecil. Ketemu beliau dalam karir gue bener-bener jadi momen sangat bermakna. Tapi karena settingannya Korean company, Korean culture, Korean hierarchy... Gue gak bisa berekspresi dengan leluasa untuk menyampaikan terima kasih.

Beliau sudah jadi penolong hidup gue, tapi dalam banyak kesempatan, gue harus bersikap seakan-akan hal tersebut bukan apa-apa. Padahal di dalam hati, tiap saat terharu dan bersyukur. Gue sedih banget gue harus kehilangan beliau di kantor secepat ini. Masih ada banyak hal yang ingin gue pelajari dari beliau, masih tertumpuk rasa terima kasih yang belum tersampaikan ini.

Faktor kedua, gue percaya dengan visi beliau terhadap karir gue dan ini rasanya baru pertama kali. Gue punya beberapa sosok mentor lain dalam hidup. Gue akan cari nasihat, minta arahan, dan tentu curhat soal hidup ke mentor-mentor professional ini. Tapi biasanya, gue ga setuju dengan career path yang mereka sarankan. Jadi gue ambil nasihat dan belajar dari sikap mereka, cuma untuk career path, gue pilih jalan gue sendiri. Nah kali ini berbeda. Gue setuju dengan advice karir dari sunbae ini. Beliau mengajarkan, mencontohkan, dan menggunakan kekuasaan beliau untuk memberikan kesempatan.

Beliau suruh gue belajar akunting. Gue ikutin, karena gue percaya dengan benefit dari paham akunting untuk karir. Beliau lihat gue bego excel, beliau mengajarkan dan membuka kesempatan selebar-lebarnya untuk gue belajar. Di bulan ini juga, beliau move resources perusahaan untuk kirim gue training di Korea. Ini adalah perintah terakhir dia untuk resources di Jakarta, sebagai leader dari perusahaan gue.

Makin nangis kan. Gue inget gue nangis-nangis dalam diam di hari ulang tahun gue, karena masih sedih banget ditinggal resign.

last dinas

Diakhir September, gue terbang ke Korea untuk dinas terakhir gue. Sebenernya, gue punya rencana trip pribadi ke Korea. Tapi dengan segala visi dan kebaikan hatinya, sunbae gue rubah itu jadi agenda resmi. Saat itu, gue sudah tahu ini akan jadi trip yang terakhir. Padahal sebelumnya, gue dipanggil hampir tiap dua bulan.

Oktober 2025

Gue menghabiskan 18 hari pertama dengan status dinas di Korea. Gue sempet liburan ke Cina di periode tanggal merah Korea (Chuseok). Setelah kembali ke kantor, gue diingatkan itu adalah minggu terakhir sunbae gue bekerja. Gue pikir gue akan punya privilege untuk ngobrol dengan beliau, karena kita berada di lokasi yang sama. Nyatanya ngga.

Vibe satu kantor aneh. Ga ada yang siapin farewell buat beliau, kecuali level leader. Di hari terakhir pun, beliau meninggalkan kantor begitu saja. Ga ada sesi send-off. Gue sama sekali gak diajak ngobrol dan dalam hirarki Korea, gue ga bisa menawarkan diri untuk ngobrol duluan. Gue inget saat boss pertama gue di K-company resign pun atmosfirnya serupa, ga ada kehangatan. Udah resign tandanya udah boleh ga kenal. Tapi gue ga suka dengan budaya tersebut.

Interaksi personal terakhir gue terjadi lewat email. Gue mengirimkan email bertajuk Gratitude Note dan beliau balas dengan sangat personal. Ini sebagian yang bisa gue share, bagaimana beliau observe gue secara keseluruhan menuliskan pesan ini.


I feel seen. Gue ga menyampaikan kegalauan gue secara verbal, tapi beliau lihat.

Nangis dong. Nangis banget. Apalagi di hari terakhir beliau di kantor. Tapi ga ada yang tau, karena memang tampaknya cuma gue yang punya personal attachment sedalam itu dengan beliau. How can I not, beliau rekrut gue disaat skill gue zero, bikin gue bisa excel dalam waktu singkat, dan selalu jadi sponsor paling depan untuk segala kebutuhan growth gue.

beneran for good bye see you never

Gue gak semangat di dinas kali ini karena beneran terbawa emosi. Interviews tetap berjalan, cuma gue physically ga bersemangat dan lebih banyak diam di officetel dan... nangis. Tapi ya as power J (MBTI), udah banyak plan di kepala. Di bulan ini, gue ikut TOPIK dan officially beneran put half heart di kerjaan.

Boss gue (Direktur) sampe dateng ke Jakarta setelah gue balik, buat kasih reassurance. "Tenang aja, kalian aman dan ga kenapa-kenapa kok" karena tahu semua udah terombang-ambing ditinggal sunbae. Oh, CEOnya juga resign. Siapa yang percaya masih akan baik-baik saja.

November 2025

Boss gue balik ke Korea. Kerjaan jadi makin dikit, ga ada lembur. Gue sempet mikir, inikah perubahan sejak sunbae gue resign? Beliau yang workaholic. Disini gue udah makin merasa ga peduli, karena gue fokus sama hal lain: HSK 4.

Ternyata body gue stress. Gue sakit dan harus dirawat, first time in 11 years. First time sejak jadi pekerja. Gue terakhir masuk kantor tanggal 12 November and that was it. Seminggu kemudian, diumumkan rencana layoff. Well, perfect timing buat sakit. Gue masih dapet coverage asuransi kantor, ga perlu menyesal kerja terlalu keras karena memang lagi masanya istirahat.

Yaudah. Makin gencar mengerjakan hal lain. Timing Tuhan baik banget. 1 hari setelah pengumuman, gue memang sudah berencana ke Singapura dan KL buat ketemu mentor dan temen-temen. Tujuannya? Cari advice karena merasa kerjaan sudah tidak satisfying. Lah ternyata memang sudah dipecat. Jadi lebih mudah curhatnya, mentor dan temen gue dapet banget urgencynya cari kerja baru.

Hal yang mengganjal adalah bagaimana Direktur gue menghindari percakapan personal dalam masa transisi atau handover. Ga ada personal touch. Team gue akhirnya ignore beliau dan paling kecewa dengan sikapnya yang tidak ada empati. Well, gue sakit pun report tetep dikejar dan gue cuti pun, gue tetep dituntut kerja di weekend. Ini terjadi disuruh kerja di weekend setelah dipecat loh.

Desember 2025

Gue kira gue bakal bosen dan gabut setelah HSK. Ternyata ngga. Gue sibuk interview, sibuk les Mandarin dan... Sibuk jalan-jalan. Gue ke Indonesia Timur (zona waktu WIT) untuk pertama kalinya dalam hidup. Gue ikut open trip dan satu-satunya yang jobless. Oh iya, gue pakai kata pengangguran dan 'dipecat' tanpa sensor ke siapapun. Karena memang bukan salah gue atau performa gue yang jelek kan.

Interview cukup gencar, ada masanya gue punya 4 interview dalam 1 hari. Gue juga jadi lebih terbuka dengan lowongan. Semua gue coba. Disini gue banyak ketemu loker gila. Sebut saja begitu. Minta talent jago finance pengalaman minimal 3 tahun dan harus lancar K-speaker, untuk jobdesc finance end-to-end tapi gaji maks. 10.2 juta gross. Atau lowongan financial analyst untuk investment project di Jakarta merangkap interpreter, masuk 6 hari seminggu, dengan gaji 8 juta nett. Kaya... budget mini, keinginan maxi? Ada juga Project Manager dan Sales palugada yang cuma dibayar gaji potong pajak tanpa BPJS sebagai 'probation' selama 6 bulan, lalu setelah itu baru dikontrak dan dapet benefit BPJS. BPJS dibilangt benefit. 

Gue cukup miris, karena talent K-speaking makin banyak, tapi lingkungan kerjanya ga terlalu mengalami perbaikan.

Disinilah gue diingatkan kembali sama apa yang gue mau. Industri idaman gue selalu sama, jasa keuangan, terutama Asuransi. Role yang gue idamkan ke arah Strategic. Plan Bnya baru financial planning, mentok-mentok reporting. Gue suka B2C, gue suka berhubungan dengan customer. Tapi gue bukan sales person. Gue masih mau pakai Bahasa Korea gue, tapi gue prefer non Korean company. 

Setiap interview dengan Korean company, gue ditanya kelebihan dan kekurangan K-Company. Buat gue, biggest downside masih hirarki. Hirarki implikasinya sangat banyak. Gue ga bisa bergerak cepat, kepentok manual. Gue ga bisa bertanya, secara hirarki, pegawai level rendah tugasnya eksekusi doang. Ga boleh mikir, ga boleh menentang, ga boleh mempertanyakan. Hirarki juga membuat banyak strategi dan arah tertutup ke pegawai luas. Apa yang dikatakan kalah penting sama "siapa" yang mengatakan. Semua top down.

Kelebihannya? Cepat. Ppalli ppalli. Gue suka speed Korea.

Di bulan Desember ini lah akhirnya gue ketemu team dan calon perusahaan yang akhirnya jadi my next employer. Proses rekrutmennya sangat amat cepat, ya mungkin karena memang sudah jalannya. Apply lalu satu hari kemudian diundang interview. Satu hari setelah interview keluar hasil, lalu sisanya nego. Angka sudah dikunci di hari interview, ga ada big surprise atau plot twist. Proses pengambilan keputusannya yang ga mudah. Gue punya 2 pilihan dengan plus minus masing-masing. Gue, seperti biasa, bertanya ke semua orang. Gue bertanya ke orang-orang yang jadi Support System Squad gue di 2024, gue bertanya ke konsultan karir gue sejak gue back for good ke Indonesia akhir 2020, gue bertanya juga ke sunbae gue. Sunbae gue sampe telpon gue untuk menyampaikan pendapatnya dan bantu gue background check soal company yang mau gue pilih (sesuai saran beliau).

Meski sudah membuat keputusan, hati gue ga sepenuhnya puas. Gue merasa job ini masih uncertain sampe akhirnya gue masuk kerja di hari pertama nanti. Tapi ketidak puasan ini sebuah masalah yang positif, gue punya pilihan dan gue bisa mengambil keputusan dengan jernih. Gue punya waktu santai untuk berpikir. 

January 2026

Last trips. Kerjaan baru gue akan kaku dan demanding. Ga ada WFH dan flexibility. Ini pilihan yang gue buat, karena kompensasinya cukup wow dan pilihan ini dirasa baik + didukung banyak orang. Gue menghabiskan seminggu pertama 2026 di Filipina, dan disana pun gue sempet konsultasi karir sama my best insurance guy dari Kamboja. Gue menyampaikan concern, ketakutan, harapan dan direspon dengan sangat baik oleh teman-teman.

Hoping we'll be colleagues soon!

Final reflection

Gue bersyukur banget gue dikasih hampir 2 bulan (kalo ngitung sejak masuk rumah sakit) waktu istirahat. Job hunting journey ini ternyata banyak fun-nya. Gue memang orang yang cenderung berpikir positif dan gue merasa bersyukur gue bisa menghadapi dengan tenang masa-masa ketidakpastian. Gue merasa gue belajar banyaaaaak hal dari proses cari pekerjaan. Dari mulai menilai "ini kerjaan cocok ga? ada potensi ga?" pas apply, sampe pulang ke rumah dengan perasaan penuh kebahagiaan dan kepuasan kalau interviewnya berjalan lancar.

Buat gue, interview yang lancar itu bukan interview yang berakhir dengan job offer. Interview terbaik itu ketika gue ketemu user yang bertanya hal-hal yang essensial, memberikan energi positif dalam interaksi DUA ARAH, dan genuinely penasaran sama siapa gue as a person. Bonusnya kalo interviewer terbuka dan candid soal penilaian mereka atas personality gue. Gue tau pekerjaan itu endingnya soal kecocokan. Harus ada chemistry dan visi yang sejalan. 

Ada banyak ketakutan tentunya. Job market lagi ga baik-baik aja. Bisa ga ya dapet pekerjaan yang baik? Mood gue juga naik turun. Kadang ready jual murah, kadang picky dan idealis. Tapi pada akhirnya, ga ada yang bisa melawan timing Tuhan. Gue percaya, semua ada alasannya dan gue selalu berusaha berprasangka baik ke Tuhan. Buat gue, gue baru diberi pekerjaan pengganti di bulan Desember, disaat gue berusaha sejak mid Agustus itu karena Tuhan mau kasih gue waktu dan rejeki finansial. Kalo gue langsung dapat pekerjaan pengganti, gue ga akan dapet pesangon. 

Gue juga ga bisa dapet pekerjaan yang benar-benar gue inginkan (my top choice) di bulan Desember saat gue harus membuat keputusan. Tapi gapapa, mimpi gue masih sama. Jalan gue boleh muter, tujuannya tetap. Tuhan juga pasti bawa gue liat jalan lain bukan tanpa alasan. Gue mungkin lagi diselamatkan dari hal-hal yang gue gatau.

Lastly, gue tidak menyesal sama sekali memilih perusahaan itu. Hidup gue bener-bener berubah dalam artian yang positif dengan gue bekerja untuk sunbae gue. Banyak mimpi yang terwujud dan ilmu yang diraih. High risk high return, gue sadar banget akan resikonya. Gue sudah meraih return yang setinggi-tingginya. Kolega dan suasananya juga menyenangkan, gue merasa satu setengah tahun masa kerja gue well-spent dan yang terpenting, mendekatkan gue ke ultimate career goal gue.



2026 NEW YEAR NEW JOB NEW ADVENTURE!